Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Panggilan Aya


__ADS_3

Beberapa bulan kini telah berlalu, dan si Aya kini mulai lancar berbicara dan mulai sedikit manja dan meminta sesuatu, seperti meminta bermain.


Seperti biasa sore ini sepulang kerja aku datang kerumah Papi dan Mami, karena sudah hampir sebulan ini tak pernah datang seperti biasanya yang setiap hari kerumah mereka.


Bukan karena janji yang pernah kuucapkan pada Papi dan Mami untuk memberiku waktu empat bulan untuk menikahinya, tapi karena keinginan ku sendiri yang selalu langsung pulang kerumah.


Dan untuk masalah menikah juga sudah dibicarakan lagi, karena tak mungkin bagiku menikah dengan orang yang masih sibuk dengan kuliahnya dan mengejar cita-citanya.


Biarkan semuanya selesai dahulu kuliahnya barulah dibicarakan lagi masalah kedepannya.


Kumengendarai motor masuk melewati pintu gerbang dan masuk kedalam garasi, kulihat ada anak kecil yang sedang asik bermain dengan Pak Udin, siapa lagi kalau bukan Aya.


"Tuh Ayahmu pulang" kata Udin.


Aya yang mendengar ucapan itu langsung melihat ke arahku dan berlari dengan mengucapkan kata.


"Yah" kata Aya.


"Yah ulang" dengan senangnya.


Aku yang pertama kalinya mendengar panggilan itu langsung kaget dan menatap kepada Pak Udin.


"Ampun bos" kata Udin.


"Daripada aku yang dipanggil Ayah mulu, dan yang lainnya juga, lebih baik Aden aja yang cocok, jangan saya dan yang lainnya."


"Tapi jangan kesaya juga dong Pak, nanti kalau jadi terbiasa, malah makin runyam" kata Fariel.


"Harusnya Pak Udin tau dong, kalau akau bukan Ayahnya juga."


"Hehehe maaf Sen" kata Udin.


"Bis Maminya Aya kan sering bilang kalau Aden Ayahnya Aya juga, makanya nungguin tuh bocah disini dari tadi."


Aku hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan Pak Udin.


"Yah" kata Aya.


"Yah ulang."


"Iya ini baru pulang" kata Fariel.


"Yah aik" kata Aya.

__ADS_1


"Alan-alan Yah" sambil menunjuk keluar.


"Aya mau naik, mau jalan-jalan, tapi Aya kan belum mandi tuh" kata Fariel.


"Masa jalan-jalan pakean Aya kotor gitu."


"Yah aik" kata Aya.


Langsung ku angkat keatas motorku.


"Alan-alan yah."


"Yah, alan-alan" sambil memukuli tangki motor.


"Iya jalan-jalan, ayok jalan-jalan yok" kata Fariel.


"Pak tolong tasku nih, kalau bisa antarkan kedalam."


"Tolong kainnya itu sini Pak."


"Veres bos" kata Udin, yang menerima tasku.


"Nih jaritnya Den."


"Iya iya kita jalan" kata Fariel.


"Hidupin dulu motornya ya, dan Aya harus diikat biar gak jatuh" yang langsung kuhidupkan dan kuikat bagian perut Aya dengan ku agar tak jatuh, karena tangan kanan menarik tali gas dan yang kiri di kopling, jadi gak mungkin bisa selalu memegangi Aya terus.


"Yuk kita jalan-jalan."


Dan langsung kubawa Aya jalan-jalan mengelilingi komplek perumahan supaya lebih aman daripada dibawa ke jalan umum atau jalan besar.


Aya langsung senang tertawa dan tak lupa tangannya memukul mukul tangki motor dan menunjuk kearah mana-mana yang dilihatnya.


"Dah ya kita pulang ya dah sore, Aya juga harus mandi lagi" kata Fariel.


"Im juga belum mandi nih, masih bau nih."


"Yah li dadan" kata Aya, yang meminta jajan.


"Iya beli jajan iya" kata Fariel.


Langsung kuhentikan motornya dan ku matikan mesinnya.

__ADS_1


"Mau jajan apa."


"Oti" kata Aya.


Langsung turun dari motor dan ku gendong Aya kedalam warung.


"Assalamu'alaikum" kata Fariel.


"Waalaikumsalam."


"Mau beli roti Bu" kata Fariel.


"Ohh ya silahkan dipilih aja."


Langsung kupilih beberapa janis roti seperti wafer dan biskuit dan roti yang lainnya, dan susu dalam kemasan kotak, juga sosis. Sedangkan Aya menunjuk pada botol minuman yang berwarna.


"Itu gak boleh buat Aya, Aya ini aja ya roti sama susu, ada sosis juga" kata Fariel.


Aya malah menggelengkan kepalanya tetap ingin pada minuman yang tunjuk nya, dan akhirnya daripada nangis kuambil satu minuman jeruk.


"Dah Bu ini aja, berapa" kata Fariel.


"Roti, sosis, susu dan minuman itu jadi total" yang sambil menekan angka dalam kalkulator.


Langsung kubayar.


"Nih jajannya."


"Duh lucunya."


"Tuh ambil itu jajannya" kata Fariel, karena Aya asik memegang botol minumnya, aku langsung menerimanya.


"Makasih Bu, permisi."


"Iya sama-sama."


"Dah sekarang kita pulang ya" kata Fariel.


"Ini dah beli banyak, nanti dimakan dirumah."


"Jadi sekarang kita pulang."


Langsung naik motor, kucantelkan plastik berisi jajan Aya di stang dan tak lupa mengikat Aya lagi lalu ku hidupkan motornya dan pulang.

__ADS_1


__ADS_2