Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Manja


__ADS_3

"Yuk turun, apa mau Cami gendong" kata Fariel, yang baru membuka safety belt.


"Mau, mau banget" kata Tia.


"Jangan kaya anak kecil dong, masa minta di gendong" kata Fariel.


"Kan Cami yang nawarin tadi" kata Tia.


"Cami kan hanya iseng aja, gendong kapan-kapan aja ya" kata Fariel.


"Gak mau, maunya sekarang" kata Tia.


"Aduh mulai nih manjanya, untung sayang" kata Fariel.


"Kalau gak sayang mau di apain" kata Tia.


"Ditinggal pulang" kata Fariel.


"Iih, baru aja sampe, belum pun makan" kata Tia.


"Ya udah kalau gitu turun, nanti Cami gandeng aja, kaya Ibu-ibu mau nyebrang" kata Fariel.


"Gak mau, aku aja yang gandeng Cami, biar lebih mesra" kata Tia.


"Iya deh iya, kalau gitu kita turun sekarang ya" kata Fariel.


"Oke Cami sayang, tapi lepasin ini dulu" kata Tia.


"Duh manjanya calon istriku yang cantik ini" kata Fariel, akupun langsung membukakan safety belt nya.


"Dah kubuka."


"Cami turun dulu, terus bukain pintunya buat aku juga" kata Tia.


"Iya, Canis tunggu sebentar ya, Cami turun dulu" kata Fariel.


"Oke" kata Tia.


Akupun langsung turun dari mobil lalu memutar.


"Silahkan turun bidadari ku" kata Fariel.


"Pegangin tanganku" kata Tia, sambil menjulurkan tangan nya.


"Duhhh, macam bidadari lagi kontes aja" kata Fariel.


Akupun langsung menerima uluran tangannya, setelah turun langsung menutup pintu mobil.


"Ayok."


"Ayok Camiku" kata Tia, yang langsung menggandeng lenganku sambil menyenderkan kepalanya.


"Ini dah sampe loh, jangan digandeng mulu, emang mau berdiri terus, kan makannya harus duduk" kata Fariel.


"Hehehe, iya Camiku sayang" kata Tia.


"Camiku duduknya disebelah Canis aja, biar Canis senderan sama Cami."


"Duh lagi kumat apa sih, kok maunya nyender mulu, dimanja mulu, ntar Cami makan loh" kata Fariel.


"Jangan, makannya nanti aja, sekarang pesan dulu" kata Tia.


"Ya udah sekarang duduk dulu" kata Fariel.


"Oke, Cami disini, biar aku yang disini" kata Tia.


"Oke, apapun keinginan ratu akan saya turuti" kata Fariel.


Lalu aku duduk dan diikuti Tia yang ikut duduk disamping, lalu melambaikan tangannya keatas untuk memanggil pelayan cafe.


"Silahkan Mbak ini buku menunya."


"Silahkan dipilih mau pesan apa Mbak."


"Cami mau makan apa" kata Tia.


"Cami ngikut aja" kata Fariel.


"Hmmm kalau gitu ayam geprek dua yang sedang aja, minumnya cincau juga dua" kata Tia.


"Baik Mbak, dan Bangnya mohon tunggu sebentar ya."


Hanya anggukan kepala sebagai jawabannya.


"Cami lagi ngapain sih" kata Tia.


"Bentar, Cami mau ngabarin Mami dulu, takutnya nanti Mami nungguin Cami kelamaan kalau Cami gak ngasih kabar Mami dulu" kata Fariel.


"Ooh gitu, yaudah kalau gitu Cami kabarin Mami dulu, biar enak kita disini gak takut buru-buru" kata Tia.


"Pinternya calon ku" kata Fariel.


"Iya dong harus itu, kan Canis hanya milik Cami seorang" kata Tia.


"Iya deh iya, bentar ya" kata Fariel.


Lalu aku langsung menghubungi Mami.


