
Setelah mendapat kan izin dari mereka akupun kami pun langsung pergi menuju rumah Dewi dengan satu mobil, sedangkan Ibnu akan menyusulnya nanti menggunakan motorku.
Setelah mampir untuk membeli kado dan membungkusnya, kami pun langsung menuju kediaman rumah Dewi mengadakan pesta ulang tahunnya yang ke dua puluh.
Setelah sampai kami pun langsung turun dari mobil dan masuk kedalam rumah yang sudah dihias dan juga sudah ada beberapa tamu atau temannya yang juga diundang diacaranya.
"Silahkan langsung masuk aja."
Kami pun langsung masuk kedalam, lalu diarahkan ke tempat duduk oleh salah satu mereka.
"Mau minum apa."
"Apa aja, putih aja satu, sisanya bebas" kata Fariel.
"Baik, kalau gitu sayak ambilkan, permisi."
Tiba-tiba ada yang datang.
"Ehhh nak Ahmad, kapan sampai disini" kata Abdul.
"Barusan aja Pak, kalau ke kota ini dari kemaren sih" kata Fariel, sambil berdiri.
"Gimana kabarnya sekeluarga pak" sambil bersalaman.
"Alhamdulillah semuanya baik" kata Abdul.
"Sama siapa datang."
"Ini ada Papi, Mami, Fida dan Ervi juga" kata Fariel.
"Ohhh, salam Pak, Bu dan Nak" kata Abdul.
"Makasih dan mau berkenan hadir disini."
"Iya Pak, kami hanya sekedar memenuhi undangan dan permintaan anak Bapak untuk hadir" kata Papi.
"Maaf, Dewinya tadi baru pulang entah darimana, jadi mungkin acaranya dimulai akan agak lama" kata Abdul.
"Iya gak papa" ucap bersama.
"Oh iya nak Ahmad, anak Bapak seneng banget lo nyeritain tentang kamu dari dulu hingga sekarang" kata Abdul.
"Bahkan punya banyak foto kamu yang terpajang didinding kamarnya, yang hampir penuh."
"Dari mulai foto kamu saat masih seragam SMP hingga foto kamu yang sekarang pun ada didinding kamarnya, bahkan ada yang berukuran besar loh, yang katanya foto spesial."
"Bahkan kemarin juga habis memajang foto kamu yang baru, kalau gak salah fotonya ada tulisan jangan dipandangi nanti bisa sayang, kaya gitu kalau gak salah sih."
"Ah Bapak bisa aja" kata Fariel.
"Tapi beneran loh nak" kata Abdul.
"Kayaknya anak Bapak suka sama kamu" bisiknya.
"Kalau Bapak perhatiin saat Dewi melihat foto-foto kamu dan saat foto kalian berdua, dia suka senyum-senyum sendiri."
"Gak cuma sekali loh saya lihatnya, bahkan Ibunya juga sering melihat nya senyum-senyum sendiri sambil liatin foto kamu."
"Vapak bisa aja, jadi gak enak " kata Fariel.
"Ehhh ada tamu spesial" kata Ibu dewi.
"Nak Akhmad kapan datang, Ibu kangen loh lihat kamu, kan Ibu lihat kamunya pas masih Dewi sekolah disana juga."
"Gimana kabar orang tuamu nak."
"Alhamdulillah semuanya baik Bu" sambil bersalaman.
"Wah kamu makin besar aja ya sekarang, dulu padahal terkhir ketemu kamu kamu belum setinggi ini loh, tapi sekarang makin tinggi aja ya, kaya pohon kelapa" kata Ibu.
"Maksih Bu, tapi ini juga gak beda kok dari dulu, hanya nambah dikit aja tingginya" kata Fariel.
"Anak Ibu sampe sekarang masih aja suka majangin foto kamu, bahkan gak ada yang boleh mengambilnya walaupun hanya satu" kata Ibu.
"Kalau Ibu lihat, pasti gak boleh lihatnya lama-lama, Ibu jadi gemes."
"Kalau dikamar tu ya betahhhh banget, padahal hanya melihatin foto doang tapi dipanggil gak nyaut-nyaut."
"Wah aku jadi malu nih, gak enak sama Bapak dan Ibu" kata Fariel.
"Oh iya ini siapa, kok gak dikenalin sama Ibu" kata Ibu.
"Oh ini itu keluargaku juga, itu Papi, ini Mami ini" kata Fariel, yang belum selesai ngomong langsung dipotong.
"Aku istrinya, namanya Fida" kata Fida, sambil menggandengkan tangannya, dan mengelus perutnya.
"Aku istri keduanya, namanya Ervi" kata Ervi, yang juga menggandengkan tangannya.
"Dah dua istrimu sekarang nak, wah kok gak undang Bapak sekeluarga" kata Abdul.
"Bukan gitu Pak, ini tuh" kata Fariel, dipotongnya lagi.
"Kami nikah mendadak, iyak kan mas" kaya Fida.
