Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Bujukan dan rayuan


__ADS_3

Pagi ini semua berkumpul didepan pintu ruangan operasi yang akan berlangsung, tak henti-hentinya doapun selalu dipanjatkan oleh mereka semua untuk kelancaran dan keselamatan bagiku.


Berbeda dengan Ervi yang melamun sambil menangis duduk di lantai dengan memegangi kedua lututnya yang tak henti dengan ucpan maaf.


"Sudah dek jangan nangis terus, gak baik buat kesehatan mu" kata Fida.


"Nak sudah jangan nangis seperti itu, kami semua juga cemas, tapi kamu gak boleh seperti itu" kata Bapak.


"Bener tuh kata Bapaknya masmu, kamu jangan begini dong, kamu harus kuat, tunjukkan padanya kalau kamu itu sayang sama masmu" kata Fida.


"Nak Ervi, jangan nangis terus dong, kamu belum makan juga, apa mau Mama yang suapin" kata Mama.


"Tuh dengerin Mamanya masmu, katanya sayang sama masmu, kalau sayang kamu harus nurut juga sama Mamanya" kata Mami.


"Yuk makan dulu, biar Mama yang suapin, gak baik kalau nangis dengan keadaan lapar loh, kalau sayang sama anak saya nak Ervi juga harus nurut sama Mama dong, Mama juga sayang sama kamu" kata Mama.


Dengan bujuk rayuan Mama dan juga Mami nya akhirnya Ervi mau berenti menangis dan mau makan sarapan pagi, walau hanya beberapa suapan saja.


"Ini belom habis loh nak" kata Mama.


"Maafin Ervi" sambil menangis.


"Semuanya karena Ervi, yang buat mas sampai seperti ini" kata Ervi.


"Nak Ervi ngomong apa sih" kata Mama.


"Denger ya nak".


"Anak Mama itu sakit bukan karena nak Ervi".


"Dia sakit itu karena mungkin penyakitnya kambuh lagi, dia itu pernah dikeroyok sama teman-temannya sampai gak sadarkan diri karena mereka iri dengan kemampuan anak Mama yang hobi main voli dan selalu dapat juara satu dikelasnya".


"Jadi Ervi gak usah merasa bersalah".


"Pasti anak Mama, masmu itu baik-baik saja, jadi Ervi jangan nangis terus ya, sini peluk Mama, ayok".


Ervi langsung memeluk Mamaku sambil menangis.


"Sudah dong nangisnya, mama gak mau punya mantu cengeng" kata Mama.


Ervi langsung terdiam karena mendengar tuturan kata Mama.


"Sudah ya jangan nangis".


"Mamimu dan juga Papimu sudah cerita semuanya semalam tentang kamu".


"Bahkan sampai rela gak masuk kuliah hanya karena khawatir sama masmu".


"Mama akan dukung kamu terus untuk jadi mantu Mama, tapi sisanya Mama serahkan sama anak Mama, karena pilihan kebahagiaannya dia yang menentukannya".


"Jadi nak Ervi harus semangat untuk berjuang mendapatkan masmu itu, tapi kalau nanti masmu memilih yang lain Mama harap nak Ervi jangan marah, Ervi masih bisa manggilnya mas dan bisa nganggap Mama sebagai Mama kamu juga, jadi mulai hari ini manggilnya Mama sama Bapak ya" kata Mama)


"Iya Ma" kata Ervi.


"Nah gitu dong, ini baru calon mantu Mama".


"Senyumnya mana, Mama kan mau lihat senyummu, masa sampai sekarang belum lihat senyum kamu" kata Mama.


"Iya Ma" kata Ervi, lalu mencoba tersenyum.


"Ih caman Mama kalau senyum manis dan cantik, Mama jadi ingat masa muda kalau lihat senyum nak Ervi" kata Mama.


"Makasih Ma" kata Ervi, dengan sedikit malu.


"Ih anak Mami malu nih" kata Mami, yang baru ikut gabung.


