Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Lebih dari spesial


__ADS_3

Kini waktu telah siang, dan aku pun sudah lelah karena sedari tadi hanya duduk sambil ngecek beberapa masalah kerjaan yang harus diberikan pada Papi, dan ditandatangani nya.


"Capek juga, padahal hanya duduk-duduk sambil ngecek beberapa berkas".


"Huffft" hembusan nafasku.


"Sudah siang rupanya, tapi kok gak dengar suara Adzan ya, apa karena aku terlalu fokus dengan kerjaanku".


"Mandi dulu baru Shalat terus rebahan kayaknya nih".


Ucapnya pada diri sendiri lalu masuk kedalam kamar lalu menutup pintu kamar yang sedari tadi terbuka, lalu menguncinya, karena mau mandi dan akan berganti dikamar.


"Harus dikunci ini pintu, kalau gak bisa jalannya kaya ular nanti, kalau sampai Ervi yang masuk lagi, bisa bahaya, sembuh pun belum malah masuk rumah sakit dan kehilangan masa depanku, hihhh ngeri". Lalu berjalan menuju kamar mandi dengan tongkat.


"Seger juga siang-siang begini berendam", sambil berjalan keluar, setelah selesai dengan mandinya, dan juga ada ketukan pintu dengan teriakan.


"Mas Masss" kata Ervi, dengan kencang.


Lalu aku berjalan kearah pintu.


"Sebentar, mas habis mandi belum pakai baju, ada apa sih" kata Fariel, dibalik pintu yang masih terkunci.


"Ini aku bawain makanan" kata Ervi.


"Nanti aja ya, Mas mau pake baju terus Shalat dulu" kata Fariel.


"Ya udah nanti Adek lima belas menit lagi kemari ya, bawain makanan buat Mas" kata Ervi.


"Iya" kata Fariel.


Lalu gak ada lagi suara terdengar dari balik pintu, yang artinya sudah pergi, dan akupun langsung memakai baju dan sarung untuk Shalat.


Sesudah selasa Shalat langsung menuju pintu untuk membuka kuncinya, dan balik ke kasur untuk duduk bersender.



Tak terasa terpejam mataku dengan posisi yang masih duduk, dan.


"Mas bangun, mas" kata Ervi.


Lalu aku pun membuka matanya.


"Mas makan dulu ya, nih dah kubawain, aku udah makan dibawah tadi" kata Ervi.


"Iya, makasih dah dibawain makanan, Mas cuci muka dulu ya" kata Fariel.


"Iya, sini Adek bantu" kata Ervi.


"Gak usah, Adek disini aja, cuman sebentar kok gak akan lama" kata Fariel.


Lalu akun turun dan berjalan menuju kamar mandi untuk cuci muka lalu balik kekakamar dan duduk di lantai beralasan kasur lantai kecil.


"Ini ade loh yang masak sendiri tanpa bantuan siapapun, dan rasanya juga sudah kucobain tadi, ini spesial buat Mas" kata Ervi.


"Wah beruntungnya aku dimasakin sama Adekku ini, dari dulu Mas gak pernah dimasakin sama Adek Mas, karena Mas anak tunggal, jadi pengen rasain gimana rasanya punya Adek yang perhatian sama Mas" kata Fariel.


"Banti Adek bakal sering-sering deh masakin spesial buat Mas" kata Ervi.


"Cuman buat Mas aja, buat yang lain gak ada" kata Fariel.


"Ada tapi beda" kata Ervi.


"Veda bagaimana" kata Fariel.


"Bedalah, kalau buat Mas kan pake telor ceplok mata sapi, kalau yang lain telornya gak pake mata sapi, hanya telor dadar biasa, heee" kata Ervi.


"Duhhh Adek Mas ni yaa, jangan gitu sama yang lain, masa cuman buat Mas yang pake mata sapi, yang lain enggak, nanti mereka merasa iri loh" kata Fariel.


"Tenang aja, mereka juga bisa masak telor sendiri kalau mau, atau minta dibuatin sama Bibi" kata Ervi.


"Oke deh, ini Mas makan ya" kata Fariel.


"Gak disuapin aja Mas" kata Ervi.


"Gak ah malu. Masa disuapin sama Adek sendiri, seharusnya tuh Mas yang nyuapin Adek" kata Fariel.


"Kalau itu lain kali aja, sekarang Adek dulu yang nyuapin Mas, nanti gantian kalau ada waktunya, ya" kata Ervi.


"Gak usah deh, Adek duduk aja, mainan HP juga boleh sambil nungguin Mas makan" kata Fariel.


"Gak ah, males mainan HP, mending nyuapin Mas biar dapat pahala, iya kan" kata Ervi.


"Duhh Adek Mas maksa nih, ya udah deh Mas nurut aja, daripada nanti Adek Mas ngambek ilang tuh muka cantiknya karena ngambek" kata Fariel.


