
Seperti biasa setelah Shalat Isya kami makan malam bersama menikmati hidangan yang ada.
"Nak, rambutmu kenapa kok kaya kebakaran" kata Papi.
"Hehehe, tadi ervi yang warnain pi, biar beda aja" kata Ervi.
Aku hanya diem karena sudah ada yang menjawab.
"Loh kenapa harus di warnain, potong rambut sampingnya aja sudah keliatan berbeda" kata Papi.
"Iya pi, niatnya juga seperti itu, tapi malah tau-tau sampingnya masih rada panjang kekgini" kata Fariel.
"Hehehe, maafin Ervi ya pi, tadi itu juga Ervi yang minta, biar punya gaya baru, masa gaya rambutnya kayak gitu terus, hehehe" kata Ervi.
"Anak Papi ini ya, emangmasmu mau rambutnya di kayak gituin ya" kata Papi.
"Maulah, kalau gak mau gak mungkin sekarang rambutnya seperti itu" kata Ervi.
"Biasa Pi, namanya juga anak muda sekarang, sukanya ngikutin gaya rambut orang yang mereka suka, maklumin aja, anak kita ini kan beda" kata Mami.
"Beda gimana maksudnya Mi" kata Ervi.
"Bedanya itu, manja, kalau minta sesuatu harus dituruti, suka cemberut" kata Fida.
"Ih kaka mah gitu sama adek" kata Ervi, sambil cemberut.
"Tuh kan Mi, langsung cemberut" kata Fida.
"Sudah-sudah debatnya" kata Papi.
"Nak Fariel sudah sembuh dari sakitnya" kata Mami, dengan rasa khawatir yang melihatku sedikit pucat.
"Sudah Mi, hanya tinggal nyeri sedikit aja kok"kata Fariel.
"Tapi kok muka kamu pucat dek" kata Fida.
"Iya, mukamu pucat loh nak" kata Papi.
"Coba kakak cek" kata Fida.
"Ih badanmu panas loh dek, pasti kamu kebanyakn memaksa buat bergerak" kata Fida.
"Gak kok kak, hanya mungkin tadi pakai celana yang sedikit sempit aja, nanti juga baikan kalau dibawa tidur" kata Fariel.
Sedangkan Ervi merasa bersalah karena mengajaknya jalan-jalan.
"Maafin adek ya mas, kalau tadi adek gak ngajak mas buat jalan-jalan pasti mas gak bakal seperti ini lagi" kata Ervi, dengan raut muka sedih.
"Gak papa kok dek, jangan merasa bersalah seperti itu, mas kan juga pengen nyenengin adek" kata Fariel.
"Tuh dengarin masmu ngomong, dia sayang banget sama kamu dek, sampai ngilangin sakitnya buat ngebahagian adeknya buat jalan-jalan" kata Fida.
"Iya kak" Ervi.
"Loh kok adek mas nangis sih, adek mas gak boleh cengeng, masa sudah besar nangis" kata Fariel.
"Adek hanya merasa bersalah aja, karena gak bisa bahagian mas, malah buat mas sakit lagi" kata Ervi.
"Kata siapa mas gak bahagia, mas tuh bahagia bisa punya adek yang manja, mas kan juga mau lebih dekat sama semuanya, jadi mas akan menuruti kemauan kalian semua, asal semuanya bisa tersenyum bahagia" kata Fariel.
"Makasih nak, kamu memang anak yang baik" kata Mami.
"Kami makin sayang sama kamu nak, Papi percaya kamu adalah anak yang baik dan penyayang".
"Papi salut sama kamu nak" kata Papi.
"Iya, kakak juga bangga punya adek laki-laki kaya kamu, kakak makin sayang sama kamu dari apa sama adek yang manja itu" kata Fida.
"Heh biarin, yang penting adek punya mamas yang selalu sayang sama Ervi" kata Ervi.
"Kalian itu ya, masih suka seperti itu, ayok dong anak Mami sehari aja gak ada berdebatan yang gak jelas begitu".
"Itu nak fariel hanya punya Mami, bukan punya kalian berdua, kalau kalian masih seperti itu nak Fariel pasti gak mau sama kalian itu, yakan nak" kata Mami.
__ADS_1
"Hehe iya Mi" kata Fariel.
"Tuh dengerin" kata Papi.
"Iya Pi, kami gak akan bertengkar gak jelas lagi, kami baikan nih" kata Fida.
"Iya Pi, Mi, kami baikan nih" kata Ervi.
Lalu mereka berjabat tangan.
"Nah gitu dong baikan, tapi awas jangan berdebat lagi" kata Mami.
"Biarin ajalah Pi Mi, mereka berdebat, biar rumah rame karena tingkah mereka, aku justru suka dengan perdebatan mereka yang gak jelas, asalkan jangan marahan terus jadi bermusuhan, dan harus saling memaafkan jika yang mereka debat kan bisa membuat luka hati" kata Fariel.
"Iya nak, Mami setuju, tapi jangan berlebihan juga, sedikit-sedikit debat".
"Ini rumah bukan kantor DPR buat debat ya" kata Mami.
"Iya Mi" jawab keduanya.
"Kalau gitu saya permisi dulu Pi, Mi dan kakak adek juga, aku mau istirahat" kata Fariel.
