Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Tidur dikamar Aya


__ADS_3

Setelah Papi dan Mami pergi kini hanya tinggal aku dan kak Fida yang menemani Aya tidur.


"Nyai tidur aja, dah malam" kata Fariel.


"Biarkan Aya sama aku."


"Sekarang kan Aya dah gak kaya yang tadi lagi, dah gak ngigau lagi."


"InsyaAllah besok pasti dah sembuh dari panasnya."


"Sekarang Nyai tidur aja."


"Tapi Da, Nyai masih takut kalau nanti Aya masih ngigau" kata Fida.


"Dah tenang aja, ada aku disini juga" kata Fariel.


"Aku gak akan kemana-mana."


"Lebih baik Nyai tidur aja, Nyai kelihatan lelah."


"Pasti Nyai belum ada tidur dari tadi kan."


"Belum Da" kata Fida.


"Nyai belum ada tidur dari pagi hingga sekarang."


"Apa kita gak melakukan dosa Da."


"Kita tidur bersebelahan dikamar, walau ada Aya yang membatasinya."


"Salah gak salahnya, dan dosa gak dosanya aku gak tau" kata Fariel.


"Yang penting sekarang Aya yang utama."


"Tuhan pasti ngerti dengan hambanya ini."


"Kalau dosa ya kuterima dosa itu."


"Yang penting sekarang gimana caranya supaya kita gak melakukan hal yang berlebihan aja."


"Keberadaanku disini hanya untuk Aya, menemani Aya supaya lekas sembuh dari panasnya, gak ada yang lain."


"Iya Da, nyai juga ngerti kok" kata Fida.


"Nyai juga punya rasa takut dengan dosa."


"Nyai juga masih bisa berfikir mana yang baik mana yang enggak."


"Nah kalau gitu sekarang Nyai tidur aja" kata Fariel.


"Aya dah tenang, dan minumnya juga sudah habis."


"Biar Uda yang memeluk Aya, mungkin Aya lagi kangen ingin ketemu Ayahnya."

__ADS_1


"Iya Uda" kata Fida.


"Makasih buat semuanya."


"Makasih dah mau datang tengah malam begini kesini untuk anak Nyai."


"Makasih dah mau membantu Nyai merawat Aya."


"Nyai bakal berutang banyak padamu Da."


"Udah gak usah dipikirkan hal itu" kata Fariel.


"Sekarang tidurlah."


"Nyai takut sama Aya jika nanti Uda meninggalkannya lagi" kata Fida.


"Nyai takut kalau Aya bakal sakit lagi seperti ini jika Uda menikah dengan adek dan pergi dari sini."


"Karena yang Aya tau Udalah Ayahnya bukan Pamannya atau Omnya."


"Nyai takut hal itu terjadi lagi sama Aya nanti."


"Husss, Nyai gak boleh ngomong seperti itu" kata Fariel.


"Lebih baik Nyai itu do'akan Aya supaya nanti gak sakit lagi, dan terbiasa dengan tanpa adanya aku disisinya."


"Biarkan waktu yang menjawabnya."


"Uda juga takut hal semacam ini akan terjadi lagi."


"Jangan memikirkan hal itu dulu, semuanya masih bisa dibicarakan nanti."


"Tapi jika nanti Aya sakit dan gak mau lepas darimu gimana" kata Fida.


"Kalau dia menginginkan Ayahnya selalu ada di sampingnya, dan gak boleh pergi dari rumah ini gimana."


"Aku selalu memikirkan hal itu."


"Apalagi setelah Aya kini mulai lancar berbicara memanggil-manggil Ayah."


"Dan yang kutakutkan sekarang terjadi."


"Uda kini bukan dipanggil Om, tapi Ayah sama anakku."


"Uda gak tau harus gimana" kata Fariel.


"Karena sekarang yang kupikirkan gimana supaya Aya baik-baik dan segera turun panasnya."


"Masalah jika nanti Aya terus dan selalu memamggilku dengan sebutan Ayah akan kuterima dengan lapang dada."


"Tapi nanti setelah dewasa dan mulai mengerti maka kita bisa bicarakan padanya baik-baik."


"Tapi mau sampai kapan seperti itu, kalau sampai Aya dewasa" kata Fida.

__ADS_1


"Apa Uda gak akan menikah dengan Ervi dan gak akan pergi dari rumah ini hingga Aya dewasa."


"Yang namanya janji harus ditepati" kata Fariel.


"Karena aku telah berjanji padanya dan Papi juga Mami bahkan kedua orang tuaku juga, maka harus aku tepati."


"Aku tak mau dikatakan pembohong, pengingkar janji, dan pendusta."


"Dan pastinya janjiku itu harus kutepati di tahun ini."


"Iya, Nyai juga ngerti" kata Fida.


"Apakah Uda masih ingat janji yang Uda berikan padaku, kalau Uda bakal mengabulkan apa yang Nyai minta kala itu."


"Dan sekarang mungkin waktunya Nyai meminta pada Uda untuk menepati janji yang bakal Nyai minta."


"Dan Uda juga berjanji akan menepatinya, apapun permintaan Nyai."


"Iya Uda ingat" kata Fariel.


"Jangan sekarang, besok aja Nyai katakan apa permintaan itu."


"Sekarang lebih baik istirahat dan tidur."


"Aku juga harus tidur untuk melepas lelahku."


"Masih ada waktu sekitar dua jam untuk istirahat sampai nanti subuh."


"Sekarang kita tidur yuk."


"Iya Da, ayok" kata Fida.


"Besok pagi akan kukatakan permintaan ku padamu."


"Sekarang ayok tidur uda."


"Iya" kata Fariel.


"Ayok tidur."


"Jangan lupa berdoa biar tidurnya nyenyak dan lelahnya hilang walaupun hanya tidur sebentar."


"Iya Da" kata Fida.


"Selamat tidur Uda."


"Selamat tidur anak Mama yang cantik."


"Cepat sembuh ya."


"Selamat tidur juga Nyai" kata Fariel.


"Selamat bobo anak ayah" lalu memeluknya.

__ADS_1


Dan kami mengucapkan do'a sebelum tidur.


Dan akhirnya kami pun tertidur dengan lelap, dengan posisi memeluk Aya.


__ADS_2