Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Ada sedih dan bahagia


__ADS_3

Di lain sisi seteleh Ervi mandi dan Shalat dia keluar dari kamar dengan semangat 45 nya menuju kamarku dengan membawa satu gelas berisi air hangat dan juga buah-buahan.


Tapi ketika baru mau mengetuk pintu, dia mendengarkan beberapa percakapan lewat telepon, sehingga mengurung niatnya untuk masuk.


Dan setelah lama mendengarkan beberapa percakapan Ervi turun kembali dan meletakan buah dan juga minumnya di meja lalu pergi kekamarnya sendiri.


Sampai dikamar langsung merebahkan badannya dengan sedikit loncat dan tiba-tiba pecah tangisnya.


"Apakah seperti ini rasanya jatuh cinta".


"Tapi kenapa cintaku harus seperti ini".


"Ini sungguh menyakitkan" sambil memukul-mukul bantal dan boneka nya.


"Apakah aku salah jika mencintainya".


"Apa aku salah telah menaruh rasa padanya".


"Apa aku juga salah karena telah mengharapkannya untuk menjadi milikku seutuhnya, walaupun sekarang dia ada yang memilikinya".


"Apa aku juga salah untuk mendapatkan kebahagiaan dengan hidup bersamanya nanti".


"Aku itu sudah memiliki rasa yang berbeda saat pertama kita bertemu".


"Tuhan apakah cinta itu menyakitkan seperti ini".


"Apakah aku tak diperbolehkan jatuh cinta".


"Tak diperbolehkan bahagia dengan orang yang aku sayangi".


"Apa aku memang tidak pantas untuknya".


"Apa aku tak baik untuk nya".


"Apa aku akan hidup tanpa orang yang aku sayangi".


"Tuhan tolong bantu aku".


"Aku gak mau seperti ini".


"Ini sangat menyakitkan bagiku".


"Aku tak bisa melihatnya dengan yang lain".


"Aku tak akan sanggup".


"Aku lelah".


"Aku gak sanggup".


Tangisnya mulai memelan, dan hanya butiran air mata yang masih menetes membasahi bonekanya sebagai pengganti bantal. Kemudian tertidur, karena lelah seharian menangis.


Papi dan Mami pun pulang dengan anak juga menantunya yang akan tinggal disini juga untuk beberapa minggu.


"Kalian masuk dan tidur aja dulu, kalian kan habis perjalanan jauh juga, apalagi kamu yang lagi isi dan juga akan wisuda bulan depan, jadi istirahat ya, Mami mau lihat Anak dan calon mantu dulu" kata Mami, dengan semangatnya mengatakan calon mantu.


"Iya Mi, semangat banget kayaknya" kata Fida.


"Harus dong, walaupun masih proses pendekatan, tapi Mami bakal usaha terus buat dapatin dia jadi mantu, atau kalau gak mau ya kujadikan anak laki-laki Mami yakan Pi" kata Mami, tanyanya pada Papi.


"Iya Mi" kata Papi.


"Dah sana masuk istirahat" kata Mami.


"Oke Mi, kami tidur duluan ya" kata Fida.


Dan Mami pun akan menuju atas.


"Apa Ervi sudah berikan makan pada Bak Fariel Bi" kata Mami) tanyanya pada Bibi yang sedang membawa barang Nak Fida.


"Belum Bu, tadi saya lihat dia kembali turun membawa buah dan minumnya yang masih utuh dan terus masuk kamar, dan belum ada yang makan" kata Bibi.


"Oh ya udah, kalau gitu saya kekamar Ervi dulu ya" kata Mami.


"Iya bu" kata Bibi.


Dan Mami pun berjalan menuju kamar Ervi yang juga terletak diatas.


Sampai di depan pintu kamar, Mami coba mengetuk pintu tapi tak ada jawaban, lalu Mami masuk kedalam.


"Pi, kok kayak habis nangis. Kenapa lagi ya, apa mungkin dia habis kena marah sama Nak Fariel" kata Mami, yang melihat muka anaknya seperti habis menangis.


"Iya, bahkan boneka kesayangannya juga basah kayaknya Mi, tapi kalau bertengkar kayaknya sih enggak deh Mi, tapi apa ya" kata Papi.


Kemudian Mami duduk disebelah Ervi yang tertidur, lalu mengusap kepalanya yang tertutup dengan jilbabnya yang sudah sedikit berantakan dan mengusap pipinya.


"Kamu kenapa lagi sih Nak, kenapa hidupmu seperti ini, Mami gak tega melihatmu sepeti ini" kata Mami, sambil meneteskan air matanya.


Dan Papi hanya mengusap dibalik punggung Mami, yang juga merasa sedih melihat orang yang disayang seperti ini.


Tiba-tiba Ervi terbangun.


"Mi".


