
Ketika aku keluar dari toilet, ada yang meletakkan gelas berisi juss.
"Maaf mas tadi adek udah ketuk pintu dan juga ucap salam tapi gak sautan, jadi aku langsung masuk aja, Mama sama Mami tadi yang nyuruh buat ngantar minuman ini" kata Ervi.
"Iya gak papa, lagi ke toilet sebentar tadi".
"Makasih dah mau diantarin jusnya" kata Fariel.
"Iya mas sama-sama".
"Kalau gitu permisi mau ngerjain tugas" kata Ervi.
"Apa mau mas bantu ngerjain tugasnya" kata Fariel.
"Gak usah mas, ini tugasnya beda".
" Assalamu'alaikum" kata Ervi, langsung keluar dan menutup pintu.
"Waalaikumsalam" kata Fariel.
"Kenapa tuh adek, kayak gak seperti biasanya".
"Apa marah sama aku ya, tapi karena apa" sambil mencoba berpikir.
"Sudah ah, mungkin emang lagi banyak tugas jadi mukanya agak sedikit cuek".
Lalu aku duduk dan menyantap jus pokat yang begitu menggoda seleraku, jadi hanya butuh beberapa menit aja langsung habis tanpa sisa sedikitpun.
"Makan udah, minum juss pokat juga udah, apa lagi ya, kok kayak ada yang kurang, tapi apaa" kata Fariel, sambil rebahan dan mengkerut kan keningnya
"Bahkan vc pun udah, kok masih ada yang kurang aja"
"Mau tidur pun kayaknya gak bisa, padahal dah minum obat biasanya langsung ngantuk, ini malah masih lebar matanya".
Karena bingung akhirnya membuka HP lalu menelpon Mama ataupun Bapak biar ada temannya.
"Assalamu'alaikum" kata Mama.
"Ada apa nak, Bapakmu lagi didepan kayaknya, apa perlu Mama panggilin".
"Waalaikumsalam, gak usah Ma, hanya pengen turun aja, suntuk dikamar sendirian" kata Fariel.
"Ya udah nanti Mama keatas ya" kata Mama.
"Pengen turun, suntuk kalau disini terus, kaya lagi di kurung" kata Fariel.
"Yaudah kalau gitu nanti Mama ajak kamu turun kita ngobrol di bawah sama yang lain ya" kata Mama.
"Oke Ma, makasih" kata Fariel.
"Iya sama-sama, Assalamu'alaikum" kata Mama.
"Waalaikumsalam" kata Fariel.
Setelah beberapa menit menunggu yang ditunggu pun datang, tapi bukan Mama yang datang melainkan kakak yang datang.
"Assalamu'alaikum" kata Fida, yang sudah membuka pintu lalu salam.
"Waalaikumsalam" kata Fariel.
"Adek kakak suntuk ya dikamar mulu sendirian" kata Fida.
"Iya, dia bawa tidur pun gak bisa" kata Fariel.
"Kata Mama tadi adek minta turun kebawah ya" kata Fida
"Iya, kok kaka tau" kata Fariel.
"Tadi pas kakak habis dari kamar liat Mama mau keatas, katanya adek minta turun karena suntuk dikamar terus kaya lagi dikurung" kata Fida.
"Iya kak, abisnya seharian gak ada keluar dari kamar, bahkan dirumah sakit aja hanya sekali keluar itupun waktu adek Ervi pingsan, habis itu gak boleh kemana-mana, hanya rebahan dan rebahan" kata Fariel.
"Ya udah yuk turun biar nanti kakak yang dorong" kata Fida.
"Gak jadi deh kayaknya, nanti dedeknya kecapean kalau harus bantuin Mamanya harus dorong kursi roda kebawah" kata Fariel.
"Loh kok gitu, justru dedeknya malah senang bisa bantu, apa lagi bisa dekat sama uncle nya" kata Fida.
"Oh ya dikamar kakak ada game punya kakak yang dah jarang kakak pake, sapa tau bisa main game biar kamu gak suntuk dikamar pas sendirian".
"Sebentar biar kakak ambikan ya"
"Gak usah deh kak, kakak duduk aja" kata Fariel.
"Gak papa, bentaran aja, lagian kan kamar kakak juga beberapa langkah dari sini, jadi adek tenang aja ya".
"Tunggu sebentar jangan kemana-mana" kata Fida.
"Iya kak" kata Fariel.
Kak Fida pun langsung keluar, tak berselang lama kakak pun datang tapi tidak sendiri.
"Ayo Pak bawa masuk semuanya, taro sini" kata Fida, yang menunjukkan tempat buat diletakkan sesuatu.
"Langsung dipasang semuanya ya".
"Iya" jawab berdua.
"Coba dinyalain masih hidup apa enggak" kata Fida.
