Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Curhatku pada Tuhan


__ADS_3

Aku terbangun di pagi hari yang tidur di bangku depan ruangan sendirian tanpa ada yang lain, karena bibi sudah pulang tinggal bi Sumi yang ada didalam menemani Fida.


Adzan Subuh telah terdengar ditelingaku dan aku langsung bangun menuju Mushala rumah sakit.


Kuambil Wudhu terus masuk kedalam untuk melaksanakan Shalat Subuh dengan beberapa orang yang ada disini.


Aetelah Shalat ku seperti biasa mendoakan kedua orang tua untuk selalu sehat, panjang umur dan dilimpahkan rejekinya dan dimudahkan jalan menuju surgamu.


Kemudian ku merenungkan beberapa tempo dulu saat aku sakit dan bertemu dengan seseorang yang gak tau itu siapa anak kecil seorang perempuan yang terus memanggilku.


"Ayah."


"Ayah aku disini."


"Kamu Ayahku."


"Jangan tinggalkan aku ya Ayah."


Tidak hanya itu, bahkan sosok Almarhum suami dari Fida juga beberapa kali hadir dimimpiku dengan berpesan kepadaku.


"Jagalah istri dan anakku."


"Kupercayakan semuanya padamu."


"Aku yakin kamu mampu membimbingnya, membinanya."


"Jangan larang anakku memanggilmu dengan sebutan Ayah."


"Kamulah yang akan jadi Ayahnya."


"Kupercayakan semuanya padamu."


"Aku ikhlas jika dia bersamamu."


"Karena aku yakin kamulah sosok yang dicari selama ini selain aku."


"Buatkan dia bahagia bersama mu."


"Jangan buat airmata itu jatuh lagi, karena air matanya sangat berharga bagiku."

__ADS_1


"Pulanglah dan buat dia selalu tersenyum."


"Kutitipkan istri dan anakku padamu."


"Sampai bertemu lagi nanti."


Kuselalu mengingat kata-kata itu, bahkan selalu berputar putar di kepalaku pertemuan itu.


Ku curahkan dan kucurhatkan semuanya pada Tuhan, berharap segera memberiku jalan.


"Apakah ini tanda-tanda bahwa aku harus bersamanya."


"Apakah aku harus menikahinya."


"Tapi bagaimana dengan yang lain yang selalu berharap padaku."


"Apakah dia mampu dan akan menerimanya, jika aku memilih yang lain."


"Aku harus bagaimana dan berbuat apa, ya Tuhan."


"Jika memang itu harus terjadi, aku takan sanggup untuk memilih satu dari mereka."


"Bantulah hambamu ini Tuhan."


"Jangan buat aku dilema karena harus memilih satu diantara mereka."


"Aku tak akan yakin yang tak kupilih bisa menerima keputusan ini, menerima dengan lapang dada."


"Tapi aku takut malah akan membuat pecah belah keluarga ini hanya karena pilihanku."


"Bimbinglah dan bawalah aku kejalanmu, jalan yang mampu memilih dengan benar, dan mampu menerima kenyataannya."


"Izinkan aku melukis senyum di mereka semua, dari yang aku pilih maupun tidak."


Langsung kututup curhatanku pada Tuhan pagi ini dan kembali ke ruangan untuk mengecek kak Fida dan bi Sumi yang ada didalam.


Langsung kuketuk pintu.


"Tk tok tok, Assalamu'alaikum" kata Fariel.

__ADS_1


Karena tak ada sautan atau jawaban dari dalam aku langsung masuk kedalam ruang rawat Fida.


Kubangunkan bi Sumi yang tertidur dilantai dengan beralasan tikar kecil dan selimut, lalu tangan sebagai bantalnya.


"Bi, bi, bi Sum, bangun dah Subuh" kata Fariel, dengan pelan supaya tak mengganggu Fida dalam tidurnya.


"Bi bangun dah pagi."


"Dah subuh ya Den" kata Sumi.


"Iya bi, bibi buruan ke Mushola buat shalat subuh, masih ada waktu buat Shalat nih" kata Fariel.


"Terus bibi nanti pulang aja, bibi harus ganti baju atau apalah."


"Biar ku telponan Pak Ari buat jemput bibi disini."


"Baik Den, kalau gitu bibi Shalat dulu ya Den" kata Sumi.


"Iya sana bi, ini biar aku yang jagain" kata Fariel.


"Baik Den, kalau gitu bibi permisi ya Den, Assalamu'alaikum" kata Sumi.


"Waalaikumsalam" kata Fariel.


Saat bibi pergi aku melihat bayi mungil dalam box yang sedang terlelap dalam tidurnya sambil memainkan mulutnya yang seperti sedang meminum atau mengunyah.


"Duh lucunya" kata Fariel.


"Gak sabar pengen kuajak main nih."


"Kapan aku akan punya anak selucu ini."


"Imutnya."


"Gemes pisan."


"Jadi gak sabar ingin menggendong."


Tiba-tiba malah bayi mungil ini menangis membuatku panik sendiri mau ngapain.

__ADS_1


__ADS_2