"Mami kenapa nangis" kata Ervi.


"Gak papa kok, Mami cuman kelilipan aja kok" kata Mami. bohongnya.


"Mana kakak Mi" kata Ervi. yang baru duduk.


"Sudah tidur".


"Kamu kenapa, cerita sama Papi dan Mami, biar sedikit lebih lega" kata Mami.


Ervi hanya diam.


"Papi gak maksa kamu kok, tapi kita akan selalu ada buat kamu" kata Papi.


"Makasih Pi, Mi" kata Ervi, sambil memeluk keduanya


"Iya" kata Mami.


"Sebenarnya tadi Ervi mau ngantar buah-buahan dan minum, tapi " kata Ervi.


"Tapi apaan" kata Papi.


"Tapi Ervi mendengar kalau dia sedang asik ngobrol dan bahkan sampai sayang-sayangan gitu, dan aku langsung turun menaruh buah dan minumnya dimeja, karena terasa sesak mendengar mereka teleponan" kata Ervi, yang kembali menangis.


"Ohh gitu. Kalau memang Ervi suka ya diperjuangin, Papi pasti dukung kamu juga, iyakan Pi" kata Mami.


"Iya dong, apapun buat kebahagiaan anak Papi pasti selalu Papi dukung" kata Papi.


"Makasih Pi, Mi, Ervi makin sayang sama Papi dan Mami" kata Ervi.

__ADS_1


"Hangan nangis dong, dah sana bangun buatkan makan buat Masmu itu, dan kamu juga ikut makan. Berjuang yang semangat, jangan kalah sebelum berjuang. Mami akan selalu mendukungmu" kata Mami, dengan mengepalkan tangan semangat 45 nya.


"Iya Mi" kata Ervi, lalu menghapus air matanya.


"Dah sana cuci muka terus buatkan makan, dan jangan lupa minta maaf pada Masmu, Mami mau duluan kesana ya" kata Mami.


"Iya Mi" kata Ervi, lalu turun dan masuk kekamar mandi untuk cuci muka.


Mami pun sampai di pintu kamarku.


"Tok to tok Assalamu'alaikum" kata Mami.


tak ada jawaban dari dalam lalu Mami pun langsung masuk dengan Papi.


"Kok badannya panas Pi" kata Mami, yang mengecek keningnya.


"Iya Mi, badannya juga panas, jangan-jangan dia demam Mi" kata Papi.


"Bawa ke dokter aja deh Pi atau telpon kan Dokter" kata Mami.


Papi pun langsung menghubungi Dokter yang siang tadi.


Dokter yang ditunggu pun datang dan langsung mengecek tubuhku, dan hanya ditemani Papi, sedangkan Mami berada dibawah dengan mondar mandir atau ngalor ngidul kaya strika gitu.


"Mami kenapa mondar-mandir kaya setrika" kata Ervi, yang melihat mami sedang mondar-mandir.


"Iiitu Nak Fariel" kata Mami.


"Mas kenapa Mi" kata Ervi, yang juga panik sambil membawa makanan untuk makan malam.


"Masmu badannya sangat panas, bahkan sampai mengigau memanggil-manggil Mama dan Bapaknya" kata Mami.


Lalu Ervi kembali bersedih mendengar ucapan Mami nya.


Dan Dokter juga Papi turun kebawah.


"Gimana keadaannya Dok, Pi" kata Mami, yang menitihkan airmatanya.


"Hanya ada sedikit masalah, mungkin karena terlalu banyak bergerak dan atau mungkin terkena sesuatu lagi" kata Dokter.


"Tapi kalian tenang aja, jika besok gak ada perubahan bisa dibawa ke rumah sakit saja, dan saya harus permisi karena sudah malam" lanjutnya.


"Iya Dok, terimakasih" kata Mami.


"Iya sama-sama, kalau gitu saya permisi Bu, Pak" kata Dokter.


"Tadi sebenarnya Ervi gak sengaja menyentuh bagian yang sakit saat sedang membantunya untuk tidur dan menarik selimut" kata Ervi, ucapnya menunuduk.


"Hah" ucap Papi dan Mami.


"Maaf" kata Ervi.


"Ya udah yuk bawa makanannya, karena dia harus makan. Tadi sudah bangun ketika diperiksa" kata Papi.


"Ada apa sih, Kok Mami sampai nangis gitu dan juga Ade, Pi" kata Fida, yang gak bisa tidur dan akan mengambil minum didapur


"Gak ada kok" kata Mami.


"Mami gak usah bohong sama Kakak" kata Fida.


"Besok Mami jelasin sama kamu ya" kata Mami, sambil menghapus air matanya.


"Yuk" kata Papi.


Dan mereka mengangguk, lalu berjalan menuju kamaraku.


"Waalaikumsalam' jawabku pelan.


Mami langsung menangis.


