
Didalam perjalanan Ervi
tak henti-hentinya menangis didalam mobil yang masih satu mobil denganku, bahkan sampai rela pahanya diletakan bantal buat aku tidur sambil sesekali menahan sakit.
"Maafin adeki mas".
"Karena adek yang buat mas seperti ini".
"Semua gara-gara adek".
"Adek yang mukul mas sampai seperti ini".
"Bahkan adek masih minta ditemanin jalan-jalan sama mas".
"Adek rela ngelakuin apa aja buat mas".
"Asal mas bisa sembuh seperti semula".
"Adek sayang sama mas".
"Adek gak rela kalau mas sampai seperti ini karena aku".
"Seharusnya aku saja yang sakit".
"Jika sakitnya bisa ditukar kepada adek, adek siap yang jadi sakit".
"Mas maafin adek".
"Adek janji kalau nanti mas sembuh adek gak bakal buat mas susah lagi sampai harus sakit seperti ini".
Ucapnya Ervi sambil menangis, yang masih bisa kudengar walau hanya sedikit.
Dan Mami yang berada didepan disamping Pak Udin yang sedang menyetir ikut menangis melihat anaknya menangisinya seperti itu yang terkapar sakit sampai merintih.
Sampailah sudah didepan rumah sakit, semuanya sudah disediakan bahkan Dokter yang kemarin menangani juga berada disni.
Lalu aku diangkat ke ranjang kemudian didorong menuju ruangan dengan didampingi mami dan Ervi karena papi dan kak Fida masih dirumah harus mempersiapkan segala kebutuhannya nanti dirumah sakit untuk menjaganya.
Ervi tak henti-hentinya menangis sambil memegangi tanganku sampai didepan ruangan.
"Maaf Bu, dan adek, kalian gak boleh masuk dulu, biar serahkan ke kami, kalian bisa menunggu didepan dan berdoa" kata Dokter.
"Baik Dok" kata Mami.
"Selamatkan mas saya dok, saya mohon" kata Ervi, sambil memohon memegang tangan dokternya sambil menangis.
"Kami akan berusaha semampunya, kalian bantu dengan doa" kata Dokter, dan Dokter menutup pintu.
"Yuk duduk dulu" kata Mami, yang mencoba membujuk Ervi supaya sedikit tenang dan mau duduk.
"Ervi mau disini aja, nungguin mas" kata Ervi, yang menolak ajakan maminya.
"Ayok duduk dulu, kalau masmu tau kamu seperti ini pasti dia akan merasa bersalah karena kamu seperti ini, ayok nunggunya disana aja" kata Mami.
"Mami juga sangat khawatir sama masmu itu, jadi kita duduk dulu ya" kata Mami.
Tak lama kemudian Papi dan juga Fida datang.
__ADS_1
"Gimana Mi" kata Fida, yang juga khawatir.
"Masih diperiksa sama Dokter" kata Mami.
Sedangkan Ervi tak henti-hentinya menangis.
"Sudah nak, jangan nangis terus, kasian masmu kalau kamu nangis, lebih baik kamu Do'akan supaya masmu baik-baik aja" kata Papi.
"Iya dek, benar kata Papi, lebih baik kamu Do'akan masmu supaya baik-baik saja, daripada kamu nangis begini terus, kamu nanti malah jadi sakit" kata Fida.
"Lebih baik Ervi yang sakit daripada mas yang berbaring sakit" kata Ervi, dengan sisak tangisnya.
"Udah kamu yang tenang ya, masmu pasti baik-baik aja, diakan orangnya kuat, pasti baik-baik aja" kata Mami.
"Apa Papi sudah kabarin keluarganya nak Fariel".
"Sudah Mi, tadi Pak Udin saya suruh menjemputnya bareng dengan pak Sal juga sebagai petunjuk jalannya".
"Ooh, baiklah" kata Mami.
"Mi, kalau nanti orangtuanya datang adek siap bertanggung jawabkan semuanya, karena ini semuanya salah Ervi dari awal" kata Ervi.
"Mami juga bantu, kan Mami juga bersalah karena gak bisa menjaganya dengan baik" kata Mami.
"Jadi nangis nya berhenti dong" sambil mengelus-elus punggung Ervi.
"Iiiya Mi" kata Ervi.
Dan setelah sekitar satu jam Dokter keluar, yang lain langsung bediri dan bertanya.
