
Dimalam ini saat kusudah terlelap dalam tidurku disofa, namun dibangunkan dengan dogoyangkan bandanku yang begitu kencang.
"De bangun Den bangun" kata Ani.
Aku langsung terbangun.
"Ada apa bi" kata Fariel.
"Itu, itu Fida merasakan sakit perutnya, mungkin akan segera melahirkan" kata Ani.
Aku langsung bangun dan berlari menuju kamar kak Fida yang berada diatas.
Langsung kubuka pintu tanpa mengucapkan salam, langsung menyelonong begitu saja.
"Nyai apa mau melahirkan sekarang" kata Fariel, dengan panik.
"Sakit Da sakit, kayaknya iya" kata Fida.
Tanpa berpikir panjang langsung kuangkat badan Fida kebawah menuju mobil dan rumah sakit untuk bersalin.
"Bibi tolong nanti bawakan barang-barang kerumah sakit" kata Fariel.
"Tolong siapkan mobil segera."
"Tolong bawakan hpku nanti."
Bi Diah langsung berlari menuju mobil dan bi Ani dan bi Sumi menyiapkan segala keperluan yang akan dibawanya.
Sampai dimobil langsung ku letakan Fida dibelakang dengan bi Sumi yang menemaninya, dan aku langsung menyetir dengan kecepatan yang lumayan kencang, karena jalanan juga sepi karena tengah malam.
Aampai dirumah sakit aku langsung memanggil.
"Sus tolong cepetan" kata Fariel.
Suster itu pun langsung menarik ranjang untuk dijadikan tempat rebahan Fida.
Langsung kuangkat Fida ke atas ranjang, lalu ranjang kudorong sambil berlari karena mendengar rintihan.
"Da sakit Da sakit" kata Fida, sambil meremas lengan tanganku.
"Sabar, sebentar lagi" kata Fariel.
Kini sampailah di ruangan khusus bersalin Ibu hamil.
"Siapa walinya disini" kata Dokter.
"Saya Dok" kata Fariel.
"Tolong segera selesaikan semuanya, dan tanda tangan, karena akan kami lakukan operasi, karena kemungkinan posisi si bayi tak normal, jadi kami harus melakukan tindakan operasi" kata Dokter.
"Baik Dok, lakukan apa saja asal semuanya selamat" kata Fariel.
"Kalau gitu aku akan menyelesaikan semuanya."
Aku langsung berlari menuju tempat resepsionis untuk menyelesaikan semuanya apa-apa saja dan juga menandatangani nya.
__ADS_1
Setelah selesai aku langsung kembali menuju ruangan operasi yang mungkin sedang berjalan. Dengan perasaan campur aduk sambil beberapa kali mengucapkan doa untuk keselamatan Ibu dan anaknya.
"Ya Allah lindungilah semuanya" kata Fariel.
"Aku mohon selamatkanlah Ibu dan bayinya."
Lalu bibi datang dengan membawa beberapa barang di tasnya dan memberikan HP padaku.
"Den ini hpnya" kata Diah.
"Tadi dah kukabarkan pada Papi dan Mami juga" kata Ani.
"Apa Aden mau minum dulu, biar bibi buatkan minum" kata Sumi.
"Makasih" kata Fariel.
"Kalau ada jahe saja bi."
"Kalau gak ada kopi juga gak papa."
"Baik Den" kata Sumi.
"Aden baik-baik saja kan" kata Ani.
"Iya bi, aku baik-baik aja" kata Fariel.
"Tapi kenapa Aden menangis" kata Diah.
"Gak papa kok bi" kata Fariel.
"Dia yang melahirkan aku yang merasakan sakitnya, walaupun hanya membayangkan saja."
"Makanya air mata ini menetes, karena aku tak pernah bisa melihat seorang wanita menangis apalagi merasakan sakit seperti itu."
"Itulah yang buat aku menangis."
"Aden yang tenang saja ya" kata Diah.
"Pasti semuanya akan baik-baik saja."
"Pasti semuanya akan selamat."
"Makasih bi, atas doanya" kata Fariel.
"Ini den minumnya" kata Sumi.
"Makasih bi" kata Fariel.
Aku langsung meminum jahe anget untuk menghangatkan badanku dan menenangkan sedikit rasa was-was ku yang sangat panik ini.
Lalu bunyi HP ku berdering tanda panggilan masuk, lalu langsung kuangkat.
"Hallo Assalamu'alaikum" kata Fariel.
"Waalaikumsalam" kata Papi dan Mami.
__ADS_1
"Gimana nak dengan kak Fida" kata Mami.
"Apa baik-baik saja" kata Papi.
"Masih didalam Pi, Mi, sedang dilakukan operasi sama Dokter" kata Fariel.
"Papi sama Mami besok akan pulang" kata Papi.
"Tolong jagakan sampai besok ya."
"Mami titip anak Mami dan cucu Mami ya nak" kata Mami.
"Kalian tenang aja, pasti akan ku jagakan dengan baik" kata Fariel.
"Kalau urusan kalian belum selesai jangan pulang dahulu, disini ada bibi dan aku yang akan menjaganya dengan baik."
"Kalian gak usah khawatir dengan itu."
"Selesaikan saja urusan Papi sama Mami di sana."
"Pulangnya nanti saja saat urusan kalian dah selesai."
"Tapi nak, mamti khawatir" kata Mami.
"Sebenarnya urusan memang belum selesai, masih banyak yang belum selesai, tapi kami harus pulang" kata Papi.
"Papi dan Mami jangan pulang dulu, masih ada waktu untuk melihat kak Fida dan cucu kalian" kata Fariel.
"Jangan khawatir nanti bakal kukasih kabar dan akan kukirimkan fotonya untuk Papi dan Mami."
"Baik nak, makasih buat semuanya" kata Papi.
"Papi berutang budi banyak sama kamu nak."
"Kamu anak yang baik, Mami sayang sama kamu" kata Mami.
"Makasih nak buat semuanya."
"Kalian gak usah khawatir dan gak berutang budi juga kok" kata Fariel.
"Akulah yang beruntung budi sama Papi dan Mami yang selalu senantiasa merawatku saat aku sakit dan membiayai ku sampai aku sembuh seperti sekarang ini."
"Ini balas budiku pada kalian walaupun masih belum cukup."
"Mami sangat berterima kasih padamu nak" kata Mami.
"Maaf telah merepotkan mu, malam-malam begini malah harus membawa kerumah sakit menjaganya dan menungguinya."
"Mohon maaf mana suami dari pasien, yang ada didalam, dia ingin ketemu" kata Dokter.
"Dia memanggilnya dengan nama Uda."
"Saya Dok, tapi saya bukan" kata Fariel, belum selesai bicara langsung dipotong.
"Cepetan masuk, karena ini darurat" kata Dokter.
__ADS_1
"Pi, Mi, Assalamu'alaikum" kata Fariel, yang langsung mematikan hpku tanpa pamit hanya mengucapkan salam.