"Mami apaan sih" kata Ervi..


"Tadi habis cerita apa nih sama camer nih" kata Fida, yang juga baru ikut gabung.


"Apaan sih kak, kepo aja" kata Ervi.


"Biarin kakak kepo, kakak kan mau tau" kata Fida.


"Mau tau aja apa mau tau banget" kata Mama.


"Hah" kata Ervi dan Fida.


"Mama kan juga perlu bergaul sama anak muda biar keliatan awet muda, dan tau kata-kata hits anak muda" kata Mama.

__ADS_1


"Rupanya camermu gaul juga ya dek" kata Fida.


"Harus dong, Mama walaupun tiap hari mainannya cangkol dikebun tapi harus juga gaul dong, kan anak Mama yang suka ngajarin bahasa gaul kalau lagi ngobrol bareng bertiga" kata Mama.


"Weeeehhhh camermu emang keren dek" kata Fida.


"Manggilnya Mama juga dong nak Fida" kata Mama.


"Iya Ma" kata Fida.


"Asik bener kayaknya, sampai nangisnya hilang nih, kenapa sih kenapa" kata Papi.


"Kepo" ucap berempat Mami, Mama, Ervi dan Fida.


"Wah kompak banget nih" kata Bapak.


"Kita kayaknya bakal kalah nih kalau mereka dah ngumpul gini, mending kita buat minum aja yuk" kata Papi.


"Siapa" ucap berempat.


"Kalian lah" kata Papi.


"Yang nanyakkkkk" ucap berempat, lalu tertawa bersama berempat.


Papi, dan Bapak hanya geleng-geleng kepala melihat keceriaan mereka dan keakraban.


"Iya, ayuk ah".


"Kalian lanjutin aja ngerumpi nya" kata Bapak.


"Oke sip Pak" kata Mama.


"Dah ceria banget kayaknya nih anak Mami, sekarang bisa tertawa" kata Mami.


"Iyalah Mi, kan sudah dapat restu langsung dari Mamanya, iya kan Ma" kata Fida.


"Iya dong, Mama kan juga suka sama nak Ervi, yang sayang banget sama anak Mama, bela-belain nunggu sampai tertidur lagi" kata Mama.


"Oh iya kamu katanya lagi hamil, kok Mama gak lihat kamu macam lagi orang hamil yang ngidam gitu".


"ymYang ngidam suamiku Ma, dia kalau pagi suka muntah-muntah kalau bau masakan dengan bumbu bawang" kata Fda.


"Terus dia dimana, kok Mama gak lihat" kata Mama.


"Ohhh gitu, berarti suamimu polisi ya nak atau apa" kata Mama.


"Iya Ma, polisi" kata Fida.


Dan setelah beberapa lama berbincang-bincang Dokter pun keluar dari ruangan operasi.


Langsung mereka menanyakan keadaannya.


"Gimana Dok anak saya" kata Mama.


"Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar, berkat doa kalian juga" kata Dokter.


"Apa kami bisa menjenguknya dok" kata Ervi, dengan antusias.


"Untuk sementara jangan dahulu, biarkan istirahat, nanti setelah kami pindahkan dan ada perkembangan dari pasien barulah kalian bisa menjenguknya, nanti sekitar sejam lagi akan kami periksa perkembangannya, jika perkembangan nya bagus nanti akan kami langsung pindahkan" kata Dokter.


"Baik Dok" kata Bapak.


"Kalau gitu saya permisi" kata Dokter.


"Iya Dok, silahkan, terimakasih" kata Papi.


Dokter pun langsung meninggalkan mereka semua.


"Alhamdulillah anak Mama baik-baik saja, terimakasih ya Allah" kata Mama.


"Yuk kita makan siang dulu yuk, nanti setelah makan siang kita Shalat Dhuhur bersama secara bergantian, sekarang kita makan sambil nunggu perkembangannya" kata Papi.


