
Ku bangun dari tidurku ini yang gak bisa benar-benar tertidur yang ada hanya bayang-bayang Tia yang selelu muncul saat mencoba memejamkan matanya.
"Nak mau kemana" kata Mama, yang juga ada disampingku.
"Aku gak bisa tidur, bayangan itu selalu muncul" kata Fariel, sambil bangun dari kasurnya.
"Aku mau keluar menenangkan pikiranku ini, aku butuh waktu sendiri" yang berjalan keluar kamar.
Akupun langsung berjalan keluar rumah tanpa menanggapi beberapa orang yang memanggilku, aku tetap berjalan dalam diam menuju motorku berada.
Lalu aku menghidupkan motorku yang memang kuncinya masih ada dimotor. Kulajukan kendaraan ku, kemana arah yang gak tau, yang hanya mengikuti naluri saja.
Kini sampailah dibukit atu puncak gunung yaitu tempat wisata kota dibalik awan.
Lalu aku duduk sambil memandangi kota dibawah sana dengan perasaan yang gak bisa diartikan.
Dengan perasaan penuh dengan hati yang luka dan tak tenang dan bercampur air mata ini yang menetes dengan sedikit deras.
"Kamu dimana."
"Jangan buat aku menderita."
"Jangan tinggalkan aku dengan rasa bersalah ku ini."
"Mungkin ini memang takdir kita yang tak bisa bersama."
"Pulanglah."
"Aku ingin melihatmu bahagia, walaupun tak bersamaku."
"Jangan buatku seperti ini dengan dipenuhi rasa bersalah."
__ADS_1
"Aku ingat akan janjiku untuk selalu bersama mu sampai tua melihat anak-anak kita tumbuh dewasa."
"Tapi mungkin Tuhan berkata lain."
"Mungkin Tuhan memang hanya memberikan kebahagiaan kita bersama hanya sampai disini."
"Mungkin Tuhan sedang menguji kita untuk menjemput kebahagiaan kita sendiri."
"Pulanglah, jangan kecewakan mereka, mereka ingin yang terbaik untukmu dan keluargamu nanti."
"Jangan tanyakan cintaku padamu, karena sampai kapanpun akan tetap sama, kamulah pemilik hati ini."
"Maafkan aku jika aku tak bisa menepati janji ku untuk selalu bersamamu."
"Biarkan ini menjadi kenangan kita bersama, walau akan sangat menyakitkan bagiku dan kamu."
"Kuakui aku masih sangat menginginkanmu, untuk selalu ada di sisiku sebagai penyemangat hidupku."
"Aku rindu tingkahmu."
"Manjamu."
"Suaramu saat memanggilku dengan kata CAMI ku sayang."
"Senyummu."
"Tawamu."
"Juga manjamu, dan caramu marah padaku."
"Aku gak akan mungkin melupakan kata-kata itu yang selalu keluar dari mulutmu, dan tingkahmu."
Lalu aku berteriak dengan suara yang begitu keras membuat beberapa pengunjung melihat kearahku.
"CANIS KAMU DIMANA, PULANGLAH" lalu menangis.
"Pulang lah" sambil terjatuh dengan posisi lututut ditanah.
__ADS_1
"Pulanglah." mulai memelan suaranya.
"Pulanglah."
"Pulanglah canisku."
"Pulang."
"Pulang lah aku rindu sikapmu."
"Pulang"
"AAAAAAKKKKKKKK" teriakku dengan kepala menghadap katas dan tangan mengepal lalu menjatuhkan badanku kebelakang lalu lengan menutupi kedua mataku dan tangan kanan memukul tanah.
"Aku tak kuat."
"Sakit sangat sakit."
"Perih hati ini."
"Jangan seperti ini."
"Aku gak bisa."
"Dimana kau berada sekarang."
"Aku ingin bertemu untukmu mungkin yang terakhir kalinya sebelum aku benar-benar bisa melepasmu, walau akan membuat luka yang dalam di hati ini."
"Pulang."
"Pulang canis pulang."
"Aku gak kuat dan gak akan bisa."
"Pulang lah" dengan masih memukul mukul tanah.
"Pulang canisku sayang" sambil memukuli dadanya.
__ADS_1
"Ini menyakitkan ku."
Lalu tak sadarkan diri