Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Mukanya memerah


__ADS_3

"Aku mau jadi pacarmu dan juga calon ayah dari anak-anak kita, tapi" kata Fariel.,dengan menggantungkan ucapannya.


"Tapi apa" kata Tia.


"Aku hanya orang biasa yang hanya seorang anak petani, dan aku juga sama, kerjaku juga hanya seorang kuli" kata Fariel.


"Lah terus kenapa" kata Tia.


"Apa kamu gak malu" kata Fariel.


"Enggak, karena itu semua aku gak butuh, yang aku butuhkan itu rasa sayang dan nyaman dan juga kesetiaan untuk selalu bersama dalam suka maupun duka" kata Tia.


"Tapi aku belum punya apa-apa kalau untuk nikah, karena yang aku ingin ketika nikah nanti aku sudah punya rumah untuk kita tempati bersama setelah menikah, dan juga punya sedikit tabungan untuk kebutuhan kita hidup bersama" kata Fariel.


"Ah kok aku jadi terharu ya, dan bikin aku jadi pengen punya calon seperti itu" kata salah satu dari mereka, karena kata-kata yang aku ucapkan membuat dari mereka jadi terharu, iri mungkin, ada pula yang tersenyum karena kejujurannya yang diucapkan barusan, dan ada yang meneteskan air mata karena mendengar ucapanku yang begitu menyentuh hati.


"Baiklah kalau itu mau mu" kata Tia, dengan rasa sedih campuraduk.


"Iya aku mau jadi pacarmu, aku juga ada rasa yang sama denganmu Astria" kata Fariel.


"Jadi kamu beneran mau" kata Tia.


"Iya Astriaku sayang, aku mau" kata Fariel.


Membuat Tia mukanya memerah karena di panggil Astria sayang. Baru pertama kali ada yang memanggil sayang dari cowok, karena baru pertama kali suka sama cowok, karena belum pernah pacaran.


"Yeeeeeee" ucap mereka disekeliling kita dengan teriakan dan tawa senang karena ada yang baru jadian mungkin atau baru diterima jadi pacarnya.


"Selamat ya" ucap mereka bergantian kepada kita.


"Iya makasih" kata Fariel dan Tia, dengan melihat kan senyum bersama.

__ADS_1


Dan mereka semua juga tersenyum dan kembali ke urusan dan pasangan mereka masing-masing tentunya.


"Tadi aku gak salah dengar kan" kata Tia.


"Enggak Astria sayang" kata fariel, dengan senyumannya membuat pendengar senyum-senyum sendiri dan menundukan kepalanya karena takut ketahuan kalau mukanya sudah merah.


"Yuk pulang, dah mau Magrib".


Tia cuman ngangguk, sehingga aku langsung menarik tangannya, tapi yang ditarik malah gak gerak malah bengong karena baru pertama kali bersentuhan tangan.


"Kok malah bengong, pa gak jadi pulang, mau jadi patung" kata Fariel. sambil menggerakkan tangannya didepan mata.


Tia kembali nunduk malu dan muka merahnya karena ketahuan bengong.


"Jalannya jangan nunduk terus entar kesandung, apa mau di gendong kaya tuan putri" kata Fariel.


Membuat Tia berhenti jalan lagi karena mendengan ucapan dari kekasihnya jadi bengong lagi karena kaget atau pertama kali mendengar ucapan seperti itu.


"Kok malah berhenti lagi, apa beneran mau kugendong tuan putri tersayang" kata Fariel.


"Gak usah di tutupin tuh muka, apa gak mau lihat mukaku" kata Fariel.


Tiapun langsung mumbuka tangannya tapi malah nunduk, karena masih sedikit ada rasa malu.


"Mau turun gak nih, apa mau ku gendong seperti ini terus, apa mau diantar pulang sambil di gendong" kata Fariel, dengan tersenyum.


Membuat Tia kaget sedikit syok karena udah sampai ke motornya, tapi dia asik sendiri dengan dunia pemikirannya sendiri, sampai lupa kalau lagi di gendong layaknya putri.


"Ehmmmm, ayok turun, gak malu apa daritadi banyak yang liatin kita dari ujung sana sampai kesini" kata Fariel.


Memang dari tadi banyak memperhatikan kita, yang mungkin seperti pasangan yang sangat romantis.

__ADS_1


"Romantis banget, jadi pengen" ucapan dari salah satu mereka yang melewati kita.


Aku hanya tersenyum kearah satu dari mereka sebagai jawaban mungkin.


Memang banyak pula yang buat cewek iri karena digendong seperti layaknya kekasih dari ujung sampai ketempat parkiran. Banyak pula yang mengacungkan jempol kearahku karena salut.


Setelah Tia turun tapi masih sedikit nunduk karena malu, karena banyak yang lihatin dan banyak pula yang bilang "adududuhhhhhh so sweet banget jadi pengen".


"Ayok naik, apa mau disini terus" kata Fariel.


Dan diapun naik motor dengan masih menundukan kepalanya.


"Pegangan dong entar jatuh, aku kan gak mau calon Ibu dari Anak-anak aku kenapa-kenapa" kata Fariel.


Dia malah makin bengong dan malu mukanya jadi tambah merah. Jadi langsung aku tarik tangannya untuk berpegangan, karena yang ditarik tangannya hanya diam.


Diperjalanan pulang tidak ada pembicaraan apapun kecuali menanyakan kosnya dimana.


Setelah beberapa menit barulah sampai depan rumah kos.


"Ayok turun, dah sampai nih, jangan peluk-peluk terus, tuh teman-teman mu pada liatin" kata Fariel.


Tia turun tapi mukanya masih nunduk malu karena temen se kosnya pada liatin.


"Udah sana masuk, jangan nunduk terus, pa mau di gendong lagi kaya barusan" kata Fariel.


"Hahhh" kata Tia, lalu menggelengkan kepala.


"Ya udah sana masuk, kalau belum masuk aku tungguin terus sampai masuk kedalam rumah nih" kata Fariel.


Tia langsung lari sambil menundukan kepalanya karena malu digodain mulu sama pacar baru dan diliatin teman-temannya, adi lupa pamit. Aku hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Tia seperti itu.

__ADS_1


Akupun langsung capcus pulang dengan rasa yang sedikit senang karena baru jadian untuk yang pertama kali, karena dari dulu memang tidak mau pacaran kalau belum umur 20thn apalagi masih duduk di bangku sekolah, walau banyak cewek yang suka dan bahkan ada yang terang-terangan menembak didepan kelas dan teman-temannya, tapi semua itu ditolak, karena gak mau rusak waktu untuk belajar, karena itu bagiku gak penting selain belajar. Dan nolaknya juga dengan baik-baik, jadi membuat mereka tidak terlalu kecewa dengan jawabanku.


Sampai depan kos bertepatan dengan Adzan Maghrib.


__ADS_2