
Setelah beberapa menit akhirnya selesai juga membaca Surah Maryam, dan kak Fida juga sudah bangun.
"Sadaqallahul Azim" kata Fariel, lalu menutup Alquran dan meletakkannya diatas meja.
"Kakak sudah bangun" kata Ervi.
"Iya" kata Fida.
"Apa kakak mau minum" kata Fariel.
Hanya dijawab dengan anggukan, lalu kubantu untuk duduk, dan Ervi memberikan minumnya, lalu setelah itu bertanya.
"Apa kakak mau mandi, dah sore, ini sejam lagi juga Maghrib" kata Ervi.
"Kenapa kakak ada disini, bukannya tadi kakak di sofa" kata Fida.
"Tadi mas yang gendong kakak kemari supaya kakak bisa tidur dengan nyaman" kata Ervi.
"Makasih ya dek sudah gendong kakak sampai kamar, kakak kan berat" kata Fida.
"Iya kak, buat ku mah kakak itu gak berat, lebih baik sekarang kakak mandi aja dulu, terus Shalat Ashar, masih ada waktu kok buat Shalat Ashar" kata Fariel.
"Iya" kata Fida.
"Kalau gitu aku keluar dulu ya kak" kata Fariel.
"Dek kamu disini aja ya, siapin baju dan bantu kakakmu".
"Iya mas" kata Ervi.
"Kakak bisa sendiri kok dek" kata Fida.
"Kalian gak usah cemasin kakak, lebih baik kalian keluar aja, sapa tau kalian mau ngapain gitu".
"Gak ada kok kak, adek mau disini aja bantuin kakak" kata Ervi.
"Kalau gitu aku keluar dulu ya" kata Fariel.
"Dek tolong titip kakak, jagain, mas mau ada perlu keluar sebentar".
"Apa mau nitip sesuatu kak, dek".
"Iya mas, adek bakal jagain dan gak bakal kemana-mana" kata Ervi.
"Martabak kacang kalau boleh".
"Iya, apa ada yang lain" kata Fariel.
"Kakak mau apa".
"Itu aja mas" kata Ervi.
"Gak ada, hanya mau makan mangga aja" kata Fida.
"Ya udah nanti aku carikan mangganya" kata Fariel.
"Mangga muda kan".
"Iya" kata Fida.
"Hmmmm sama pepaya".
"Iya, ya udah kalau gitu aku keluar ya, Assalamu'alaikum" kata Fariel.
"Waalaikumsalam" jawab keduanya.
Akupun langsung keluar menuju kamar untuk mengambil jaket dan dompet, HP juga tentunya.
Sampai di garasi langung meminta kunci motor pada Pak Udin, karena dia yang selalu memegang kunci motor.
"Assalamu'alaikum Pak, kunci mana kunci" kata Fariel.
"Waalaikumsalam, bikin kaget aja Den" kata Udin.
"Kunci mana kunci" kata Fariel.
"Oh, bentar Den biar kuambil dulu" kata Udin.
"Yang pio aja Pak, atau matic kalau gak" kata Fariel.
"Beres Den" kata Udin, yang langsung berjalan untuk ngambil kunci.
"Nih Den kuncinya" kata Udin, sambil memberikan kunci motor.
"Mau kemana sih Den, sore-sore begini".
"Mau nyari mangga muda, dan pepaya juga martabak" kata Fariel
"Ohhh, apa mau Bapak bantu Den, biar naik mobil sambil jalan-jalan sore gitu" kata Udin.
"Gak usah deh Pak, Bapak kalau mau jalan-jalan, tinggal jalan aja pake sepatu atau sandal jangan pake mobil, kalau pake mobil itu namanya bukan jalan-jalan tapi keliling pake mobil" kata Fariel.
"Hehehehe iya ya, kalau jalan-jalan itu hanya pake sandal atau sepatu ya" (kata Udin.
"nmNah tu tau" kata Fariel.
