Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Perubahan


__ADS_3

Sebulan kini telah berlalu, bapak dan mama juga sudah balik ke kampung atau desa, sedangkan aku masih disini dengan beberapa pekerjaan yang memang sudah lama ku tinggalkan hanya kerja dari rumah. tapi ada yang berubah dari Ervi yang tak seperti biasa yang suka sekali ngajak ngobrol atau manja, kali ini seperti menghindari ku, seperti pagi ini ketika kumpul dimeja makan, tak ada suara yang keluar dari mulutnya seperti pada hari-hari sebelumnya yang lebih banyak diem dan sedikit cuek.


Ketika dia pergi dari meja makan, aku coba menyusul nya ketika dia akan berangkat untuk kuliah.


"Dek, mas mau ngomong sebentar bisa kan" kata Fariel.


"Ada apa cepetan, aku mau berangkat" kata Ervi.


"Adek kenapa sih hari-hari ini selalu menjauh dari mas" kata Fariel.


"Apa mas ada salah sama adek".


"Kalau iya, mas mau minta maaf atas semua kesalahan yang mas gak tau kesalahan apa yang aku buat, jadi tolong beritahu mas atas kesalahan yang mas perbuat hingga adek menjauhi mas seperti ini".


"Sudah ngomongnya, aku mau berangkat" kata Ervi.


"Kalau gitu mas yang antar, gak ada penolakan, anggap ini sebagai bagian dari permintaan maaf mas" kata Fariel.


"Gak usah adek bisa sendiri".


"Mas kekantor aja" kata Ervi.


"Mau gak mau mas tetap bakal ngantarin adek sampai gerbang tempat adek kuliah" kata Fariel.


"Ayok, biar mas antar".


Ervi pun mengikutiku dari belakang berjalan menuju garasi.


"Nih pake dulu helmnya" kata Fariel, sambil menyerahkan helm pada Ervi.


"Ayok naik" kata Fariel, ketika aku sudah berada diatas motor dan helm sudah terpasang dikepalanya.


Tanpa menjawab Ervi langsung naik dan duduk dibelakangku.


"Pegangan dipinggang mas" kata Fariel, sambil menarik tangannya.


"Dah siap kan, biar kita jalan".


Karena tak ada jawaban, akupun langsung menarik gas dan berjalan menuju tempat dimana dia kuliah. Dalam perjalanan tak ada suara yang keluar, semuanya hanya diam tanpa kata hingga sampai di depan gerbang.


"Alhamdulillah sampai juga" kata Fariel.

__ADS_1


"Ayok turun".


Ervi pun langsung turun dan membuka helmnya.


"Nanti pulangnya kabarin mas, biar mas jemput nanti" kata Fariel.


"Iya, makasih" kata Ervi, dengan ketus


"Nih helmnya".


Akupun langsung menerimanya.


"Gak mau salim dulu sama mas nih" kata Fariel, ketika Ervi sudah berbalik dan sudah melangkah.


"Iya massss" kata Ervi, yang langsung mencium punggung tanganku.


"Kuliahnya yang bener, jangan banyak melamun, kalau ada apa-apa telpon mas" kata Fariel.


"iyaa masssss, adek masuk dulu ya, Assalamu'alaikum" kata Ervi.


"Waalaikumsalam" kata Fariel.


Akupun langsung pulang untuk mengambil beberapa barang yang harus kubawa ke kantor.


Sampai dikantor langsung duduk dan mengecek berkas-berkas yang sudah beberapa hari ini kutinggalkan.


Terdengar ketukan pintu


"tok tok tok".


"Iya masuk" kata Fariel.


"Permisi Pak, ini saya mau ngasih berkas yang harus ditandatangani".


"Mari duduk dulu, mana berkasnya" kata Fariel.


"Ini".


"Kasih waktu lima menit sebelum saya tandatangani" kata Fariel.


"Oh silahkan Pak".

__ADS_1


Aku cek dulu beberapa berkas, dan ketika serasa tak ada yang salah akupun langsung menandatangani nya, lalu memberikan padanya.


"Ini, silahkan dibawa, tapi jangan lupa kopi kan dulu yang itu" kata Fariel.


"Baik Pak nanti saya kopi kan, dan akan ku antar kemari lagi".


"Oke kutunggu jangan lama" kata Fariel.


"Oh ya panggilkan Via suruh buatkan kopi hitam tanpa gula untukku".


"Fotokopi nya kamu kasihkan sama dia saja"


"Baik Pak, kalau gitu saya permisi dulu".


"Iya silahkan" kata Fariel.


Akupun lanjut dengan berkas dan laporan, hingga yang ditunggu pun datang.


"Permisi Pak".


"Iya, silahkan masuk, letakkan dimeja itu saja" kata Fariel.


"Baik Pak".


"Apa ada yang lain yang bisa saya bantu".


"Gak ada, silahkan lanjutkan dengan kerjaanmu saja" kata Fariel.


"Baik Pak, kalau gitu saya permisi".


"Iya, silahkan" kata Fariel.


Setelah dia pergi aku langsung duduk disofa sambil meminum kopi dan mengecek berkas yang baru kuminta tadi.


Kini siang pun datang, cacing diperut pun sudah berbunyi.


"Dah waktunya makan siang, perasaan baru sebentar aku duduk disni".


"Ya udah deh, makan dulu, cacingnya juga sudah minta makan kayaknya nih" ucapku dalam hati.


Akupun langsung keluar dari ruangan ku untuk menepati janjiku makan siang dengan orang spesial.

__ADS_1


__ADS_2