"Maaf kan Mami ya Nak, gak bisa jagain kamu" kata Mami.


"Mami jangan nangis dong, Mami gak salah kok" kata Fariel, ucapnya pelan.


"Mami gak tega lihat kamu seperti ini, Mami gak mau kehilangan kamu" kata Mami, yang masih menangis.


"Aku selalu disini kok buat Mami, jadi Mami jangan nangis" kata Fariel.


"Mas aku juga minta maaf, karena gak nepatin janji buat jagain Mas" kata Ervi, yang juga menangis.


"Iya, tapi jangan pada nangis seperti ini, aku jadi ikutan sedih. Kamu sini sebentar" kata Fariel.


Ervi pun yang dimintanya langsung duduk disampingku.


"Aku mau minta maaf karena merepotkan kalian semua, terutama Papi dan Mami. Kamu jangan nangis, aku gak bisa lihat wanita menangis karena itu kelemahanku. Jika ada wanita menangis aku langsung merasa bersalah padanya, hapus air matamu" kata Fariel, yang sudah mengeluarkan airmatanya juga.


"Iya" jawab mereka dan menghapus air matanya.


"Nah kalau gini kan keliatan lebih indah untuk dilihat" kata Fariel, yang menatap Mami dan Ervi.


"Apalagi kalau tersenyum, karena kunci utama wanita itu dengan senyumannya".


"Awalilah hari-hari dengan senyuman".


"Karena bagi wanita itu cantik itu dimulai dari senyum".


Dan semua yang ada disitu tersenyum.


"Nah kan cantik kalau senyum gini" kata Fariel, yang melihat senyum dari Ervi.


Sedangkan Ervi yang ibilang cantik malah menundukkan kepalanya dan masih tersenyum malu.



"Oh iya. Kenalkan ini anak Mami yang pertama, namanya Fida, dan dia baru datang, tadi kami yang menjemputnya, dan akan tinggal disini juga sama dengan suaminya untuk beberapa minggu" kata Mami.


Dan Fida pun langsung mengenalkan diri.


"Hai adik Kakak, namaku Fida, aku sudah tau banyak tentang kamu dari Mami, yang sering membicarakan kamu dari telepon, bahkan aku jadi penasaran denganmu. Makanya kakak kesini ingin mengenal lebih dekat dengan adikku yang baru" kata Fida.


"Iiiya, namaku Sielfa Akhmad Mufariel" kata Fariel.


"Panggilnya Kakak ya, gak usah sungkan" kata Fida.


"Iya Kak, apa Kakak sedang isi" kata Fariel.


yang melihat perutnya sedikit besar dari bentuk tubuhnya dan pakaian untuk ibu hamil.


"Iya sudah hampir dua bulanan lebih" kata Fida.


"Kamu bakal punya ponakan beberapa bulan lagi" kata Papi.


"Hai Paman, Paman harus sehat ya, biar nanti bisa main bareng sama Dede kecil" kata Fida, ucapnya seperti anak kecil.

__ADS_1


Membuat mereka tertawa.


"Bukannya kesini itu untuk memberi dia makan ya" kata Fida, yang melihat makanan dibawa Ervi tadi.


"Oh iya, Mami sampai lupa. Ayok nak makan dulu, biar nanti Ervi nyang akan nyuapin kamu" kata Mami.


"Aku bisa sendiri kok Mi" kata Fariel.


"Kamu itu gak boleh gerak-gerak sama dokter, biar Ervi yang nyuapin kamu ya. Nanti papi bakal jagain kamu dan tidur disini dibawah. Tenang ini kasurnya tinggal ditarik langsung keluar kasur kecilnya dibawah" kata Papi, jelasnya yang tau kalau bakal ditolak olehnya, dan Papi juga gak mau tidur diatas bersebelahan takut nanti malah mengenai sesuatu yang sakit.


"Ayok dimakan, Kakak juga pengen nyuapin calon Adik Iparku" kata Fida.


"Hah" kata Fariel.


"Paman makan yang banyak ya" kata Fida, dengan suara anak kecilnya sambil mengelus perutnya yang tertutup pakaiannya.


"Oke Dede kecil. Kamu juga harus sehat ya disana, sampai bertemu didunia" kata Fariel.


Lalu Ervi menyuapiku hingga setengah lalu bergantian dengan Fida


"De, gantian, Kakak kan juga pengen deket dengan Adikku. Apalagi Dede bayi pasti pengen lihat Pamannya makan dengan lahap juga" kata Fida, pintanya pada Ervi.


"Nih Kak" kata Ervi, lalu menyerahkan piringnya pada Fida.


Setelah itu bergantian Mami.


"Nih Mi" kata Fida, sambil menyerahkan pada Nami.


Dan Mami menerimanya.


