Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Di Kantor Polisi


__ADS_3

Ku mengitari jalanan kota yang padat dengan kendaraan menuju kantor polisi untuk bertemu dengan keluarga nya yang mungkin telah melaporkan ku atas hilangnya Astria kepada polisi.


Sampai ditempat langsung aku masuk kedalam sebelum bertanya kepada salah satu polisi yang mungkin sedang piket atau apalah yang mereka lakukan didepan.


"Permisi Pak saya mau tanya ruangan untuk SPKT sebelah mana ya Pak" kata Fariel, bertanya pada salah satu dari mereka.


"Oh apa anda mau buat laporan" kata Polisi.


"Bukan, saya tadi diminta untuk datang kemari karena saya dipanggil untuk kemari karena ada laporan terkait dengan ku, makanya saya langsung kemari" kata Fariel.


"Kalau boleh tau dengan siapa" kata Polisi.


"Sielfa Akhmad Mufariel" kata Fariel.


"Ooh, yang terkait masalah kaburnya seseorang ya" kata Polisi.


"Bener Pak" kata Fariel.


"Kalau gitu bisa ikut saya masuk" kata Polisi.


Akupun langsung mengikutinya dari belakang.


"Silahkan masuk, langsung aja kedalam" kata Polisi.


Akupun langsung masuk kedalam ruangan yang sudah ada banyak orang, maupun polisi ataupun keluarga pelapor.


"Silahkan duduk dulu" kata Polisi.


"Saudara Mufariel, apa betul."


"Iya bener itu nama saya" kata Fariel.


"Begini, saya dapat laporan dari keluarga pelopor, bahwa anda telah membawa kabur anaknya karena tidak direstui hubungannya" kata Polisi.


"Saya tidak membawa kabur siapapun Pak" kata Fariel.


"Bohong itu, anak saya kamu bawa dan kamu umpetin kan" kata Tante.


"Ibu yang sabar, mohon tenang dulu" kata Polisi.


"Jika kamu tidak membawa kabur, apa kamu tau dimana dia sekarang berada."


"Saya juga gak tau, saya sudah lama gak ada kontakan ataupun bertemu sejak saya keluar dari rumahnya sampai saat ini" kata Fariel.


"Apa mungkin ada yang menelpon dengan nomer baru, atau sekedar memberikan SMS atau apa kepadamu" kata Polisi.


"Gak ada juga, hanya tadi pagi ada telpon masuk satu, tapi dia dari Indah temannya, yang juga menanyakan keberadaan nya" kata Fariel.


"Oke baik, kalau gitu apa saya boleh mengecek HP anda" kata Polisi.


"Oh tentu boleh" kata Fariel, lalu aku mengambil HP dalam kantong jaket.


"Ini Pak silahkan" yang memberikan HP pada Polisi.


"Oke kalau gitu akan saya periksa dulu, saya bawa HP anda sebentar, anda duduk aja dulu disitu" kata Polisi.


"Baik Pak" kata Fariel.


Polisi itu langsung keluar dari ruangan meninggalkan kami disini.


"Dasar anak gak tau diri, awas aja kalau beneran kamu yang ngumpetin anak saya, gak bakal saya kasih ampun, saya akan minta hukum kamu seberat-beratnya" kata Tante.


"Kamu sembunyiin dimana cucu saya" kata Kakek.


"Dasar anak muda gak tau diri."


"Balikin cucu saya sekarang juga sebelum ku masukan kamu dalam penjara."

__ADS_1


"Silahkan kalau memang saya terbukti bersalah, tapi jika tidak, ucapan kalian lah yang mungkin akan jadi masalahnya, dan malah tante yang akan mendapatkan hukumannya" kata Fariel.


"Karena saya gak pernah melakukan apapun yang tante tuduhkan terhadap saya."


"Berani kamu sama orang tua ya" kata Kakek.


"Tante berharap setelah ketemu, anak saya gak bakal saya beri sedikitpun celah untuk keluar, apalagi bertemu denganmu, melihat pun tak akan saya berikan" kata Tante.


"Itu hak tante" kata Fariel.


"Maaf kalau berkata kasar sama Kakek, tapi saya memang gak melakukan itu semua."