"Ya udah, kalau gitu Adek suapin, buat Adek gak ngambek, biar Adek tetap paling cantik" kata Ervi.


"Iya iya, Adek Mas tuh emang cantik yang nomer tiga" kata Fariel.


"Lah kok nomer tiga sih" kata Ervi.


"Iyalah, nomer satunya itu yang paling cantik adalah Ibuku, karena gak akan ada yang bisa menyaingi kecantikannya, dari hati dan semuanya" kata Fariel.


"Kalau yang nomer dua" kata Ervi.


"Yang nomer dua itu ibu dari anak-anak ku, atau istriku" kata Fariel.


"Misalnya istrinya dua atau lebih gimana" kata Ervi.


"Aku cuman butuh satu istri, dan cukup sekali aja menikah, gak lebih" kata Fariel.


"Itu kan misalnya loh Mass" kata Ervi.


"Padahal kan aku mau walau bukan yang pertama buat mu Mas" ucapnya dalam hati.


"Hemmm, mungkin yang pertama itu yang paling cantik, dan yang selanjutnya mungkin nomer ke empat atau seterusnya lah, gak usah mikir yang aneh-aneh. Dah lapar loh ini, kapan aku makannya kalau ngobrol mulu. Katanya mau nyuapin Mas, tapi asik nanya mulu daritadi" kata Fariel.


"Ya udah, berdoa dulu Mas" kata Ervi.


Lalu aku berdoa.


"Buka mulutnya, Aaa" kata Ervi.


Lalu aku membuka mulutnya, dan makanan masuk kedalam mulutku.


*F*lashback ketika membuat makanan.


"Weeehh tumben masak" kata Fida.


"Iya dong, emang Kakak, cuman bisa makan doang" kata Ervi.


"Kakak juga suka masak. Tapi kok ada bau yang beda ya" kata Fida.


"Beda gimana maksudnya" kata Ervi.


"Kaya bau-bau yang spesial nih" kata Fida.


"Iya dong, ini tuh buat aku dan Masku tentunya" kata Ervi.


"Buatku mana" kata Fida.


"Buat aja sendiri, katanya suka masak" kata Ervi, sambil manaruh nasgor pada piring lalu meletakkan telor mata sapi diatasnya.


"Ih teganya sama Kakak" kata Fida.

__ADS_1


"Biarin" kata Ervi, lalu pergi mengambil gelas untuk air minum dan balik lagi tiba-tiba.


"Kakak, nasgor ku mana" kata Ervi, yang kehilangan nasgornya satu piring.


"Apaan sih Adek, teriak-teriak siang-siang gini" kata Mami.


"Tuh Kakak nyuri nasgorku" kata Ervi, dengan muka cemberut nya.



"Kan Adek bisa buat lagi" kata Mami.


"Tapi ini tuh spesial tau gak sih Mi" kata Ervi.


"Ya udah kalau gitu Mami yang buatin nasgor buat kamu yang paling spesial" kata Mami.


"Gak mau, Ervi hanya mau yang itu" kata Ervi, sambil menunjuk pada piring Nasgor yang sedang dinikmati oleh Fida.


Sedangkan Fida dengan santai memakan nasgor tanpa suara, hanya tersenyum kesamping melihat adeknya yang sedang cemberut karena nasgor nya diambil satu piring.


"Jangan gitu dong, mungkin dedek bayinya lagi pingin makan masakan dari auntinya" kata Mami.


"Nanti Papi yang masakin kalau gitu, atau makan yang ini aja yang ada dimeja" kata Papi.


"Kakak nyebelin" kata Ervi.


Sedangkan Fida hanya.



"Kalau gak kamu antarkan dulu nasgornya sana, nanti kamu balik lagi makan disini bareng Mami ya" kata Mami.


"Jangan lupa bawa dua sendok, siapa tau bisa satu piring berdua, iyakan Mi" kata Fida.


"Husss, gak boleh gitu" kata Papi.


"Kalau Mami sih terserah kamu aja" kata Mami.


Dan Ervi pun langsung pergi menuju kamarku sambil membawa nasgor.


"Tok tok tok, Assalamu'alaikum" ucap Ervi.


"Mas, Mas, Mass".


"Ih kenapa gak ada sautan ya, apa jangan-jangan tidur kali ya".


Lalu mencoba menarik gagang pintu, tapi terkunci.


"Mas, Mas, Masss" kata Ervi.


"Mas, Masss" dengan kencang.


"Sebentar, Mas habis mandi belum pakai baju, ada apa sih" kata Fariel, dibalik pintu yang masih terkunci.


"Ini aku bawain makanan" kata Ervi.


"Nanti aja ya, Mas mau pakai baju terus Shalat dulu" kata Fariel.


