
"Kita ambil roti dulu yuk dibelakang" kata Fariel.
"Biar Aya makan."
"Oti, aem oti" kata Aya.
"Iya, aem oti" kata Fariel.
"Biar makin gendut ni perut Aya."
"Ndut" kata Aya.
"Iya ndut" kata Fariel.
"Nih otinya nih, kita bawa kebelakang yuk, makan dibelakang."
"Heyyy aya gendut kaya bola" kata Ervi.
"Dah mandi ya."
"Jangan sentuh dek" kata Fariel.
"Tanganmu bau bawang."
"Iya tabok aja tantenya yang suka jail dan nakal sama Aya."
"Ante akal" kata Aya, sambil memukul tangannya.
"Iya yang dah wangi iya" kata Ervi.
"Mas pake baju siapa kecil bener, celananya juga kekecilan gitu."
"Kaya paham dan pernah lihat."
"Hayo pake punya siapa hayo."
"Gak tau punya siapa, asal pake aja" kata Fariel.
"Nih gara-gara Aya nih yang gak boleh keluar dan kemana-mana, mandi pun harus dikamar Aya."
"Hahahaha, mana ada motif bunga lagi di kaosnya" kata Ervi.
"Mana ada motifnya" kata Fariel.
"Tuh dikerah kancing kaos mas" kata Ervi.
"Berarti mas pake punya kakak nih baju dan celananya."
"Hahahahahaha mana kekecilan lagi."
"Badan mas kan melar, sedangkan kakak sebelas duabelas sama adek yang kecil."
Kulihat dikerah kaosnya dan ternyata benar ada motif bunga kecil.
"Sialan, pantesan Mami sama Papi tau, ternyata ini toh yang bikin mereka tau dan senyum-senyum tadi" kata Fariel.
"Hahahaha" kata Ervi.
"Lihat Ayahmu ndut pake baju Mamamu tuh."
"Ada bunganya."
"Tapi jalannya gak lehoy kan mas kalau pake kaos itu."
"Ihh sialan ngatain mas lehoy" kata Fariel.
"Gak dong eike masih normal dong ses."
__ADS_1
"Hahahaha, mas lucu" kata Ervi.
"Dah mirip kaya yang disalon itu."
"Tapi celanya lumayan cocok buat mas."
"Keliatan keren kalau pake celana kaya gitu, kependekan tapi keren."
"Hanya kaosnya aja yang bikin lucu."
"Dah ah males dikatain mulu" kata Fariel.
"Lebih baik kita keluar yuk berjemur sambil makan roti."
"Tinggalin Tante biar masak."
"Dada ndut" kata Ervi.
"Dada Tante rese" kata Fariel.
"Hahahaha" kata Ervi.
"Ketawa aja terus" kata Fariel.
"Kebelakang apa kedepan kita."
"Pan" kata Aya, depan maksudnya.
"Oke kita kedepan ya" kata Fariel.
Langsung berjalan kedepan sambil menggendong Aya dan membawa roti.
"Aya pake sepatu ya, biar nanti turun."
"Atu Yah" kata Aya.
"Iya sepatu" kata Fariel.
"Eh cucu Mami dah wangi" kata Mami, yang mencium pipinya.
"I akal" kata Aya.
"Kan Mami mau cium Aya, masa Ayahnya aja yang boleh, Mami gak" kata Mami.
"Sayang Mami" kata Fariel.
Bukannya Mami yang dicium malah pipiku yang disayang.
"Loh kok Ayah yang dicium, Mami dong yang dicium" kata Mami.
"Sayang dulu Maminya" kata Fariel.
Aya langsung mencium pipi Mami.
"Pinter."
"Satu lagi" kata Mami.
Langsung dicium lagi.
"Cucu Mami pinter, tapi pinternya kalau ada Ayahnya doang."
"Yuk sama Mami, gendong Mami."
"Ga au" kata Aya.
"Iya deh yang dah sama Ayahnya gak mau lagi sama yang lain" kata Mami.
__ADS_1
"Nempel terus, gak mau lepas, gak mau ditinggal sama Ayahnya."
"Keluar buat pake baju aja gak boleh."
"Ayahmu lucu tuh pake kaosnya."
"Kaya baju Aya, ada bunganya."
"Hihihihi, baru kali ini ada cowok ganteng keren kekar pake kaos motif bunga."
"Pada ngejek mulu kayaknya sedari tadi" kata Fariel.
"Gak adek gak Mami, sama aja."
"Namanya juga asal comot tadi."
"Daripada ditangisi Aya, ya pake aja lah."
"Mami lihat sepatu Aya gak."
"Tapi keren kok mantu Mami walaupun pake kaos begitu" kata Mami.
"Tetap keren, ganteng nya juga gak hilang."
"Tuh didepan pintu sepatu Aya."
"Aya mau jalan-jalan ya."
"Iya, mau jalan-jalan berjemur sambil makan roti" kata Fariel, dengan suara anak kecil.
"Ya dah Mi aku mau kedapan."
"Ya dah sana" kata Mami.
"Cucu Mami jangan nakal ya sama Ayahnya ya."
"Gak dong, kan Aya anak baik yang cantik, jadi gak akan nakal sama Ayah" kata Fariel.
"Dada Mami" yang melambaikan tangal Aya.
"Dada Aya" kata Mami, ikut melambaikan tangannya.
Langsung ku berjalan kedepan dan memakaikan sepatu buat Aya, dan aku juga pake sandal.
"Sekarang pake sepatu dulu, baru nanti turun" kata Fariel.
Yang memakai kan sepatu dikaki Aya.
"Huh pinter anak Ayah ini."
"Dah selesai pake sepatunya."
"Sekarang turun dan jalan."
Langsung kuturnkan dan ku gandeng kedepan ketempat yang terkena sinar matahari pagi.
"Dah disini aja, ini rotinya dimakan."
"Pake tangan manis dong."
"Tangan yang ini, yang kanan."
Aya langsung mengambil roti pake tangan kanannya.
"Kalau makan harus duduk yang manis juga" kata Fariel.
"Duduk disini samping Ayah sambil makan roti."
__ADS_1
"Nah pinter."
Ku tersenyum melihat Aya makan roti walaupun gak duduk dengan tenang, kadang berdiri jalan dan duduk lagi sambil memainkan kakinya dan tangannya juga terkadang menyentuh sepatu nya yang bunyi suara cit cit cit kalau dibawa jalan sambil tertawa dan makan roti membuatku bahagia melihatnya kembali ceria.