"Halo Assalamu'alaikum Mi" kata Fariel.


"Waalaikumsalam, nak Fariel dah jemput Mami" kata Mami.


"Belom Mi, masih makan ini, belum selesai pun" kata Fariel.


"Ooh, ya udah kalau gitu makan dulu aja, Mami juga mau pesan makanan buat makan siang disini, kirain mau makan bareng Mami disini" kata Mami.


"Hehe, gak Mi, hanya mau ngasih tau kalau jemput Mami mungkin nanti sekitar jam duaan Mi, gak papa kan" kata Fariel.


"Iya gak papa, kamu santai aja disitu, gak usah buru-buru makannya, nikmati aja ya" kata Mami.


"Oke Mi, makasih pengertian nya" kata Fariel.


"Iya sama-sama, emang kamu dimana sekarang" kata Mami.


"Lagi di cafe ini dekat laut" kata Fariel.


"Ooh, ya udah pulangnya nanti gak usah ngebut selow aja" kata Mami.


"Iya Mi, tenang aja" kata Fariel.


"Apa Mami mau di bungkusin sesuatu."


"Gak usah, untuk apaan, disini juga ada, kalau mau Mami bisa minta nanti" kata Mami.


"Kadang Mami minta es cincau atau kelapa muda buat dirumah" kata Fariel.


"Boleh deh, cincaunya aja ya, beli yang banyak kalau bisa" kata Mami.


"Ya udah kalau gitu nanti aku pesan buat dibungkus" kata Fariel.


"Dada Mami Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam" kata Mami.


Sambungan telepon langsung aku matikan lalu meletakkan hpnya diatas meja.


"Udah nelpon nya Mi" kata Tia.


"Udah dong, ngapain lama-lama" kata Fariel.


"Ini Mbak, Bang pesanannya" sambil meletakkan pesanan kami dimeja.


"Silahkan dinikmati, kalau ada yang kurang panggil aja."


"Oh ya, apa bisa dibungkus untuk pesanan lain" kata Fariel.


"Oh tentu bisa Bang, mau pesan apa."


"Hanya cincau aja bisa" kata Fariel.


"Bisa Bang, mau berapa porsi."


"Lima belas aja, usahakan gula sama santannya dipisah aja ya, alnya takut gak langsung diminum nanti bisa basi" kata Fariel.


"Apa bisa"


"Oh bisa Bang, biar nanti kami siapkan, saya permisi dulu."


"Cami pesan banyak banget, Canis di kasih ga" kata Tia.


"Kalau mau pesan aja lagi, itu punya Mami, memang sengaja aku lebihin, takut nanti ada yang kurang dengan satu porsi" kata Fariel.


"Ooh, ya udah nanti Canis minta lima aja buat yang dirumah, kasian" kata Tia.

__ADS_1


"Oke, yuk kita makan" kata Fariel.


"Ayok" kata Tia.


Dan kami pun menikmati makanan yang telah kami pesan, setelah selesai kami lanjutkan ngobrol lagi.


"Mi" kata Tia.


"Iya kenapa" kata Fariel.


"Cami kenapa sih kemarin posting foto kaya gitu, pake kata-kata begituan pula, Canis kan jadi sedih, takut kalau Cami itu mau ninggalin Canis sendirian" kata Tia.


"Apalagi kaki Cami sampai diangkat satu kaya gitu, bikin ngeri aja lihatnya, kalau Cami jatuh gimana coba, kalau Cami mati terus nanti Canis sama siapa, Canis kan gak mau kehilangan Cami, hidup canis hanya pengen sama cami selalu" dengan rasa sedihnya.


"Cami hanya lagi nyari udara segar aja, Cami memang suka dengan seperti itu" kata Fariel.