"Kenapa gak pake mobil aja Den, kan Aden dah bisa nyetir" kata Udin
"Jalau sore takut macet, dan gak bisa leluasa nyarinya, takutnya harus masuk gang sempit, kalau pake motor kan enak, bisa masuk keluar gang" kata Fariel.
"Iya juga ya Den" kata Udin.
"Ambilkan tas juga Pak, tas yang kemaren tas gendong" kata Fariel.
"Iya bentar" kata Udin, lalu berjalan.
"Nih tasnya Den, ati-ati Den, jangan lupa oleh-olehnya buat teman main catur nanti malam" kata Udin.
"kalau main catur bukannya ada temannya tuh, si Pak Dani sama Ari" kata Fariel.
"Maksudnya bukan itu Den, tapi makanan buat sambil main catur gitu loh Den" kata Udin.
"iya nanti, kukasih mangga mudanya satu-satu buat teman main catur kalian" kata Fariel.
"Atau gak tuh pion sama kuda dikunyah, biar cepet".
"Ihhh Aden mah bisa aja, emang Bapak lagi hamil apa" kata Udin.
"Cepet dikubur maksudnya Den".
"Iya, tuh perutnya dah empat bulan" kata Fariel.
"Ini lemak Den hehehehe" kata Udin.
"Oh lemak, kirain cacing" kata Fariel.
"Ya udah nanti kukasih".
"Assalamu'alaikum".
"Waalaikumsalam" kata Udin.
"Iya juga ya kata si Aden, perutku macam Ibu hamil empat bulan" sambil mengelus perutnya.
Dan aku berjalan menuju tempat kos cewek untuk menjemput seseorang yang lagi ngambek karena minta makan bareng diluar. sampai didepan gerbang kos langsung kuambil hp dalam kantong jaket dan langsung ku telpon.
"Hallo Assalamu'alaikum, cami dah didepan pintu gerbang nih, cepetan keluar dong kalau jadi mau makan diluar" kata Fariel.
"Iya bentar, nih mau keluar" kata Tia.
"Waalaikumsalam" langsung mematikan panggilan telepon.
Dan setelah beberapa menit yang ditunggu keluar juga.
"Kok cami bawa tas, emang mau kemana" kata Tia, ang baru sampai.
"Dan kok pake matic pionya kemana, gak biasanya".
"Ini biar enak, cami banyak pesanan dari kakak dan adek cami, yang minta dibelikan mangga muda dan pepaya juga martabak, nanti canis bantu nyari juga" kata Fariel.
"Iya beres, tapi gak gratis ya" kata Tia, dengan senyuman nya.
"Iya, nanti cami kasih mangga mudanya juga satu kilo" kata Fariel.
"Ih emang aku lagi ngidam apa dikasih mangga muda" kata Tia, dengan muka sedikit cemberut.
"Ya sapa tau kan" kata Fariel.
"Ih cami mah, kan canis masih bersegel ya belum di apa-apain, dan belum waktunya" kata Tia.
"Oh berarti ini sudah minta di apa-apain nih" kata Fariel.
"Gak" kata Tia.
"Banti kalau udah lulus dan sah".
"Emang apanya tuh, mikirnya biasa aja" kata Fariel.
"Keningnya gak usah di kerutin begitu, apa mau cami cium tuh kening".
"Gak usah, terimakasih" kata Tia.
"ymYuk naik" kata Fariel.
Dan Tia pun langsung naik motor, lalu berpegangan melingkarkan tangannya dipinggangku.
"Kita mau makan dimana nih" kata Fariel.
"Beli martabak aja, gak jadi makan yang lain" kata Tia.
"Yakin nih, gak jadi makan" kata Fariel.
"Yakin dong camiku sayang" kata Tia.
"Oke deh ayok kita cari buah aja dulu ya" kata Fariel.
"pmPegangan yang kuat".
"Boleh, ini dah pegangan dari tadi loh beeeb" kata Tia.
