
Dah selesai, mau digendong lagi apa mau tidur, kalau tidur, Sami ambil kerjaan dibawah dulu, abis itu nemenin kamu tidur" kata Fariel.
Fida hanya menjulurkan kedua tangannya yang bertanda kalau minta ikut, dan minta digendong lagi.
"Yuk sini ku gendong" kata Fariel.
"Mulutnya jangan begitu dong, masa manyun mulu."
"Katanya mau digendong, tapi kok cemberut gitu."
Malah ngambek lagi dan tangannya langsung menurunkannya dan melipat didadanya.
"Lucu deh kalau kamu lagi ngambek kaya gini" kata Fariel.
"Yaudah yuk" langsung kutarik kedua tangannya dan langsung kugendong dengan menggunakan jarit.
"Duh bayiku kok dah besar aja langsung sekarang ya."
"Berat banget, makan apaan sih ya, kok cepat banget besarnya."
"Anak Ayah kok langsung besar gini ya."
"He e e e e, Sami" kata Fida, yang merengek.
"Cep cep cep, Anak Ayah jangan rewel ya" kata Fariel.
"Dah diem, dah Ayah gendong, jadi harus diem."
"Iih Sami" kata Fida, yang memukul dadaku.
"Abis lucu kamu sih, kaya Aya aja, yang minta digendong kemanapun, kekantor minta ikut digendong juga" kata Fariel.
"Tidur enggak mau kalau enggak sama Ayah dan enggak dipeluk."
"Tapi untung sekarang dah enggak kaya dulu lagi manjanya, enggak minta yang aneh-aneh lagi."
"Malah sekarang pindah ke Mamanya yang jadi manja."
"Mi" kata Fida.
"Iya" kata Fariel.
"Dah bobo aja bobo."
__ADS_1
"Sayang bobo, oh sayang bobo, kalau tidak bobo disuduk kebo" sambil memukulu itu.
"Haaaaa, Sami" kata Fida.
"Oh iya Sami lupa, lagunya harus yang romantis ya" kata Fariel.
"Iya" kata Fida.
"Ya dah nanti kunyanyikan yang paling romantis lagunya" kata Fariel.
Sampai dibawah, didapur kukasih kode kebibi dengan jari telunjuk dimulutku agar mereka tidak bertanya aneh-aneh dan diam.
"Hustt" kata Fariel, dengan jari telunjuk dimulut
"Bawakan kebelakang ya Bi minumnya, sama roti."
"Lagi rewel" dengan nada pelan namun ada cubitan darinya.
"Iya Den" kata Diah.
Sedangkan Bi Sumi dan Ani hanya tersenyum saja.
"Aku duluan kebelakang ya Bi, makasih" kata Fariel.
"Iya Den" kata Ani, dengan pelan dan juga tersenyum ataupun menertawakannnya.
"Nih Den minumnya" kata Diah.
"Apa enggak ada yang lain lagi Den."
"Engak ada Bi, ini aja dah cukup, makasih" kata Fariel.
"Buat Bayi tuanya engakgak Den" kata Diah, sambil tersenyum.
"Hustt, jangan keras-keras nanti dengar" kata Fariel.
"Dah dengar" kata Fida
"Enggak budeg."
"Hup" kata Diah yang menutup mulutnya
"Maaf keceplosan."
__ADS_1
"Iya enggak papa, Bi" kata Fariel.
"Ya udah kalau gitu balik lagi kedapur ya Den, belum selesai masaknya" kata Diah.
"Iya Bi silhkan" kata Fariel.
Bibi pun langsung pergi kembali kedapur.
"Nih minum dulu biar enakan dikit" kata Fariel.
"Sama makan rotinya."
"Apa mau Sami suapin juga."
"Mau kalau disuapin, kalau enggak, engak mau" kata Fida.
"Iya dah kusuapin" kata Fariel.
"Duduk nya biasa aja ya, peluknya nanti lagi, sekarang makan roti sama minum dulu."
"Isi dulu perutnya, siapa tau ada bayi dalam perutmu, kan butuh gizi."
"Apa mau dibuatkan susu."
"Enggak mau" kata Fida.
"Aku lagi enggak hamil Mi."
"Hanya lagi pengen aja meluk Sami seharian ini."
"Dah ah males makan sama minum."
"Enggak boleh gitu dong" kata Fariel.
"Masa hanya karena itu langsung ngambek sih."
"Walaupun enggak lagi hamil tapi harus tetap makan dan isi perutnya, kasian cacingnya kelaparan."
"Kalau lapar juga enggak enak meluk Saminya karena terganggu sama perut yang kosong."
"Nanti habis makan boleh meluk Sami lagi."
"Makan dulu ya."
__ADS_1
"Sami suapin nih."
Langsung melepaskan ikatan jaritnya dan Fida langsung merubah posisi duduknya dipangkuanku lalu langsung kusuapin minumnya dan makan rotinya.