"Iya nak, silahkan" kata Papi dan Mami.
"Adek temenin ya mas sampai atas" Ervi.
"Huh modus" kata Fida.
"Biarin weeee" kata Ervi.
"Sudah adek duduk disini aja, mas bisa sendiri kok" kata Fariel.
"Gak mau, adek tetap mau ikut mas sampai didepan kamar mas" kata Ervi.
"Dah mulai lagi nih" kata Fida.
"Biarin, sirik aja" kata Ervi.
"Hehehe, maaf Mi, itu kakak yang mulai" kata Ervi.
"Kenapa kakak" kata Fida.
"Sudah ah debatnya kak, adek" kata Fariel.
"Aku duluan ya, Assalamu'alaikum".
"Waalaikumsalam" ucap mereka.
Dan kami pun berjalan menuju kamarku, dengan jalan perlahan.
"Dah sampai nih, adek kembali aja kemeja makan sana" kata Fariel.
"Gak mau, adek mau lihat mas sampai tidur baru adek turun" kata Ervi.
"Sudah ah sana, mas mau masuk nih" kata Fariel.
"mas aja yang masuk duluan, terus tidur, baru adek turun lagi" kata Ervi.
"Ya udah, mas masuk dulu ya, Assalamu'alaikum" kata Fariel.
"Waalaikumsalam, pintunya gak usah ditutup, nanti adek yang tutup kalau mas sudah tidur" kata Ervi.
"Iya" kata Fariel.
Dan aku pun langsung menuju tempat tidur lalu merebahkan badanku dan menarik selimut terus tidur.
Dan Ervi kembali turun kebawah setelah melihatku memejamkan matanya.
"Apa masmu sudah tidur" kata Mami.
"Sudah Mi, tadi langsung tidur" kata Ervi.
"Adek kenapa minta pada masmu buat rambutnya di warnain" kata Fida.
__ADS_1
"Pengen aja kak lihat rambut mas sedikit ada warnanya, makin keren kan".
"Kakak sudah lihat kan postingannya adek" kata Ervi.
"Sudah, semuanya, termasuk postingan nya yang di HP masmu, pasti kamu yang posting kan" kata Fida.
"Hehehe, iya kak" kata Ervi.
"Menurut Mami gimana".
"Gak tau, Mami gak terlalu ngerti dengan anak muda sekarang, Mami taunya hanya tentang kerapian aja".
"Apa nanti masmu gak bakal kena marah sama orangtuanya kalau pulang nak" kata Mami.
"sebenarnya sih dimarah Mi, dia pernah cerita waktu rambutnya diwarnain, dibilang rambut jagung, dan harus dipotong habis hingga botak, dan gak boleh pulang kalau belum botakin kepalanya" kata Ervi.
"Berarti nanti masmu bakal botak dong kalau pulang" kata Fida.
"Nanti kalau mas pulang adek mau ikut mas ke kampungnya, dan adek yang akan ngomong sama orang tuanya, adek bakal tanggung jawab" kata Ervi.
"Bagus kalau mau tanggung jawab, Mami dukung" kata Mami.
"Papi mah terserah kamunya aja" kata Papi.
"Emang kapan masmu akan pulang" kata Fida.
"Mungkin bulan depan, sekitar dua mingguan lagi" kata Ervi.
"Ooh gitu" kata Fida.
"Mami mau keatas dulu mau ngecek anak Mami, kayaknya tadi nutupin sesuatu, takutnya dia demam" kata Mami.
"Kakak juga berfikir seperti itu Mi, badannya kan panas banget tadi" kata Fida.
"Adek juga lihat mukanya sudah pucat saat diperjalanan setelah makan, mas bilang gak papa dan baik-baik saja tadi" kata Ervi.
"Ya udah papi juga mau ikut Mami ngecek nak Fariel" kata Papi.
"yuk Mi".
"Adek ikut ya" kata Ervi.
"Kakak juga dong" kata Fida.
"Ya udah ayok" kata Mami.
Dan mereka pun langsung menuju kamarku dan sampai di depan pintu kamarku.
"Mi kok kaya ada suara tangisan ya Mi" kata Fida.
"Iya Mi" kata Ervi.
"Ya udah ayok masuk, kayaknya suaranya berasal dari dalam" kata Papi
Dan Mami langsung membuka pintunya dan mereka masuk.
"Astaga rupanya nak Fariel Pi" kata Mami, dengan sedikit cemas karena melihatnya menangis dalam tidurnya.
Lalu Fida mengecek suhu badannya, dan denyut nadinya.
"Gawat Mi, badannya panas banget Mi" kata Fida.
"Adek, adek dengar suara kakak" kata Fida.
Tapi tanpa jawaban, yang ada hanya ada suara rintihan.
"Mas, ini adek mas yang paling mas sayang, mas kenapa, mas jawab mas" kata Ervi.
"Saaakkkiittt" kata Fariel, hanya itu yang keluar sebagai jawabannya.
"Pi bawa kerumah sakit aja Pi, panggil Pak Udin dan Dani, Ari juga, biar bisa bantu ngangkat ke mobil untuk dibawa kerumah sakit" kata Mami, yang begitu cemas dan menitihkan airmatanya.
Dan Papi langsung memanggil Pak Udin dan yang lainnya untuk membantu membawanya ke mobil.
__ADS_1