"aoh iya, saking nyaman nya jadi gak tau kalau udah pegangan, tanpa disuruh sudah pegangan pada perut cami, padahal kan cami suruh pegangannya dibelakang, di besi itu, kayaknya betah banget melingkar diperut cami ini, kenapa ya" kata Fariel.
"Ihh cami mah, enakan kaya gini, biar lebih romantis dan lebih nyaman" kata Tia.
"Ah masa" kata Fariel, yang sudah jalan perlahan.
"Iya dong camiku tersayang" kata Tia.
"Ini kita nyarinya kemana nih yank, cami kan gak tau dimana yang ada buah mangga mudanya" kata Fariel.
"Kayaknya di sebelah sana ada deh mi, kemaren canis liat ada yang jual mangga, siapa tau ada mangga mudanya" kata Tia.
"Boleh, kita coba aja dulu, canis arahin ya kemana arahnya, cami gak tau tempat yang canis maksud" kata Fariel.
"Oke cami sayang" kata Tia.
"belok kiri mi" kata Tia.
akupun langsung membelokkan motornya.
"Itu didepan mi, kita tanya aja dulu" kata Tia.
"Iya ayuk" kata Fariel.
Langsung ku hentikan motornya di samping gerobak tukang buah.
"Maaf Pak apa ada mangga muda" kata Tia, yang masih diatas motor.
"Wah gak ada dek, tapi kalau mau biar Bapak tanya ke teman-teman Bapak".
"Boleh Pak, butuh dua kilo kalu ada" kata Tia.
"Bentar ya dek biar Bapak telpon dulu".
"Banyak banget yank, canis beneran ngidam" kata Fariel, sambil melirik kebelakang.
Lalu aku malah dicubit.
"Dasar cami" kata Tia.
"Sakit loh canis ku sayang, bukannya disayang-sayang ni perut malah dicubit, nanti canis gak bisa pegangan pada perut cami lagi kalau perut cami sakit" kata Fariel.
"Duh duh atit ya mi, maaf ya camiku tersayang" kata Tia.
"Ada nih dek di teman Bapak katanya ada tapi gak ada dua kilo hanya sekitar satu kilo lebih, gimana dek".
"gak papa Pak, dimana tempatnya pak biar kami aja yang ke sana" kata Fariel.
"Itu didepan belok kiri terus, nanti kalau ada perumahan belok kanan ada disekitan situ dek".
"Oh baik Pak, makasih ya Pak" kata Fariel.
"Iya dek".
"Permisi Pak" ucap kami berdua.
__ADS_1
Kami pun langsung cabut menuju tempat yang dimaksud Bapak tukang buah tadi yang tidak jauh dari sini juga.
"Mungkin itu kali mi" kata Tia, yang melihat ada penjual buah.
"Ayok kesitu" kata Fariel.
Begitu sampai kami langsung turun dari motor, lalu.
"Pak permisi, apa ada mangga muda" kata Fariel.
"Mas orang yang dimaksud teman Bapak tadi ya, yang minta mangga mudanya".
"Iya Pak, itu kami" kata Fariel.
"Ada nih mas, tapi hanya sekilo aja mas, tadi ada yang minta juga, barusan telpon tadi, jadi yang setengah kilonya Bapak kasih keorang lain, gak papa kan mas".
"Gak papa kok Pak, sekilo pun jadi, daripada sama sekali gak dapat, bisa-bisa nanti dicemberutin mulu kalau gak dapat" kata Fariel.
"Iya mas, tuh istrinya keliatannya juga udah sedikit ngambek mas" yang melihat raut wajah Tia sedikit ditekuk.
Akupun langsung melihat kebelakang, kearah Tia.
"Pasti ngidamnya macem-macem ya mas".
"Sedikit sih Pak, tadi minta dibuatkan pecel lele, dan sekarang minta mangga muda sama pepaya juga" kata Fariel.
"Ihhh, biasa tuh mas, namanya juga ngidam mas".
"Ini pepaya juga ada mas mau berapa".
"Dua aja Pak" kata Fariel.
