
Setelah beberapa hari dirumah sakit, dan aku sudah merasa bosan, sudah beberapa kali juga meminta pulang, tapi selalu dilarangnya.
Seperti siang ini aku baru memegang hp ku setelah meminta kepada Mami juga Mama untuk membawakan hpku.
Setelah diberikan hpnya padaku, lalu kulihat di HP ku ada beberapa panggilan masuk yang tak terjawab yang sudah tak terhitung lagi, gak cuman panggilan tapi banyak pula pesan masuk yang sampai ratusan, karena memang tak pernah memegang HP semenjak habis operasi.
Lalu kubuka WA dan ada beberapa panggilan video dan chat masuk juga.
Tiba-tiba panggilan video masuk.
"Assalamu'alaikum" kata Tia, dengan nada sedikit keras dan muka cemberut.
"Waalaikumsalam" kata Fariel.
"Cami kemana aja sih selama ini, telpon gak diangkat SMS gak dibales, nyebelin" kata Tia.
"Apa cami sudah gak sayang lagi".
"Tunggu sebentar, kok itu kayak ada infus" yang melihat ada infus tergantung disebelahku
"Apa cami sakit ya, selama gak ada kabar".
"Cami dimana sekarang".
"Dirumah sakit mana, dan sakit apa".
"Cepet jawab".
"Aku mau lihat cami sekarang".
"Cami jawab dong".
" Cepetan mi".
"Gimana cami bisa jawab, dari tadi canis ngomong mulu gak ada berenti, dah kaya mobil gak ada remnya" kata Fariel.
"Iya maaf, kan canis hawatir sama cami, dah beberapa hari gak ada kabar, canis kan kangen tau" kata Tia.
"Iya maaf kan cami" kata Fariel.
"Cami dirumah sakit mana" kata Tia.
"Dirumah sakit Syariah diruangan mawar" kata Fariel.
"Oke kalau gitu canis mau jenguk cami kesitu, cami tunggu bentar ya, canis mau ganti dulu habis itu langsung otw ketempat cami" kata Tia.
"Iya, makasih udah mau datang" kata Fariel.
"Iya, Assalamu'alaikum" kata Tia.
"Waalaikumsalam" kata Fariel, panggilanpun terputus.
"Hayo habis vc sama siapa hayo ngaku" kata Mama.
"Kayaknya pake serius banget tadi Mami dengarnya, bahkan ada panggilan yang spesial juga ya Bu" kata Mami.
"Mami jadi penasaran".
"Ada deh, ntar Mama juga tau" kata Fariel.
"Hehehe, Mami tau aja".
"Jangan lupa kenalin sama Mami juga ya" kata Mami.
"Iya mi, nanti juga bakal kemari kok" kata Fariel.
"Oke, Mami tunggu, Mami mau lihat seperti apa sih dia" kata Mami.
"Anak Mama rupanya sekarang sudah tau tentang cewek ya" kata Mama.
"Hehehe, maaf Ma" kata Fariel.
"Iya gak papa, kan anak Mama juga udah besar, udah layak ya bu" kata Mama.
"Iya dong Bu, udah cocok" kata Mami.
"Iih Mama sama Mami kok gitu, aku cuman mau kenal lebih dekat sama dia kok, kalau cocok dan diberi restu baru aku mau lanjutin hubungan ini".
"Kalau nikah nunggu dua tahun lagi, aku kan belum punya tabungan untuk nantinya kalau sudah nikah, dan rumah untuk hidup bersama" kata Fariel.
"Duhhh anak Ibu bener-bener berpikir dewasa ya Bu, untuk nikah aja mikirnya sampai kesitu dulu" kata Mami.
Selang beberapa menit atau jam ketukan pintu terdengar.
"Tok tok tok Assalamu'alaikum" suara dari luar.
"Waalaikumsalam" jawab bertiga dari dalam
yang memang diruangan itu hanya ditemani sama Mami dan Mama saja, sedangkan yang lain seperti Ervi lagi masuk kuliah, Fida baru pulang, Papi dan Bapak entah kemana perginya, yang katanya mau bahas sesuatu.
Lalu Mami membuka pintu.
"Assalamu'alaikum tante, saya mau jenguk cami, eh maksudnya bang Sielfa" kata Tia, sambil mencium tangan.
"Waalaikumsalam, ayok masuk, tuh camimu lagi didalam sama Mamanya, kalau aku itu Mami nya, atau Ibu angkatnya" kata Mami.
Lalu Tia pun masuk dan berjalan kearahku lalu meletakkan beberapa buah-buahan.
"saya temannya cami, ehhh maksudnya temannya bang Sielfa" kata Tia, sambil bersalaman mencium tangannya.
"Duh mulut ini kenapa gak ada remnya sih" setelah bersalaman.