"Gimana Dok anak saya" kata Mami.
"Semuanya tenang dulu ya" kata Dokter.
"Pasien hanya mengalami pembengkakkan pada pahanya dan ada sedikit benjolan juga, kemungkinan besok akan kami operasi paginya".
"Apa kami boleh masuk Dok" kata Fida.
"Boleh, tapi biarkan pasien istirahat dulu jangan diganggu" kata Dokter.
Ervi langsung masuk kedalam ruangan.
"Mami ikut masuk aja dulu sana, itu adek sudah masuk" kata Fida.
Dan Mami pun langsung masuk kedalam.
"Kalau gitu saya permisi dulu Pak" kata Dokter.
"Iya Dok, silahkan, makasih" kata Papi.
"Yuk masuk" kata Papi.
Dan mereka berdua masuk.
"Maafin adek mas" kata Ervi, sambil memegang tanganku dan menangis.
Mami hanya mengelus-elus punggung anaknya dan ikut menangis juga.
__ADS_1
Papi dan Fida pun hanya melihat ke arah Ervi yang menangis jadi tak tega.
Setelah beberapa jam, kedua orang tuaku datang.
"Assalamu'alaikum" kata Bapak.
"Waalaikumsalam" jawab Papi dan Mami, karena Fda sudah tidur bersenderan, dan Ervi tidur sambil memegangi tanganku.
"Gimana dengan anak saya, apa yang terjadi" kata Mama, dengan khawatir.
"Besok harus operasi, karena ada benjolan sedikit di pahanya" kata Papi.
"Anak Mama" kata Mama, yang langsung menangis dan berlari kearah ranjang.
"Maafin Mama, Mama gak bisa jagain kamu, Mama gak ada saat kamu butuh Mama, maafin Mama nakku".
"Ma, sudah Ma, Mama duduk dulu ya" kata Bapak. sambil memberikan tempat duduk.
"Ini anak saya, namanya Ervida, dia paling sayang sama anak Ibu dan Bapak, yang sudah seperti masnya sendiri, dan dia kakaknya namanya Fida, sedang hamil tiga bulan lebih" kata Papi.
"Terimakasih sudah mau membawa anak saya kerumah sakit, dan menjaganya " kata Bapak.
"Iya Pak, anak bapak sudah saya anggap seperti anak saya sendiri, jadi maafin kami juga yang gak bisa menjaganya dengan baik" kata Mami.
"Kalau gitu mari kita duduk disana Pak" kata Papi.
"Iya, mari" kata Mami.
"Iya, duluan aja, saya mau lihat anak saya dulu dan nenangin istri saya dulu" kata Bapak.
"Iya silahkan, kalau gitu saya duluan ya Pak" kata Mami.
"Iya" kata Bapak.
San Papi, Mami lalu duduk disofa ruangan VVIP sesuai permintaan Mami.
"Kasian anak kita ini Mi, dia lagi hamil tapi tetap maksa ikut mau lihat adeknya biar tau kabarnya juga" kata Papi.
"Iya plPi, Mami juga sebenarnya khawatir dengan nak Fida, dia sedang hamil tapi seperti orang yang gak sedang hamil" kata Mami.
Dilain sisi
"Mama gak boleh nangis begini".
"Anak kita kan paling anti melihat perempuan menangis, apalagi Mamanya yang menangis, pasti anak kita akan merasa bersalah" kata Bapak.
Lalu Mama menghapus air matanya.
"Pak, anak kita Pak, apa sakit yang dulu itu kambuh lagi pak, waktu masih sekolah karena dikeroyok teman-temannya" kata Mama).
"Gak tau juga ma, lebih baik kita Do'akan dia supaya baik-baik saja Ma, yuk kita Shalat" kata Bapak.
"Ayok Pak" kata Mama.
Dan Mama pun berdiri dari duduknya.
"Saya mau Shalat malam dulu sama istri saya Bu, pak, saya titip anak saya ya" kata Bapak.
__ADS_1
"Iya, nanti saya nyusul untuk bergantian Shalat malam juga, silahkan Pak, Ibu" kata Papi.
"Iya makasih, permisi" kata Bapak, lalu keluar dengan berdua menuju Mushola untuk Shalat malam dan mendoakan agar anaknya baik-baik saja, dan diberikan kemudahan jalannya operasi besok pagi.