"Dua apa nih mas, ini bukan kiloan mas pepaya nya tapi satuan gini".
"Iya dua Pak, yang satu jangan terlalu matang Pak, biar nanti bisa milih yang mana yang disukainya, daripada nanti balik lagi kan repot Pak" kata Fariel.
"Hahahaha, iya juga mas, tuh istrinya irit banget sama suara ya mas, dari tadi diem mulu gak ada keluar suara".
"Lagi irit energi Pak" kata Fariel.
"Jadi berapa pak semuanya".
"Tuju puluh aja mas, mangganya yang mahal mas, susah nyarinya mas jadi sedikit mahal".
"Iya Pak, aku gak bakal nawar Pak, takut nanti jadi gak baik kalau nawar" kata Fariel.
"Nih Pak" sambil menyerah kan selembar uang selembar ratusan.
"Iya mas, yang penting istri sama anak dalam kandungan baik-baik aja sampai lahiran mas".
"ini mas kembaliannya".
"Iya Pak, makasih atas Doa nya ya Pak" kata Fariel.
"Permisi Pak, Assalamu'alaikum".
"Waalaikumsalam".
"Istrinya dijagain yang bener mas, biar gak ngambek lagi itu, dan cemberut mulu, nanti bisa-bisa tidur diluar".
Dan aku hanya mengacungkan jempol kanannya
lalu memasukkan buah-buahan pada tas dan kuletakkan didepan.
"Yuk naik" kata Fariel.
Dan Tia pun langsung naik.
"Kemana lagi kita" kata Fariel.
"Nyari bakso aja dulu dong mi, lapar nih" kata Tia.
"Yaudah ayok kita cari baksonya, mau dimana" kata Fariel.
"Didepan aja tadi kayaknya ada yang jualan bakso" kata Tia.
"Oke bos" kata Fariel.
"Oegangan yang bener" langsung kutancap gas saat Tia sudah melingkar kan tangannya.
"Mau yang mana nih, ada dua tuh warung baksonya" kata Fariel.
"Yang sebelah sana aja yang sedikit lebih sepi" kata Tia.
Langsung ku arahkan motorku pada tempat yang dunjuk Tia.
"Ayok turun nyai ratu, sudah sampai ditempat yang nyai mau" kata Fariel.
"Apaan sih mi" kata Tia, sambil mencubit lenganku.
"Ihhh suka banget nyubit ya sekarang, awas aja nanti bakal cami bales cubitannya dengan yang lain kalau sudah pas waktunya" kata Fariel.
"Emang kapan waktu yang pas mi" kata Tia, sambil turun dari motor.
"Ada deh pokoknya nanti, itu kejutan" kata Fariel.
"Iih cami mah gitu, bikin penasaran aja" kata Tia.
"Harus dong, kan kejutan" kata Fariel.
"Yaudah ayok masuk".
"Iya ayok" kata Tia.
"Bu bakso kosongnya dua ya" kata Tia.
"Iya ditunggu ya dek, duduk aja dulu, nanti biar diantar kemeja".
dmDan kami pun menuju meja, setelah duduk kami ngobrol dulu sambil menunggu pesanannya datang.
"Tadi cami ngobrol apa aja sama Bapak itu" kata Tia.
"Banyak" kata Fariel.
"Apaan dong, kan canis mau dengar apa aja yang cami omongin tadi, yang kayaknya bawa-bawa aku segala dalam pembicaraannya" kata Tia.
"Tadi tuh Bapak kira kamu yang lagi ngidam dan aku sama kamu itu dikira sepasang suami istri" kata Fariel.
"Ohhh terus" kata Tia.
"Bapak itu bilang kalau muka kamu cemberut mulu gak mau keluar suara sedikit pun, kayak lagi merajuk minta sesuatu gitu" kata Fariel.
"Siapa yang cemberut rang tadi canis lagi nahan lapar" kata Tia .
"Terus apa lagi".