"Iya, udah biasa aja gak usah tegang gitu, manggilnya bebas mau cami mau canis kek terserah kalian" kata Mama.
"Eitttts" yang mencegah akan ada adegan berpelukan macam teletubbies.
"Jangan peluk-peluk, kalian belum sah".
"Mama mau duduk dulu, kalian lanjutkan kangen-kangenya, tapi gak ada main peluk-peluk, kalau ada pake peluk-peluk langsung Mama seret ke KUA ya Bu" kata Mama, ucapnya ke kami berdua.
"Iya Bu, benar itu".
"Kalau sekarang ditahan dulu peluk-peluk nya" kata Mami.
"Iya Ma, Mi" kata Fariel.
"Iii iya tante" kata Tia.
"Kalian lanjutkan, kami akan ngawasin kalian biar gak ada adegan diluar batas" kata Mami.
"Iya Mi" kata Fariel.
"Yuk bu kita duduk" kata Mami.
"Mau minum apa nak".
"Tak usah repot-repot tan" kata Tia.
"Gak papa, kita kan mau lihat anak kita bahagia karena separuh hatinya datang menjenguknya" kata Mami.
Sedangkan Tia malah menunduk malu.
"Miiii" kata Fariel.
"Hehehe" sambil mengangkat dua jari berbentuk V
"Mami buatkan teh aja ya nak".
"Namanya siapa, kok Mami sama Mama kamu gak dikenalin".
"Nama saya Astria tante" kata Tia.
"Kuliah atau kerja" kata Mami.
"Kuliah tan, ambil jurusan Akbid" kata Tia.
"Wah bakal punya manntu calon bidan dong kita ya Bu" kata Mami.
"Kalau saya sih terserah sama anak saya aja, mau sama bidan atau hanya orang biasa yang penting setia dan saling menerima kekurangannya saja Bu" kata Mama.
"Karena Mama itu takut kalau nanti kita direndahkan hanya gara-gara kita punya menantu yang levelnya diatas kita".
__ADS_1
"apa lagi pekerjaan menantu lebih tinggi dari kita yang hanya petani biasa".
"Bener juga kata Mama kamu nak".
"Semoga saja kalian tidak seperti apa yang Mamamu pikirkan ya nak".
"Mami dukung kalian" kata Mami.
"Mama hanya bisa mendukung dan mendoakan kalian saja, karena yang menjalankan juga kalian" kata Mama.
"Makasih Mi, Ma" kata Fariel.
"Iya, makasih tante atas doa dan dukungannya, InsyaAllah saya bukan orang yang seperti itu, bahkan saya sudah tau pekerjaan dia, dan aku menerima apa adanya".
"Aku juga bukan orang yang suka memandang derajat atau level orang kok tan".
"Karena bagiku semua itu sama dimata Tuhan".
"Dan masalah itu juga sudah pernah kami bahas dulu sebelum kami saling mengenal lebih dekat seperti sekarang ini".
"jmJadi tante gak usah kawatir soal itu".
"Wah kamu memang anak yang patut diacungi jempol" kata Mami.
"Sukur kalau kamu seperti itu, Mama hanya bisa mendukung dan memberikan restu sama kalian saja" kata Mama.
"Anak Mami mau dibuatkan minum apa" kata mami, yang sedang membuat minum dengan Mama juga.
"Susu aja ya" kata Mama.
"Iya Ma" kata Fariel.
"imIh kok jawabnya gak semangat, kan sudah ada canis didepan mata, yang semangat dong" kata Mami.
"Tenang, minum susu bukan berarti seperti anak kecil, Papi aja kalau pagi kadang-kadang minum susu juga, adek dan kakak kalau mau tidur juga minum" kata Mami.
smAedangkan Tia malah ketawa.
"Kenapa ketawa" kat Fariel.
"Gak papa, hanya lucu aja".
"Masa minum susu dianggap anak kecil" kata Tia.
"Iih bukan itu maksudku".
"Masa pagi, siang, sore, malam, dan malam lagi kalau mau tidur harus minum susu terus, yang coklat lah yang putih lah dan yang susu inilah, susu itulah, kan aku jadi macam masih anak bayi yang kalau lapar harus minum susu" kata Fariel.
"Kan emang kamu masih bayi" kata Tia.
"Ngejek nih" kata Fariel.
"Iya bayi gede Mama dan Mami" ucap berdua, lalu mereka ketawa bersama.
Aku malah memajukan mulutnya.
"Ihh mulutnya biasa aja, gak usah dimajuin gitu, kalau mau sini sama Mama aja, biar mama c**m, mau berapa banyak" kata Mama.
"Iihh Mama" kata Fariel.
