
Seminggu telah berlalu, tapi aku masih sama hanya menggunakan celana kolor dan sarung, karena masih ada sedikit ngilu jika terkena gesekan dari celana seperti jeans dan lain-lain.
Tapi untuk jalan sudah bisa dibawa untuk berjalan keluar rumah, jika bekerja harus menggunakan kendaraan roda empat atau mobil, jika menggunakan roda dua masih takut.
Seperti pagi ini aku harus mengecek minimarket yang sudah beberapa hari kutinggal, walau ada mami yang selalu mengeceknya, tapi aku gak ingin hanya duduk dirumah dan gaji berjalan terus, karena itu bukan sifat ku.
Saat dimeja makan.
"Pi, Mi, pagi ini aku akan keluar untuk ngecek minimarket ya, suntuk dirumah terus" kata Fariel.
"Kamu dirumah aja nak, biar Mami aja yang urus, nanti kamu jalan-jalan aja sama Ervi atau kak Fida aja ya" kata Mami.
"Iya, mas dirumah aja aya, nanti jalan-jalan sama aku kalau sudah pulang kuliah, gimana" kata Ervi.
"Tapi Mi, kalau jalan-jalan aku gak mau, aku hanya ingin ngecek sebentar aja kok" kata Fariel.
"Iya nanti sore kita jalan-jalan keliling komplek".
"Ya udah deh mami izinkan, tapi sebentar aja ya, biar nanti pak udin yang antar kamu, dan siang harus sudah pulang" kata Mami.
"Kok keliling komplek sih mas" kata Ervi.
"Kalau itu kakak setuju" kata Fida.
"Iih kakak, ngikut aja" kata Ervi.
"Kamu kan belum pulih total, masalah kerjaan kan masih bisa dirumah, kalau suntuk hanya dirumah terus lebih baik jalan-jalan aja kemana gitu biar kamu gak suntuk dan bisa menenangkan pikiran juga, papi juga masih bisa hendel semua kerjaan, kamu gak usah terlalu memikirkan itu" kata Papi.
"Iya Pi, aku hanya sebentar, paling hanya sekitar sejaman aja kok, habis itu aku cuman mau nemuin seseorang, karena ada yang harus dibicarakan, siang sudah balik kok" kata Fariel.
"Emang mas mau nemuin siapa sih" kata Ervi.
"Mulai nih keponya" kata Fida.
"Biarin, namanya juga pengen tau" kata Ervi.
"Teman mas kok, dah lama gak jumpa" kata Fariel.
"Oooh, cewek pa cowok" kata Ervi.
"Pacarnya, yakan dek" kata Fida.
"Beneran yang dibilang sama kaka, mas" Ervi, dengan muka yang sedikit sedih.
"Iyalah, yakan dek" kata Fida.
"Itu muka kenapa" yang melihat adeknya sedikit cemberut.
"Adek mas sakit, kok semangatnya hilang, katanya mau ngajak mas jalan nanti, berati gagal nih" kata Fariel.
"Gak papa kok mas, jadi dong, tapi jangan hanya disekitaran komplek, adek kan pengen kemana gitu, atau kedanau mungkin atau alun-alun" kata Ervi, dengan memelas.
"Iya terserah kamu aja ya, nanti mas ngikut, tapi mukanya jangan ditekuk dong" kata Fariel.
Sedangkan Papi dan Mami tau kenapa muka anaknya jadi kehilangan semangatnya, dan sedikit ditekuk.
"Kaka ikut dong" kata Fida
__ADS_1
"Boleh, Papi sama Mami pun kalau mau ikut juga boleh" kata Fariel.
"Ih, kan jalan-jalan nya hanya kita berdua, kenapa jadi rame-rame, ah mas gak asik" kata Ervi, dengan cemberut.
"Asik, kakak bisa jalan-jalan dan bisa keliling bareng adek tercinta, kapan lagi bisa jalan-jalan bareng keluarga, kan sudah lama gak jalan-jalan bareng" kata Fida.
"Papi dan Mami gak bisa, kalian aja, kakak nanti keluar sama Mami, ada hal yang harus dibicarakan"kata Mami.
"Tapi Mi" kata Fida.
"Gak ada penolakan, kamu jalan-jalan nya nanti kan bisa, biar kita keluar jalan-jalan pas ada waktu yang tepat biar bisa bareng-bareng, oke" kata Mami.
