Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Permintaan


__ADS_3

Mami langsung dibawa keluar oleh anak-anaknya, dan pulang dengan mereka, karena Papi akan mengurus anaknya dan pulang ikut dengan mobil ambulan khusus jenazah.


Sampai dirumah keadaan sudah ramai oleh para warga yang layat.


Mami dibawa kekamar oleh kedua anaknya dan beberapa Ibu-ibu yang ikut membantunya.


Setelah selesai dimandikan dikafani dan dishalatkan para warga langsung berbondong-bondong membawa jenazah menuju pemakaman terdekat untuk tempat peristirahatan yang terakhir.


Setelah selesai dimakamkan, dan warga juga sudah mulai pulang, Mami masih menangis diatas makam putranya ditemani Papi dan keduanya anak perempuannya.


Setelah lama dengan bujuk dan rayuan mereka akhirnya Mami mau juga pulang kerumah karena sudah sore dan akan ada pengajian dirumah untuk mendoakan putranya sampai tujuh hari.


Setelah sebulan berlalu Mami masih sering menangis dan memeluk foto anaknya dikamar putranya, bahkan lebih sering tidur dikamarnya daripada dikamarnya sendiri, dengan telaten Papi selalu menemani dan membujuk Mami supaya mengikhlaskan anaknya yang sudah tenang disana. Karena kedua anaknya sudah pergi dari rumah untuk melanjutkan kuliah diluar kota dan juga sekolahnya.


dan setelah beberapa bulan Mami mulai ikhlas menerima kenyataan, walau hanya sesekali Mami tidur dikamar putranya dan melihat-lihat foto anaknya yang terpajang di dinding.


Mami juga sudah mulai melakukan aktivitas nya lagi bersama Ibu-ibu yang lain seperti ngobrol, cuman ngobrol bukan gosip atau ngerumpi yang aneh-aneh.


Flashback Off.

__ADS_1


Sampailah didepan rumah yang cukup besar dan mewah.


"Motornya ditaro disana aja De" tunjuk Mami.


"Iya Bu" jawab ku.


Lalu ku parkir motorku di tempat yang ditunjuknya untuk memarkirkan khusus roda dua.


"Ayok sini masuk, Pak Sal akan lama mungkin karena harus pergi ke toko untuk mengambil keperluan kerja, jadi gak usah ditunggu, nunggunya didalam saja" kata Mami.


"Iya Bu" kata Fariel.


Lalu berjalan kearah mobil untuk mengambil tas yang tadi diletakkan dimobil dan kemudian masuk kedalam rumah yang lumayan besar dan mewah.


"Baik Pak" kata Fariel, lalu aku ikut duduk diruang tamu.


"Ini minumnya, diminum dulu" kata Mami.


"Iya makasih Bu" kata fariel.

__ADS_1


"Jangan panggil Ibu, panggil saja Mami dan Papi, lebih enak didengarnya" kata Mami.


"Tapi saya gak biasa Bu, maaf" kata Fariel.


"Gak papa, semua yang tinggal disini memanggilnya Mami dan Papi, jadi mulai sekarang harus dibiasakan. Disini yang tinggal hanya bertujuh, dua Bibi yang membantuku memasak dan bersih-bersih rumah, dan dua orang yang bekerja di gerbang untuk keamanan dan yang satu lagi itu tugasnya ngantar Papi atau Mami kalau bepergian. Kalau Putri Mami sedang kuliah jadi gak pernah dirumah kecuali hari libur panjang, hanya kami yang mengunjunginya" kata Mami,ucapnya panjang lebar


"Saya akan mencobanya, tapi maaf kalau saya belum bisa memanggil seperti yang Mami dan Papi mau" kata Fariel.


"Iya nak Fariel" kata Mami.


"Gak papa kan kalau kupanggil nak Fariel" lanjutnya.


"Iya boleh Bu, ehh Mami" kata Fariel, awabnya yang masih kaku.


"Yuk kuantar nak Fariel kekamar, biar bisa istirahat dulu, kerjaanya juga baru besok dimulainya, iyakan Pi" kata Mami.


"Iya Mi, dah sana istirahat dulu, Papi mau ngecek kerjaan dulu diruang kerja" kata Papi.


"Nanti kalau dah waktunya makan siang Mami bangunin" kata Mami.

__ADS_1


"Yuk, itu minumnya dihabiskan dulu" kata Mami.


Aku pun meminum minuman ku hingga hampir habis dan terus mengikuti Mami dari belakang menuju lantai dua untuk kekamar yang akan aku gunakan untuk istirahat. Sedangkan lantai tiga hanya untuk tempat olahraga dan ruang baca dan hanya ada dua kamar sisanya masih kosong.


__ADS_2