
Setelah hampir sebulan sudah kerja disini, dan seperti biasa selalu membantu seseorang untuk lewat yang hampir setiap hari meminta bantuan kepadaku, dan seperti saat ini.
"Bang boleh minta tolong" kata Gadis, dengan senyumannya.
Aku pun paham dengan ucapannya, tanpa banyak bicara langsung kubantu motornya untuk melawati jalanan yang penuh dengan material di kanan kiri apalagi juga menurun, karena ini emang jalan hanya setapak sebenarnya, tapi dah dilebarkan supaya mobil material bisa masuk untuk menaruh material, jadi gak terlalu banyak yang lewat sini, kecuali orang yang tinggal di desa itu sendiri yang ingin pergi ke desa sebelah tanpa harus muter dahulu.
"Sini motornya biar saya bawakan" kata Fariel.
Dia pun langsung menyerahkannya.
"Ini bang, makasih dah mau direpotin terus" kata Gadis, sambil menyerahkan motor maticnya.
"Iya gak papa, ini juga aku mau sekalian mau pulang makan siang karena dah waktunya tuk makan siang" kata Fariel.
Langsung kubawa motornya sampai kebawah, bahkan sampai depan kos aku sendiri, karena aku juga agak lelah kalau untuk jalan.
"Hmmmm, sekarang minta tolong bawain motor, besok minta tolong tuh orang minta dikawinin" kata Roy, sambil ketawa.
"Kawin, nikah KALI" kata Fariel, sambil teriak.
"Hahahahaha" kata Roy, dia cuma ketawa.
Dan akhirnya yang punya motor pun datang.
"Maaf kejauhan ya saya bawa motornya" kata Fariel.
"Gak papa, aku malah bersyukur banget dah ada yang bantuin, hampir tiap lewat sini situ terus yang selalu mau bantuin aku, makasih ya bang" kata Gadis.
"Iya, sama-sama" kata Fariel.
"Emang mau kemana nih kalo boleh tau".
"Mau pulang bang, habis kuliah" kata Gadis.
__ADS_1
"Ohhhh, emang rumahnya dimana nih kok lewat sini mulu" kata Fariel.
"Rumahku di desa Pinusan sana" kata Gadis.
"Lah kenapa lewat sini, kenapa gak lewat jalan besar aja, kan jadi jauh kalo lewat sin" kata Fariel.
"Habis mau gimana lagi daripada aku kena tilang, lebih baik lewat sini, karena aku gak punya SIM" kata Gadis.
"Ohh jadi gitu, kenapa gak buat SIM aja, kan enak gak perlu takut kalo ada razia" kata Fariel.
"Belum sempat" kata Gadis, sambil senyum dengan manisnya.
"Di sempat-sempatin lah, itu kan buat kepentingan kakak juga" kata Fariel.
"Iya juga, besok-besok aku usahakan" kata Gadis.
"Jangan panggil aku kakak dong, aku kan lebih muda dari situ" kata Gadis. dengan senyumannya.
"20 bang" kata Gadis.
"Akupun 20, berarti kita seumuran, apa aku keliatan sudah tua ya" kata Fariel.
"Ohhh, gak juga sih, cuman ku kira dah umur 25an" kata Gadis.
"Ya dah kalo gitu, aku makan siang dulu, sama belum Shalat Dzuhur, pa mau ikut" kata Fariel.
"Gak deh bang makasih, maaf ya jadi bikin lama" kata Gadis.
"Gak kok, duluan ya" kata Fariel.
"Bentar bang" kata Gadis.
"Iya ada pa lagi" kata Fariel.
__ADS_1
"Boleh minta nomer hpnya gak" kata Gadis.
"Boleh, tapi mau untuk apa" kata Fariel.
"Untuk apa aja deh, boleh gak nih" kata Gadis.
"Ya dah catat ya, nomernya 08" kata Fariel.
"Nama nya siapa, kan kita belum kenalan" kata Gadis.
"Sielfa Akhmad Mufariel" kata Fariel.
"Ok, nanti ku hubungi nomernya bang, oh ya namaku Ervida, panggil aja Ervi, kalo bang mau dipanggilnya apa" kata Gadis.
"Sayang juga boleh honey atau cami calon suami lebih ok" kata Roy, yang lagi berjalan kearah kami.
Membuat Ervi jadi nunduk karena mukanya merah.
"Apa aja boleh, gak usah di dengerin tuh angin lewat" kata Fariel.
"Tapi mukanya tuh dah merah, hahaha" kata Roy, ejeknya.
"Dah ya, permisi" kata Fariel.
"Kalau kelamaan bisa di godain mulu sama si Roy, bisa gak pulang-pulang tuh anak orang" dalam hati.
"I i iiyaa" kata Gadis, jawab nya terbata-bata sambil nunduk.
"Assalamu'alaikum" kata Fariel.
"Waalaikumsalam" kata Ervi.
Langsung aku pergi meninggalkan gadis tadi.
__ADS_1