"Aku juga udah berisi" sambil melihatkan perutnya yang sudah besar.
"Wah selamat ya nak, Bapak kalah star kayaknya nih buat minta kamu buat jadi pendamping anak Bapak si Dewi" kata Abdul.
"Bapak mah selalu mendukung anak Bapak si Dewi dengan pilihannya, gak perlu harta dan tahta, yang penting setia tanggung jawab dan bisa buatnya selalu bahagia bersama."
"Itu dah cukup bagi kami semua."
"Saya keatas dulu, mau kekamar Dewi dulu, permisi" kata Ibu.
"Ayok pak" sambil menarik tangannya.
"Saya tinggal dulu ya, silahkan dinikmati hidangan yang ada, permisi" kata Abdul.
"Iya Pak" kata Fariel.
Ketika mereka pergi, kami pun duduk lagi.
"Kenapa kakak sama adek ngelakuin itu" kata Fariel.
"Biar mereka gak berharap lebih" kata Ervi.
"Tadi mas dengar sendiri kan kalau anaknya suka sama mas, bahkan tadi sempat bilang kalah start."
"Iya, kakak juga gak rela kalau adek itu sama dia, yang menghalalkan segala cara" kata Fida.
"Tapi kan tadi kalian dengar sendiri, kalau Dewi sudah minta maaf" kata Fariel.
__ADS_1
"Dan ingin melanjutkan persahabatan ini lagi. L"
"Aku gak yakin" kata Fida.
"Aku juga sependapat dengan kakak, pasti nanti ujung-ujungnya bakal berusaha dapatin mas biar mau jadi pendamping hidupnya" kata Ervi.
"Sudah-sudah, itu orangnya sudah turun" kata Papi.
"Iya itu, acaranya akan segera dimulai, kalian jangan ribut, diem" kata Mami.
Kemudian sebelum acaranya dimulai ada suara panggilan lewat pengeras suara.
"Perhatian-perhatian, sebentar kasih waktu" kata MC.
"blBuat yang bernama Sielfa Akhmad Mufariel dimohon untuk maju kedepan, karena ada yang mau memberikan sesuatu untukmu."
"Jadi untuk yang saya panggil harap maju."
Akupun langsung maju kedepan, walau harus melepaskan tangan kakak dan adek yang melingkarkan tangannya pada lenganku.
Sampai didepan lalu.
"Beri tepuk tangan dulu untuknya" kata MC, lalu uara tepuk tangan pun terdengar riuh di ruangan ini.
"Buat yang punya acara yaitu Indah Kurnia Dewi, silahkan naik keatas" kata MC.
Yang dipanggil pun naik.
"Beri tepuk tangan dulu untuk mereka" suara tepuk tangan pun terdengar.
"Oke, kami persilahkan buat menyampaikan sesuatu" lalu memberikan mic pada Dewi, Dewi langsung menerimanya.
"Selamat sore semuanya" kata Dewi.
"Sore" ucap semua tamu.
"Mungkin kalian bertanya-tanya kenapa ada cowok didepan ku" kata Dewi.
"Langsung aja."
"Sebenarnya aku dari dulu punya rasa spesial bukan sebagai sahabat apalagi teman."
"Rasa yang menurut ku sulit untuk aku artikan."
"Entah rasa apa, aku juga tak tau."
"Tapi saat bersamanya aku terasa nyaman dan damai."
"Ya walau ada sedikit detak jantung berdetak lebih kencang dan keringat dan hawa panas saat duduk bersama, yang secara tiba-tiba."
"Hingga aku bertanya-tanya pada diriku ini."
"Ada apa dengan perasaanku."
"Apa yang terjadi padaku."
"Kenapa aku bisa tersenyum seperti ini."
"Akhirnya aku mulai mengerti."
"Kalau ini itu adalah perasaan cinta."
"Yang hadir tanpa permisi dan aba-aba."
"Bahkan rasa itu mungkin lebih dari rasa pada sebelumnya."
"Aku bukan ingin meminta belaskasihan atas cinta."
"Tapi aku berharap kau bisa bahagia dengan entah itu siapa."
"Aku yang selalu mencintaimu dalam diam."
"Yang selalu menahan rindu dalam diam."
"Ini adalah rasaku."
"Yang terpendam dari dulu, sekarang ataupun nanti."
"Aku tak kan mengganggumu dengan pilihan hatimu."
"Tapi ingatlah aku."
"Yang selalu mencintaimu walau tak terbalaskan."
"Kaulah yang mendatangkan rasa cinta ini."
"Memekarkan kekaguman."
"Menumbuhkan kerinduan."
"Aku hanya pasrah, dan diam."
"Karena tak mampu mengungkapkan."
"Karena nyaliku yang ciut untuk mengungkapkan."
"Aku mau meminta izin sebelum aku pergi."
"Izinkan aku tak mengganggu hatimu."
"Takan merusak kekhusu’an ibadahmu."
"Tak mengusik kebahagiaan munajatmu."
"Karena diriku."
