
Kini waktunya tiba, malam ini adalah acara akikah. Hanya mengundang warga terdekat dan para teman-teman dan keluarga saja. Tak lupa juga dengan mengundang Pak Imam buat memimpim doa dan sebagainya.
Skip.
Ku gendong Rama dan mengelilingi para tamu untuk memberikan doa dan menyentuh pipinya jika ingin menyentuhnya tapi harus jarinya di oleskan kebedak dulu baru boleh menyentuh pipinya.
Skip. Acara selesai.
"Bang, aku boleh gendong kan" kata Fajar.
"Boleh Dek, kalau bisa, nih" kata Fida.
"pelan-pelan, enggak usah kaku tangannya" yang menyerahkan Rama pada Fajar.
"Bukannya kamu harus ngantarin pacarmu pulang, dah malam" kata Fariel.
"Suruh nginep sini aja Dek" kata Ervi.
"Kasian kalau harus pulang jam segini."
"Iya, suruh nginep disini aja" kata Fida.
"Lagian masih ada kamar yang kosong kok."
"Nanti ku tanyakan deh Kak" kata Fajar.
"Makasih ya Kak."
"Iya" kata Fida.
"Awas aja kalau berani macam-macam" kata Fariel.
"Nanti kukasih tau Mama biar langsung ditarik kupingmu."
"Ayahmu tega banget sama Oom Dek" kata Fajar, pada Rama.
"Enggak mau kasih kesempatan sedikit aja."
"Huh dasar."
"Sifatmu itu kaya buaya darat sungguhan, jadi membahayakan para kaum Hawa" kata Fariel.
Ervi dan Fida langsung ketawa mendengar ucapanku.
"Kaya Abang enggak aja" kata Fajar.
"Bukannya Abang mantannya banyak ya."
"Tanya aja sama Kakak mu tuh sama Mama, mantan pacarku hanya satu, enggak ada yang lain" kata Fariel.
"Emang lo, di mana-mana ada mantan."
"Kayaknya kalau dikumpulin dah bisa buat tanding bola, kesebelasan para barisan mantan."
"Hahahaha, kesebelasan para mantan" kata Ervi.
"Kayaknya bakal seru tuh kalau tanding bola" kata Fida.
"Bakalan rame yang nonton."
"Iya rame, tapi yang dukung hanya satu, dia doang, kan mantannya yang tanding" kata Fariel.
"Tega banget" kata Fajar.
"Kaya ban dalam suka bocor."
__ADS_1
"Hahahahaha" kata Fida dan Ervi.
"Hati-hati kali ini kena karma" kata Fariel.
"Hukum karma itu ada, dan berlaku."
"Siap-siap aja."
"Enggak usah nakutin napa sih Bang" kata Fajar.
"Dah jangan debat, masa Abang Adek baru ketemu langsung bertengkar" kata Fida.
"Abang tuh Kak" kata Fajar.
"Tapi asik aku lihat kalian bertengkar" kata Ervi.
"Kapan lagi bisa lihat para buaya darat berantem ngatain buaya ke yang lain."
"Hahahaha, bukan aku loh Bang yang ngomong" kata Fajar.
"Nis kok gitu sih ngomongnya" kata Fariel.
"Perasaan, Sami enggak ada kaya gitu deh."
"Sana bantuin cewekmu aja sana, masa suruh bantuin nyuci piring datang kesini, tega lo."
"Dianya yang mau" kata Fajar.
"Sami kan emang buaya, tapi hanya satu mantan pacar, dan yang lainnya hanya pengagum, mungkin" kata Ervi.
"Siapa sih yang enggak mau sama Sami, dah ganteng, kaya, idaman banget pokoknya."
"Pasti kalau ada kesempatan pasti akan terjadi."
"Kok Sanis Do'ain Sami untuk jadi seperti itu sih" kata Fariel.
"Sami enggak akan berani buat melakukan hal macam seperti itu."
"Sami janji hanya kalian berdua yang akan selalu menemani hidupku sampai nanti, sampai malaikat maut datang mencabut nyawaku."
"Jika nanti Sami mengingkari janji ini, silahkan kalian hukum Sami sesuka kalian."
"Yakin" kata Ervi.
"Iya" kata Fariel.
"Apa aja, bebas" kata Ervi.
"Iya bebas" kata Fariel.
"Walaupun harus ku sunat lagi" kata Ervi.
"Hahahahaha" kata Fajar.
"Enggak ikutan deh, kabur aja deh, nih Kak" yang menyerahkan Rama pada Fida.
"Bang selamat berjuang."
"Semangat."
"****** lo ah" kata Fariel.
"Sana jauh dariku."
"Gimana" kata Ervi.
__ADS_1
"Masa harus yang itu sih Nis" kata Fariel.
"Nanti gimana kalau Sami harus pipis."
"Bilang aja enggak berani" kata Ervi.
"Bantuin dong" kata Fariel, ke Fida.
"Usaha dong Mi, buktikan kalau memang Sami hanya untuk kita saja, enggak ada yang lain" kata Fida.
"Oke, lakukan apa yang kalian mau" kata Fariel.
"Tapi jika nanti aku ada salah, beritahu dulu, agar aku tau salahku apa dan dimana."
"Padahal Sanis hanya becanda kok Mi" kata Ervi.
"Hehehehe, maaf."
"Sesekali ngeprank Sami enggak papa kali ya."
"Iya, masa kita gak bisa buat Sami kita itu enggak bisa berkutik sih" kata Fida.
"Ih teganya, masa seperti itu sama Sami" kata Fariel.
"Sami dah ngantuk, sekarang kita tidur aja yuk, kasian Rama tuh dah waktunya dibaringkan dikasurnya dan dikasih Asi."
"Ya udah Ayok, angkat dong" kata Ervi.
"Iya" kata Fariel, langsung kuangkat kekorsi roda dari sofa sedari acara hanya duduk saja disofa, lalu kudorong.
"Apa Aya dah tidur Ma."
"Udah, dikamar atas tempatmu" kata Fida.
"Katanya mau tidur dikamar Dedek sama Bunda."
"Tapi apa nanti enggak ganggu kamu tidur Bun" kata Fariel.
"Sami takut nanti malah karena Aya tidur diseblahmu malah membahayakanmu."
"Aya kalau tidur kan enggak bisa diem kakinya, takutnya nanti malah mengenai perutmu."
"Enggak papa kok Mi, kan dah lumayan kering juga" kata Ervi.
"Ya terserah sama kamu aja, Sami ngikutin kalian aja" kata Fariel.
"Kalau ganggu biar nanti tidur sama Sami aja dikamar lain, atau kamar Mama, biar Mama sama Bunda tidurnya."
"Boleh juga" kata Fida.
"Nanti kalau dah nyenyak aja ya dipindahkan si Aya."
Sampai dikamar.
"Tuh dah nyenyak banget kayaknya tuh" kata Ervi.
"Nanti aja dipindahkan" kata Fida.
"Sekarang jangan dulu, baru setengah jam tidurnya, nanti malah kebangun dan nangis malah jadi bangunin Rama."
"Ya dah sekarang kalian tidur duluan, dan kasih Asi dulu, kasian" kata Fariel.
"Aya biar disamping aja, aku dibawah."
"Ya udah angkat dulu Aya disamping sini, dan baru Bunda bisa kasih Asi" kata Ervi.
__ADS_1
Langsung ku geser secara perlahan agar tak bangun, lalu membantu Ervi kekasurnya.
Tiba-tiba.