Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Buaya darat


__ADS_3

"Apa lagi selain tangan dan pundak" kata Ervi.


"Enggak ada, hanya itu" kata Fariel.


"Pak Udin saksinya."


"Oh, jadi dah kompromi ya kalian, hemmmm bagus ya" kata Ervi.


"Apa hanya sekali aja, pasti lebih" kata Fida.


"Sekitar tiga kali kayaknya" kata Fariel.


"Jujur Mi" kata Ervi.


"Bakalan kutanya sama Pak Udin" kata FidaFida.


"Lagian itu juga waktu bantuin dia sakit, ngantarin kemobil untuk diantar sama Pak Udin ke Dokter sama pulang, enggak ada yang lain" kata Fariel.


"Serius, beneran" kata Fida dan Ervi, dengan kompak, membuat Aya jadi bengong melihat Mama dan Bundanya.


"Serius, suer deh" kata Fariel, sambil mengangkat kedua jarinya berbentuk v.


"Enggak digendong kan" kata FidaFida.


"Enggak ada Ma" kata Fariel.


"Beneran" kata Ervi.


"Bener" kata Fariel.


"Untuk apa bohong sama kalian sih."


"Kali aja bohong biar enggak ketahuan buayanya" kata Ervi.


"Iya, siapa tau nutupin kebuayaannya selama ini yang suka godain cewek lain" kata Fida.


"Lepasin dulu tangannya dong" kata Fariel.


"Sakit nih."


Langsung dilepasin oleh keduanya, dan langsung kupegang telingaku.


"Sakit nih, pasti merah ini telinga" kata Fariel.

__ADS_1


"Itu belum seberapa, masih bakal lebih dari itu kalau berani macam-macam" kata Ervi.


"Iya, bakal kutarik sampai lepas kalau bisa" kata Fida.


"Jangan dong, nanti enggak punya telinga gimana kalau sampai lepas" kata Fariel.


"Selama ini dah berapa banyak cewek yang digodain dirayu sama Ayah" kata Ervi.


"Pasti banyak" kata Fida.


"Termasuk sang mantan."


"Ngaku, jujur" kata Ervi.


"Kalau enggak kutarik lagi nih telinganya sampai putus."


"Enggak tahu, hanya mungkin dah seratus" kata Fariel, langsung berdiri dan kabur sebelum ditarik oleh keduanya telingaku.


"Sini duduk" kata Fida.


"Berani kabur, malam ini tidur dipos satpam" kata Ervi.


"Enggak papa, daripada telingaku makin putus ditarik kalian" kata Fariel.


"Kalau gitu nyari Mama baru lagi aja buat Aya satu atau dua lagi."


"Cocok enggak"


Aya malah tepuk tangan dengan semangat.


"Kalau berani bakal kupotong tu punya puyuh" kata Ervi.


"Kupijak nanti telornya sampai pecah kalau bakal terjadi" kata Fida.


"Bakal kukeluarin jurus pemecah telor, biar enggak bisa jalan lagi, merayap-merayap deh nanti" kata Ervi.


"Ampun deh ampun" kata Fariel.


"Enggak ada ampun bagimu" kata Ervi.


"Malam ini pokoknya tidur dipos satpam, dan cuci semua kendaraan digarasi sampai bersih" kata Fida.


"Cocok" kata Ervi.

__ADS_1


"Sama bersihin sepatu dan tas kami dilemari."


"Baju juga digantungan harus dilipat dan setrika juga" kata Fida.


"Hah, banyak bener hukumannya" kata Fariel.


"Ya terserah" kata Ervi.


"Mau dipotong atau dijadikan telor ceplok malam nanti buat makan kita berdua."


"Dibikin nasi goreng orak-arin enak tuh" kata Fida.


"Enggak boleh" kata Fariel.


"Enggak ada hukuman macam itu titik."


"Kalau ada macam itu, aku bakal pulang kerumah atau nginep dikantor aja."


"Silahkan kalau mau dicap Suami enggak bertanggung jawab sama orang-orang" kata Fida.


"Ayahmu mau kabur tuh" kata Ervi.


"Bunda sama Mama mau ditinggal termasuk Aya juga."


"Tuh Mama sama Bunda yang nakal sama Ayah tuh, marahin aja tuh" kata Fariel.


Langsung tatapan Aya ke Mama dan Bundanya dengan seperti sedang memarahinya.


"Ini anak siapa sih, kok Mama ditatap begitu" kata Fida.


"Mama ma Bunda enggak leh akal ma Ayah, cian Ayah" kata Aya.


"Ini anak ikutan siapa sih" kata Ervi.


"Yang ngajarin siapa coba, bisa gini."


"Yang jelas bukan Mama, tapi dah pasti Ayahnya, siapa lagi" kata Fida.


"Pinter, ini baru anak Ayah yang paling Ayah sayang" kata Fariel.


"Sini ke Ayah sini, kita main yuk, jalan-jalan."


"Ya" kata Aya.

__ADS_1


"Ma uyun."


__ADS_2