"lmLucu deh anak Ibu, kayak anak kecil beneran, badanya aja kayaknya yang bongsor" kata Mami.
"Iya Bu" kata Mama.
"Mah, Mi" kata Fariel.
"Iya deh kami diem".
"Nih minumanya, Mami letakkan disini ya nak Tia, dan bayi Mami" kata Mami.
"Miiiii" kata Fariel.
"Apaan, masih kurang ya nak" kata Mami.
"Mami rese" kata Fariel.
"Gak papa rese, yang penting sayang sama kamu" kata Mami.
"Nih Bu tehnya" kata Mama.
"Maksih ya Bu" kata Mami.
"Mau ngomong apa, kayaknya tadi waktu vc nyerocos mulu gak henti-henti" kata Fariel.
"Hehhehe" kata Tia.
"akok ketawa sih, apa takut karena ada yang ngawasin kita, biasanya mah yang lain dibuat kaya nyamuk" kata Fariel.
"Maaf".
"Iya canis ngomong nih" kata Tia.
"Ya udah mau ngomong apaan" kata Fariel.
Tiba-tiba Mami dan Mama.
"Kami mau keluar sebentar, awas aja kalau macam-macam, beneran nikah hari ini juga" kata Mama.
"Iya Ma, enggak kok, tenang aja" kata Fariel.
"Kalian lanjutkan ngobrol dan kangen-kangenya, kami tinggal dulu ya" kata Mami.
"Assalamu'alaikum" berdua.
"Waalaikumsalam" jawab berdua juga.
"Mereka dah keluar, cepetan mau ngomong apaan, bentar lagi cami harus tidur lagi, bentar lagi suster datang dan nyuruh cami untuk istirahat" kata Fariel.
"Canis cuma kangen aja sama cami, karena dah beberapa hari gak lihat muka cami dan gombalan cami, rasanya ada yang kurang kalau gak ada itu" kata Tia.
"Emang cami sakit apaan sih kok sampai dirawat begini".
"Bih kan udah lihat maka cami, berarti kangennya sudah terobati dong".
"Kalau masalah gombal mah cami gak bisa, kan cami bukan raja gombal yang suka gombalin".
"Cami itu habis operasi beberapa hari yang lalu, kalau sakitnya cami gak tau" kata Fariel.
"Maafin canis ya mi, karena sudah berfikir yang tidak-tidak" kata Tia.
"Iya canis ku sayang" kata Fariel.
"Mi, boleh gak pegang tangannya aja, gak pake peluk-peluk juga gak papa, yang penting bisa menghilang kan kangen yang begitu nyesek ini" kata Tia.
"Iya boleh" mata Fariel.
"Apa nanti gak bakal dibawa ke penghulu kalau kita pegangan tangan" kata Tia.
"Gak dong, kan megangnya masih terhalang baju" kata Fariel.
"Iya juga ya, yaudah kalau gitu canis mau nyender di bahu cami" kata Tia.
"Ya silahkan, palingan nanti datang-datang mereka bawa penghulu" kata Fariel.
"Hah, iih cami mah gitu".
"Nyebelin, mau ngerjain canis nih biar langsung nikah kitanya" kata Tia.
"Nyebelin apa ngangenin nih" kata Fariel.
"Kalau mau sekarang pun ayok, biar Mama sama Mami nelpon penghulu" kata Fariel.
"Ih jangan dulu, kan cami janji nikahnya setelah aku lulus" kata Tia.
"Iya canisku yang tersayang" kata Fariel.
"Ini gak jadi nyendernya".
"Gak ah, takut sama Mama dan Mami kamu, nanti bakal diseret beneran".
"Cami mah mau nyari untung aja bisanya" kata Tia.
__ADS_1
"Iya harus dong, masa harus rugi, orang jualan aja nyari yang untung bukan rugi" kata Fariel.
"Ih ngeselin" kata Tia.
"Ngangenin dong yank" kata Fariel.
"Iya-iya ngangenin" kata Tia.
"Canis tadi berangkat naik apa" kata Fariel.
"Naik ojek" kata Tia.
"Motornya kemana" kata Fariel.
"Apa gak ada bensin".
"Dipake sama dua sahabat ku, lagi mudik" kata Tia.
"Oooh, emang rumahnya dimana kok mudik" kata Fariel.
"Gak jauh dari rumahku kok, tapi kalau aslinya mah dari planet lain" kata Tia.
"Ih togenya sama sahabat sendiri dibilang dari planet luar" kata Fariel.
"Tega kali mi, masa toge, emang pecel pake toge" kata Tia.
"Hehehe" kata Fariel.
"Habis ini nanti cami pulangnya kemana" kata Tia.
"Kerumah lah, masa kekebon" kata Fariel.
