Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Depan apa belakang


__ADS_3

Bangun pagi seperti biasa melaksanakan kewajiban sebagai seorang Muslim dan setelah selesai melaksanakan Shalat Subuh tak lupa langsung kedapur melakukan tugas pagi, yaitu memasak.


Setelah selesai langsung kubangunkan mereka yang masih asik dalam selimut, karena waktu sudah jam 7 pagi. Setelah itu baru aku mandi biar bersih, dan gak bau layaknya orang bangun tidur.


Setelah selesei dengan mandi pagi, langsung aku menemui Pak Sal untuk meminta izin libur kerja hari ini, kalau hari ini aku mau refresing nyari udara segar alias jalan-jalan dengan pemilik hatiku.


"Pak aku mau minta izin libur hari ini, mau nyari udara segar" kata Fariel.


"Bilang aja mau pacaran" saut Roy.


"Ya boleh libur nyari udara segar berduaan dengan ibu-ibu dipasar" kata Sal, sambil tersenyum, karena dia yang tau tentangnya.


"Boleh minta bonnya gak buat isi kantong" kata Fariel, sambil tersenyum.


"Iya nanti kukasih" kata Sal.


"Makan dulu, biar kuat" kata Idin.


"Biar gak lapar mungkin" kata Fariel.


"Kan mau jalan-jalan, sapa tau nanti harus gendong orang" kata Idin, sambil tersenyum menunjukan deretan giginya.


"Gendong depan pa belakang lik" kata Roy, sambil nyengir.


"Kayaknya sih gendong depan" kata Idin.


"Gendong yang kekmana tuh lik" kata Roy.


"Yang kek gitu lah" kata Idin, sambil mengangkat piring seolah sedang mengangkat seseorang.


Sehingga aku yang baru memasukkan makan jadi tersendat, karena mendengar percakapan berdua yang bikin aku kaget dengan ucapan dan tingkah Pak Idin yang seperti mengejekku.

__ADS_1


"Uhuk uhuk uhuk" kata Fariel.


"Nih minum" kata Is.


Langsung kutenggak habis minumnya dalam gelas.


"Ada yang batuk nih" kata Roy.


"Jangan dengerin mereka, makan dulu yang bener, habisin" kata Is.


Aku hanya mengangguk.


"Kayaknya nanti bakalan main gendong-gendongan lagi nih" kata Idin, sambil menaikkan kedua alisnya.


Sedangkan roy malah ketawa keras dan di ikuti Pak Idin yang juga ikut tersenyum-senyum kearahku, terus membisikan kata-kata.


"Kutunggu kabar baiknya, kalau main gendong jangan lupa hubungi aku atau di foto juga boleh" bisiknya Idin padaku.


"Apa mereka tau ya, tapi darimana taunya" kata Fariel, dalam hati.


Lalu di tepuk punggung ku oleh Roy, dengan ketawa. Sedangkan Is hanya geleng-geleng melihat tingkah berdua yang usil sama Fariel yang sudah kayak adek sendiri.


Setelah mereka selesai makan dan cuci piring yang mereka gunakan masing-masing, mereka langsung ganti pakaian kerja dan juga pakai helem proyek terus berhamburan keluar rumah berangkat kerja, karena waktu sudah jam 07:50.


Berbeda dengan pak Sal yang pergi ke ATM untuk menarik uang, karena Pak Sal memang bagian keuangan dan material yang masuk, sedangkan Pak Idin sebagai pengawas lapangan, tapi mereka juga bekerja seperti yang lainnya ikut mengikat besi, ngecor dan sebagainya.


Sambil menunggu Pak Sal pulang dari ATM aku mengeluarkan sepeda motor untuk dipanaskan dan dilap dari debu tanah yang yang menempel supaya terlihat lebih bersih.


Akhirnya yang ditunggu pun pulang.


"Nih uangnya, segini cukup kan" (Sal) sambil menyerahkan beberapa lembar uang ratusan.

__ADS_1


"Cukup banget" kata Fariel.


"Jangan boros-boros, tabung kalau bisa, dan kasih orang tua juga" kata Sal.


"Iya, itu dah pasti" (Fariel) karena memang gak pernah lupa dengan orang tua, jadi hampir dua minggu sekali pasti nitip uang untuk orangtua dirumah lewat Pak Sal yang selalu pulang setiap setengah bulan sekali.


"Hati-hati, jangan ngebut-ngebut, bawa anak orang" kata Sal.


"Itu dah pasti" kata Fariel.


Diapun langsung masuk untuk ganti baju dinasnya, sedangkan aku lanjut dengan ngelapin motor.


Baru beberapa menit Pak Sal keluar rumah dengan pakaian dinasnya dan juga helm di kepalanya, lalu menepuk punggungku.


"Jaga baik-baik ibunya" kata Sal, sambil berjalan dan tersenyum.


Sedangkan aku hanya garuk-garuk kepala yang tak gatal, karena bingung maksud dari omongan Pak Sal tadi.


Dan baru juga beberapa menit aku lanjut ngelapin motor, tiba-tiba HP ku berbunyi, ada panggilan masuk dari Bidadariku Sayang, yang langsung ku angkat.


"Halo Assalamu'alaikum" kata Fariel.


"Waalaikumsalam, Abang dah siap" kata Tia.


"Belom, lagi ngelapin motor, bentar lagi" kata Fariel.


"Jangan lama-lama, kalau dah selesai langsung jemput aku ya, aku mau mandi dulu, dah ya kutunggu kedatangan mu Abang ku tersayang" kata Tia, ucapnya panjang lebar yang langsung dimatikan sambungan teleponnya.


"Waalaikumsalam" kata Fariel, jawabku sendiri dalam hati, walaupun disana tidak mengucapkan salam.


Setelah selesai aku langsung masuk untuk memakai baju dan tak lupa dengan memakai minyak rambut lalu kusisir rambutku dibuat jambul didepan dan berdiri belakangnya, biar berbeda gaya rambutnya tidak seperti biasanya yang cuman sisiran. Kalau minyak wangi kebetulan habis, karena yang ikut pakai gak cuman aku sendiri jadi wajar cepet habis, jadi rencananya mau diisi nanti.

__ADS_1


Setelah selesai aku keluar dan bersiap untuk pergi menjemput pujaan hati.


__ADS_2