
"Dah sekarang kita panasin mobil dulu" kata Fariel.
"Pake mobil punya Mama Aya aja ya."
"Yang jarang dipake, ampe berjamur."
"Pak kunci mobil ini mana, mau kupake hari ini buat jalan-jalan sama Aya. "
"Oke bos sabar biar tak ambilin" kata Udin.
"Uyun" kata Aya.
"Mau turun toh" kata Fariel, langsung kuturunkan.
"Dah turun, jangan main kotor ya."
"Dah cantik gak boleh mainan debu."
"Nih den kuncinya" kata Udin.
"Dah servis belum nih mobil" kata Fariel.
"Terakhir sebulan yang lalu Den, belum ada malah" kata Udin.
"Lagian juga gak pernah dipake, olinya masih baru, pengereman juga dah servis kemarin, jadi aman Den kalau dipake buat disekitaran sini."
"Gak perlu takut buat jalan-jalan, lagian juga gak mungkin Aden bawa mobil ngebut kaya di sirkuit."
Langsung kubuka pintu dan kunyalakan mesinnya.
"Ya gak gitu juga Pak" kata Fariel.
"Keselamatan itu utama."
"Kalau gara-gara ini terus aku ngebunuh orang gimana."
"Gak bakal Den, Udin tanggung jawab deh kalau itu terjadi" kata Udin.
"Tapak rem baru ganti terus gak dibawa kemana-mana, dari bengkel langsung pulang, hanya mampir beli minyak aja biar bisa dipanaskan seminggu sekali."
"Oke deh aku percaya sama Pak Udin kali ini" kata Fariel.
"Berarti biasanya kagak dong" kata Udin.
"Ya kira-kira begitu lah" kata Fariel.
"Hari minggu Pak Udin gak ada olahraga pagi, ikut-ikut anak muda joging."
"Ngejek nih" kata Udin.
"Nggak, hanya mau tau aja" kata Fariel.
"Sapa tau ada lari lagi buat ngurusin perut yang dah hampir meledak."
"Sekalian cuci mata kaya Pak Ari dan Dani."
"Kan ujung-ujungnya kesitu, hapal aku sama Aden" udin.
"Aku gak berani, bisa-bisa kena sikut istri."
"Kan kalau ketahuan, kalau gak kan aman" kata Fariel.
__ADS_1
"Tapi kemarin tuh aku tau loh kalau Pak Udin joging pagi, walau hanya duduk-duduk di pinggir jalan menikmati yang lewat."
"Iya sih, tau aja Aden mah" kata Udin.
"Kalau ngomong jangan keras-keras dong Den, nanti ada yang tau."
Aku langsung tersenyum.
"Tolong Pak servis motorku ya, sama mobil Mami juga" kata Fariel.
"Kalau bisa ganti kenalpot yang aslinya."
"Berisik banget suaranya."
"Sip Den" kata Udin.
"Tapi kayaknya knalpotnya gak ada deh Den disini."
"Ini kayaknya knalpot aslinya dipotong terus di blong sama adek kemarin."
"Bapak hanya lihatin aja kemarin tuh pas dia lagi mainan knalpot."
"Kan yang buat adek motor Aden jadi seperti itu, dijadikan tinggi dan knalpot blong."
"Kalau gitu Bapak belah, sumpel pake pipa kecil biar gak keras banget suaranya" kata Fariel.
"Atau bawalah kebengkel knalpot."
"Atau suruh adek perbaiki, bilang aku yang suruh pasti mau."
"Kalau gak beli yang baru."
"Nanti ku carikan, siapa tau ada."
"Yah aik" kata Aya.
"Yuk sini" kata Fariel, langsung kuangkat masuk dan kupangku.
"Mamamu kalau dandan lama, kaya artis aja kalau dandan mau disawer uang receh jadi harus dandan."
"Enak aja, emang Nyai biduan dangdut apa" kata Fida.
"Mana uang receh lagi yang buat nyawer."
"Ratusan dong, masa receh."
"Ya dah buruan masuk, ngapain berdiri di pintu situ" kata Fariel.
"Sebelah sana buat nyai duduk."
"apa mau dibelakang"
"Ihh" kata Fida, lalu jalan memuter.
Aku hanya tersenyum aja.
"Gak sekalian aja di Ban" kata Fida.
"Gak ditarik aja kaya di video lagu, yang lalu meledak" kata Fariel.
"Itu mah Uda yang kutarik, kan pas, yang nyetir cewek yang ditarik cowok" kata Fida.
__ADS_1
"Ya udah ayok berangkat."
"Ya ayok" kata Fariel.
"Sini Aya sama Mama, Ayah lagi nyetir nanti susah kalau ada Aya nyetir nya" kata Fida.
"Sini dipangku Mama."
"Duh beratnya anak Mama."
"Dah" kata Fariel.
"Udah" kata Fida.
"Ya turun kalau sudah" kata Fariel.
"Ihhh, jalan aja belum, nyampe aja belum suruh turun" kata Fida.
"Pake sabuknya, baru jalan kalau dah dipasang" kata Fariel.
"Oke, Ayah mu cerewet banget sekarang nak" kata Fida.
"Gak masalah, asal demi keselamatan dan kebaikan yang lain" kata Fariel.
"Tuh kenapa cabenya mereng."
"Hah cabe" kata Fida.
"Nih yang namanya cabe" kata Fariel, tunjuk pada bibir ku sendiri.
"Itulah yang namanya cabe, karena merah kaya cabe."
"Bener-bener kaya biduan dangdut, menor bener."
"Merah gimana, rang ping kok merah" kata Fida.
"Ayahmu buta warna kayaknya nak."
"Dah bener gak mereng deh."
"Kalau gak mereng, lurus dong berarti" kata Fariel.
"Berarti kotak ya."
"Ih dasar bisanya ngerjain Nyai aja" kata Fida.
"Hahahaha, itu hukuman karena menunggu lama" kata Fariel.
"Dah yuk jalan."
"Iya ayok, daritadi kenapa jalannya" kata Fida
"Jalan kemana" kata Fariel.
"Kemana aja" kata Fida.
"Asal Aya bahagia."
"yYaudah kalau gitu ketempat permainan anak-anak" kata Fariel.
Dan kita berjalan menuju tempat permainan anak. Didalam perjalan kami masih saling ngobrol, apalagi Aya yang sangat senang melihat mobil lewat, yang sering bertepuk tangan dan menunjuk kearah samping.
__ADS_1