"Ihh, kok kita dikira sepasang suami istri ya mi" kata Tia
"Iyalah, kan kita datang berdua, apalagi canis pegangannya so sweet bingit tadi, kayak gak boleh kemana-mana caminya, eraaattttt banget" kata Fariel.
"Iya juga ya mi, jadi berasa kita sudah nikah ya mi kalau ada yang bilang seperti itu" kata Tia.
"Ini bakso nya" ucapnya sambil meletakkan dua mangkok bakso.
"Makasih Bu" kata Tia.
"Yuk makan, dah mau Maghrib nih, kita harus nyari martabak lagi nanti" kata ariel.
"Oh ya, ayok mi" kata Tia.
"Nanti cami Shalat di tempat kos canis aja, kan ada tempat untuk shalat juga".
"Oke" kata Fariel.
Lalu kami menyantap bakso, tak lupa juga baca doa dulu sebelum makan.
Setelah beberapa menit selesai juga makannya.
"Alhamdulillah" kata Fariel.
"Masih kurang gak, biar pesan lagi".
"gmGak usah mi, nanti kan mau makan martabak" kata Tia.
"Ih ngarep, beli sendiri kalau mau" kata Fariel.
"Ihhh cami pelit" kata Tia, lalu memjukan bibir nya.
"Becanda, udah jangan manyun gitu, gak enak diliatin sama yang lain" kata Fariel.
"Iya camiku sayang" kata Tia.
"Wah ketemu lagi mas disini" ucap penjual buah tadi.
"Wah Bapak disini juga, mau makan bakso juga Pak" kata Fariel.
"Ini tadi anak saya minta makan bakso".
"Itu istrinya dah gak ngambek lagi ya mas".
"Gak Pak, dah di kasih gizi barusan jadi dah mau keluarin suaranya" kata Fariel.
"Haha lucu ya mas istrinya".
"Belum lama ya mas nikahnya, kayak pasangan yang masih seperti orang yang masih asik pacaran".
"Baru beberapa bulan yang lalu Pak" kata Fariel.
"Ya seperti inilah Pak, sah dulu baru pacaran Pak biar gak khilaf".
"Cami apaan sih" kata Tia.
"Istrinya namanya siapa nih mas, kayaknya sayang banget sama masnya, sampe dipegangin kayak gitu tadi kaya takut bakal lari".
"Namanya Astria Pak" kata Tia.
"Kalau camiku ini namanya Fariel".
"Dah bisa ngomong sekarang ya mas istrinya, kayaknya gizinya mempan tuh mas".
"Dah disuapin kayaknya juga tadi ya mas".
"Panggilannya juga beda ya mas".
"Hehehe, mungkin juga iya Pak" kata ariel.
"Iya tadi Pak, lagi manja Pak, makan harus disuapin".
"Kalau panggilan biar sedikit beda panggilan sayangnya Pak, gak sama dengan yang lain".
"Camiiiii" kata Tia
Dan aku hanya nyengir aja.
"Kalau boleh tau dah berapa bulan mas usia kandungannya".
"Dua" kata Tia, serobotnya.
"Ohhh, pantesan masih keliatan rata, tapi sudah ada bayi dalam perutnya ya neng".
"Iya Pak" kata Tia, dengan sedikit senyum.
"Nah gitu dong neng senyum, masa masnya daritadi dicuekin mulu gak dikasih senyum, kan kasian suaminya gak dapat senyum padahal udah ngasih ini itu buat nurutin yang lagi ngidam loh".
"Iya Pak" kata Tia, sambil menghadap kesamping dengan senyum gembira.
"Nah kalau gitu, pasti suaminya makin semangat buat nurutin kemauan bumil kalau dapat senyum manisnya, ya kan mas" ucapnya yang melihat senyum merekah.
"Iya dong Pak, itu harus, itu penyemangat juga" kata Fariel.
"Kalau gitu kami duluan ya Pak, dah Adzan".
"Iya silahkan mas dan nengnya, gak baik juga buat bumil keluar kemaleman".