"Iya, tapi kan gak harus di pinggiran kaya gitu juga, aku takut, apalagi nomer cami gak bisa dihubungi, Canis tu sampai gak bisa tidur, kuliah aja gak fokus gara-gara lihat postingan Cami dengan kata-kata yang seolah mau meninggalkan dunia ini" kata Tia, yang sudah meneteskan air mata nya.


"Iya maaf, Cami gak bakal kaya gitu lagi, Cami janji gak ngulangin lagi, jangan nangis ya, gak enak sama yang lain, ntar dikira Cami yang bikin Canis nangis" kqta Fariel.


"Iya, tapi Cami janji jangan kaya gitu lagi ya" kata Tia.


"Iya Canis ku sayang" kata Fariel.


"Dah ya jangan nangis" sambil menghapus air matanya.


Tia hanya ngangguk lalu menyenderkan kepalanya dipundakku.


"Mi pulang yuk" kata Tia.


"Yakin nih mau pulang, biasanya minta lama-lama" kata Fariel.


"Iya, ini pengen pulang aja, tapi mampir nanti belikan boneka biar bisa peluk-peluk kalau lagi kangen Cami, kalau Cami lagi sibuk kerja" kata Tia.


"Ya udah ayok, kita pulang tapi Cami bayar dulu sama ambil pesanan, katanya Canis minta juga tadi" kata Fariel.


"Iya ayok, tapi ini habisin dulu minimnya" kata Tia.


"Iya ini Cami habisin, punya Canis pun habisin ya" kata Fariel.


"Iya, tapi pegangin gelas canis" kata Tia.


"Iya, cami minum dulu ya" kata Fariel, yang langsung meminum cincau nya lalu.


"Nih, buka mulutnya, biar cami suapin cincaunya" kata Fariel.


Tia pun langsung membuka mulutnya.


"Jangan blepotan dong" kata Fariel, lalu mengambil tisu dan mengelap dibagin b***r bawah yang ada sisa dari air cincau.


"Makasih camiku sayang" kata Tia.


"Ni habisin dulu" kata Fariel.


"Dah ah, dah kenyang" kata Tia.


"Ya udah ayok berdiri" kata Fariel.


Tia pun langsung berdiri, lalu kembali lagi dengan memasukkan tangannya ke lenganku.


"Ini mau kekasir loh nis, masa digandeng mulu" kata Fariel.


"Biar semuanya tau kalau cami hanya punyaku seorang" kata Tia.


"Kan memang iya" kata Fariel.


Kita pun langsung berjalan menuju kasir.


"Kak total berapa semuanya" kata Fariel.


"Yang duduk di meja nomer berapa ya bang."


"Nomer delapan kak" kata Fariel.


"Bentar ya."


"Sama cincaunya yang lima belas sekalian juga ya bang."


"Iya bener, kalau bisa ditambahkan lagi lima cincaunya" kata Fariel.


"Tapi dipisah yang lima ya, bisa."


"Oh tentu bisa, tunggu sebentar ya."


Akupun langsung mengambil dalam dompet dan menyerahkan beberapa lembar uang.


"Ini kak" kata Fariel.


"Kembaliannya nanti aja ya bang, biar sekalian sama cincaunya."


"Oke kak, kalau gitu aku tunggu dimobil hitam didepan ya" kata Fariel.


"Iya bang."


"Makasih" kata Fariel.


"Sama-sama."


"Cami jangan tebar senyuman napa sama mereka, aku gak suka" kata Tia.



"Cemburu nih" kata Fariel.


"Masa iya cami ngomong gak pake ekpresi, nanti dikira aku sombong dong, kakak tu aja ramah sama kita, kita juga harus ramah dong."


"Iya, tapi cuma cami aja yang disapa" kata Tia.


"Orangnya takut sama canis kali, canis aja daritadi diem" kata Fariel.


"Ya udah yuk kita ke mobil."


"Tapi lain kali gak boleh kaya gitu lagi, biasa aja jangan berlebihan, senyumnya cami hanya boleh untukku aja" kata Tia.


