Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Tidurnya kompakan


__ADS_3

Adzan Subuh telah terdengar ditelingaku, sedangkan Aya masih membuka matanya lebar-lebar dan asik memainkan bebek-bebekan nya yang ketika ditekan akan bunyi suara bebek, wek wek wek wek.


"Dah Adzan nih" kata Fariel.


"Aya gak mau bobo, malah mainan bebek-bebekannya nih."


"Kalau gitu Om tinggal ya sebentar."


"Aya jangan kemana-mana, disini aja sama bebeknya ya."


"Om mau mandi dulu."


"Gak lama Om mandinya, sama sekalian Wudhu."


"Jangan gerak ya."


"Kalau mau panggil Om, nagis aja yang kenceng oke."


Aya malah ketawa seperti menjawab omonganku.


Aku langsung turun dan mengambil handuk dan kabur menuju kamar mandi buat mandi.


Aku mandi dengan cepat kilat lalu ambil Wudhu dan balik lagi kekamar sebelum memakai celana panjang atau celan trening.


"Duh ponakan Om masih asik aja nih mainan bebek-bebekan nya nih" kata Fariel.


Aku langsung memakainya sarung dan memakai peci buat Shalat.


"ymYuk Aya turun dulu kebawah" kata Fariel.


"Aya mainannya dibawah aja ya, disamping Om."


"Om mau Shalat, oke."


Langsung ku turunkan Aya dibawah disampingku.


"Dah Aya diem disini mainan bebek-bebekan aja ya" kata Fariel.


"Om Shalat dulu sebentar."


Akupun langsung Shalat Subuh ditemani Aya yang asik dengan bebeknya ditangannya hingga aku selesai Shalat, Aya masih tetap asik walaupun sudah beberapa kali menguap tapi matanya masih terbuka lebar.


"Aya ngantuk ya, mau bobo lagi" kata Fariel.

__ADS_1


"Yuk kita kekasur lagi buat bobo lagi."


Langsung kuangkat dan kuletakkan lagi diatas kasur buat tidur lagi.


"Dah sekarang Aya bobo lagi" kata Fariel.


"Om juga mau bobo lagi ini, Om masih ngantuk nih."


"Yuk kita bobo lagi."


Lalu tabok perlahan bokongnya supaya Aya cepet terlelap dalam tidurnya.


Aya tidur dengan memiringkan badannya sambil memelukku.


"Duh lucu bener nih ponakan Om bobo nya" kaya Fariel.


"Kalau nanti aku punya anak seperti ini, pasti hidupku akan bahagia banget."


"Tidur ada yang nemenin dan ada yang bangunin walaupun pake tangisan."


"Maafkan Om jika Om nanti gak bisa dipanggil Ayah oleh Aya seperti yang Mami sering katakan sama Aya."


"Tapi Om akan tetap sayang sama Aya."


"Om bakal jagain Aya seperti anak Om sendiri."


"Sekarang tidurlah ya nyenyak."


Akupun langsung ikutan tertidur sambil memeluk Aya yang sudah terlelap dalam tidurnya.


"Assalamu'alaikum" kata Mami dan Fida.


"Gak ada yang jawab, apa mungkin lagi Shalat kali ya nak Fariel" kata Mami.


"Ya dah masuk aja deh kalau gitu Mi" kata Fida.


"Ya udah ayok" kata Mami.


"Eh malah lagi tidur sambil memeluk cucu Mami."


"Kayaknya dah Sahalat deh Mi" kata Fida.


"Ini aja sajadah nya masih tergelar begini dan masih pake sarung sama peci."

__ADS_1


"Iya, kayaknya" kata Mami.


"Pulas banget tidurnya mereka."


"Seperti Ayah-nya dan anaknya saja, sama persis tidurnya saling memeluk, bener-bener kompak."


"Seperti takut kehilangan dan di tinggal aja."


"Tangannya kenceng bener nih mengangin baju Ayahnya nih, si Aya."


"Apa tadi gak nangis si Aya kak."


"Gak Mi" kata Fida.


"Pas aku keseini malah lagi asik mainan sama Uda."


"Bahkan Mamanya sendiri dicuekin, malah asik memeluk Uda kaya gitu."


"Ohh, ya udah kalau gitu kita keluar aja yuk" kata Mami.


"Viarkan mereka tidur lagi aja."


"Mending masak buatkan makanan dan mandi sana."


"Kakak dah mandi ya Mi" kata Fida.


"Tadi habis dari kamar ini sebelum Shalat Subuh mandi dulu."


"Ya udah yuk kita keluar, tinggalkan aja mereka disini" kata Mami.


"Yaudah, ayok Mi" kata Fida.


"Yuk" kata Mami.


"Tidur yang nyenyak ya cucu Mami" sambil mengusap kakinya Aya.


"Jagain Ayahmu biar gak ada yang ambil."


"Peluk yang erat biar gak lari."


"Dada Aya."


Mami dan Fida pun langsung meninggalkan kamarku.

__ADS_1


__ADS_2