"Dasar kuli aja bangga, jangan harap tante kasih restu terhadapmu, sampai kapanpun tante gak sudi punya mantu kaya kamu yang hanya seorang kuli" kata Tante.


"Emang salah dengan pekerjaanku" kata Tariel.


"Ya salah, karena itu pekerjaan yang hanya cocok untuk orang lemah kaya kamu ini" kata Tante.


"Iya tante bener, kami orang lemah, tapi yang penting kerjaan kami halal dan gak menghalalkan dengan cara yang salah, kami kerja dengan menguras tenaga dan keringat, yang jauh lebih baik dan halal" kata Fariel.


"Iya, tapi itu tetap aja, kerjaan kalian gak bisa dibanggakan di keluarga" kata Tante.


"Udah ma diam, jangan bikin ribut disini, malu" kata Om.


"Kalau gak ada kami pekerja kuli, maka gak ada bangunan seperti ini, bahkan rumah yang tante tempati juga seorang kuli yang membuatnya, apa rumah itu berdiri dengan hanya mengedipkan mata" kata Fariel.


"Maafin tante nak" kata Om.


"Iya Om" kata Fariel.


Kamipun diruangan ini langsung hening sampai Polisi itu masuk lagi dan duduk.


"Gimana Pak, apa sudah ada bukti kalau dia beneran menybunyikan anak saya" kata Tante.


"Menurut dari hasil pemeriksaan melalui HP ini, tak ada nomer lain masuk atau SMS dan sebagainya, kecuali yang dia bilang tadi, sedangkan nomer yang ada disini itu nomer yang juga tertera dihp anak Ibu yang biasa digunakan sehari-hari" kata Polisi.


"Tapi untuk sementara waktu HP anda akan saya sita selama dua puluh empat jam."


"Baik Pak silahkan" kata Fariel.


"Tapi jika ada keluarga saya sendiri atau orang kantor mengirim email ke email yang ada dihp itu gimana Pak."


"Gak sok belagu, kuli aja sok" kata Tante.


"Lebih baik Ibu diam dulu" kata Om.


"Baik, kalau gitu sekarang bisa kamu pindahin dulu data yang ada di HP kamu, entah email atau apa, biar nanti gak mengganggu kerjaan anda" kata Polisi.


"Baik Pak, kalau gitu saya pinjam dulu sebentar HP saya untuk menghubungi manager dan sekertaris saya supaya kalau ada apa-apa bisa hubungin ke yang lain dulu" kata Fariel.


"Oh ya silahkan" kata Polisi.


Akupun langsung meraih hpku dan mengirim pesan ke sekertaris kantor dan manager minimarket untuk menghubungi nomer yang lain yaitu punya Fida untuk sementara, walaupun nomer ini dah beberapa hari gak aktif ditangan ku.


"Dah Pak, ini saya kembalikan" kat Fariel. menyerahkan pada polisi itu lagi dan keluar.


"Kuli aja belagu, sok, dasar" kata Tante.


Tiba-tiba.


"Iya memang anak saya itu kuli dan petani, tapi anak saya gak pernah meminta sesuatu kapada kami, anak saya dari dulu selalu ingin mandiri dan terjun langsung ketempat" kata Mami.


"Jeng i Ida" kata Tante.


"Kenapa, kaget lihat saya disini" kata Mami.


"Kamu pikir siapa hah, berani-beraninya menghina anak saya, apa kami dah sangat kaya, apa suamimu dah bosen kerja di kantor cabang anak saya."

__ADS_1


"Ingat suami kamu kerjanya dikantor anak saya, gak usah sok dan merendahkan orang lain, bahkan mengatakan kaum lemah gak bisa dibanggakan, ingat rumah kamu yang kamu pakai itu buatan siapa."


"Sekarang aku baru sadar kalau orang yang kuanggap sebagai sahabat ternyata seperti itu melakukan orang."


"Aku jadi bersukur anak saya gak menikah dengan anak situ, lebih baik saya nikahkan anak saya dengan orang lain yang menerima apa adanya, gak menerima karena ada apanya."


"Bukannya anak jeng Ida itu" kata Tante.


"Iya, anak saya perempuan dua, tapi dia juga anak saya, dialah pemilik perusahaan terbesar disini dan minimarket, kami hanya membantu nya saja saat dia sibuk dengan pekerjaan yang lain, dan menyamar jadi orang biasa" kata Mami.