"Sekalian aja ke ragunan. Maksud canis itu pulangnya ke rumah cami sendiri apa kerumah Mami angkat kamu" kata Tia.
"Pengennya sih kerumah kita berdua" kata Fariel.
"Iih cami mah gitu, jangan becanda dong mi" kata Tia.
"Siapa yang becanda, seriusan ini mah" kata Fariel.
"Kucubit nih" kata Tia, ambil menyibit lenganku.
"Ih masa cami diicubit, bukannya disayang-sayang yang lagi sakit ini" kata Fariel.
"Ma, Mi, ini ada yang pelukin aku nih".
"Jangan gitu dong".
"Iya dehhh, cup cup cup cayang jangan nangis ya hemmmm, duh gemesnya cayangaku" kata Tia.
"Emang aku bayi apa" kata Fariel.
"Iya bayi gede" kata Tia.
"Ih jahat nya" kata Fariel.
"Jahat-jahat tapi sayang dan ngangenin kan" kata Tia.
"Enggak, siapa bilang" kata Fariel.
"Iih kok ngembek sih, iya deh canis minta maaf, sini biar canis tiup yang tadi kucubit" kata Tia.
"Gak usah, sakitnya sudah hilang lihat senyum manis semanis gula kelapa" kata Fariel.
"Ahhh masa" kata Tia.
"Iya apa engga ya, hemmm" kata Fariel.
"ihhh kan mulai nyebelin lagi" kata Tia.
"Katanya ngangenin, jadi yang beneran itu ngangenin apa nyebelin nih" kata Fariel.
"Semuanya dong" kata Tia.
"Yank" kata Fariel.
"Apaan mi" kata Tia.
"Kangen" kata Fariel.
"Ih gombalnya" kata Tia.
"Kangen makan masakan canis, pengen makan berdua lagi" kata Fariel.
"Ya udah besok canis buatin makanan buat cami ya" kata Tia.
"Kenapa gak sekarang aja" kata Fariel.
"Sekarang gak bisa dong, kan belum belanja, belum lagi aku ada tugas kecil harus lihat beberapa video lalu harus diperatekkan nantinya" kata Tia.
"Kalau gitu bantu cami minum" kata Fariel.
"Iya cami ku sayang".
"Nih minum, buka mulutnya".
"Duh manjanya yang lagi sakit, bayi besar ku ini, jadi makin sayang aja" kata Tia.
"Biarin manja, kan biasanya canis yang manja mulu sama cami, gak lupa kan waktu itu" kata Fariel.
"hmHehehe, kalau itu gak bakal lupa dong camiku" kata Tia.
"Oh iya kata cami, cami punya adek dan kakak, mau dong dikenalin biar bisa dekat".
"Nanti kalau mereka kemari, kalau kakak kayaknya lagi istirahat siang, kalau adek kayaknya belum pulang kuliah" kata Fariel.
"Ooh gitu, ya udah kalau gitu canis pamit pulang ya, dah sore nih" kata Tia.
"Ya udah sana pulang" kata Fariel.
"Ngusir nih".
"Apa dendam" kata Tia.
"Gak dong, cami kan gak mau nahan lama-lama disini, nanti gak bisa lulus deh kamunya, kan canis dah janji dua tahun lagi lulus" kata Fariel.
"Iya canis gak bakal lupa dengan janjinya, ya udah canis pamit pulang dulu dada sayang" kata Tia.
"Gak mau peluk atau cium tangan dulu nih" kata Fariel.
"Cium tangan aja ya, kalau peluk nanti gak bisa pulang" kata Tia.
"Iya, nih" kata Fariel, sambil mengangkat tangannya kedepan, lalu diraihnya dan dicium punggung tanganku oleh tia bidadari bumiku.
"Dadada cami, Assalamu'alaikum".
"Baik-baik ya, biar bisa makan bareng, kutunggu di kos" kata Tia.
"Iya canisku tersayang, Waalaikumsalam" kata Fariel.
Tia pun pergi meninggalkan ku sendirian.
Diluar ruangan.
"Sudah mau balik nak" kata Mama.
"Iya tan, dah sore, dan ada tugas kuliah yang harus di selesaikan" kata Tia.
"Ooh gitu, ati-ati dijalan ya" kata Mama.
"Iya tan, makasih" kata Tia, llalu meraih tangan Mamaku dan mencium punggung telapak tangannya.
"Tante yang itu kemana ya tan" kata Tia.
"Ada tadi, mungkin lagi nemuin anaknya kali" kata Mama.
"Kalau gitu saya pamit pulang ya tan, Assalamu'alaikum" kata Tia.
"Waalaikumsalam" kata Mama.
Dan Mama langsung menuju Mami yang sedang menangkan anaknya yang menangis,
__ADS_1
Menangis karena apa ya kira-kira ya.