
Bangun pagi-pagi karena terusik.
"blBangun" kata Mama, yang menarik-narik selimut.
"Cepetan bangun, dah siang ini."
Akupun membuka matanya namun matanya masih sedikit malas untuk dibuka lebar.
"Kenapa kalian tidur berdua kaya gitu" kata Mama.
Aku langsung ingat saat malam saat Fida merengek karena pinggangnya sakit minta dipijit dan melihat kesamping yang ternyata posisi Fida begitu dekat bahkan hampir menempel tubuhnya dengan tubuhku.
"Kenapa kalian tidur berdua seperti itu, kalian bukan suami istri, kalian juga bukan hubungan sedarah, tapi kalian tidur saling menempel walaupun masih berbeda selimut, tapi itu tetap salah dan gak boleh dilakukan" kata Mama, dengan sedikit marah.
Akupun langsung bangun dan duduk sambil mengumpulkan nyawanya.
Begitu pula dengan Fida yang juga ikutan bangun.
"Dah jam berapa" kata Fariel.
"Dah jam setengah sembilan" kata Mama.
"Nyenyak banget ya tidurnya, bahkan Mama yakin kalian gak bangun buat Shalat Subuh."
"Maaf Ma, akuuu" kata Fariel.
"Kalian sadar gak apa yang kalian lakukan" kata Mama.
"Aku hanya tidur biasa, gak ada hal lain" kata Fariel.
"Tapi kalian salah, kalian tidur dengan posisi yang sangat dekat bahkan kalian tidur dengan satu bantal" kata Mama.
"Hah, perasaan semalam kami tidur berjauhan dan bantalnya juga sendiri-sendiri" kata Fariel, ucap dalam hati.
"Maaf ma, semalam aku yang minta Uda buat mijitin pinggang ku yang sakit, karena biasanya Mami yang selalu mijit, jadi aku minta tolong sama Uda, maaf Ma, dia gak salah, aku yang salah" kata Fida.
__ADS_1
"Kalian tetap salah, kalau sampai hal terjadi diluar kendali bagaimana, ini dah berdosa, kalian salah, paham" kata Mama.
"Kalian harus segera menikah, kalian dah buat salah" kata Mama.
"Hah, kenapa harus nikah Ma, aku gak ngelakuin apapun selain tidur, kami juga tidur dengan selimut masing-masing" kata Fariel.
"Karena kamu tetap salah, kalian melakukan kesalahan, bahkan mungkin kalian sudah saling menyentuh, kalian bukan muhrim" kata Mama.
"Gak ada ma, hanya bantuin mijit aja, itupun masih memakai pakaian lengkap, gak menyentuh kulitnya" kata Fariel.
"Aku gak bisa kalau suruh nikah."
"Apa kamu masih memikirkan dia" kata Mama.
"Ingat mereka sudah merendahkan harga diri kita, sampai kapan pun kalian gak bakal bersama, hati Mama sakit."
"Tapi Ma" kata Fariel.
"Kalian memang saling cinta dan menyayangi, hubungan kalian berdua memang gak salah, tapi satu hal yang Mama gak bisa menerima" kata Mama.
"Mereka mengusir kami saat Mama dan Bapakmu datang ke rumahnya, apa yang mereka katakan pada Mama dan Bapak kemaren."
"Mereka gak sudi punya mantu anak petani yang kerjanya hanya kuli."
"Mereka juga mengusir kami seperti sampah, ingat seperti sampah."
"Tapi akuuu" kata Fariel.
"Mama gak akan setuju jika kamu pergi menemuinya dan akan menikah dengan kawin lari" kata Mama.
"Sekarang kamu tinggal pilih."
"Mau menikah dengan dia yang menganggap keluarga kita hanya numpang hidup mewah atau sampah tapi kamu harus pergi dari rumah Mama, jangan pernah panggil aku Mama kamu lagi juga hapus nama depan kamu, hilangkan nama Akhmad dari namamu" dengan nada marahnya.
"Skarang tinggal pilih, lupakan dia atau pergi dari kehidupan Mama."
__ADS_1
"Mama gak sudi punya anak yang menikahi wanita tanpa restu dan membawa lari, lebih baik Mama gak punya anak sekalian."
"Mama masih punya orang yang kuanggap seperti anak Mama sendiri, ada kakakmu ini yang seperti anak Mama juga, ada Ervi juga, bahkan Dewi dari putri Pak Abdul yang juga memanggil Mama seperti mamanya sendiri, mereka itu baik sama Mama dan Bapak dari dulu, walaupum aku sebenarnya tau kalau Dewi itu suka sama kamu bukan sebagai sahabat mu tapi lebih dari sahabat, makanya dari dulu dia suka tidur dirumah kita, bahkan kemarin juga mereka menginap dirumah Mama, mereka bilang jika kamu berubah pikiran nanti dan mau menganggap Dewi sebagai calon pendamping hidupmu mereka akan sangat senang, tapi jika tidak mereka harap kamu tetap bagian dari keluarganya."
"Pikirkan Kata-kata Mama barusan."
"Iya Ma, kasih aku waktu buat melupakan semuanya" kata Fariel, dengan menundukkan kepalanya.
"Ingat lupakan dia, walau itu menyakitkan bagimu" kata Mama.
"Jangan lakukan hal bodoh lagi, atau kalian akan Mama nikahkan langsung."
"Iya Ma" kata Fariel.
"Dan kamu Fida, jangan lagi-lagi minta bantuan buat mijitin sama Akhmad, karena kalian bukan muhrim, masih ada yang lain dirumah ini, masih ada Bibi dirumah ini yang pasti mau membantumu" kata Mama.
"Iya Ma, maaf aku yang salah" kata Fida.
"Sekarang kalian bangun dan mandi terus makan" kata Mama.
"Dan kamu juga harus bekerja, bukan enak-enakan tidur, ini bukan rumah kita, jangan seenaknya saja melakukan apa pun dirumah ini, kita hanya numpang disini, walaupun mereka menyayangimu seperti anaknya, tapi kamu gak bisa seenaknya saja disini, jadi sekarang bangun mandi, makan terus berangkat kerja."
"Jangan bikin Mama naik darah."
"Iya Ma" kata Fariel.
"Sekarang kamu bawa selimutnya dan naik ke kamarmu" kata Mama.
"Dan Fida biar Mama aja yang bantu, Mama yang akan membantu selama Mami kamu sedang dirumah Ervi."
"Iya Ma, makasih" kata Fida.
"Ayok kita kekamar kamu, biar Mama siapkan semuanya kebutuhan kamu" kata Mama.
Fida pun langsung bangun dan langsung berjalan dengan dituntun Mama kekamar nya sambil membawa selimut ditangan kanannya, karena tangan kiri dipakai buat memegangi Fida.
__ADS_1
Akupun langsung bangun dan melipat selimut, membereskan bantal lalu setelah itu langsung kekamar buat mandi.