
"Mau disuapin enggak makannya" kata Fariel.
"Enggak usah malu, anggap aja mereka sedang menonton kita makan."
"Yuk makan yuk."
"Balik badannya ya, biar posisinya enak buat nyuapin "
"Tapi Mi" kata Fida, yang berbisik.
"Enggak papa, Ayok" kata Fariel.
"Nanti kalau kelamaan makin lapar loh, mereka juga enggak papa lihat kita nanti makannya."
"Apa mau makan sendiri pakai sendok sendiri atau mau Sami suapin pakai tangan."
"Pakai tangan aja, tapi suapin" kata Fida.
"Ya udah balik badannya" kata Fariel.
Langsung dengan malu-malu dan menunduk secara perlahan merubah posisinya.
"Mau yang mana, kalau punya Sami ini pedas banget" kata Fariel.
"Apa mau ku ambilkan yang lain."
"Itu aja punya Sami" kata Fida.
"Kalau lapar makan, jangan ditahan, nanti sakit malah enggak bisa manjaan lagi" kata Mami.
Hanya nyengir kuda dan langsung menutup mukanya lalu malah mukanya kedadaku.
"Dah enggak usah malu, biasa aja" kata Papi.
"Dah lihat juga daritadi, ngapain malu."
"Malu sama siapa, sama Mama dan Bapak."
"Katanya mau makan" kata Fariel.
"Jangan kekgini dong, ini Sami suapin nih pakai tangan."
"Iya Mi" kata Fida, dengan lirih.
"Buka mulutnya" kata Fariel.
"Tenang, Sami dah cuci tangan kok, dah bersih."
"Ayok buruan bukak mulutnya."
Langsung dibuka mulutnya dan langsung masuklah makanannya.
"Dikunyah ayok" kata Fariel.
"Nanti kalau kurang biar ku ambilkan lagi."
__ADS_1
"Sekarang kunyah, Sami juga mau makan."
Dan kami makan sepiring berdua, tapi dengan menyuapinya.
"Mau tambah lagi, biar Mama ambilkan" kata Mama, yang melihat piring dah kosong
"Mau lagi enggak" kata Fariel.
"Kalau Sami masih lapar sih."
"Kamu mau lagi, kan baru sedikit."
Hanya anggukan dari Fida.
"Ya dah Mama ambilkan ya" kata Mama.
"Kamu duduk aja, mangku aja."
"Iya Ma, Makasih" kata Fariel.
"Mama kan malah senang kalau lihat kalian akur seperti itu, enggak ada yang saling iri" kata Mama.
"Kalau mau kan bisa gantian" kata Mami.
"Itulah resikonya jadi Suami memiliki dua Istri" kata Papi.
"Iya Mi, Pi" kata Fariel.
"Kalau Bunda dah sering saat Bunda lagi isi" kata Ervi.
"Aku enggak akan ganggu, jadi tenang aja."
"Makasih dah mau mengerti" kata Fariel.
"Aku pasti akan selalu berbuat adil pada kalian semua."
"Anak Ayah juga dah mau ngertiin Ayah sama Mama, makasih anak Ayah yang cantik."
"Besok main lagi sama Ayah, sekarang Ayah nemenin Mama main dulu ya, boleh kan."
"Boleh Ayah" kata Ervi.
"Leh" kata Aya.
"Pintarnya cucu Mami" kata Mami.
"Nanti mainnya sama Mama tua aja ya" kata Mama.
"Kita main masak-masakan atau main boneka."
"Asakan" kata Aya.
"Sama Bunda juga nanti mainnya sambil nemenin Dedek bobo" kata Ervi.
"Dah nih dimakan lagi biar kenyang, bisa manjaan lagi" kata Mama.
__ADS_1
"Makasih Ma" kata Fariel.
"Bapak sama Papi siang ini kemana" kata Ervi.
"Kenapa" kata Papi.
"Enggak papa, nanya aja" kata Ervi.
"Balik kekantor lagi" kata Papi.
"Entah kalau Bapak."
"Bapak enggak kemana-mana, apa ada sesuatu yang perlu Bapak bantu" kata Bapak.
"Enggak ada" kata Ervi.
"Nanya aja."
"Kapan Bapak sama Mama pulang" kata Ervi.
"Kenapa, apa mau ikut Mama kesana" kata Mama.
"Belum, nanti aja kalau dah tiga bulanan disini, nanti baru kesana" kata Ervi.
"Pengen beberapa hari disana."
"Abis itu juga harus lanjut lagi kuliah."
"Karena katanya harus lanjut lagi kuliahnya biar jadi."
"Kalau gitu Mama dukung" kata Mama.
"Enggak usah malu buat kuliah walaupun dah nikah dan punya anak, yang penting itu ilmunya bukan jabatannya nanti dan pangkatnya."
"Apa Mama Aya juga lanjut lagi kuliahnya, katanya mau lanjut kuliah lagi, apa iya."
"Enggak tau tuh Ma" kata Ervi.
"Katanya sih kemarin iya mau lanjut lagi kuliahnya."
"Apapun keputusan kalian bakal Mama dukung" kata Mama.
"Mama doakan semoga apa yang kalian mau bakal dikabulkan dan tercapai."
"Amin" semuanya.
"Dah habis lagi, masih kurang enggak" kata Mami.
"Lagi makannya" kata Fariel, tanyaku pada Fida, tapi hanya gelengan saja.
"Dah kenyang Mi, cukup."
"Nih minum dulu, habis ini tidur ya."
Hanya anggukan dan lalu meminum dengan bantuanku.
__ADS_1