"Ya udah nanti Adek lima belas menit lagi kemari ya, bawain makanan buat Mas" kata Ervi.


"Iya" kata Fariel.


Lalu balik lagi ke dapur.


"Lah kenapa dibawa lagi, Masmu gak suka sama nasgornya, sini buat Kakak aja" kata Fida.


"Gak boleh. Kakak tuh dah makan punya ku juga, ini tuh khusus buat Masku, bukan buat Kakak tau" kata Ervi.


"Lah daripada gak diamakan kan mubazir, lebih baik Kakak yang makan, ya gak Mi" kata Fida.


"Mas baru selesai mandi belom pakai baju dan pintunya juga dikunci, dan mau Shalat dulu katanya, tunggu aja lima belas menitan" kata Ervi.


"Iyalah dikunci pintunya, takut ada tikus nylonong masuk, kan bahaya. Bisa kehilangan masa depannya Masmu nanti" kata Fida


"Emang kenapa dengan Masku" kata Ervi.


"Ya kamu kan suka main silat aja kalau lagi gak jelas. Sempat lihat masmu keluar kamar mandi hanya pakai handuk apa gak kamu tonjok lagi, dan dihajar macam maling" kata Fida.


"Ihh, Adek tu gak kaya gitu juga kali kak" kata Ervi.


"Lah itu buktinya, kan gara-gara kamu main terjang aja, yang hampir membuat masa depannya hilang" kata Fida.


"Hah, emang hanya kena tinju dan tendangan Ervi bisa buat kehilangan masa depannya ya. Perasaan yang suka main tinju dan gulat masih punya masa depan yang cerah" kata Ervi.


"Ini tu masa depannya berbeda dari yang lain, bego" kata Fida.


"Maksudnya" kata Ervi.


"Heemmm gimana jelasinnya ya, susah kalau jelasin ke kamu, yang terlalu bar-bar" kata Fida.


"Maksudnya apa sih Mi, Pi" kata Ervi.


"Jangan dipikirin, makan aja yuk" kata Mami.


"Tapi kan Adek pengen tau" kata Ervi.


"Nanti kalau sudah nikah pasti tau" kata Fida.


"Kenapa harus kalau sudah nikah sih baru dikasih taunya sih, heran deh" kata Ervie.


"Itu nasgornya dimakan dulu nanti buat yang baru, kalau dah dingin nanti kurang enak, jadi dimakan dulu aja ya" kata Mami.


"Tapi Mi" kata Ervi.


"Udah dimakan aja, nanti Mami bantuin masak lagi, ayo buruan dimakan" kata Mami.


"Kalau dibantuin Mami jadi gak spesial dong" kata Ervi.


"Ya udah nanti Mami bantuin nyicip" kata Mami.


"Papi juga mau bantuin nyicip nya, tapi satu piring, ya gak Mi" kata Papi.


"Dede bayi juga mau lagi katanya" kata Fida.


"Itu sih Kakaknya aja yang mau".


"Iya Mi, Pi, nanti kubuatin juga, tapi telornya gak ya" kata Ervi.


"Iya, nanti Mami yang buatin buat Papi" kata Papi.


"Yuk makan" kata Mami.


Dan Ervi pun langsung berdoa untuk makan nasgornya, tapi sebelum makan ambil gelas dan air putih untuk minum.


"Lah kok telornya hilang dimakan tikus, nasgornya juga kemana larinya, perasaan gak punya kaki deh" kata Ervi.


Sedangkan Fida hanya nyengir, dan Mami juga Papi tertawa melihat tingkah mereka berdua yang sedang berdebat masalah nasgor.


Dan makan pun selesai, lalu Ervi hendak minum.


"Kok kosong, perasaan gelasnya gak bocor, tapi kok airnya bisa habis ya" kata Ervi, sambil membolak balikan gelas minuman jus dinginnya.


Dan yang lain tertawa karena tingkah Ervi yang sedang membolak balikan gelasnya.

__ADS_1


"Nih minum punya Mami aja" kata Mami.


"Gak usah deh Mi, nanti buat lagi aja" kata Ervi.


"Ya sudah kalau gitu, yuk katanya mau masak buat nasgor lagi" kata Mami.


"Ayok Mi" kata Ervi, dengan semangat 45 nya.


Setelah beberapa lama memasak nasgor dan Mami mencobanya.


"Gimana Mi" kata Ervi.


"Rasanya pas, rumah makan manapun, restoran mana pun bakal kalah sama masakan kamu" kata Mami.


"Beneran Mi" kata Ervi.


"Nih piringnya" kata Papi.


"Sambil memberikan dua piring kosong" kata Papi.


"Akupun mau" kata Fida, sambil meletakkan piringnya disamping Ervi.


"Iya, tapi nanti. Kakak tuh sisanya" kata Ervi.


"Tega" kata Fida.