"Makasih ya pak sarannya yang tadi" kata Fariel.
"Iya mas, kalau nanti minta mangga muda datang aja mas ke kios ku, InsyaAllah ada setiap hari, walau hanya beberapa kilo aja".
"Iya Pak makasih, nanti kalau minta lagi pasti langsung ke tempat Bapak, kalau gak suruh manjat sendiri" kata Fariel.
"Permisi ya Pak".
"Iya".
Kami pun kang berdiri berjalan kearah Ibu penjual.
"Berapa Bu baksonya dua tadi" kata Fariel.
"Tiga puluh dek".
"Istrinya tu ya mas, kayaknya sayang banget sampe digandeng kaya truk gandeng aja".
"Lagi manja buk, biasa" kata Fariel.
__ADS_1
"Nih Bu uangnya" sambil menyerahkan uang pas.
"Maksih ya mas".
Lalu kami kelur dan sampai di motor.
"Ayok naik" kata Fariel.
"Iya, camiku sayang" kata Tia, lalu naik.
"Kalau bisa nanti makan mangga mudanya jangan dia makan pagi-pagi sebelum makan makanan yang lain mas" ucap bapak tadi sambil menenteng plastik.
"Iya Pak, makasih sarannya" kata Fariel, ucapnya sedikit keras.
"Yuk kita nyari martabak langsung" kata Fariel.
"Ayok mi, di simpang lima aja mi, itu lebih lengkap dan enak lagi mi" kata Tia.
"Ya ayok kita lets go" kata Fariel.
Kita pun langsung jalan menuju tempat martabak disimpang lima.
Sampai ditempat untung masih sepi, belum banyak pembeli, karena masih Maghrib jadi masih sedikit sepi.
"Ayok turun" kata Fariel.
"Ayok mi" kata Tia.
"Pesannya dipisah ya, maratabak kacang dua sama keju terus telur" kata Fariel.
"Martabak keringnya mau gak mi" kata Tia.
"Boleh, masing-masing dua porsi ya, dan yang ini dipisah lagi buat orang lain martabak bangka dan kacang satu satu aja ya" kata Fariel.
"Oke cami ku sayang" kata Tia.
Tia pun langsung memesan semuanya yang tadi ku sebutkan dan tak lupa juga di memesan dua rasa yang berbeda.
"Kita duduk dulu yu mi, lama kalau nunggunya nih mi" kata Tia.
"Bang boleh duduk kan" kata Tia.
"Oh iya silahkan aja kak dan ayangnya juga"
"ini bakal sedikit lama, duduk aja, itu juga ada minuman aqua gelas kalau haus, kasian nanti istrinya kalau nahan haus".
"Iya bang makasih" kata Fariel.
Lalu kamipun duduk
"Canis pesan apa aja".
"Hanya dua kok camiku sayang, gak banyak, nanti gak habis kalau kebanyakan" kata Tia.
"Kan canis makan juga buat dedek bayi juga" kata Fariel, goda nya.
"Iiih apaan si mi" kata Tia.
"Lah ini perut kayaknya dah dua bulan seperti yang tadi canis bilang disana" kata Fariel, yang sambil mengelus perutnya dari luar kaos dan jaket yang masih menempel.
"Ih apaan sih camiku ini" kata Tia, sambil menepis tanganku.
"Itu kan cami juga yang bikin canis seperti ini, gara-gara cami jadi kita harus seolah-olah memang aku lagi ngidam".
"Ah masa, bukannya ngidamnya beneran ya, kan dari kemaren ngambek mulu minta makan bareng diluar" kata Fariel.
"Kan canis kangen sama cami yang selalu sibuk dengan keluarga cami juga, bahkan sampai lupa kalau malam vc canis dulu sebelum bobo cantik" kata Tia.
"Kan kemaren cami ada acara keluarga tiap malam, kan suami kakak cami baru ninggal jadi ya cami juga harus berusaha menenangi kakak cami supaya bisa tabah dan gak berbuat yang aneh-aneh" kata Fariel.
