Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Ervi sadar


__ADS_3

Selesai makan langsung cuci tangan dan balik lagi ke Rama juga Ervi yang masih berbaring belum sadarkan diri.


Kulihat Rama tertidur pulas di sampingnya dan aku tersenyum melihatnya.


Kuangkat Rama keranjangnya lagi buat tidur diranjangnya, setelah meletakkan Rama diranjangnya aku balik lagi duduk disamping Ervi.


Sambil menggenggam tangan Ervi dan meletakkan kepalaku diranjang aku kembali meneteskan air mata.


"Sampai kapan kamu akan tertidur seperti ini Nis" kata Fariel.


"Anak kita butuh kamu, begitupun aku juga yang butuh kamu."


"Kapan kamu akan bangun dari tidurmu ini."


"Aku kangen lihat senyummu, sama perlakuan manjamu untukku dan manjamu padaku."


"Bangun dong Nis, mereka butuh kamu ada disini buat kumpul bareng lagi."


"Lihat Mama, katanya kamu ingin ngobrol sama Mama, minta dibuatkan makanan sama Mama."


"Ayok bangun, Biar nanti bisa minta dibuatkan makanan seperti yang kamu minta, dan kamu yang akan memakannya sampai habis."


"Aku juga kangen tidur disampingmu, sambil mencubit hidung dan pipimu dan dipeluk kamu."


"Sami berharap ketika nanti Sami bangun dari tidurnya, Sanis juga membuka matanya dan terbangun dari tidurmu."


"Izinkan aku menggenggam tanganmu untuk menemani tidurku."


Kucium tangannya dan aku langsung memejamnkan matanya tuk tidur, karena lelah.


Aku tertidur sambil menggenggam tangannya, namun ada tangan yang mengusap kepalaku, dan ini seperti mimpi kalau yang mengusap kepalaku itu adalah Ervi.


Dan aku pun terbangun karena mimpi itu seperti nyata.


Dan kubuka matanya ada senyum kepadaku.


"Apakah ini hanya mimpi" kata Fariel.


"Apakah kamu beneran bangun."


Ervi hanya tersenyum kearahku.


"Alhamdulillah, ya Allah" kata Fariel.


"Aku kangen sama kamu."


"Akhirnya kamu bangun juga sekarang" langsung mencium keningnya.


"Makasih dah mau mendengarkanku, mau bangun."


"Aku takut kamu enggak bisa menemaniku hingga tua nanti seperti yang kamu mau."


"Aku kangen dengan semuanya bersamamu."


"Kangen dengan caramu memanjakanku, memelukku saat tidur."


"Aku pengen tidur sambil memelukmu."


"Mi" kata Ervi, dengan lirih.


"Iya, ada apa" kata Fariel.


"Apa ada yang perlu Sami lakukan buatmu."


"Aku kangen, pengen dipeluk" kata Ervi.


"Aku mau tidur dipeluk Sami, apa boleh."


"Tentu boleh dong" kata Fariel.


"Apa mau sekarang Sami peluk dan temanin tidur."


Hanya anggukan kepala dari Ervi.


"Baiklah kalau gitu Sami temanin tidur sekarang" kata Fariel.


"Tapi Aku mau lihat anak kita dulu sebelum aku tidur" kata Ervi.


"Nanti aja ya, sekarang anak kita sedang bobo, baru saja bobo" kata Fariel.


"Apa dia sehat Mi" kata Ervi.


"Katanya mau tidur" kata Fariel.


"Ngobrol nya sambil tidur dan dipeluk ya."

__ADS_1


"Iya Mi" kata Ervi.


Langsung kurebahkan badanku disamping Ervi dengan memiringkan badanku dan memeluknya.


Ervi juga memiringkan badannya dan memelukku.


"Aku kangen sama Sami" kata Ervi, dengan menangis.


"Maafin dah bikin Sami khawatir."


"Dah ya jangan nangis ya" kata Fariel.


"Nanti cantiknya luntur kalau nangis" sambil menghapus air matanya dipipinya.


"Ih Sami" kata Ervi.


"Dah peluk aja, jangan nangis" kata Fariel.


"Sekarang kan sudah jadi Ibu, jadi enggak boleh cengeng lagi, enggak boleh nangis lagi."


"Kalau manja boleh, tapi jangan nangis."


"Apa anak kita sehat Mi" kata Ervi.


"Sehat, seperti Ayahnya" kata Fariel.


"Berarti cowok ya Mi" kata Ervi.


"Iya cowok" kata Fariel.


"Kok aku yang ngandung kok malah cowok sih Mi" kata Ervi.


"Pasti mirip Sami enggak mirip Ibunya."


"Aku kan maunya yang mirip aku, dan cewek."


"Yang penting kan sehat, mau cowok atapun cewek itu sama aja" kata Fariel.


"Beda, aku mau yang cewek" kata Ervi.


"Nanti kalau Sanis dah sehat dan dia dah bisa jalan, Sanis mau anak cewek."


"Iya, tapi Sami engggak mau lihat kamu seperti ini lagi, Sami takut bakal ditinggal sama kamu" kata Fariel.


"Pokoknya Sami harus mau kasih Sanis anak cewek" kata Ervi.


"Namanya siapa Mi" kata Ervi.


"Maunya siapa" kata Fariel.


"Tapi untuk sementara sambil menunggu persetujuanmu, dah kukasih nama."


