Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Pemuja rahasia


__ADS_3

Seminggu kini telah berlalu ditinggal kan Papi dan Mami keluar kota juga dengan Ervi.


Ruangan yang biasanya rame penuh canda dan tawa saling ejek dan sebagainya, kini telah sepi sejak mereka pergi.


Kandungan usianya kak Fida kini juga telah menginjak pada usia sembilan bulan yang artinya harus ada persiapan untuk lahiran walaupun belum ada tanda-tanda akan melahirkan dan diperkirakan sama dokter masih sekitar sepuluh harian lagi, tapi itu hanya perkiraan saja.


Disore hari ini hanya duduk santai dibelakang rumah atau taman rumah bareng Fida yang ingin ditemani ngobrol atau curhat.


"Da" kata Fida.


"Iya, ada apa nyai" kata Fariel.


"Misalnya nih nanti kalau anak nyai lahir terus kan gak ada ayahnya dan terus bertanya ayahnya mana misalnya nih, Nyai harus jawab gimana Da" kata Fida.


"Kan gak mungkin kukatakan yang sesungguhnya kalau ayahnya sudah meninggal, nyai takut nanti bakal marah sama aku."


"Tapi kalau kujawab yang lain misalnya ayahnya pergi jauh nyai takut akan menantinya dan malah sakit karena ingin ketemu dengan ayahnya."


"Jadi menurut Uda, nyai nanti harus gimana jawabnya."


"Gimana ya, Uda juga bingung mau ngasih saran dan milih jawaban yang mana, itu sangat sulit juga bagiku" kata Fariel.


"Kenapa nyai gak nyari aja ayah yang baru buat anak nyai sebelum anak nyai nanti bisa bertanya dimana ayahnya."

__ADS_1


"Nyai gak mau nikah lagi, kecuali sama orang yang benar-benar tepat" kata Fida.


"Kan Uda tau sendiri, nyai ini janda anak satu."


"Nyai takut mereka yang hanya mencintai nyai saja, tapi tidak dengan anak nyai nanti."


"Atau hanya mencintai karena kekayaan nyai yang keturunan orang kaya."


"Nyai takut itu semua."


"Iya juga sih, Uda juga mikir seperti itu, karena bakal sulit untuk menemukan dan memilih mana yang benar-benar sayang sama nyai dan anak nyai nanti, bukan hanya sayang sama nyai dan anak kandung dengan nyai, malah nanti membuat anak nyai sendiri merasa diasingkan dikeluarganya karena kurangnya kasih sayang" kata Fariel.


"Bukannya nyai pernah bilang ke Mami dan Papi kalau nyai itu sudah punya calon buat dijadikan ayah buat anak nyai, kenapa gak itu aja."


"Rapi bukannya nyai gak mau mengenalkan pada mereka, hanya saja nyai takut apakah dia mau dan dia itu suka sama nyai, karena nyai gak pernah mengungkapkan perasaan pada orang itu."


"Jadi maksud nyai itu suka sama dia tapi dia gak pernah tau perasaan nyai padanya" kata Fariel.


"Ya seperti itu lah kira-kira" kata Fida.


"Mungkin nyai akan selalu mencintai dalam diam atau lebih tepatnya jadi pemuja rahasia yang akan memandangi nya saat tersenyum."


"Tapi itu akan menyakitkan kalau hanya memendam saja, kenapa gak dikatakan saja terus terang padanya, kalau misalnya nanti jawabnya akan menyakitkan tapi setidaknya sudah tau dan sudah mengungkapkan perasaan" kata Fariel.

__ADS_1


"Itulah yang nyai gak mau, karena ada yang sudah menginginkan dia juga" kata Fida.


"Nlyai takut akan menyakitinya nanti, kalau nyai merebutnya, nyai gak ingin melukai hati dia hanya karena keinginan hati nyai sendiri."


"Apa nyai salah jika hanya akan menjadi penonton, daripada jadi pemeran tapi malah menyakiti hati yang lain."


"Iya juga sih, Uda salut sama nyai yang mampu memendam rasa demi kebahagiaan orang lain" kata Fariel.


"Tapi apakah nyai nanti bakal sanggup."


"Akan nyai usahakan sanggup" kata Fida.


"Asal Uda mau membantu nyai nanti."


"Uda siap membantu apa yang nyai butuhkan" kata Fariel.


"Karena nyai itu adalah kakak aku juga walaupun tak sekandung dan sedarah."


"Tapi misalnya nanti anak nyai memanggilmu dengan sebutan yang lain" kata Fida.


"Bukan paman atau pun om atau apalah itu, dan malah memanggilnya dengan sebutan yang lain gimana."


"Maksudnya" kata Fariel.

__ADS_1


"Panggilan apa."


__ADS_2