"Kok cami gak ngasih tau sih, kan canis bisa ikut bantu nenangi kakak cami, sapa tau bisa jadi tempat buat curhat atau membantu apa gitu" kata Tia.
"Gak usah, kakak cami hanya mau sama orang yang menurutnya tepat aja buat jadi teman ngobrol, bahkan cami harus susah payah membujuknya hanya buat makan dan biar tidak banyak melamun" kata Fariel.
"Iya juga ya mi, cami harus buat kakak cami jadi orang yang kuat dan tabah, canis bakal dukung cami" kata Tia.
"Semangat" dengan mengepalkan tangannya.
"Iya, makasih ya canisku sayang dah mau ngertiin camimu ini" kata Fariel.
"Ini bang pesanannya".
"berapa bang semuanya" kata Fariel.
"Karena abang pesan banyak dan istrinya juga lagi hamil jadi saya kasih diskon buat sepasang suami istri yang sudah nikah, tapi masih seperti anak muda yang lagi pacaran walau dalam keadaan halal pacarannya".
"jadi tiga ratus aja bang".
Lalu aku mengambil uang dalam dompet.
"Ini bang" kata Fariel, yang menyerahkan berapa lembar uang ratusan.
"Makasih dah mau pesan maratabak disini, kalau sering pesan banyak nanti kukasih diskon lagi bang buat kalian berdua yang sedang ngidam", sambil menyerahkan beberapa bungkus dalam kantong plastik.
"Hah" kata Tia, yang mendengar.
"Iya bang makasih ya bang, permisi" kata Fariel.
"Iya".
Lalu kami pun langsung menuju kos Tia untuk mengantarkan dulu baru pulang.
"Dah sampai nih, ayok turun" kata Fariel.
"Cami Shalat disini aja, kalau pulang nanti bakalan dah habis waktu Shalat Maghrib nya" kata Tia.
"Oke deh" kata Fariel.
"Ayok masuk, gak papa, kan ada yang lain juga didalam, jadi aman" kata Tia.
"Nanti aku bilang sama Ibu kosnya kalau cami numpang Shalat Maghrib disini".
"Oke baiklah, ayok masuk, dan bawa itu martabak nya, biar cami bawa tasnya" kata Fariel.
"Iya baiklah camiku sayang, mari tuan raja yang terhormat" kata Tia.
"Iya ayok" kata Fariel.
Dan kami pun langsung masuk kedalam rumah kos, didalam ada Indah dan Nia yang lagi masak buat makan malam.
"Assalamu'alaikum" kata Fariel.
"Waalaikumsalam" jawab mereka dan juga Tia.
"Letakkan aja disitu mi, itu kamar mandinya, cami Shalat aja dulu, nanti canis nyusul, canis belom ganti baju, dan Shalat nya diruangan ini" kata Tia, menunjuknya pada ruangan kamar yang kini dijadikan tempat untuk Shalat sama mereka karena penghuni nya sudah pindah rumah kos kesebelah.
"Iya, jangan kelamaan, cami tungguin buat Jamaah bareng" kata Fariel.
Lalu aku berjalan menuju kamar mandi yang ada sebelah didapur.
"Mas bambang mau Wudhu ya" kata Nia.
"Bambang Bambang, Fariel, fa riel" kata Indah.
"Iya, apa kalian belum pada Shalat juga ya" kaya Fariel.
"Hehhehe" berdua sambil nyengir.
"Yaudah sekalian ayok kita berjamaah, masaknya lanjut nanti aja lagi" kata Fariel.
"Iya, ayok, duluan aja Wudhu nya nanti kami gantian" kata Nia.
Akupun langsung masuk untuk berwudu, setelah selesai langsung keluar menuju kamar yang dimaksud tadi.
"Kutunggu didalam ya, cepetan sebelum habis waktunya" kata Fariel.
"Iya" jawab berdua bersamaan.
