Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Tangis yang kmbali pecah


__ADS_3

"Uda bangun, perut nyai sakit" kata Fida, sambil merintih menahan sakit tangan kiri memegangi perutnya dan yang kanan meremas tanganku.


"Bantu nyai menahan rasa sakit ini."


"Uda bangun uda, nyai gak kuat."


"Ini beneran sangat sakit uda."


"Aakit uda sakit."


Karena ada suara yang memanggil ku dan remasan tangan yang begitu kuat membuatku membuka kedua matanya.


Sebelum aku membuka mata.


Kini aku berada entah dimana yang aku gak tau ini tempat apa, karena baru pertama bagiku ke tempat ini. Lalu ada seorang berpakaian putih yang datang menghampiri ku.


"Tempatmu bukan disini."


"Kembalilah."


"Mereka semua membutuhkanmu."


"Bahagiakan mereka dengan kembalinya dirimu."


"Karena ini bukan tempat yang baik untuk mu."


Lalu terdengar ada beberapa suara yang aku juga gak tau dari arah mana itu berada.


"Mas"


"Anak Mama."


"Bak Fariel."


"Uda."


Beberapa suara itu selalu terdengar ditelingaku dan juga suara "uda sakit, aku butuh uda."


"Ayahhh."


"Ayahhh, aku ingin ayah pulang."

__ADS_1


Membuatku bertanya-tanya dengan suara anak kecil yang memanggilku dengan panggilan ayah padaku.


"Ayah pulang."


"Kasian Mama, ayah."


"Pulang yah."


"Kembalilah ke duniamu, ini bukan dunia untukmu."


"Ada yang membutuhkanmu untuk kebahagiaannya."


"Pulanglah."


Lalu aku seperti terjatuh ke tempat yang juga gak tau namun saat terbangun membuka mata kini aku telah kembali ada dunia yang seharusnya, walaupun pandangan ku masih sedikit kosong.


Tangis mereka langsung pecah dan mengucapkan syukur yang sebesar-besarnya kepada Tuhan yang telah menjawab dan mengabulkan doa-doanya selama ini.


Dokter pun langsung meriksaku.


"Fimana Dok" kata Mama.


"Alhamdulillah sudah sadar hanya masih butuh waktu saja untuk kembali seperti semula, mungkin masih ada sedikit saja, kalau dari pihak madis dia sudah pulih, hanya mungkin otaknya saja yang masih belum sempurna bekerja" kata Dokter.


"Mama kangen sama kamu nak."


"Mama gak sanggup tanpa kamu nak."


"Anak bapak dah bangun" kata Bapak.


"Jangan tinggalkan Bapak juga."


"Bapak masih ingin membahagiakan kamu."


"Jangan pernah tinggalkan kami."


"Kami ingin hidup bersama selalu."


"Gimana Dok keadaannya" kata Mami, bertanya pada dokter kandungan yang meriksa Fida.


"Hanya kram saja dan kontraksi biasa" kata Dokter.

__ADS_1


"Nungkin dedeknya merasa kehilangan atau kangen saja sama yang ada disebelah nya."


"Mungkin bener apa yang dikatakan Dokter Mi, nyeriku langsung hilang" kata Fida.


"Mungkin cucu kita rindu dengannya yang biasanya suka manjain dengan menuruti permintaanya kali ya Mi" kata Papi.


"Iya Pi" kata Mami.


"Mami sangat bersukur Engkau telah mengabulkan doa-doa kami semua."


Tapi baru mereka bersukur aku langsung kembali menutup matanya hingga membuat mereka kembali panik.


"Dokter ini kenapa" kata Mama, yang melihat mataku tertutup.


"Nak jangan tinggalin Mama" sambil menggoyangkan badanku.


Lalu dokter langsung kembali memeriksa ku lagi.


"Apa yang terjadi Dok" kata Mama, dengan panik.


"Iya Dok apa yang sebenarnya terjadi, bukankah tadi sudah bangun" kata Mami.


"Maaf, saya minta kalian keluar dulu" kata Dokter.


"Kenapa Dok, jawab" kata Mama.


"Detak jantungnya mulai melemah, dan kami butuh tindakan, saya mohon kalian keluar dulu" kata Dokter, yang melihat keminitor.


"Biarkan kami melakukan yang terbaik."


"Saya butuh bantuan Bu Dokter untuk membantuku."


"Tolong telponkan asisten saya, ini HP saya, disitu ada namanya asistenku" yang memberikan pada Papi.


"Baik, tolong selamatkan anak saya, berapapun aku siap membayarnya" kata Papi.


"Mari kita keluar biar Dokter bisa leluasa menanganinya."


"Berdoalah, karena kami hanya bisa menanganinya saja, tapi kalau urusan itu ada di tangan Tuhan."


Dan yang lain langsung keluar.

__ADS_1


Maaf kalau lama up, author butuh istirahat beberapa hari, untuk merilekskan tubuh dan pikiran.


Sekali minta maaf yaaa.


__ADS_2