"Iya ayuk, tadi Mami juga sudah pesan makanan buat diantar kemari, kemungkinan bentar lagi juga sampai, lebih baik kita nunggu disana aja" kata Mami, tunjuk nya pada tempat duduk panjang.


"Iya ayuk" kata Mama.


"Apa gak ngeropotin nih, masa makan kami selalu dibawain dari rumah Ibu".


"Kami kan bisa beli".

__ADS_1


"Gak papa, kita kan bakal adi keluarga juga nantinya" kata Papi.


"Sekarang juga sudah jadi keluarga kita loh Pi, kan nak Fariel sudah Mami anggap seperti anak Mami juga dari awal Mami minta tinggal dirumah" kata Mami.


"Oh iya ya, Papi lupa" kata Papi.


"Bukannya buat jadi mantu ya Pi, Mi" kata Fida.


"Semuanya dong" kata Mami.


"Ya udah yuk kesana aja" kata Papi.


Yang ditunggu-tunggu pun datang juga, setelah bebeberapa menit menunggu.


"Nah itu Pak Udin dan Bibi datang" kata Fida.


"Oh iya, itu" kata Mami.


Dan makanan pun diletakkan di bangku panjang, ada beberapa jenis masakan juga.


"Ayuk Pak Udin dan Bibi juga ikut makan disini" kata Mami.


"Kami makannya nanti aja Bu" kata Bibi.


"Iya Bu, kami nanti aja" kata Udin.


"Eits, gak boleh nolak, ini piringnya juga masih ada yang belum dipakai loh, ayok makan sama-sama biar enak, gak ada penolakkan" kata Mami.


"Baik bu" jawab berdua.


Dan mereka pun makan bersama dengan duduk lesehan di atas tikar kecil, sedangkan makanannya diletakkan di bangku, biar enak kalau nanti bakalan nambah.


"amAyok Bu, Pak nambah, itu masih banyak makanannya" kata Mami.


"Iya, terimakasih, ini aja sudah cukup" kata Mama.


"Nak Ervi makannya yang banyak, tadi pagi kan makannya hanya sedikit, jadi sekarang harus makan yang banyak biar kuat jagain masmu nanti".


"Iya Ma" kata Ervi.


dlSan kami pun lanjut makan lagi, hingga beberapa menit makan pun selesai.


"Alhamdulillah" ucap dari beberapa di antara mereka.


"Terimakasih makan siangnya Buk, Pak, saya jadi gak enak nih dikasih makanan enak terus dari pagi sampai siang ini" kata Bapak.


"Iya Pak, sukur deh kalau Bapak menikmati hidangan yang kami siapkan ini" kata Papi.


"Yuk kita Shalat" kata Bapak.


"Kalian aja dulu, biar gantian" kata Papi.


"lebih baik kalian sama-sama aja, biar ini kita yang jagain dulu" kata Udin.


"Iya Buk, Pak, kalian Shalat bareng aja, ini serahin aja ke kami, kan Aden juga majikan kami" kata Bibi.


"Yaudah kalau gitu kami kemushala dulu, kami tinggal gak papa kan" kata Papi.


"Iya Pak" Bibi.


"kalau gitu kami titip anak saya dulu" kata Mama.


"Iya Bu" kata Udin.


"Apa Bibi bawa mukena yang saya minta Bi" kata Mami.


"Oh ya buk, masih dimobil, tadi ketinggalan, lupa saya bawanya tadi".


"Kalau gitu saya ambil dulu dimobil" kata Bibi.


"Gak usah Bi, biar saya aja".


"Kuncinya mana Pak" kata Fida.


"Ini Non" kata Udin, sambil menyerahkan kunci mobilnya.


"Kalian duluan aja, biar saya yang ambil dimobil" kata Fida.


"ymYa udah kalau gitu kami tunggu dimushala ya nak" kata Mama.

__ADS_1


"Bair adek temenin ya kak" kata Ervi.


"Ayok" kidal Fida.


__ADS_2