
Makan malam bersama sambil ngobrol seperti kaya biasanya.
Tapi kali ini sedikit berbeda pembicaraan nya, karena Papi dan Mami membicarakan perihal lain seperti pada biasanya.
Kali ini Papi dan Mami membahas tentang.
"Tadi asik banget kayaknya jalan-jalan nya ya Mi" kata Papi.
"He em, sampai kejar-kejaran, terus guling-guling" kata Mami.
"Dan satu lagi tentunya, pake digendong segala dari datang sampe pulang."
"Beda posisi lagi ya Mi" kata Papi.
"Dari posisi belakang kok tiba-tiba pindah kedepan ya Mi" kata Mami.
"Siapa Pi, Mi" kata Fida.
"Mami lupa namanya, tapi ingat orang nya sih" kata Mami.
"Apa Papi ingat."
"Sedikit ingat, kalau namanya juga lupa" kata Papi.
Sedangkan Ervi hanya diam menunduk, yang dah pasti tau kalau yang dibicarakan itu dirinya.
Dan begitupun dengan aku yang merasa bersalah dan berdosa karena melakukan hal yang tak seharusnya kulakan, karena kami bukan pasangan yang halal.
"Pasti dia itu sayang banget ya Pi Mi sampe rela gendong dari berangkat dan sampe pulang" kata Fida.
"Dah pastinya iya" kata Mami.
"Rang memang banyak yang bikin iri karena melihat adegan romantis kaya gq.itu"
"Papi sama Mami gak ikutan kaya gitu" kata Fida.
"Gak ah dah tua" kata Papi.
__ADS_1
"Bisa patah tulang kalau suruh ngikutin begituan" kata Mami.
Aku mendengarkan ucapan mereka yang membicarakan tentang diriku dan Ervi tadi sore sambil memangku Aya yang sedari tadi nempel mulu dalam gendongan aku, yang gak mau lepas dariku.
"Kenapa Om dipukul" kata Fariel.
"Kok Aya nakal sama Om."
"Disayang dong."
"Adek sakit, kok nunduk terus" kata Fida.
Membuat yang lain langsung melihat kearah nya.
"Enggak kok, gak papa kak" kata Ervi, sambil menggeleng.
"Tapi kok mukanya pucet gitu sih dek" kata Fida.
"Apa kecapean jalan-jalannya ya."
"Gak papa" kata Ervi.
"Hanya kelaut kok" kata Fariel.
"Sepatu adek tadi rusak putus talinya terus ditinggal dan suruh pake sepatu punya ku aja, kasian kalau dia yang nyeker."
"Ihhh jadi gitu" kata Fida.
"Loh kok anak Mama nakal sama Omnya sih, gak boleh gitu dong Aya sama Om, nanti Omnya gak mau main lagi sama Aya" yang memukul-mukul pipiku.
"Fak papa, namanya juga anak kecil yang lagi mulai aktif, pasti pengennya gerak mulu" kata Fariel.
"Cucu Mami kok maunya sama Omnya terus sih, sama Mami dan Papi gak mau, padahal kan Mami mau gendong Aya" kata Mami.
"Tuh dipanggil Mami tuh Aya tuh" kata Fariel.
"Yahhh malah gak mau lihat ke Mami, malah meluk Om dengan kencang" kata Fida.
__ADS_1
"Adek jangan diem aja, ngomong dong."
"Biasanya paling banyak tingkah, dan suka manja gangguin Aya yang lagi sama Uda."
"Kok sekarang diem-diem bae."
"Gak lagi marahan kan sama masmu."
"Atau lagi sariawan."
"Gak kok kak, kami biasa aja gak lagi marahan" kata Ervi.
"Ohh bagus deh kalau gitu" kata Fida.
"Tapi yakin nih gak ada apa-apa."
"Ada, tapi apa yaa" kata Mami.
"Apaan Mi, kok kayaknya Mami tau" kata Fida.
"Rahasia dong, kan ini tentang adek, jadi adek lah yang berhak kasih tau" kata Mami.
"Nanti di bilang Mami mulutnya suka buka-buka urusan adek."
"Emang apaan sih dek, kok sampai diem gitu kamu" kata Fida.
"Jujur sama kakak, ada apaan."
"Gak ada apa-apa kok kak" kata Ervi.
"Yang bener dek" kata Fida.
"Iya kak" kata Ervi.
"Tadi gimana jalan-jalan nya, asik gak" kata Fida.
"Cerita dong, kan kamin mau tau."
__ADS_1
Ervi langsung mukanya merah, karena takut Papi dan Mami bakalan marah, walaupun sebenarnya Papi dan Mami sudah tau semuanya.