"Iya canisku sayang" kata Fariel.


"Ya udah yuk, cami gandeng nih yuk."


Tia langsung melingkarkan tangannya di lenganku sambil nyenderkan kepala.


"Seneng bener nyender sih sekarang" kata Fariel.


"Biar cami gak disenderin sama cewek lain" kata Tia.


"Iya deh iya, kan cami hanya punya Astria doang, jadi cewek yang suka nyender tanpa permisi ya cuman canis doang" kata Fariel.


"Berarti ada cewek lain dong yang nyender di bahu cami" kata Tia.


"Gak ada, selain adek cami sendiri" kata Fariel.


"Masa adek sendiri mau nyender diusir."


"Iya kalau itu boleh, tapi jangan cewek lain" kata Tia.


"Iya iya canisku sayang" kata Fariel.


"Yuk, silahkan masuk bidadari ku."


"Makasih pangeran" kata Tia.


Akupun langsung berputar untuk masuk kemobil.


"Sini biar cami pasangin" kata Fariel.


"Iya dong, itu harus" kata Tia.


"Dah terpasang" kata Fariel.


"Tinggal nunggu pesanannya datang."


"Iya camiku" kata Tia.


"Jangan lupa bonekanya ya nanti."


"Beres" kata Fariel.


Tiba-tiba pintu mobil diketuk.


"Maaf bang, tadi salah mobil jadi lama."


"Oh ya gak papa" kata Fariel, lalu aku membuka pintunya.


"Ini mau ditaro mana bang."

__ADS_1


"Dibelakang sini aja" kata Fariel.


"Bentar kubuka dulu pintunya."


"Sini biar saya bantu."


"Ini kembaliannya bang, makasih dah mampir ditempat kami."


"Iya sama-sama, makasih juga udah mau diantar sampai depan" kata Fariel.


"Iya, kalau gitu saya permisi."


"Iya silahkan" kata Fariel, lalu menutup pintu belakang dan masuk lagi kebangku depan


"Yuk kita jalan beli boneka."


"Ayok" kata Tia.


Di sepanjang jalan hanya diem tanpa suara sampai ditempat yang dituju selanjutnya.


"Ayok turun, katanya mau beli boneka" kata Fariel.


"Bukain lagi" kata Tia.


"Iya, bentar ya cami turun dulu" kata Fariel, yang langsung turun.


"Ayok turun."


Begitu turun langsung kututup pintunya, dan Tia seperti biasa dengan manjanya.


"Emang mau beli yang kekmana sih, dah besar kok mainnya boneka."


"Biarin, yang penting bisa meluk boneka sebagai pelampiasan rasa kangenku sama cami."


"Oke deh kalau gitu, yuk kita masuk dan pilih mana yang canis suka" kata Fariel.


"Oke, ayok" kata Tia.


Kita pun langsung masuk dan melihat-lihat dulu dan memilih mana yang disukai.


"Dah ada yang mau dibeli" kata Fariel.


"Dah ini" kata Tia.


"Aatu apa dua" kata Fariel.


"Dua, yang ini kan kecil, kalau yang ini kan besar, jadi pas kalau kupeluk nanti" kata Tia.


"Ya boleh, ambil aja" kata Fariel.


"Cami juga mau ambil satu yang ini buat adek yang suka bawel kalau dirumah."


"Duh sayang bener sama adek nya, aku jadi iri" kata Tia.


"Gak usah iri dong, kan dia juga bakal jadi adek kamu juga nanti kalau kita dah resmi, ya kan" kata Fariel.


"Iya juga, yaudah ambil aja lagi" kata Tia.


"Ya udah ini cami ambil dua yang besar" kata Fariel.


"Yuk kita bayar ini semua."


"Ayok" kata Tia, dengan senangnya.


"Ini semuanya berapa" kata Fariel.