"Sudah cukup bahagia saat mengetahui engkau bahagia."
"Aku serasa dialiri kesentosaan jiwa."
"Manakala melihatmu tersenyum dalam damai sepanjang usia."
"Biarlah kudekap perasaan ini."
"Kupeluk rapat-rapat air mataku."
"Ketika aku tak lagi terkagum denganmu."
"Maka pahamilah jejakku."
"Karena mungkin."
__ADS_1
"Aku pernah menulis tentangmu dan meyapa namamu dalam tiap untaian doaku."
Lalu lantunan musik piano terdengar dan
"Lagu ini untuk ku sendiri" kata Dewi.
Mungkin ini memang jalan takdirku.
Mengagumi tanpa di cintai.
Tak mengapa bagiku asal kau pun bahagia.
Dalam hidupmu, dalam hidupmu.
Telah lama kupendam perasaan itu.
Menunggu hatimu menyambut diriku.
Tak mengapa bagiku cintaimu pun adalah.
Bahagia untukku, bahagia untukku.
Reff.
Ku ingin kau tahu diriku di sini menanti dirimu.
Meski ku tunggu hingga ujung waktuku.
Dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya.
Dan ijinkan aku memeluk dirimu kali ini saja.
Tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya.
Dan biarkan rasa ini bahagia untuk sekejab saja.
Dan lagu pun selesai, Dewi langsung menuju kemeja untuk acara meniup lilin dan potong kue.
Serempak menyanyikan lagu selamat ulang tahun hingga selesai, lalu "tiup lilinya" ucap mereka berulang.
Hingga pemotongan kue yang diberikan kepada Bapak dan Ibunya, lalu memberikan kepadaku.
"Yang ini buat sahabatku cintaku, semoga bahagia selalu" kata Dewi sambil memberikan sepotong kue untukku.
"Jangan lupa senyum."
"Terimakasih, sudah mau mengerti dengan perasaanku ini" kata Fariel.
"Semoga kamu bisa mendapatkan yang lebih dari aku."
"Aku masih sahabatmu dari dulu kini hingga nanti."
"Jadi jangan sungkan untuk meminta pendapat atau bantuan, jika aku bisa akan aku bantu."
"Maaf jika kebaikanmu sampai saat ini belum bisa kubalas."
"Aku memberikanmu kado boneka kesukaanmu saat kamu masih sekolah."
"Semoga kamu mau menerimanya."
"Hangan lihat dari bentuk hadiahnya atau nominalnya."
"Terimakasih" kata Dewi, yang sambil memelukku.
"Aku sangat senang bisa mendapatkan hadiah dari sahabatku ini."
"Aku masih sangat suka dengan boneka beruang dari dulu hingga sekarang."
"Apalagi ini langsung darimu, akan kusimpan untuk selamanya."
"Bonekanya akan datang sore ini juga" kata Fariel.
"Maaf kalau gak bisa langsung aku berikan padamu."
"Karena tadi aku terburu-buru, jadi akan diantar nanti."
"Maaf kalau nanti tak sesuai."
Tiba-tiba barang yang dimaksud datang.
"Apa itu kado untuk aku" kata Dewi, yang menunjuk kearah boneka beruang berukuran besar yang sedang dibawa oleh pihak pengiriman barang.
Akupun langsung melihat kearah yang ditunjuknya.
"Iya, itu bonekanya, apa kamu suka" kata Fariel.
"Aku suka banget, makasih" kata Dewi, sambil tersenyum bahagia dan memelukku.
"Maaf."
"Iya gak papa" kata Fariel.
"Buat yang lain silahkan menikmati saja langsung ya" kata Dewi, ucapnya pada mereka semua.
"Oh ya, aku gak bisa lama-lama disini, aku harus balik, gak enak dengan Papi dan Mami apalagi dengan kak Fida yang perutnya sudah besar, aku harus segera balik" kata Fariel.
"maaf ya, kuharap lain kali kita bisa ketemu lagi"
"Iya gak papa, tapi kita foto dulu ya" kata Dewi.
"Iya boleh" kata Fariel.
Dewi pun langsung meminta tukang foto untuk memotret beberapa.
"Dah ya aku pamit, Assalamu'alaikum" kata Fariel.
"Waalaikumsalam" kata Dewi.
Lalu aku berjalan kearah bapak dan ibunya untuk pamit juga.
"Pak, Bu, aku mau pamit pulang, gak enak sama mereka, takut nanti kenapa-kenapa sama kandungannya" kata Fariel.
"Oh iya gak papa, semoga selamat sampai tujuan" kata Abdul.
"Jangan lupa kalau nanti istrimu lahiran hubungi Bapak, biar Bapak bisa lihat sambil jalan-jalan ke desamu."
"Iya Pak" kata Fariel.
"Kalau gitu aku kami pamit pulang ya Pak, Bu" saling menyalami bergantian.
"Assalamu'alaikum."
__ADS_1
"Waalaikumsalam" jawab keduanya.