
"Papi coba hubungi Pak Sal dan Pak Idin, mereka kan dari desa yang sama seperti nak Fariel, pasti tau tentang harga bangun rumah dan material" kata Mami.
"Besok Papi akan kesana menemuinya" kata Papi.
"Ya sudah kalau gitu" kata Mami.
"Apa Aya dah dikasih makan kak."
"Belum Mi, pulas tidurnya dikamar Uda" kata Fida.
"Ada bibi yang jagain kok."
"Tadi sih dah makan roti sama sosis dan minum susu juga kok Mi."
"Cucu Mami itu ya, gak mau lepas sama kamu sekarang nak" kata Mami.
"Kayaknya bakal jadi saingan berat adek nih nanti."
"Harus siap-siap aja bakal dimarahin Aya karena merebut Ayahnya."
"Itu gak bakal terjadi" kata Ervi.
"Masa kalah sama Aya yang masih kecil."
"Bukan kalah tapi ngalah" kata Papi.
"Gak mau ngalah aku kalau urusan mas" kata Ervi.
"Hemmmm" kata Fida.
"Kalau adek kan sudah dewasa dah ngerti dengan hal begituan dan pasti bisa ngalah demi ponakan" kata Fariel.
"Kalau adek kan masih bisa diajak bicara, kalau Aya gimana bisa ngerti dengan omongan kita, yang tau hanya nyaman dan main."
"Bener banget apa kata Uda" kata Fida.
"Berarti adek harus banyak-banyak bersabar nanti ya" kata Mami.
"Ingat hidup harus butuh perjuangan."
"Masa dulu aja mampu, masa sekarang enggak sih."
"Kuncinya sabar."
"Tapi kalau sabar mulu gak ada habisnya gimana" kata Ervi.
"Kapan adek bisa sama mamasnya."
"Tahun gajah nelor ayam melahirkan" kata Fida.
"Hahahahahaha" ketawa Fida, Mami, dan Papi.
Sedangkan aku hanya ketawa kecil dengan menggelengkan kepala.
"Ihhh kakak mah jahat sama adek, gak ada ngasih dukungan, buat semangat."
"poapi sama Mami juga ikut-ikutan ketawa."
"Mas kenapa hanya diem aja."
"Kakak kan dukung anak kakak si Aya" kata Fida.
"Masa dukung adek, anak kakak sendiri malah dibiarkan."
"Mas jangan diem aja dong" kata Ervi.
"Mas harus apa" kata Fariel.
"Mas nyimak aja, males ikutan debat kalian."
"Cukup diem, nyimak, kalau ada yang lucu ya ikutan ketawa."
"Ih mas mah dah gak sayang kayaknya sama adek lagi sekarang" kata Ervi.
"Dah diambil rasa sayang masmu buat Aya" kata Fida.
__ADS_1
"Kan Aya mau masmu jadi Ayahnya."
"Ih gak bakal terjadi mas jadi Ayahnya Aya" kata Ervi.
"Mas hanya boleh jadi milikku bukan milik kakak dan Aya."
"Aduh aduh, cemburu nya sampe begitu ya, ma ponakan gak ada ngalah nih" kata Fariel, yang memberantakkan rambutnya.
"Ih mas mah, jangan di berantakin rambut adek" kata Ervi.
"Mas itu sebenarnya milik adek apa bukan sih."
"Siapa bilang aku milik adek" kata Fariel.
"Mas kan gak pernah ngomong kaya gitu."
"Hahahahaha" kata Fida.
"Berarti kakak ada lowongan dong hahahaha."
"Lowongan apa emang" kata Mami.
"Lowongan buat jadi istrinya dan jadi Ayah buat Aya" kata Fida.
"Hahahahahaha" ketawa Fida, Mami, dan Papi.
Ervi langsung pasang muka.
"Ampun dek ampun" kata Fariel.
"Atut" dengan kedua tangan didadaku.
"Hahahahahaha, hahahahahah, hahahahaha" ketawa Papi, Mami, dan Fida.
