Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Pingsan


__ADS_3

Mama kembali menemui Mami dan Ervi yang berada ditaman depan.


Flashback on.


Ketika pulang dari kuliah langsung kedapur untuk membuat makanan spesial buat orang yang spesial juga, setelah beberapa lama berkutat didapur makanan yang dibuatnya pun jadi juga, kini waktu nya utuk mengemas beberapa masakan yang dibuatnya dimasukan kedalam rantang untuk dibawanya nanti, kemudian langsung mandi dan langsung pergi kerumah sakit dengan sedikit ceria karena membawakan makanan yang dengan susah payah dibuatnya tadi.


Sampai didepan pintu kamar ketika ingin mengetuk pintu, tapi ternyata terdengar ada suara suara cewek yang sedang mengobrol dengan mesra dengan menyebut kata-kata sayang dan cami.


Dengan perlahan Ervi membuka pintu untuk mencoba mengecek siapa sih orang itu, tapi ketika mencoba mengintip Ervi melihat pemandangan didepan mata yang sedang bermesraan dengan meminumkan minuman ke masnya, lalu tertawa ceria dan ada kata-kata penghulu dan hidup bersama yang membuatnya terasa sesak didada, lalu menyenderkan kepalanya.


Lalu Ervi kembali menutup pintu dan sedikit meneteskan air matanya lalu berjalan sedikit kencang dan sambil menutup mulutnya.


Baru keluar dari lorong rumah sakit ada suara yang memanggilnya.


"Nak Ervi" kata Mami.


"Nak, nak Ervi".


Ervi yang dipanggilnya tidak memperdulikan dan terus berjalan keluar menuju taman rumah sakit, mama dan mami mengejarnya.


Sampai ditaman Ervi langsung duduk, dengan tangisnya yang sudah pecah.


"Nak, kamu kenapa" kata Mami, sambil duduk disebalah kanannya.


"Anak Mama kenapa nangis, Mama mau tau" kata Mama, sambil duduk dikirinya.


Ervi yang gak ada jawaban hanya menangis.


"Anak Mami kenapa" kata Mami, sambil menarik kepalanya untuk disenderkan di pundaknya.


"Apa nak Ervi habis dari ruangan mas" kata Mama.


Ervi hanya mengangguk.


"Maafin Mama ya nak, tadi Mama mengizinkan mereka untuk ngobrol didalam dan kami tinggalkan sebentar untuk membeli minum" kata Mama .


"Ini kamu yang masak nak, pasti masmu bakal senang dimasakin sama kamu".


"Sudah ya nangisnya, Mama mau ketemu mereka dulu" lalu berdiri dan berjalan meninggalkan mereka berdua.


"Udah dong nak, anak Mami gak boleh cengeng gitu, anak Mami kan harus kuat" kata Mami.


"Mami minta maaf"


"Mami juga gak bisa maksa masmu buat suka sama kamu sebagai apa yang kamu mau".


"Tapi Mami akan selalu mendoakan kamu biar bisa bahagia tersenyum terus" yang juga meneteskan airmatanya.


Ervi masih menangis tanpa henti


Flashback off.


Dan Mama pun datang


"Loh anak Mama masih nangis" kata Mama.


"Dia udah pulang barusan tuh".


"Yuk kita temuin masmu didalam".


"Kasian dia sendirian, yuk kita masuk".


Ervi hanya menggelengkan kepalanya.


"Loh kenapa gak mau masuk" kata Mami.


"Yuk kita masuk, nanti kamu kasih masakan yang kamu buat untuk masmu" kata Mama.


"Yuk ah masuk" kata Mami, yang mencoba menggerakan tangan Ervi.


Namun baru berdiri justru Ervi malah terjatuh dan pingsan, Mama dan juga Mami langsung berteriak minta tolong pada orang yang ada di sekitar mereka.


"Tolong, tolong" teriaknya berdua


hingga membuat beberapa orang datang.


"Ada apa".


"Tolongin anak saya, dia pingsan" kata Mami.


Dan langsung beberapa orang membantunya mengangkat dan membawanya ke dalam rumah sakit.


"Dok tolong anak saya, dia tadi pingsan" kata Mami, yang panik bercampur sedih dengan air matanya yang menetes.


"Ibu tunggu disini ya, biar saya periksa dulu kondisinya" kata Dokter.


Dan Dokter pun masuk kedalam.


"Ibu yang tenang ya, semoga nak Ervi baik-baik saja" kata Mama.


"Aku gak bisa membuat dia bahagia" kata Mami.


"Dia memang bukan anak kandung aku, tapi sudah kuanggap seperti anak saya sendiri yang kurawat dari masih kecil".


