
"Telpon" kata Fida.
"Ada nomernya kan."
"Masa kesitu cuman ditelpon sih, enggak sopan loh" kata Fariel.
"Bentar aja ya, Sami kedalam."
"Enggak mau" kata Fida.
"Dah nyaman begini, enak."
"Enggak boleh gitu ihh" kata Fariel.
"Maaa Maaa Mamaaaa" kata Fida, dengan nada lumayan keras.
"Ih, kok gitu" kata Fariel, yang sambil menutupi mulutnya.
"Maaaaaa" kata Fida.
"Iya Sami enggak kemana-mana" kata Fariel.
"Sami telpon nih Bibi nih ya."
Baru mau ditelpon Bi Sumi dan Bi Ani datang sambil membawa nampan.
"Assalamu'alaikum" kata Keduanya.
"Permisi ya Den" kata Ani.
"Waalaikumsalam" kata Fariel.
"Wah jadi repotin Bibi nih."
"Enggak kok Den" kata Sumi.
"Iya, enggak papa kok Den enggak repot" kata Ani.
"Kan ini dah jadi kewajiban kami."
"Iya, ini dah jadi tanggung jawab kami disini" kata Sumi.
"Masa mau makan gaji buta sih Den."
"Bukan gitu maksudnya Bi" kata Fariel.
__ADS_1
"Kan Bibi juga harus istirahat siang, apalagi kerjaan Bibi banyak, harus bersihkan rumah hingga halaman dan juga nyuci dan nyetrika terus lipat baju, itu juga capek."
"Enggak kok Den, karena kami dah biasa, jadi enggak ada capek" kata Sumi.
"Justru kalau kebanyakan istirahat malah pegel badannya dan malah terasa jadi malas" kata Ani.
"Dah ya Den, kami duluan, permisi" kata Sumi.
"Iya, Bibi juga duluan ya Den" kata Ani.
"Silahkan dinikmati."
"Kalian juga harus makan, masih ada kan untuk kalian" kata Fariel.
"Ada kok Den, masih banyak" kata Sumi.
"Kalian habiskan untuk kalian" kata Fariel.
"Enggak usah disisain."
"Ini aja dibawa lagi punyaku Bi, enggak kumakan nanti disini, dah kenyang aku Bi."
"Baik Den, kalau gitu permisi ya Den, Nak Fida" ucap keduanya.
"Assalamu'alaikum" lalu pergi sambil membawa nampan berisi bakso dan sate.
"Waalaikumsalam" kata Fida, dalam baju.
"Dah ada semuanya, sekarang dimakan ya" kata Fariel.
"Cepet buruan keluar, balik badannya."
Langsung keluar dari bajuku, dan memutar duduknya.
"Lepasin itunya dari tusuknya" kata Fida.
"Sama ini tambahin sambelnya biar pedas."
"Mau yang pedas pokoknya."
"Enggak boleh pedas-pedas makannya lah" kata Fariel.
"Biasa aja jangan kepedasan, nanti sakit perut lagi."
Lalu ngambek pasang muka cemberut hingga mau jatuh tuh bibir, dan juga melipat kedua tangannya didadanya.
__ADS_1
"Iya deh iya, nih Sami kasih sambalnya lagi" kata Fariel.
"Dah ya jangan ngambek lagi ya, nanti malah nangis baksonya kalau enggak jadi dimakan."
"Ya Allah, kenapa lagi sih ini istriku" kata Fariel, dalam hati sambil menuang sambal dalam plastik.
"Jika aku banyak salah, maafkan segala kesalahanku."
"Jika dia memiliki kesalahan, ampunilah kesalahannya, dan semuanya kesalahan yang dilakukannya itu adalah tanggung jawabku, dan aku siap menerima hukumannya dari_Mu."
"Dah nih, tapi setengah dulu aja ya sambalnya" kata Fariel.
"Itu juga ditambahkan sambalnya ke situ" kata Fida, tunjuk kesate.
"Iya" kata Fariel, tanpa menjawab, takut akan jadi panjang, langsung kutuangkan kesate sambal baksonya.
"Dah nih."
"Suapin ya" kata Fida.
"Iya" kata Fariel.
"Mau yang mana dulu dimakan."
"Potongin dulu kecil-kecil baksonya" kata Fida.
"Sama itu dilepasin semuanya."
"Iya" kata Fariel.
Langsung kulepasin sate dari tusuknya, dan lalu memotong baksonya kecil-kecil.
"Aaaa Mi" kata Fida, yang membuka mulutnya sambil menunjuk kebakso.
"Bismillahirrahmanirrahim" kata ariel.
"Doa dulu."
Langsung kusuapin bakso, lalu meminta satenya juga untuk masuk kemulutnya.
"Kunyah dulu hingga habis baru makan satenya" kata Fariel.
"Itu masih penuh loh mulutnya."
Lalu malah berhenti mengunyah dan kembali cemberut juga melipat kedua tangannya.
__ADS_1
Aku hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat dia seperti ini hari ini.
"Pelan-pelan makannya" kata Fariel.