
Sampai dirumah tepat Adzan Maghrib
"Yuk turun, dah sampai nih" kata Fariel, sambil membukakan pintu buat fida keluar dari mobil.
"Gendong" kata Fida.
"Mana bisa digendong Nyai ratu, kalau digendong kasian dedeknya nanti kejepit" kata Fariel.
"Kan bisa cara lain gendongnya, mau ya ya" kata Fida, sambil mengelus-elus perut buncit nya.
"Haduh, kalau dah gini mana bisa sih aku nolaknya, mana mungkin aku tega padanya" kata Fariel, ucap dalam hati.
"Yaudah turun dulu baru Uda gendong, mau gendong seperti apa" kata Fariel.
"Oke, pegangin dulu" kata Fida, yang menjulurkan tangannya dan aku menerima uluran tangannya, setelah turun aku langsung menutup pintunya.
"Mau gendong gimana, Uda gak tau" kata Fariel.
"Didepan, Uda kuat kan" kata Fida.
"Ya ya ya Da."
Aku hanya diam tanpa ada jawaban.
"Uda nya kayaknya gak mau, Uda gak sayang lagi kayaknya" kata Fida, sambil mengelus-elus perutnya lagi.
"Iya deh iya, ayok Uda gendong sesuai kemauan Nyai" kata Fariel.
"Sampai dalam ya, kalau bisa sampai kamar Nyai ya" kata Fida.
"Iya iya Nyai" kata Fariel.
"Yuk buruan dah Magrib, uda mau Shalat dan Nyai juga harus Shalat, dah ditungguin tuh sama papi mami di Mushola rumah, ayok cepetan."
__ADS_1
Dan akupun langsung mengangkat tubuhnya hingga sampai didalam, sedangkan yang di gendong hanya senyum-senyum sambil melingkarkan tangannya di leher ku.
"Assalamu'alaikum" kata Fariel.
"Waalaikumsalam" kata Papi, Mami.
"Kenapa kakamu nak" kata Mami.
"Gak kenapa-kenapa kok Mi, Pi" kata Fariel.
"Lagi pengen digendong kata dedeknya entah ibunya."
"Oooh, ceritanya lagi manja gitu, okelah Mami ngerti kok" kata Mami.
"Kenapa senyum-senyum gitu" kata Fariel.
"Gak ada" kata Fida.
"Gak mau, pokoknya harus sampai kamar, tadi kan Uda dah janji bakal antarin Nyai sampai depan kamar" kata Fida.
"Sebentar, kaya ada yang salah, atau Papi yang salah dengar ya tadi" kata Papi.
"Iya, kalian manggilnya berubah" kata Mami.
"Antarkan aja dulu, itu gak usah dibahas, itu bisa nanti aja, sekarang waktunya untuk kita Shalat berjamaah" kata Papi.
"Iya, Pi, aku antarkan Nyai ratu yang manja ini dulu" kata Fariel.
"Ati-ati jalannya" kata Mami.
"Kami tunggu di Mushola ya."
Aku menaik tangga secara perlahan sambil menggendong tubuh bumil hingga sampai didepan pintu kamarnya, lalu langsung aku turunkan.
__ADS_1
"Turun ya, dah sampai nih" kata Fariel.
"Bentar" kata Fida, yang langsung melingkar kan tangannya ke badanku.
"Dah."
Lalu aku turunkan perlahan.
"Apa Nyai berat" kata Fida.
"Gak kok, hanya mungkin duaratus kilo" kata Fariel.
"Dah ya, Uda mau kekamar ambil wudhu untuk Shalat dibawah berjamaah, dada."
"Iya, makasih, tungguin Nyai juga, Nyai juga mau ikut" kata Fida, ucapnya sedikit keras karena aku sudah meninggalkan di pintu kamarnya.
"Apa iya aku beratnya sampai segitu."
Lalu masuk kedalam kamar.
Setelah aku sampai dikamar langsung ambil air wudhu dan ganti dengan baju koko dan memakai sarung lalu turun kebawah.
Sampai dibawah
"Tunggu sebentar Pi, tadi kakak minta ikut Shalat bareng juga" kata Fariel, sambil masuk kedalam Mushola.
"Iya, adekmu mana, biasanya dia yang selalu hadir, apa gak kamu panggil tadi sambil lewat" kata Papi.
"Enggak Pi, aku langsung buru-buru kekamar, takut lama" kata Fariel.
"Yuk, tuh kakak kamu dah datang, jadi sekarang kamu siap-siap jadi Imam biar Pak Udin yang Iqomah, yuk Pak Udin Iqomah" Papi.
Pak Udin pun langsung berdiri dan mengumandangkan Iqomah, dan yang lain pun langsung berdiri untuk bersiap siap untuk Shalat maghrib berjama'ah bersama kecuali Ervi yang gak ikutan, dan juga satpam, karena mereka harus bergantian Shalat nya jadi yang satu tetap berjaga di pos nya.
__ADS_1