"Mas itu hanya punya Bapak dan Mamakku saja sekarang kalau dibumi, bukan punya Papi, Mami, Aya, kak Fida dan juga Ervida" kata Fariel.
"Kalau yang punya Mas atas hak Mas dan segalanya itu hanya Tuhan yang punya."
"Takut akuuuu, ihh serem" dengan menaikkan kedua kakinya ke bangku dan menggosokkan tangannya di kaki.
"Hhahahahaha, hahahahahaha, hahahahahaha" kata Papi, Mami, dan Fida.
"Lucu kamu Da" kata Fida.
"Kaya suami takut istrinya yang lagi ngamuk" kata Mami.
"Dah dong jangan bikin takut dong, ngeri tau ah, kalau adek marah" kata Fariel.
"Senyum genitnya mana senyum genitnya."
"Hahahaha, hahahaha, hahahaha" (Papi, Mami, dan Fida.
"Kaya ke bocah aja kamu Da" kata Fida.
"Mata genitnya mana, mata genitnya" kata Mami.
"Hahahaha, hahahaha, hahahaha" kata Papi, Mami, Fida, dan Fariel.
"Duh sakit perut ku" kata Fida.
"Kebanyakan ketawa nih."
"Hahahahahaduh."
"Senyum genitnya mana nih, senyum manjanya" kata Fariel.
Ervi malah pasang muka.
"Suruh senyum kok malah manyun" kata Fariel.
"Ngantuk lihat cemberut mu dek" sambil memguap.
__ADS_1
"Pulang ahh, apa kekamar ya ke Aya."
"Ihh sini dulu, iya nih adek senyum" kata Ervi.
"Dah mulai nih kayaknya nih" kata Fida.
"Daripada jadi nyamuk mending kekamar lihat Aya ah."
"Papi ikut" kata Papi.
"Mami juga dong, masa mau jadi obat nyamuk sendirian" kata Mami.
"Akupun ah" kata Fariel.
"Eits mas disini sebentar" kata Ervi.
"Nih adek senyum."
"Gak usah senyumnya buat nanti saat ada tamu datang diacara kita nanti" kata Fariel, bisikku.
"Mas mau pulang kerumah malam ini."
"Jaga hatinya baik-baik."
Ervi yang mendengar bisikan ku langsung tersenyum bahagia.
"Jangan senyum kaya gitu, nanti gak bisa tidur" kata Fariel.
"Dada, mas pulang ya."
"Mau cium tangan gak nih, jangan melamun."
"Eh iya" kata Ervi.
"Mas pulang, mau cium tangan gak" kata Fariel.
"Iya dong" kata Ervi.
Yang langsung mencium tanganku.
"Dada bidadari bumi" kata Fariel.
"Mas emmmmuachhh" kata Ervi, lalu melemparkan ciumannya padaku.
"Hap" kata Fariel, yang menangkap.
"Buat nanti dirumah sebelum tidur" yang memasukkan kedam kantong celana.
"Hahaha, mas mah ada aja" kata Ervi.
"Ini nih yang bikin adek makin sayang sama mas."
"Bikin kangen terus."
"Jangan begadang mikirin kata-kata mas tadi" kata Fariel.
"Jangan senyum-semyum sendiri kalau bukan didepan nanti, biar senyum manisnya gak larut duluan kaya gula disiram air panas langsung larut."
"Mas gombal ah" kata Ervi, dengan senyum dan ketawa kecil.
"Dah ya nih tangkap" kata Fariel.
"Emmuachh" lalu melemparkan pada Ervi.
Ervi menangkapnya.
"Buat nanti juga sebelum tidur" kata Ervi, yang juga memasukkan kedam kantong baju nya.
"Dada" kata Fariel.
"Yang rajin beres-beres nya, masakannya juga ada kemajuan dan enak."
"Iya mas makasih" kata Ervi.
"Dada juga."
__ADS_1
Dan akun langsung meninggalkan ruang makan menuju kamarku.