
"Gombal aja terus" kata Ervi.
"Enggak dong, masa gombal sih" kata Fariel.
"Tanpa kalian para bidadariku hidupku akan merana "
"Merana apa merene" kata Ervi.
"Hemmmm apa ya" kata Fariel, langsung kugelitiki perutnya.
"Ampun Mi" kata Ervi.
"Geli Mi, ampun."
"Aku percaya sama Sami, tapi dah jangan gelitikin lagi, geli."
"Yakin nih percaya sama Sami" kata Fariel.
"Iya, ahhhhh hahahaha" kata Ervi.
"Iya Mi percaya."
"Pijitin kakinya Mi."
"Oke siap bidadariku yang cantik dan apa yaaa" kata Fariel.
"Jangan bilang gendut" kata Ervi.
"Iya nduuuttt" kata Fariel.
"Upsss, keceplosan "
"Tuh kan, ngatain" kata Ervi.
"Males ah, sana pergi aja kalau mau ngatain."
"Enggak mau, pengen meluk bantal guling dulu yang ada nyawanya" kata Fariel.
"Iih" kata Ervi.
"Kok disamain sama bantal sih."
"Disamain sama apa dong" kata Fariel.
"Panda atau apa."
"Musang aja sekalian" kata Ervi.
"Oke sang" kata Fariel.
"Ahhh Sami mah" kata Ervi.
"Hihihihi" kata Fariel.
"Becanda kok."
"Kamu itu enggak bisa disamain sama apapun, kamu tetap kamu, aku tetap aku."
"Tapi aku butuh kamu, kamu butuh aku."
"Jadi kita sama-sama saling membutuhkan."
__ADS_1
"Makasih" kata Ervi.
"Cium dulu" langsung memajukan bibirnya.
"Emmuachh" kata Fariel.
"Kurang banyak" kata Ervi.
"Emmuachh emm emm emm emm emm emm emmuachh" kata Fariel.
"Yang ini belum" kata Ervi.
"Pipi kanan sama yang kiri juga."
"Oke" kata Fariel.
"Emmuachh emmuachh."
"Ulang dari awal sini" kata Ervi, tunjuk pada bibirnya.
"Harus yang banyak pokoknya."
"Oke" kata Fariel.
"Dah siap."
Setelah ada anggukan langsung kuciumi Bibir dan juga pipi kanan kirinya sebanyak-banyaknya.
"Dah" kata Fariel.
"Apa masih ada yang kurang."
"Perutnya belum, kan pengen juga dicium perutnya, sama dielus-elus" kata Ervi.
"Oke siap tuan putri" kata Fariel, sambil dengan gaya hormat.
"Ihh lucu" kata Ervi.
"Kerjakan sekarang."
"Oke siap komandan, laksanakan" kata Fariel.
"Hahahaha" kata Ervi.
Langsung kulakukan seperti yang dia mau, menciumi perutnya dan juga mengelus-elus perutnya.
Tiba-tiba ada yang nyelonong masuk.
"Assalamualaikum" kata Aya, dengan suara khasnya anak kecil yang belum fasih.
"Ehhh anak Bunda datang" kata Ervi.
"Yah itu Aya."
"Yah, lagi asik malah anakku nongol nih" kata Fariel.
"Ih enggak boleh gitu" kata Ervi.
"Katanya sayang semuanya."
"Iya dong itu pasti" kata Fariel.
__ADS_1
"Yah aik" kata Aya.
"Yuk sini naikkk" kata Fariel, yang mengangkat keatas dan kuletakkan ditengah diantara aku dan Ervi.
"Anak Bunda kangen ya sama Bunda ya "
"Sama Ayah dong" kata Fariel.
"Sayang dulu Bunda" kata Ervi.
Langsung diciumnya pipinya.
"Makasih."
"Ayah enggak nih, enggak disayang juga nih" kata Fariel, langsung dicium juga.
"Ini belum, masa yang kiri doang yang disayang." Langsung dicium lagi.
"Makasih anak Ayah."
"Tuh Ayah kamu tadi nakal sama Bunda tuh, ngatain Bunda gendut tuh enggak cantik lagi" kata Ervi.
"Mama juga dikatain gitu sama Ayah."
"Ayah kamu dah mulai nakal sekarang."
Tiba-tiba pluk, pukulan dari Aya.
"Hahahahaha" kata Ervi.
"Loh kok Ayah dipukul sih" kata Fariel.
"Pukul lagi biar enggak nakal Ayah sama Bunda dan Mama" kata Ervi.
Mendarat lagi pukulannya dari Aya.
"Dah, bobo lagi aja yuk, nanti Ayah peluk" kata Fariel.
"Ayah akal ma Unda ma Mama" kata Aya.
"Hihihihi, dimarahin sama anak" kata Ervi.
"Marahin lagi Ayah, biar enggak jahatin Bunda sama Mama."
Plak plak plak.
"Eeee eeee eeeee eee" kata Fariel, yang berpura-pura menangis.
"Ayah angis" kata Aya.
"Iya Ayah nangis" kata Ervi.
"Dah pukulnya, nanti Ayah tambah nangis."
"Wekkkk" kata Fariel.
"Bo'ong" kata Aya.
"Kamu dibohongin sama Ayah" kata Ervi.
"Dah bobo lagi sini sama Ayah sama Bunda juga" kata Fariel.
__ADS_1
Ada panggilan dari luar kamar.
"Aya, Aya."