"Kalau nanti menurut Sanis enggak bagus, dan ada nama yang bagus menurut Sanis, boleh diganti."


"Emang namanya siapa Mi" kata Ervi.


"Rezki Akhmad Maulana Ramadhan" kata Fariel.


"Sebenarnya kemarin mau nama yang lain juga, ada seperti Azka, Iqbal, Irham, Gibran juga."


"Sanis suruh memilih nama mana yang bagus."


"Tapi itu dah bagus kok Mi" kata Ervi.


"Dipanggilnya siapa Mi."


"Ramadhan boleh, Rezki boleh atau Maulana juga boleh" kata Fariel.


"Mana yang menurut Sanis bagus buat dipanggil."


"Hemmm, Rama aja Mi" kata Ervi.


"Jadi nanti kalau punya anak cewek dipanggilnya Sinta, biar jadi Rama dan Sinta."


"Iya boleh" kata Fariel.


"Katanya mau tidur."


"Enggak jadi, maunya dipeluk aja, dah kangen sama pelukan Sami, selagi enggak ada yang ganggu" kata Ervi.


"Kalau nanti pasti enggak bisa meluk Sami karena anak kita bakal gangguin kita, apalagi kalau ada Aya, dah pasti Sanis enggak bisa meluk Sami."


"Ya udah sekarang puasin meluk Sami, biar Sami peluk juga" kata Fariel.


"Apa Sanis mau makan, atau mau dibuatkan sesuatu."

__ADS_1


"Sayur bening Mama aja Mi, pake jagung manis dan katu juga bayam" kata Ervi.


"Sama ceker ayamnya kalau bisa."


"Dah enggak sabar, baru bayangin aja dah ngiler nih Mi."


"Ya dah biar Sami telpon Mama ya, biar buatin makanan buat anak mantunya" kata Fariel.


"Bukannya Mama enggak mau pegang HP ya Mi" kata Ervi.


"Kan sama Mami diluar, jadi nelpon ke Mami" kata Fariel.


"Nanti Sami bujuk biar Mama mau pegang HP, jadi kalau Istriku kangen sama anakku bisa langsung nelpon ke Mama."


"Bentar ya."


"Disini aja, jangan kemana-mana" kata Ervi.


"Iya, enggak kemana-mana" kata Fariel.


"Duh manjanya yang baru bangun."


"Bentar buat ambil HP dibelakang dimeja." Langsung kuambil membalik posisiku dan mengambil HP lalu ku SMS ke Mami untuk memberitahu ke Mama untuk membuat makanan buat Ervi seperti yang Ervi minta, dan jangan masuk dulu, karena ada yang pengen dimanjain dengan dipeluk.


"Sudah, apa ada lagi."


"Gak ada, itu aja" kata Ervi.


"Sekarang mau dipeluk lagi."


"Iya, kupeluk lagi pokoknya sampai puas" kata Fariel, langsung meletakkan HP di meja dan langsung kembali memeluk Ervi.


"Dah Sami peluk nih, apa mau tidur."


"Apa enggak sakit."


"Enggak ada yang sakit kok Mi, sakitnya hilang saat dipeluk sama Sami" kata Ervi.


"Apa nanti dah boleh pulang Mi, Sanis bosen disini, enggak bisa leluasa meluk Sami."


"Coba nanti ya kita tanyakan ke Dokter" kata Fariel.


"Kalau dah boleh pulang nanti langsung pulang kerumah."


"Kenapa Sami belum potong rambut" kata Ervi.


"Maunya nanti kalau dah dikasih izin buat potong rambut sama kamu, takut kalau kupotong nanti kamu nyuekin Sami" kata Fariel.


"Tapi kalau mau dipotong jangan kependekan, Sanis maunya masih ada yang panjang biar bisa ngiketin rambut Sami pakai karet lagi" kata Ervi.


"Iya, nanti enggak bakal Sami potong" kata Fariel.


"Sami sasak aja dikit biar lebih sedikit rapi."


"Ini juga jangan dipotong ya, biarin aja biar Sanis bisa megang rambut dipipi Sami" kata Ervi.


"Iya, kan yang biasa nyukur kumis dan brewok Sami Sanis, jadi nanti Sanis aja yang nyukur, biar mau seperti apa maunya" kata Fariel.


"Ya dah sekarang tidur, biar Sami peluk."


"Sami juga ngantuk, kurang tidur."


"Pasti karena Sanis ya Mi" kata Ervi.


"Enggak kok, ini dah jadi tanggung jawab Sami jadi suami, jadi bukan karena Sanis" kata Fariel.


"Sekarang tidur, biar Sami peluk dengan erat."


"Iya Mi" kata Ervi.


"Tapi jangan terlalu kencang Mi, sakit perut Sanis."


"Peluknya di leher aja, Biar tangan Sami jadi bantal buat Sanis."


"Oke" kata Fariel, langsung memberikan tanganku buat dijadikan bantal.


"Dah sekarang tidur lagi aja yuk."


"Nanti kalau dah jadi pesanannya, nanti ku bangunin."


"Iya Mi" kata Ervi.


"Cium dulu Mi keningnya."


"Hemm iya" kata Fariel, langsung mencium keningnya dan memeluknya secara pelan supaya tak membuat nya sakit.

__ADS_1


Dan Ervi memejamkan matanya begitu juga aku langsung ikut memejamkan matanya, dan tidur saling memeluk.


__ADS_2