
"Mohon maaf mana suami dari pasien, yang ada didalam, dia ingin ketemu" kata Dokter.
"Dia memanggilnya dengan nama Uda."
"Saya Dok, tapi saya bukan" kata Fariel, belum selesai bicara langsung dipotong.
"Cepetan masuk, karena ini darurat" kata Dokter.
"Pi, Mi, Assalamu'alaikum" kata Fariel, yang langsung mematikan hpku tanpa pamit hanya mengucapkan salam.
Aku langsung masuk kedalam dengan perasaan campur aduk, antara takut panik menjadi satu.
"Uda dah ada disini, nyai mau apa" kata Fariel.
"Temenin nyai disini Da" kata Fida.
"Nyai takut disini sendiri tanpa kamu disamping ku Da."
"Apa boleh Dok" kata Fariel.
"Boleh, silahkan temanilah istrimu" kata Dokter.
"Karena gak jadi kami operasi, karena posisi bayi kini telah pada posisi yang bener, jadi bisa dilakukan dengan normal."
"Da aku mau lihat Papi dan Mami Da, nyai takut ini yang terakhir hidupku Da" kata Fida.
"Nyai gak boleh ngomong seperti itu, pasti nyai bakal baik-baik saja sama bayinya" kata Fariel.
"Nyai tenang saja ya, nyai harus kuat, ada Uda disini buat nyai."
"Jangan bikin kami menangis dan takut kehilangan nyai."
"Uda akan vc Mami dan Papi, nyai tunggu sebentar."
__ADS_1
Langsung kuambil HP dalam kantong lalu ku vc papi, tapi tak terhubung, lalu mencoba ke Mami juga sama lalu ku SMS ke Mami untuk melakukan vc karena kak Fida ingin melihat Papi dan Mami, yang butuh suport dari mereka.
Kemudian setelah ku kirimkan pesan panggilan vc pun masuk, langsung kuterima vc nya.
"Hallo Pi, Mi Assalamu'alaikum" kata Fariel.
"Assalamu'alaikum Pi, Mi" kata Fida.
"Waalaikumsalam" kata Papi dan Mami.
"Pi, Mi, kakak minta maaf kalau kakak punya banyak salah sama Papi dan Mami" kata Fida.
"Kakak titip anak kakak nanti jika kakak gak bisa merawatnya dan menjaganya."
"Mungkin ini yang terakhir kalinya aku melihat muka Mami dan Papi."
"Aku sayang kalian semua."
"Sampaikan maafku pada adek juga."
"Kakak jangan ngomong seperti itu" kata Papi.
"Jangan tinggalkan Mami" kata Mami.
"Kami gak mau kehilangan kamu nak."
"Mami sayang sama kamu."
"Kamu gak punya salah apapun sama Mami juga Papi."
"Kakak jangan ngomong seperti itu" kata Ervi.
"Anak kakak akan adek jaga dengan baik seperti anak aku juga nanti."
__ADS_1
"Tapi adek mohon jangan tinggalkan kami semua."
"Kami masih ingin melihat kakak bahagia tersenyum dengan anak kakak nanti."
"Anak kakak butuh kakak, butuh ibunya."
"Jangan tinggalkan kami dan anak kakak."
"Kakak harus kuat, adek yakin kakak pasti bisa."
"Kami disini mendoakan mu kak dan anak kakak."
"Ngobrol nya sudah cukup, sekarang waktu nya untuk segera melahirkan, karena sudah pembukaan yang terakhir" kata Dokter.
"Jadi Ibu siap-siap ya."
"Dengarkan aba-aba saya ya."
"Dan kamu sebagai suami harus bisa membuatnya kuat dan kasih semangat."
"Baik Dok" kata Fariel.
"Siap ya Bu" kata Dokter.
"Tarik nafas keluarkan, tarik lagi lalu keluarkan."
"Ketika kubilang dorong lalu dorong ya bu dengan kuat, ngeden sekuat mungkin."
"Siap bu dorong."
"Tarik nafas yang kuat lalu dorong."
"Ayok kakak bisa, pasti bisa" kata Papi, Mami, Ervi, yang melihat lewat layar HP yang masih terhubung vc karena suster yang memeganginya.
__ADS_1
Sedangkan Fida sambil ngeden menarik dan *******-***** kerah baju dan rambutku dengan sangat kuat membuatku merasakan sakit karena tarikannya atau jambakan pada rambutku.
"Sekali lagi do rongggg" kata Dokter.