"aku pikir dengan dia bilang sebagai kuli dan anak tani kau akan menerima dengan lapang dada, karena mereka saling cinta, tapi ternyata kalian malah menghina dan mengusirnya begitu saja dan mengata-ngatainya."


"Mulai hari ini pertemanan kita sampai disini saja, untuk pekerjaan Bapak itu tergantung dengan anak saya, kalau masih dibutuhkan, tapi kalau tidak siap-siap jadi pengangguran karena telah membuat fitnah ke anak saya, membuat masalah ke keluarga saya."


"Yuk nak kita pulang" ajaknya padaku.


"Apa dah boleh Mi" kata Fariel.


"Dah kamu tenang aja, Papi sama yang lain dah mengurus masalah ini, jadi kamu tenang aja, nanti pake HP Mami aja kalu gitu" kata Mami.


"Makasih Mi, tapi tadi aku ngasih tau kemereka untuk menghubunginya kenomer kaka, karena kemarin aku pake HP kakak" kata Fariel.


"Ya udah, kalau gitu nanti pinjem hp kakak lagi, sekarang kita pulang, biarkan mereka mencari hingga menemukannya, dah ada polisi yang bakal membantu, kamu gak usah ikut-ikutan, Mami dah kecewa, kamu jangan buat Mami kecewa juga" kata Mami.


"Iya Mi, aku gak akan kecewain kalian kok, aku janji" kata Fariel.


"Ya udah yuk" kata Mami.


"Dah biarin aja, gak usah peduli, kita tinggalin aja."


"Nyonya saya mohon jangan berhentikan saya di kantor itu, saya masih membutuhkan pekerjaan itu" kata Om.


"Itu bukan urusan saya, karena anda bekerja bukan pada saya tapi pada anak saya" kata Mami.


"Den saya mohon, jangan pecat saya, maafin tingkah laku kami terhadapmu, aku siap dapat hukuman apa saja, asal jangan dipecat, karena itu sumber kehidupan kami, kalau saya di pecat kami makan apa" kata Om, dengan memohon.


"Batu atau pasir, tanah juga bisa" kata Mami.


"Pah, berdiri jangan bikin malu Mama, emang tempat buat kerja hanya punya dia saja apa" kata Tante.


"Mama lebih baik diem kalau gak bisa membantuku" kata Om.


"Plis dlDen, aku mohon."


Mami menganggukkan kepala kepadaku sebagai kode.


"Aku kasih kesempatan sekali, tapi dengan syarat kembalikan uang yang telah Om ambil, karena tadi malam sudah saya cek laporan dari kantor F banyak uang yang hilang, saya rasa itu adalah perbuatan Om, karena Om yang bekerja dibagian keuangan" kata Fariel.


"Saya kasih jangka waktu enam bulan, karena itu jumlah yang bukan sedikit."


"Tapi kalau tidak, jangan harap Om dan keluarga Om bisa hidup enak dan memakai rumah itu, karena rumah itu akan kuanggap sebagai jaminannya."


"Apa Om setuju, jika tidak silahkan angkat kaki dari rumah itu, dan pertanggung jawabkan perbuatan Om."


"Saya mengaku bersalah, karena uang itu saya gunakan untuk kebutuhan keluarga saya, dan istri saya yang suka berbelanja, juga menguliahkan anak saya, akan saya kembalikan secepatnya, dan saya juga bersedia memeberikanmu rumah itu sebagai jaminannya" kata Om.


"Oke, kalau gitu siapkan surat-suratnya sebagai jaminannya" kata Fariel.


"Oh ya satu lagi, Om hanya mengembalikan uang yang Om ambil delapan puluh persen saja, anggap saja yang duapuluh persen itu sebagai ucapan kami karena Om telah bekerja lama, dan juga sebagai kado buat anak Om yang akan menikah bulan depan, dan biaya kuliahnya nanti."


"Kalau gitu saya permisi, Assalamu'alaikum."


"Makasih Den, makasih banyak" kata Om.


"Waalaikumsalam."


Akupun langsung keluar mengikuti Mami.

__ADS_1


__ADS_2