"Aaaa" kata Mami, yang seperti menyuapi anak kecil.


dan mereka tersenyum melihat tingkah Mami.


"Apa Papi juga mau menyuapinya" kata Mami.


"Boleh" kata Papi, lalu menerima piringnya.


"Buka mulutnya, aaa".


"Biar cepet sembuh, makannya harus habis" kata Papi.


Dan makan pun selesai lalu aku minum dibantu Ervi dan Mami memberiku obat untuk diminum.


"Kok kamu kaya digilir tadi ya" kata Fida.


"Itu tandanya kami semua sayang sama kamu, jadi moga cepet sembuh ya Nak" kata Papi.


"Aku duluan ya, mau bobo dah ngantuk Dede nya nih, besok ngobrol lagi" kata Fida.


"Iya Kak" kata Fariel.


"Da Paman moga cepet sembuh" kata Fida, sambil melambaikan tangannya.


"Dada Dede kecil" kata Fariel, yang juga melambaikan tangannya juga.


"Assalamualaikum" kata Fida.


"Waalaikumsalam" jawab semua.


"Papi sama Mami mau ganti dulu ya, kamu ngobrol dulu sama Ervi disini" kata Mami.


"Iya Mi" kata Fariel.


"Assalamu'alaikum" Papi dan Mami.


"Waalaikumsalam" jawab kami berdua.


Dan mereka meninggalkan kami berdua, dengan pintu yang masih terbuka, tapi ada yang masih mencoba mendengarkan dibalik pintu yang terbuka.


"Kenapa dengan mukamu, apa habis nangis dengan begitu lama lagi tadi" kata Fariel, yang melihat matanya sembab.


"Gak kok, hanya kelilipan" kata Ervi.


"Kelilipan kok sampai duanya bengkak" kata Fariel,


"Jangan bilang karena aku. Aku kan sudah memafkan semuanya kesalahan kamu, jadi jangan nangis lagi. Jaga air matamu dengan baik, aku gak suka dengan cewek yang sudah gede begini tapi masih suka nangis, dan nangisnya lama sampai matanya bengkak".


"Iyaa maaf" kata Ervi, sambil menunduk.


"Kenapa minta maaf lagi".


"Gak usah nunduk terus, ada apa sih dibawah, apa ada uang yang jatuh, perasaan mukaku disini. Apa gak mau ya lihat ke mukaku nih" kata Fariel, yang mencoba mencairkan suasana.


"Masa ada yang ganteng didepan mata malah diabaikan".


Hihihihi, ketawa kecil dari mereka dibalik pintu.


"Bu bu bukan gitu" kata, Ervi.


"Lalu kenapa. Apa karena aku gak cocok jadi saudaramu dan lebih cocok jadi suami mu" kata Fariel.


Ervi langsung mukanya menghadap kesamping.



"Duh kenapa harus keluar pertanyaan begitu sih, kan aku bingung harus jawab yang mana. Walau sebenarnya aku beneran pengen jadi istrimu, tapi masa iya kujawab yang itu sekarang" Ervi, ucapnya dalam hati.


"Kenapa diem, apa ada yang salah" kata Fariel.


"Gak kok Mas" kata Ervi, tiba-tiba suara cacing di perutnya bunyi.


"Kamu belum makan ya, malah nyuapin aku. Kenapa tadi gak makan bareng disini aja" kata Fariel.


"Hehe, iya tadi aku ketiduran karena capek, jadi belum sempat makan" kata Ervi)l.


"Kalau gitu besok kamu makannya temanin aku disini makan bareng. Kalau kamu memang beneran mau dapat maaf dariku, aku gak mau punya Adek yang cantik ini kelaparan karena harus ngurusin aku duluan tapi sampai kelaparan" kata Fariel.


"Iya" kata Ervie.


"Ya sudah kamu makan dulu sana, dan habis itu tidur, besok kuliah kan, jangan sampai bolos, walaupun hanya sekali" kata Fariel.


"Tapi Mas" kata Ervi.


"Tenang aja, Mas baik-baik aja, sekarang Adek Mas yang cantik ini makan ya" kata Fariel.


"Iya" kata Ervi, sambil tersenyum karena dibilang Adek cantik.


"Kalau gitu saya keluar dulu ya Mas, permisi Assalamu'alaikum" kata Ervi.


"Waalaikumsalam" kata Fariel.


Dan Ervi pun keluar dengan membawa piring kosong, dan membawa senyum gembiranya, karena dibilang cantik dan sudah sedikit ada kemajuan untuk dekat dengannya.

__ADS_1


Maaf lama update, karena banyak pekerjaan yang harus didahulukan, kalau cerita sebenarnya hanya tinggal salin aja, karena sudah kutulis dibuku.


Dan mungkin ceritanya akan membuat kalian bertanya-tanya dengan judulnya.


__ADS_2