"Kebetulan lagi promo dan ada diskon, karena mas dan mbaknya beli empat, jadi kami anggap yang kecil itu gratis, totalnya hanya enam ratus lima puluh."


"Apa bisa lewat kartu, atau transfer" kata Fariel.


"Tentu bisa mas, mana kartunya."


Akupun langsung memberikan kartu padanya.


"Sandi pinnya mas."


Langsung kutekan angka-angka ditombolnya.


"Oke, pembayaran selesai, ini kartunya, makasih dah mau beli disini, kebetulan lagi banyak diskon untuk ukuran yang besar."


"Iya sama-sama" kata Fariel.


"Yuk kita pulang, bawa sendiri ya, cami juga bawa nih dua."


"Iya camiku sayang" kata Tia.


Dan kami pun berjalan sambil membawa bonekanya masing-masing sampai di mobil.


"Mau diletakkan di belakang apa mau dipangku bonekanya" kata Fariel.


"Dipangku aja" kata Tia.


"Ya udah, kalau gitu punya cami taro dibelakang ya" kata Fariel.


Akupun langsung meletakkannya dibangku belakang, lalu aku masuk.


"Gak ada yang mau dibeli lagi kan, biar langsung kuantar pulang, cami harus jemput Mami nih" kata Fariel.


"Gak ada kok, langsung balik aja, ini dah ngabisin uang cami, jadi gak perlu mampir lagi, hari ini dah cukup, canis dah seneng, makasih camiku sayang buat semuanya hari ini" kata Tia.


"Iya canisku sayang, apapun buat kamu pasti aku ikutin" kata Fariel.


"Berarti kita langsung pulang ya."


Tia hanya menjawab dengan anggukan saja, karena sedang asik dengan boneka yang dipangku nya, aku yang melihat dia tersenyum membuatku bahagia.


"Duh bahagianya, senyumnya manis bener" kata Fariel.


"Makasih camiku" kata Tia.


Sampai dipintu gerbang.


"Dah sampai nih, cami gak perlu masuk ya, disini aja dipintu gerbang biar gak muter-muter nanti" kata Fariel.


"Oke camiku sayang, makasih, emmuach" kata Tia, yang tiba-tiba mencium pipi kiriku.


"Caniss, kita belom boleh loh, jangan diulang lagi kaya gini" kata Fariel.


"Iya cami" kata Tia.


"Maaf, abis canis seneng banget hari ini."


"Ya udah kalau gitu sekarang canis turun dan masuk kedalam" kata ariel.


"Iya camiku sayang, buka pintunya"kata Tia.


"Iya iya, cami bukain, bentar ya canisku yang manja" kata Fariel.


Lalu aku turun dan membukakan pintunya


"Ayo turun ratuku."


"Makasih kanda" kata Tia, dengan senyumnya.


"Itu cincaunya mi."


"Oh iya, cami hampir lupa, abis liat senyum canis bikin aku lupa segalanya sih" kata Fariel.


"Gombal" kata Tia.


"Yuk, biar cami ambilin cincaunya" kata Fariel.


Lalu mengambil bungkusan dalam kantong kresek.


"Nih cincaunya, bisa kan bawanya."


"Bisa cami, tenang aja, dah cami pulang terus kasian Mami nanti nungguin cami kelamaan" kata Tia.


"Oke ratu ku, cami pulang ya" kata Fariel.


"Rindunya ditahan dulu ya buat nanti lagi, sekarang peluk boneka aja dulu oke."


"Oke cami ku sayang, dada cami emmuach" kata Tia.


Lalu aku tangkap ciumannya dan ku masukkan ke kantong.


"Buat nanti dirumah" kata Fariel.


"Xami ada-ada aja" kata Tia.


"Dada canis, Assalamu'alaikum" kata Fariel, yang langsung masuk mobil.


"Waalaikumsalam, ati-ati dijalan" kata Tia.

__ADS_1


Aku langsung menuju kebutik untuk jemput Mami.


__ADS_2