"Aku memang bukan ibu yang baik untuknya".

__ADS_1


"Walaupun aku selalu memanjakan nya tapi aku gak bisa membuatnya benar-benar ceria, yang ada hanya membuatnya menangis sedih".


"Bahkan dia mau kembali kerumah aja aku sudah senang, tapi kesedihan ini membuatku makin seperti tidak berguna untuk membawa kebahagiaan".


"Bahkan Papi dan kakaknya sudah memberikan semuanya untuk membahagiakan dia, tapi aku gagal" dengan menangis.


"Ibu gak boleh gitu, mungkin Tuhan masih merencanakan kebahagiaan yang sesungguhnya untuknya".


"Ibu gak boleh ngomong seperti itu, Ibu itu gak gagal, karena semua sudah Ibu berikan padanya, kalau kabahagiaan yang Ibu maksud itu berbeda, karena kebahagian yang menggunakan perasaan dan hati itu tidak bisa kita berikan kecuali doa dan dukungan".


"Jadi Ibu bukan orang yang gagal memberikan kebahagiaan dengan memanjakan apa yang anak Ibu minta, kecuali yang ini" kata Mama, menunjuk kearah hati.


"Tapi aku merasa tetap gagal karena gak bisa buat dia bahagia dengan perasaan yang ada pada dirinya" kata Mami.


"Ya udah nanti kita bicarakan dengan yang lain juga ya, lebih baik kita berdoa supaya nak Ervi baik-baik aja" kata Mama.


Mami hanya ngangguk.


Dokter pun keluar dari ruangan setelah memeriksanya.


"Gimana Dok keadaan anak saya" kata Mami


"Dia hanya lelah dan kurang darah saja Bu, nanti setelah istirahat juga akan baik-baik saja, sebentar lagi juga sadar" kata Dokter.


"Maksih dok" kata Mami.


"Nanti obatnya langsung diambil aja diruangan saya, biar saya urus semuanya" kata Dokter.


"Makasih dok buat semuanya" kata Mami.


"Iya, kalau gitu saya permisi dulu" kata Dokter.


"Iya Dok silakan" kata Mama.


Lalu Mama dan juga mami masuk kedalam ruangan Ervi.


"Maafin Mami nak, yang tak bisa membuat kamu bahagia" kata Mami.


"Maafin Mama juga yang sudah buat kamu seperti ini, Mama janji bakal bantu kamu buat dia menerima kamu seperti yang kamu mau, bukan menjadi adek, tapi menjadi suami buat kamu" kata Mama, yang ikut menangis juga.


Tiba-tiba panggilan masuk.


"Hallo Assalamu'alaikum mi".


"Mami dimana kok gak balik-balik dari tadi, dan ninggalin nak Fariel sendirian" kata Papi.


"Waalaikumsalam, Pi" kata Mami, dengan menangis.


"Mi, kok Mami kaya lagi nangis, Mami kenapa, apa yang terjadi" kata Papi, yang brada diruangan Fariel.


"alApa Ervi pingsan, sekarang Mami diruangan mana" kata Papi.


"Papi ngomong apa barusan, adek pingsan Pi" kata Fariel.


Papi hanya ngangguk.


"diruangan melati nomer 09" kata Mami.


"Mami tunggu disitu biar Papi kesana sekarang juga" kata Papi, lalu mematikan telponnya.


"Pi, aku ikut" kata Fariel.


"Kamu disini aja ya, biar ditemani Bapak kamu disini" kata Papi.


"Gak mau, aku tetap mau lihat adek Pi" kata Fariel.


"Plis Pi, aku mohon".


"Ya udah, ayok" kata Papi.


"Naik ini dulu" kata Bapak, menunjuk korsi roda.


Dan kami bertiga pun keluar ruangan menuju ruangan Ervi berada, lalu kami mengetuk pintu dan langsung masuk setelah mengucapkan salam.


"Apa yang terjadi Mi dengan adek Mi, Ma" kata Fariel.


"Dia hanya kelelahan dan sedikit kurang istirahat, dan darahnya juga rendah" kata Mami.


"Oh iya ini buat kamu, tadi dia sebelum pingsan memberikan ini buat kamu, katanya spesial, dia yang buat sendiri loh" kata Mama


"Makasih" kata Fariel.


"Loh kok makasih nya sama Mama, sama nak Ervi lah, kan nak Ervi yang buat" kata Mama.


"Pak" kata Fariel.


Lalu Bapak pun mendorong korsi roda nya kesamping Ervi.


"Kami mau keluar sebentar, kamu jagaian adek kamu ya, Mama ada perlu sebentar" kata Mama.


"Iya Ma" kata Fariel.