Aku hanya melihatnya saja.
"Masih non" kata Dani.
"Kalau gitu kami permisi" ucap berdua.
"Iya, makasih ya" kata Fida.
"Ayok sini dek, duduk dibawah aja".
Akupun langsung turun dari tempat tidur.
"Kenapa kakak bawa ini kemari, ini kan punya kakak" kata Fariel.
"Gak papa, sekarang buat kamu aja, karena kakak dah punya suami jadi mainnya dah lain, bukan game lagi, tapi dapur" kata Fida.
"Makanya kakak taro dimari aja biar adek gak suntuk dikamar karena gak boleh kemana-mana".
"Makasih ya kak, buat semuanya" kata Fariel.
__ADS_1
"Iya, tapi ini PS punya dek Ervi, tadi kakak colong, abis PS kakak rusak, jadi kakak ambil aja punya adek" kata Fida.
"Uhh kakak jahatnya, masa punya orang lain diambilnya, nanti aku yang kena marah sama Ervi gimana, bisa-bisa kena tonjok lagi" kata Fariel.
"Udah gak papa, nanti kakak yang ngomong, abis orangnya juga tadi udah molor gak kaya biasanya yang masih sibuk entah ngapain, jadi ya kakak langsung ambil aja" kata Fida.
"Yuk main, mau kakak tantangin adek main bola lawan kakak, karena kakak dirumah ini kalah terus sama adek, jadi kalau adek jago nanti harus lawan dek Ervi juga Papi".
"Emang papi bisa main game kak" kata Fariel.
"Jago lah, dirumah ini semuanya bisa, kecuali Bibi yang hanya bisa nonton saat kami lagi main game" kata Fida.
"Termasuk Mami juga, dan Pak Udin dan yang lain" kata Fariel.
"Iya" kata Fida.
"Tapi yang selalu menang hanya Ervi, kami semua kalah"
"Adek mau pake apa, kalau kaka mau pake Madrid, favorit kakak".
"Kalau aku dari dulu selalu Juventus, yang ada pemain kesukaan ku" kata Fariel.
"Emang siapa" kata Fida.
"Buffon dan Pirlo, juga yang lainnya".
"Kalau kakak kenapa madrid" kata Fariel.
"Suka sama Benzema, brewoknya itu yang bikin kakak jadi suka, kalau dulu sih kakak sukanya sama bintang Brasil, Ricardo Kaka, yang ganteng dan suka senyum, dan Ronaldinho juga" kata Fida.
"Bukannya Ronaldinho di Barca ya kak" kata Fariel.
"Iya, makanya kakak kalau main selalu Madrid dan Barcelona, tapi dulu, kalau sekarang Madrid" kata Fida.
"Gak kaya dek Ervi dan Papi yang berebut dengan Juve".
"Kalau aku mah bebas, tapi kalau favorit ya Juve selalu" kata Fariel.
"Ayok mulai" kata Fida.
"Ayok" kata Fariel.
Kami pun bermain game dengan begitu asik.
"Ompan samping, ompan samping".
"Aduhhhh kenapa menceng sih, kayaknya kakinya gak beres mah ini si Ronaldo, masa didepan gawan malah menceng" kata Fida.
Aku hanya tersenyum karena ocehan kakak.
"Untung offside" kata Fida.
"Iya ayok, goaaaalll".
"Sialan malah masih kena tepis" kata Fida.
"Sabar kak, Buffon tuh kipernya bukan Pak Udin yang hanya bisa jagain setir" kata Fariel.
"Kali ini harus gol, iya iya yaaaahhh" kata Fida.
"Hakim garisnya kena sogokan mah ini, masa Offside".
"Sabar, aku aja dari tadi diem aja yang gak jadi gol" kata Fariel.
"Wah parah nih kipernya, bukannya ditepis malah diliatin doang".
"Harus kakak bales ini".
"Iyaaa iyaaaa, aduhhh malah pluit" kata Fida.
Aku hanya geleng-geleng kepala.
"Harus kakak bales nih di babak kedua ini".
"Ayo brewok ayok bobol gawang Buffon ayo".
"Aduhh, menceng lagi tuh sundulan si brewok" kata Fida.
"Goooolllll, kak dua" kata Fariel, sambil melihatkan dua jari ke depan kakak.
"Wah parah nih kiper sama beknya gak kompak" kata Fida.
Pertandingan pun selesai.
"Sekali lagi, sekarang pembuktian, kalau tadi pemanasan" kata Fida.
"Kakak mau pake ini lagi"
"Kali ini harus menang".
"Oke, kalau gitu akupun ini lagi aja" kata Fariel.
"Tapi strateginya rubah".
"Oke siapa takut" kata Fida.
"Ayok kita mulai" kata Fariel.
"Kakak udah siap kan buat kalah lagi".
