
"Adek iklhas dan siap, asal jangan tinggalkan adek" kata Ervi.
"Adek gak akan sanggup jika ditinggalkan."
"Adek siap."
"Fida gimana, siap" kata Papi.
"Aku siap Pi" kata Fida.
"Yang terpenting bagiku Aya selalu ada dengan orang yang dianggapnya sebagai Ayahnya sendiri."
"Aku akan ikhlas menerima semuanya."
"Aku siap berbagi."
"Aku bersedia menjadi yang bukan utama, asal Aya bisa selalu bersamamu."
"Sekarang sudah jelas dan mereka semua sudah setuju kalau mereka mau menerimanya" kata Mami.
"Mereka ikhlas untuk berbagi."
"Untuk masalah keadilan dalam hal rumah tangga itu bisa dibicarakan nanti setelah kalian sah dan resmi menjadi suami istri."
"Jadi Mami harap kamu mau ya nak mengabulkan permintaan Mami ini."
"Gak taulah Mi, pusing" kata Fariel.
"Aku takut gak bisa berbuat adil dan membahagiakan keduanya."
"Ini juga terlalu dini bagiku untuk berumah tangga."
"Aalagi harus langsung memiliki dua istri."
"Aku tak yakin bisa."
"Jangan ambil pusing" kata Papi.
"Jangan dipikirkan hal itu dulu."
"Sekarang pikirkan gimana caranya agar kamu bisa selalu ada buat mereka dulu."
"Karena perlahan pasti kamu bisa menerima semua dan membahagiakan mereka."
"Perlahan tapi pasti."
"Iya Mami yakin kamu mampu" kata Mami.
"Kami semua sudah setuju, dan menerima konsekuensinya nanti seperti apa."
"Gak usah takut ada kami semua yang akan selalu ada buatmu membantu buat mereka jadi bahagia dan adil."
"Tapi Mi, Pi" kata Fariel.
"Gak usah dipikirkan hal yang rumit" kata Papi.
"Pikirkan aja buat acaranya nanti."
"Gak ada lagi acara lamaran atau apalah itu."
__ADS_1
"Kami semua dah sepakat akan langsung mengadakan acara intinya bukan acara lamaran atau pertunangan, tapi acara pernikahan kalian."
"Pikirkan itu aja dulu."
"Kamu hanya butuh mempersiapkan mentalmu nanti."
"Akan Papi siapkan semuanya kebutuhanmu."
"Akan Papi bantu buat menghafal semua nya, karena mereka bukan satu darah dan sekandung jadi akan sulit mungkin bagimu."
"Tapi tenang masih ada Papi yang akan membantumu, meringankan bebanmu."
"Mulai besok kamu pulanglah ke desa, kerumahmu."
"Persiapkan mentalmu untuk hari itu nanti."
"Masih ada ssekitar tiga minggu lebih."
"Jangan kemana-mana, dirumah saja."
"Karena acara akan dua kali seperti yang Mama dan Bapakmu minta."
"Disini dirumah ini, dan dirumahmu juga."
"Tanggal dan undangan sudah kami siapkan."
"Foto kalian sudah kami siapkan juga, bahkan sudah kami cetak juga."
"Maaf jika membuatmu sulit" kata Mami.
"Maafkan Mami dan Papi ya nak."
"Mami gak mau memberatkan ini padamu."
"Perasaan hati wanita tak sekuat hati laki-laki."
"Kami perempuan hanya setengah dari laki-laki."
"Makanya Mami gak ingin mereka terpuruk lemah."
"Kuharap kamu mengerti."
"Kalau ada permintaan silahkan katakan pada kami" kata Papi.
"Papi yakin kamu ingin mengatakan sesuatu pada kami."
"Apapun itu akan kami kabulkan selain permintaan yang bersangkutan dengan hal ini."
"Silahkan katakan."
"Katakanlah nak" kata Mami.
"Mami ngerti apa yang akan kamu sampaikan."
"Tentangnya kan yang akan kamu sampaikan pada kami."
"Katakanlah, akan kami lakukan sebisa mungkin."
"Aku hanya minta jika nanti aku gak bisa melakukan hal yang kalian mau, dan tak bisa berbuat adil menurut kalian, katakan langsung padaku" kata Fariel.
__ADS_1
"Aku gak mau ada yang merasa gak adil namun dipendam."
"Bantu aku nanti untuk melakukan keadilan itu."
"Baik Mas" kata Ervi.
"Iya Uda" kata Fida.
"Untuk permintaan tentangnya hanya aku minta pada Mami dan Papi dan juga kalian berdua" kata Fariel.
"Kasih pekerjaan yang pas dan sesuai dimana asal jangan ditempat itu."
"Bagaimana pun dia pernah mengisi hari-hariku."
"Dimanapun ditempatkan aku menerima permintaan kalian ini asal dia juga dapat pekerjaan yang sesuai."
"Dan jangan membenci atau menjadikan dia musuh kalian nanti jika nanti aku dekat dengan nya, tapi hanya sebagai teman atau bahkan sahabat."
"Aku harap kalian bisa menerima itu."
"Aku harap kalian mau jadi sahabat nya juga, mau mengembalikan hati yang luka, dan senyum yang hilang."
"Aku takan meminta lebih ataupun meminta jadi istriku, tapi hanya ingin kalian membantunya saja, dan jadikan dia sahabat kalian."
"Aku pernah berjanji jika nanti aku memiliki anak dan dia juga, akan kami pasangkan atau kami jodohkan jika anak dari kami ada yang setuju."
"Apa kalian mau mengabulkan permintaan ku ini."
"Adek siap melakukan itu semua" kata Ervi.
"Adek bakal mengabulkan permintaan Mas itu."
"Asal mas juga melakukan pernikahan ini."
"Nyai akan melakukannya juga" kata Fida.
"Nyai siap mengabulkan permintaan Uda tentang itu."
"Uda gak usah takut, setelah bulan depan nanti akan Nyai lakukan semuanya buat Uda biar dia bisa kembali seperti semula lagi."
"Masalah sekarang sudah selesai" kata Papi.
"Dan permintaanmu dah mereka setujui, jadi kamu sekarang siapkan mentalmu."
"Iya nak" kata Mami.
"Akan Mami bawa ketempat Mami nanti buat bantu Mami dibutik Mami, atau di perusahaan Papi yang lain, dan akan ku kuliahkan lagi hingga selesai."
"Yang terpenting sekarang kamu mau menjalani pernikahan ini."
"Kuharap cukup buat yang sekarang, jadi kalian semua tidur dikamar masing-masing, dah malam" kata Papi.
"Aya silahkan kak Fida bawa kekamar."
"Biarkan nak Fariel tidur dengan tenang sambil mempersiapkan mentalnya."
"Besok kamu juga harus pulang, dan akan Papi transfer hasil pekerjaanmu selama ini."
"Baik Pi" kata Fariel.
__ADS_1
"Kalau gitu permisi."
Lalu menyerahkan Aya kepada Fida dan meninggalkan mereka semua dengan perasaan yang sulit untuk menerima keputusan ini.