"Iya Mi" kata Fida, dengan muka.
Sedangkan Ervi malah.
"Awas aja, nanti masmu aku rebut, buat dedek bayi" kata Fida, bisiknya.
"Coba aja kalau bisa" kata Ervi.
"Ervi, Fida, kalian ini sudah besar masih aja suka gitu, gak malu apa sama nak Fariel" kata Mami.
"Iya Mi" ucap bersamaan.
"Mas, aku mau tanya, tapi jawab yang jujur ya" kata Ervi.
"Iya, mau tanya apaan" kata Fariel.
"Adek mas kenapa nanya gitu" kata Fariel.
"Mas" kata Ervi.
"Itu mulut biasa aja napa" kata Fida.
"Biarin, Masss jawab" kata Ervi.
Sedangkan yang lain hanya menggelengkan kepalanya.
"Iya mas jawab, mas itu cuma mau ketemu sama cewek" kata Fariel.
Langsung muka ervi kembali kemode cemberut.
"Ade, mas hanya mau bahas masalah penting aja kok, bukan masalah sepele, jadi ade jangan begitu mukanya" kata Mami.
"Iya, masmu kan punya masalah pribadi yang juga harus diselesaikan berdua, kamu tenang aja, pasti nanti balik" kata Papi.
Ervi hanya menundukkan kepalanya saja.
"Mas itu cuman mau jenguk teman mas yang lagi sakit, orangtuanya jauh, dan dia hanya bertiga di kos, mas kan gak tega masa gak jenguk teman mas" kata Fariel, ucapnya sedikit berbohong.
"Mas gak bohongnkan" kata Ervi.
__ADS_1
"Gak dong, masa mas bohong sama adek kesayangan mas, jadi senyum dong, mas kan pengen liat senyum adek mas yang palingggggg cantik membahana" kata Fariel.
"Hemmm" kata Ervi.
"Gak ikhlas nih" kata Fariel.
"Oke deh, mas terima senyumnya, walupun sedikit dipaksakan".
"Ya udah kalau gitu mas duluan ya, adekku yang cantik, yang akan selalu aku sayang" kata Fariel.
"Iya mas" kata Erviervi, dengan senyum mengembang.
"Duh manisnya, mas jadi makin sayang nih sama adek mas ini, kalau kuliah jangan ganjen-ganjen sama cowok, mas gak suka, love u adek mas yang imut" kata Fariel.
Sedangkan Ervi malah menunduk malu.
"Pi, Mi, dan Kak, aku duluan ya, mau ganti dulu, permisi, Assalamu'alaikum" kata Fariel.
"Waalaikumsalam" jawab mereka.
Dan aku pergi meninggalkan mereka.
"Ada yang lagi bahagian nih" kata Fida.
"Apaan sih kak" kata Ervi.
"Iyalah bahagia, kan habis dipanggil sayang dan makin sayang" kata Papi.
"Iih Papi" kata Ervi.
"Loh kenapa dengan Papi" kata Papi.
"Anak Mami jangan senyum-senyum gitu, serem ih" kata Mami.
"Iya nih, takut tau kakak lihatnya, baru juga dibilang love u, udah bikin senyum-senyum gitu" kata Fida.
"Biarin, terserah aku dong" kata Ervi.
"iya deh yang lagi bahagia" kata Fida.
Dan kini saling meninggalkan meja makan hanya tersisa Ervi dengan lamunannya dan senyum-senyum sendiri.
Saat fida ingin mengbil minum dibelakang yang melihat adeknya sedang senyum-senyum langsung menghampiri.
"Heh kuliah, malah senyum-senyum, buruan ganti dan berangkat, dah mau siang noh" kata Fida, sambil menunjuk pada jam dinding.
"Ih kakak ngagetin aja, iya-iya Ervi ganti dan berangkat" kata Ervi
Sedangkan Fida hanya geleng-geleng melihat adeknya.
"Buruan, malah senyum-senyum lagi, kakak sembur nih kalau masih setia kayak gitu, macam orang kerasukan" kata Fida.
"Iya" kata Ervi, lalu berdiri dan berjalan meninggalkan meja makan.
"Haduh kenapa tu bocah, makin setres aja, sempat nanti cintanya bertepuk sebelah tangan gimana, bisa-bisa jadi pasien RSJ" kata Fida, lalu pergi dengan membawa gelas berisi air minum.
__ADS_1