Lalu aku masuk kedalam, dan duduk sambil menunggu yang lain juga, setelah semuanya masuk dan siap langsung kita melaksanakan Shalat Maghrib bersama.
Setelah selesai gak lupa dengan membaca Doa dan dzikir sebentar. kemudian setelah Shalat saya pamit untuk pulang.
"Cami pamit pulang ya nis" kata Fariel.
"Iya, tapi cium tangan dulu" kata Tia.
"Duh manjanya si Nyai" kata Indah.
"Iri" kata Tia.
"Bilang boss" ucapku dan Tia bersamaan.
"Gak layau" kata Indah.
"Mending lanjut masak lagi aja Ndah, daripada nanti kena semprot sama Nyai ratu Kidul" kata Nia.
"Iya ayok" kata Indah.
"Mi, peluk" kata Tia.
"Gak boleh gitu ah, kayak lagi ngidam aja nih" kata Fariel.
"Ini lebih dari ngidam mi" kata Tia, yang langsung memelukku.
"ini buat obat kangen untuk beberapa hari, dan bunga tidurku"
"Iya deh iya, dah ya, cami pulang nih, kalau gak boleh pulang besok kita bakal diseret sama Ibu kos sampai KUA loh" kata Fariel.
"Iya camiku sayang, bentaran aja" kata Tia.
"Dah cukup" lalu melepaskan pelukannya.
"Kalau gitu cami pulang ya" kata Fariel.
"Iya, kissnya mana" kata Tia.
"Dada canisku sayang emmuanchhh" yang melempar ciumannya dengan tangan.
"Ini dah diambil martabak punya canis" kata Fariel.
"Oh iya lupa" kata Tia.
Lalu mengambil mastabak dalam plastik.
"Yang ini punya ku, dan yang ini punya cami, kalau ini pesanan yang isi satu satu".
"Pisahin sekalian dong, biar nanti gak salah kasih kemereka" kata Fariel.
"Oke camiku sayang, yang ini, yang iketannya seperti ini ya mi" kata Tia.
"Oke, makasih cnisku sayang" kata Fariel, lalu meraih tas dan ku gendong dan meraih plastik berisi martabak.
"Assalamu'alaikum".
"Jisnya mana" kata Tia.
"Kan udah tadi" kata Fariel.
"Ulang" kata Tia.
"Nih tangkap baik-baik ya" kata Fariel.
"emmmmmuuuuuaaachhhhhh" lalu melemparkan kearahnya dan ditangkap.
"Hap" kata Tia, yang seolah menangkapnya.
"Assalamu'alaikum" kata Fariel.
"Waalaikumsalam" kata Tia.
Dan akupun berjalan menuju motorku parkir, kuletakkan martabaknya didepan lalu pulang.
Sampai di rumah, langsung kuparkirkan motornya dan memberikan maratabak nya pada Pak Udin.
"Nih Pak pesanan Bapak, kuncinya masih nyangkut dimotor" kata Fariel.
"Iya Den, makasih, sering-sering aja den biar makin gemuk akunya" kata Udin.
"situ yang gemuk saya yang kurus, rugi dong" kata Fariel.
"Dah ya, aku mau masuk kedalam dulu".
"Iya Den silahkan" kata Udin.
Dan akupun langsung masuk kedalam menuju dapur.
"Assalamualaikum" kata Fariel.
"Waalaikumsalam" jawab mereka yang lagi di dapur.
"Bi, apa sudah ada yang makan malam" kata Fariel.
"Belum Den, ini masih masak, sebentar lagi juga selesai Den" kata Ani.
"Ini tolong di taro di piring ya Bi, Bibi kalau mau makan, ambil aja mau yang mana aja boleh, atau mau ambil dua atau tiga potong dari masing-masing" kata Fariel.
"Iya Den makasih, nanti Bibi hidangkan dipiring Den" kata Diah.
__ADS_1
"Kalau gitu aku kekamar dulu ya Bi" kata Fariel.
"Iya Den" ucap berdua.