
Sampailah kini di tempat tujuan acara untuk Ijab qabul, yang memang acaranya di rumahnya.
Iringan Shalawat tak ada hentinya dari saat berangkat hingga sampai disini, karena nanti grup Shalawat yang akan mengisi acara di siang hari sekaligus akan diisi pengajian.
Aku turun dari mobil dengan perasaan yang campur aduk, kaki gemetar sedikit kesemutan jantung berdetak tak menentu apalagi melihat banyaknya penjemput manten yang dah siap menyambut kami.
"Ayo gak usah panik, santai aja" kata Bapak.
"Jangan bikin malu keluarga karena kabur saat nikahan dah didepan mata."
"Tarik nafas pelan-pelan lalu keluarkan."
"Ayok jalan perlahan" kata Mama.
"Santai aja, anggap aja ini sedang dipanggung dan ditonton banyak fans" kata Fajar.
"Ngomong sih enak, lah aku dah keringatan" kata Fariel.
"Ayok jalan, biar Bapak sama Mama gandeng" kata Bapak.
"Fajar sama yang lain nanti dibelakangmu."
"Santai aja bro, ada aku dan sahabatmu yang lain nih" kata Fajar.
"Ayok yang lain tolong bantu biar semangat ya, gak gerogi" kata Mama, pada teman-teman ku yang dah ada dibelakangku.
"Siap bude" ucap yang ada dibelakang ku sambil membawa sesuatu dan ada yang memayungiku juga.
"Ayok jalan pelan-pelan sambil baca bismilah" kata Mama.
Langsung kubaca bismilah dalam hati dan berjalan secara perlahan, walaupun kaki masih sedikit gemetaran dan badan panas dingin berkeringat.
Begitu masuk kedalam ruangan yang akan menjadikan pesta sekaligus acara ijab qabul nya makin rasanya makin campur aduk aja apalagi banyak flash kamera yang memotret kearahku membuatku makin susah buat bergerak.
"Jangan takut gak usah gerogi" kata Bapak.
"Dah sering ketemu kok masih gerogi aja."
"Ayok masuk dan langsung kita kesana mengikuti mereka."
Langsung ku berjalan mengikuti yang didepan yang memberikan arah pada kami terutama pada aku Bapak dan Mama buat langsung duduk di tempat yang sudah disiapkan.
"Ayok duduk perlahan" kata Bapak.
"Geroginya buang dulu."
"Bapak dulu geroginya gak kaya ini, biasa aja, jadi kamu jangan sampai pingsan ya nanti."
"Malu nanti dilihat banyak orang, masa badan gede diijab qabul pingsan, kan gak lucu."
"Nih minum dulu, biar gak tegang" ucap yang ada disamping Bapakku.
"Makasih" kata Bapak.
__ADS_1
"Yuk minum biar tenang gak tegang."
"Santai Bang, jangan nanti malah aku yang suruh ganti Abang disitu ya" kata Fajar, sambil memijit pundakku biar gak tegang mungkin.
"Jangan pingsan ya."
"Ada aku dan yang lain buat kasih semangat buat Abang."
Langsung ku minum air dalam botol menggunakan sedotan secara perlahan hingga setengahnya.
"Wah haus bener kayaknya nih ya Bang" kata Fajar.
"Husst, diam, nanti bude gak kasih kamu lagi buat tidur dirumah Vude sama pinjam motor Bude" kata Mama.
"Kasih semangat, tapi jangan ngomong yang bikin makin tegang."
"Iya Bude maaf" kata Fajar.
Lalu Penghulu datang dan juga Papi yang langsung duduk didepan ku dan juga disamping.
"Tenang jangan tegang, tegangnya buat entar malam aja, sekarang rileks dulu, jangan kalah sama yang tua" kata Penghulu, membuat yang lain jadi tersenyum dan ada yang ketawa kecil.
"Apa dah siap, dah hafal semuanya, karena ini berbeda."
"Ini langsung dua sekaligus dan pake binti yang berbeda, jadi akan agak sulit, atau mau satu-satu biar lebih mudah."
"Dah pak, dah hafal sesuai yang diberikan padaku" kata Fariel.
"InsyaAllah langsung aja, daripada nanti malah jadi makin tegang gak karuan."
"Sudah" ucap semuanya.
"Tangannya sini bersalam dengan saya" kata Penghulu, langsung ku ulurkan tangannya dan dijabat tanganku.
"Gak usah tegang" karena tanganku memang tegang.