"Jangan sombong dulu dek, liat aja nanti kang brewok bakal bobol lebih dari dua" kata Fida.
"Oke, kalau gitu buktikan, siapa yang bakal kalah" kata Fariel.
"Iyaaa goaaalll"
"Satu kosong ya kak" kata Fariel.
"Oke kakak bales" kata Fida.
"Laaahhh kok bobol lagi" kata Fida.
"Duaaaaaa kosong" kata Fariel.
"Sialan, ayok dong ayok bobol tuh gawang" kata Fida.
"Lah kok gol lagi kak" kata Fariel.
"Ya jadi tiga kosong".
"Maaf ya kak".
__ADS_1
"Ih, jahatnya" kata Fariel, yang melihat pemainya kena sleding.
"Baru babak pertama udah tiga" kata Papi, yang tiba-tiba nongol dan ikut nongkrong.
"Apa kakak siap buat kebobolan lagi" kata Fariel.
"Siap dong".
"Paling gawangmu yang kebobolan sekarang" kata Fida.
"Liat tuh kak, gol kan" kata Fariel.
"Udah, kakak kalau kalah ya kalah aja" kata Mami.
"Iya, gak liat apa dari tadi diserang mulu, kipernya bisa ngopi tuh tuh punya nak Fariel" kata Papi.
"Kipernya jadikan striker aja nak, daripada nganggur dibelakang" kata Mami.
"Lahhhh kok nambah lagi sih golnya" kata Fida.
"Hahahaha, udadeh kakak nyerah aja, daripada nanti setengah lusin kan malu, mending nyerah aja" kata Papi
"Gak bakal ya, liat aja" kata Fida.
"Tuh kan setengah lusin beneran" kata Papi.
"Nih Papi main" kata Fida.
"Oke, Papi mau ngetes seberapa hebat sih" kata Papi.
"Papi mau pake apa" kata Fariel.
"Paling gak lain selain Juve" kata Fida.
"Itu dah pasti" kata Papi.
"Kalau gitu aku pake city aja" kata Fariel.
"Ayok buktikan dek, kalahin lebih dari sepuluh kosong" kata Fida.
"Mami harus dukung Papi" kata Papi.
"Iya, Mami dukung Papi" kata Mami.
"Pak, Ma, dukung aku ya" kat Fariel.
"Iya" ucap berdua.
"Udah nih strateginya" kata Papi.
"Udah dong" kata Fariel.
"Ayok mulai" kata Papi.
Baru beberapa menit sudah.
"Gollll" kata Fida.
"Papi gimana sih masa baru beberapa menit langsung kebobolan".
"Tenang, itu untuk hadiah biar semangat aja" kata Papi.
"Tuh kan".
"Hampir gol" kata Papi.
"Jauh gitu dibilang hampir" kata Fida.
"Lah lah lah, horeeee goll" kata Fida.
"Papi, Papi, bobol lagi".
"Wah kayaknya salah posisi ini mah" kata Papi, yang langsung merubah posisi duduknya.
"Gak ngaruh Pi, mau sambil jongkok pun kalau kalah ya tetap kalah Pi" kata Fida.
"Liat aja dulu, ya gak Mi" kata Papi.
Mami hanya tersenyum.
"Tuh kan gak ngaruh malah nambah gol lagi" kata Fida.
Dan pertandingan pun selesai.
"Wah bener-bener hebat kamu nak, papi nyerah" kata Papi.
"Makasih Pi" kata Fariel.
"Bu, Pak mau main" kata Papi.
"Kami gak ngerti yang begituan" kata Bapak.
"Udah malam, mending istirahat tidur" kata Mami.
"Kalau mau main besok lagi, ini dah malam, gak baik buat kesehatan, nak Fariel juga masih butuh banyak istirahat biar cepet sembuh".
"Iya Mi" kata Fariel.
"Yuk kita balik kekamar masing-masing untuk tidur" kata Papi.
"Iya ayuk" jawab mereka semua.
"Kami tinggal ya nak" kata Mami.
"Assalamu'alaikum" ucap semuanya kecuali Mama.
"Waalaikumsalam" kata Fariel dan Mama.
"Duluan aja, Mama mau lihat anak Mama tidur dulu" kata Mama.
"Kalau gitu kami duluan ya" kata Mami.
"Bapak juga dong" kata Bapak.
"Tidur yang nyenyak ya anak Mama" kata Mama.
"Do'a dulu".
"Mama disini dong biar Bapak disitu" kata Fariel".
Dan aku pun langsung berdoa dan tidur,
__ADS_1
Bapak dan Mama juga ikutan tiduran disebalah ku sampai aku benar-benar terlelap baru mereka kekamar mereka yang sudah disediakan oleh Papi dan Mami buat tidur.