Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Bertemu dengannya


__ADS_3

Gak tau sudah berapa lama aku pingsan dan kini aku sedang berbaring di atas kasur kamar kos


bahkan ruang kamar ini penuh dengan mereka semua yang berada didalam sambil duduk dan ada pula yang ikut berbaring disamping kanan dan kiri dengan menagis.


"Kak, dek, Mami dan Papi" kata Fariel, ucapku pelan.


"Naafin aku."


"Yang telah membuat."


"Kalian jadi khawatir seperti ini."


"Aku bukan orang yang baik untuk kalian."


"Maafkan aku."


"Mas gak boleh seperti ini" kata Ervi.


"Adek" kata Fida, sambil memelukku dengan menangis.


"Jak, maafin aku" kata Fariel.


"Sek, maafin mas juga."


"Mas gak salah sama sekali" kata Ervi, yang juga memelukku.


"Aku harus ketemu dengannya sekarang" kata Fariel.


Tiba-tiba ada yang masuk.


"Permisi."


"Silahkan" kata Papi.


"Apa aku boleh bicara denganya" kata D


"Oh boleh silahkan" kata Papi.


"Ayuk mi kita keluar."


"Ayok nak kalian harus keluar, biarkan mereka bicara."


"Aku gak mau, aku mau disini nemenin adek" kata Fida.

__ADS_1


"Nak, kasih waktu sebentar saja buat mereka ngobrol empat mata" kata Mami.


"Gak usah gak papa kok Bu" kata D.


"Biarkansaja."


"Baiklah kalau gitu biar kami saja yang keluar" kata Mami.


"Ayok Pi" yang menggandeng tangannya.


Lalu duduk dan berkata.


"Maafin aku bang." kata D


"Karena aku kamu jadi seperti ini, karena egoku ini yang ingin selalu bersamamu membuat kamu jadi berantakan dan meninggal kan rumah."


"Aku memang sampai saat ini masih memiliki rasa yang sama seperti dulu, bahkan mungkin lebih."


Lalu aku duduk dibantu Fida dan Ervi.


"Aku yang harusnya minta maaf Wi" kata Fariel.


"Aku yang pernah memberikan janji padamu, walaupun aku tak ingat dengan janji itu."


"Jadi maafkan aku."


"Maaf telah mengancammu jika kamu tak mau bersamaku aku akan melakukan segala hal terhadapmu."


"Aku hanya ingin abang selalu ada buatku saja."


"Maaf kan aku wi" kata Fariel.


"Rasaku padamu dari dulu gak pernah lebih dari seorang sahabat."


"Iya bang, Dewi ngerti" kata Dewi.


"Aku hanya minta satu hal darimu."


"Jangan pernah lupakan aku, dan jangan hilang kan aku dari ingatanmu sebagai sahabat terbaik untukku."


"Dan jangan pernah merasa kesepian, ada aku yang selalu setia menanti mu, walaupun hanya sebatas teman ngobrol, dan semoga saja rasa ini bisa segera memudar dan pergi."


"Aku masih mengingat semuanya, kamu adalah sahabatku yang selalu memberikan bermacam hadiah buatku" kata Fariel.

__ADS_1


"Makasih untuk semuanya."


"Aku harap abang masih menganggapku sebagai sahabat." kata Dewi.


"Dan aku harap abang tak akan membenciku karena in.i"


"Dan juga kita masih bisa untuk saling bertemu untuk ngobrol bersama dan saling kontekan walau hanya sekedar menanyakan kabar."


"dan permintaan ku untuk yang terakhir ini sebelum aku pergi keluar negri, aku harap abang mau datang ke rumah ku untuk makan dan merayakan ulang tahunku sore ini, karena aku harus pergi malam ini juga."


"Baiklah, aku mau datang kerumahmu sekarang juga" kata Fariel.


"Maaf, jika aku lupa dengan hari ulang tahun mu, dan maaf jika aku gak bisa memberikan kado spesial buat kenang-kenangan untukmu."


"Aku bukan butuh kado yang lain, aku hanya ingin sebelum pergi dapat melihat kamu tersenyum dan merayakan ulang tahun ku bersama yang lain dirumahku" kata Dewi.


"Sebenarnya kado yang kumau darimu adalah di hari ulang tahunku ini kamu memakaikan cincin dijariku" ucapnya dalam hati.


"Baiklah, sekarang pun akan aku turuti permintaan mu itu" kata Fariel.


"Kalau gitu sekarang kita langsung kerumahmu."


"Ayok bang" kata Dewi.


"Dan aku juga mengharapkan kalian juga datang, karena aku juga mengundang kalian hadir."


"Kalau gitu aku pamit pulang terlebih dahulu bang."


"Permisi."


"Iya Wi, aku pasti akan datang tepat waktu" kata Fariel.


Dewi pun pergi meninggalkan kami.


"Apa mas beneran akan datang" kata Ervi.


"Kenapa, dia sahabat aku dari SMP, jadi aku harus datang" kata Fariel.


"Tapi aku takut mas, takut kalau nanti bakal terjadi sesuatu sama mas disana" kata Ervi.


"Kakak juga takut kalau nanti adek bakal kenapa-kenapa disana" kata Fida.


"Kalian tenang aja, aku pasti bisa jaga diri" kata Fariel.

__ADS_1


"Apa kalian akan ikut juga."


Mereka berdua mengannguk bersamaan.


__ADS_2