"Santai aja, biasa aja, gak usah gerogi."
"Sebelum dimulai alangkah baiknya dicoba dulu, apa beneran sudah hafal dan siap apa belum."
"Ayo diucapkan"
"Bismillah dulu biar tenang."
Langsung kuucapkan bismillah dan juga ijab qabul nya dengan lengkap seperti yang tertera dan telah ku hafalkan.
"Alhamdulillah dah hafal, jadi bisa kita langsung kan ijabnya" kata Penghulu.
"Dah siap ya, tangan nya biasa aja, jangan meremas tangan Bapak, nanti tanganku jadi peyek kalau diremas" kembali membuat yang lain tersenyum dan tertawa kecil.
Aku hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban kalau dah siap, langsung kutarik nafas pelan-pelan sambil merilekskan tanganku.
"sudara Sielfa Akhmad Mu fariel, skip " kata Penghulu.
__ADS_1
"Saya nikahkan engkau dengan, skip, yang walinya sudah diwakilkan kepada saya, skip."
"Saya Terima nikah dan kawinnya, skip" kata Fariel.
"Gimana saksi" kata Penghulu.
"Sahhhh" ucap semuanya.
"Sahhh" kata Fajar, dengan suara sedikit teriak membuat yang lain ketawa karena melihat tingkahnya yang sambil mengangkat tangannya keatas.
"Alhamdulillah" kata Penghulu.
lalu dibacakan doa dan semuanya mengaminkannya.
Lalu pengantin perempuannya datang keduanya dan duduk disebelahku kanan dan kiri.
"Sekarang dah resmi dah jadi sepasang suami-istri" kata Penghulu.
"Dah boleh ngapain aja nanti malam karena dah sah, dah boleh melakukan" membuat para saksi ketawa.
"Sekarang tanda tangan dulu, ditahan dulu buat entar malam karena masih ada acara."
Langsung kami menandatangani buku nikahnya.
"Sekarang pake cincin masing-masing" kata Penghulu.
"Kamu pakaikan ke istrimu duanya."
"Untuk kamu nanti biar saling memegangi cincin dan jarimu buat memakaikannya."
"Ayo sekarang dipakai."
Langsung kupakai kan cincin dijari manis Fida lalu kejari manis Ervi.
Setelah itu baru tanganku dipakai kan cincin oleh Ervi dan Fida memegang jari-jariku.
"Alhamdulillah" kata Penghulu, yang dah selesai bertukar cincin.
"Sekarang kalian dah jadi resmi."
"Kamu sebagai pemimpin rumah tangga wajib menafkahi lahir batin kepada kedua istrimu secara adil, jangan sampai ada yang kurang adil dan jadi suatu iri karena kurangnya keadilan darimu."
"Buat kalian sekarang dah jadi istri atau pakaian suami jadi harus mengikuti apa kata suami, gak boleh menolak ajakan suami, karena menolak permintaan suami itu dosa, jadi kalau ada rasa kurang adil dan iri karena merasa kurang adil kalian langsung sampaikan ke suami kalian atau kepala rumah tangga kalian, jangan nanti malah dipendam dan akan membuat suamimu berdosa, dosa yang gak tau apa yang dilakukannya karena kalian gak saling terbuka, begitu juga dengan suami kalian ini."
"Sama-sama baru menikah dan baru menjadi sepasang suami-istri yang punya istri lebih dari satu jadi harap saling terbuka biar gak ada nanti perselisihan antara kalian."
"Suami juga pakaian kalian juga, yang harus kalian jaga kalian rawat, bukan hanya istri yang jadi pakaian suami, tapi kalian sama-sama pakaian dari sepasang suami-istri sekarang, jadi saling menjaga dan menyayangi dan bekerja sama membina rumah tangga menjadi Sakinah Mawaddah Warahmah."
"Sekarang dah selesai tinggal kalian ganti pakaian untuk menyambut para tamu yang ingin berfoto atau mungkin mengucapkan selamat dan sebagainya."
"Jadi sekarang kita ucapkan Alhamdulillah."
Langsung kami berdiri dan dibantu diantar kekamar buat ganti pakaian.
__ADS_1
Maaf kalau banyak kata yang salah dalam penulisannya, dan maaf kalau banyak yang ku skip, karena takut nanti salah dan gak sesuai, jadi kubuat skip aja biar lebih mudah dan singkat.
Makasih buat yang masih menunggu update nya dan masih mau mendukung Author.