Sedangkan Ervi malah menjulurkan lidahnya, lalu memasukkan nasgornya pada tiga piring kosong.


Lalu lanjut buat telor mata sapinya dua, dijadikan satu, karena harus spesial.


"Telornya dua dijadikan satu, biar lebih spesial" kata Mami.


"Oke Mi, makasih sarannya. Mami emang paling tau aja, dan mendukung Adek" kata Ervi.


Dan setelah mateng, Ervi langsung menyajikan telornya pada piring nasgornya, lalu dihias dengan timun, tomat dan daun kubisnya.


"Jadi deh" kata Ervi), yang mengangkat piringnya menunjukkan pada Mami dan Papi.


"Wah ini lebih dari spesial mah, aku jadi mau yang kaya gitu" kata Papi.


"Ya udah, punya Papi biar Mami yang buat, Adek langsung keatas aja ya, dah kelamaan kasian Masmu nungguin kelamaan" kata Mami.


"Oke Mi" kata Ervi.


Dan Ervi pun langsung menuju ke kamar atas kekamarku.


"Tok tok tok, Assalamu'alaikum Mas" ucap Ervi.


"Kok gak ada jawaban, apa marah ya karena kelamaan nunggu".


Lalu menarik gagang pintu.


"Tapi sudah gak dikunci, langsung masuk aja kali ya".


"Mas, Mas".


"Yah rupanya tertidur, pasti karena kelamaan nunggu jadi tertidur".


"Kubangunin aja kali ya".


"Mas, Mas, bangun".


"Mas bangun, Mas".


Flashback off.


"Dah ah, kenyang nih gak muat perutku, buat Adek aja, Ade kan pasti cuman makan sedikit, ya kan" kata Fariel.


"Gak juga ah, Adek dah kenyang kok" kata Ervi.


"Dah sini piringnya" kata Fariel.


"Buat apaan ma" kata Ervi, yang tiba-tiba disumpel dengan nasgor.


"Ini tuh telornya kan dua, satu buat kamu, karena aku sudah abis satu, jadi ini buat kamu"


"Aaaa" kata Fariel.


Sedangkan ervi hanya terdiam sambil mengunyah makanan yang ada di mulutnya dengan diem salah tingkah karena baru kali ini disuapin dengan satu piring berdua dengan orang yang sangat spesial.


Sedangkan dibalik pintu yang terbuka ada tiga orang sedang mengintip.


"Wah anak kita kayaknya lagi melayang jiwanya Mi" kata Papi.


"Iyalah Pi, kan disuapin sepiring berdua, pasti nanti bakal gak bisa tidur karena akan terbayang terus" kata Fida.


"Anak Mami kayaknya salah tingkah tuh Pi" kata Mami.


"So sweet banget sih anak Mami, aku kok jadi pingin ya" kata Fida.


Lalu mereka tertawa lepas dan Papi terjatuh karena berada paling bawah, akhirnya ketahuan deh.


Buggg.


Aku langsung melihat kearah suara begitupun dengan Ervi.


Sedangkan Papi pura-pura biasa saja sambil garuk-garuk kepala, dan Mami pun hanya tersenyum diikuti Fida sambil menarik Papi, lalu pergi dari kamar.


"Kok bisa-bisanya sih mereka itu, bikin malu aja" kata Ervi, ucapnya dalam hati.


Dan aku hanya tersenyum dan juga ada sedikit malu.


Tiba-tiba Fida masuk.


"Semangat, lanjutkan" dengan mengepalkan kedua tangannya, lalu keluar lagi dengan ketawa.


Lalu mami.


"Jangan dipikirkan, lanjutin" dengan senyuman lalu keluar lagi.


Kemudian Papi masuk dengan siul-siul tapi langsung balik badan dan keluar lagi.


"Maksud mereka apa sih, ngeselin" kata Ervi, ucapnya dalam hati.


Sedangkan aku pun hanya tersenyum tanpa arti.


"Nih habisin, tinggal suapan terakhir nih" kata Fariel.


Ervi pun langsung membuka mulutnya.


Setelah selesai langsung kuberikan minum jusnya, sedangkan aku hanya minum air putih saja.


"Dah kenyang kan. Tadi aja malu, tapi kok habis ya. Perasaan piringnya gak pecah gak ada yang tumpah tapi kemana nasgornya ya" kata Fariel.


"Ih Mas mah nyebelin, sini piringnya, biar kucuci" kata Ervi.


"Nih, tapi minumnya yang ini jangan ya, masih butuh untuk ku minum, kalau bisa minta satu gelas lagi air putih dingin ya" kata Fariel.


"Iya, nanti ya Mas".


"Aku turun dulu, Assalamu'alaikum" kata Ervie.


"Waalaikumsalam" kata Fariel.

__ADS_1


Dan Ervi pun langsung keluar.


__ADS_2