"Yuk Pak, Bu, kita tinggalkan sebentar buat mereka" kata Mama.


Dan mereka pun keluar meninggalkan aku dengan Ervi yang masih terlelap dari pingsan nya.

__ADS_1


"Dek, ini mas" kata Fariel


"Makasih buat semuanya, waktu yang kamu berikan saat mas terbaring sakit".


"Makasih udah masakin spesial buat mas juga".


"Maafin mas yang gak bisa jagain kamu".


"Gak bisa buat kamu bahagia".


"Membuatmu malah terbaring seperti ini".


"Mas janji bakal lakuin apa saja yang kamu mau".


"Walaupun itu harus mengorbankan semua yang aku punya".


"Tapi mas hanya minta satu hal dari kamu".


"Jangan buat yang lain sedih karena kamu". dengan menangis dan memagang tangannya.


Dan Ervi pun membuka matanya lalu melihat kearahku, lalu mambalik badannya dan menarik tangan yang aku genggam.


"Dek ini mas" kata Fariel.


"Adek kenapa".


"Apa mas buat salah"


"Kalau mas buat salah mas minta maaf".


"Tapi adek harus katakan apa dan dimana letak kesalahan mas".


Ervi malah menangis, dan aku mendorong korsi rodaku dengan kedua tanganku untuk memutar kearah hadapan Ervi.


"Dek, maafin mas" kata Fariel.


"Mas janji bakal ngasih apapun yang kamu minta, tapi kamu harus kasih tau dimana letak kesalahan mas" dengan menangis.


"Dek ayo dong ngomong, mas mau dengar suara adek yang biasanya bawel dan suka ngambek ini", yang mencoba mencairkan suasana.


"Mas kan kangen sama adek, mas pengen makan masakan adek yang spesial buat mas, mau disuapin sama adek".


"Mas belum makan dari siang hanya pagi tadi saja, karena mas mau makan kalau ada yang nyuapin, yaitu kamu yang nyuapin mas".


"Mas laper nih".


Lalu Ervi mengelap pipi basahnya dengan tangannya dan lalu duduk lalu mengambil rantang yang berada di pangkuan ku dan membukanya satu-persatu susunan nya.


Kemudian turun dan mengambil kursi lalu membawanya ke hadapan ku, dan lalu menyuapi nasi dan lauk-pauk kesukaanku tanpa adanya suara yang keluar dari mulut Ervi yang seperti biasa.


Kemudian sebelum makanannya habis aku menahan sendok berisi nasi.


"Adek kenapa sih kok diem gitu, mas kan mau liahat senyum adek yang seperti biasanya yang manis, kalau kaya gini mas gak selera makannya kalau kamu masih seperti ini" kata Fariel.


"Biar mas makan sendiri aja, kalau adek masih diam".


"Apa adek mau mas suapin juga, kayaknya adek juga belum makan kan, niatanya mau makan bareng mas kan".


"Yaudah kalau gitu mas juga bakal siapin makanan buat adek makan juga biar nanti mas suapin juga, tapi adek janji gak boleh seperti ini lagi, diem tanpa kata".


Langsung aku mengambil piring lalu kutaro nasi dan lauk-pauk nya, lalu menyendoknya.


"Aaaak dek" kata Fariel.


"Bukak mulutnya, biar sama-sama makan saling menyuapi".


"Aayok aaaa" sambil menggerakkan sendok seperti dibuat mainan kaya pesawat.


Dan Ervi pun membuka mulutnya walau hanya sedikit, dan mengunyah nya dengan sangat pelan kemudian juga menyuapiku.


Dan kami pun saling menyuapi hingga makanannya habis, kecuali punya Ervi yang berada tanganku yang masih tersisa setengah.


"Ini dihabiskan dulu ya dek".


"Nanti nasinya nangis kalau gak habis".


"Ayok di habis ini aaaa" kata Fariel.


"Makannya pelan-pelan aja, mas gak bakal ninggalin adek kok, kan mas sayangggggg banget sama adek mas yang ini".


"Ayok dikit lagi habis nih, aaaa".


"Terkhir nih Aaaaa".


"Ayo buka mulutnya, ngenggggg, Aaaaa" sambil menggerakkan kaya pesawat membuat Ervi sedikit membuka senyumnya karena tingkahku yang menyuapinya.


"Horeeeeeee, habisss" sambil bertepuk tangan.


"Mau lagi gak" kata Fariel.


Ervi hanya menggelengkan kepalanya.


"Yuk minum dulu" kata Friel, sambil memberikan minuman dalam kemasan botol dengan memakai sedotan.


Setelah minum lalu.

__ADS_1


__ADS_2