
Setelah mandi lalu melaksanakan kewajibannya sebagai seorang Muslim. Dan setelah itu baru ganti pakaian untuk menepati janji hari ini untuk menemani Ervi ke Dokter.
"Ih, baju apaan kekgini" kata Fariel.
"Ini bukannya baju punya Fida ya" sambil mengangkat dengan kedua tangannya.
"Wah kacau ini, masa harus pakai pakaian seperti ini untuk nemenin, mau ditaro mana nanti mukaku, mana warnanya juga begini lagi.
"Ini celana siapa lagi, robek-robek begini, kaya celana kurang bahan aja, mana pas ditengah bolongnya, masa mau kelihatan ini paha."
"Wah harus protes nih, kalau enggak bisa malu total nih."
Lalu aku langsung keluar dari kamar dengan masih menggunakan sarung dan baju koko untuk menemui Ervi, karena dia yang menyediakan pakaian buat ganti.
"Bun, Bunda" kata Fariel.
"Bun."
"Apa sih Mi" kata Ervi.
"Kenapa masih pakai pakaian itu."
"Mau nemenin dengan pakaian seperti itu."
"Lah yang disiapkan aja pakaian entah untuk siapa, bukan punyaku, makanya belum ganti" kata Fariel.
"lebih baik seperti ini aja, enggak papa sarungan."
"Dikira mau ngisi ceramah apa disana nanti" kata Ervi.
"Buruan ganti pakai pakaian yang itu, itu untuk Sami kenakan."
"Ihh ogah" kata Fariel.
"Mau ditaro mana mukaku nanti."
"Taro dilutut" kata Ervi.
"Buruan dipakai sana, kalau enggak aku bakal ngambek terus nih nanti sama Sami, enggak bakal mau bicara sama Sami lagi."
__ADS_1
"Emang harus gitu" kata Fariel.
"Harus, kalau enggak bakal ngambek nih dari sekarang" kata Ervi.
"Yang lain deh yang lain, jangan yang itu ya" kata Fariel.
"Berasa enggak nyaman loh."
"Tapi aku maunya itu titik" kata Ervi.
Tiba-tiba Fida datang sambil menggendong Aya.
"Udah lakuin aja permintaannya" kata Fida.
"Mungkin aja dia lagi isi tuh perut, siapa tau lagi ngidam tuh."
"Ingat berani melakukan berarti harus berani bertanggung jawab atas perbuatannya."
"Iya kalau beneran, kalau hanya sekedar iseng buat ngerjain gimana" kata Fariel.
"Anggap aja lagi belajar menjadi seorang suami yang siap siaga dan mau melakukan apa saja untuk istrinya" kata Fida.
"Nanti kalau Mama yang lagi ngidam bakal minta yang lebih dari itu, siap aja dengan mentalnya."
"Jangan deh jangan" kata Fariel.
"Masa kalian tega sama Sami sendiri sih."
"Bunda sama Mamamu suka benar kalau bikin Ayah malu" yang ke Aya.
"Kalau enggak mau, berarti Ayah harus belajar jadi seorang istri yang mengandung terus melahirkan" kata Fida.
"Jangan maunya yang enak aja, maunya kalau dah siap siaga langsung macam singa kelaparan aja."
"Perasaan yang singa salah deh, bukannya kalian berdua ya" kata Fariel.
"Marahin aja tuh Ayah yang suka bikin Bunda sama Mama marah" kata Fida.
"Jangan mau, kan Aya anak Ayah yang paling sayang sama Ayah, jadi enggak bakalan nakal sama Ayah" kata Fariel.
__ADS_1
"Cium dulu pipinya."
"Hemm bau wangi, bau bedak, Aya abis mandi, iya."
"Andi ma Mama" kata Aya.
"Dah sana buruan, keburu kesorean ntar" kata Fida.
"Tuh lihat, murung tuh."
"Iya deh iya" kata Fariel.
"Emmuachh" yang menciun pipi Fida, dan Aya bertepuk tangan dengan ceria.
"Ih, suka banget gitu didepan anak" kata Fida.
"Biarin, kan anak sendiri yang lihat, biar anak tau kalau Ayah sama Mamanya itu saling sayang, yakan anak Ayah" kata Fariel, Aya kembali ketawa.
"Tuh Aya aja paham, masa Mamanya kagak."
"Emmuah emmuachh emmuachh emmuachh."
"Ihh" kata Fida, sambil memukul pundakku.
"Dada Aya" kata Fariel.
"Ayah mau ganti baju, mau nyenengin Bunda, biar ketawa ceria."
"Dada."
"Dah buruan sana" kata Fida.
"Oke sip my honey, princess, sweetheart" kata Fariel.
"Tunggu pangeran datang ya, Bidadari."
"Huh, dasar kumat" kata Fida, sambil geleng-geleng kepala.
"Lihat tuh Ayahmu lagi kumat entah apaan."
__ADS_1