Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Histeris


__ADS_3

Sesosok sorban putih menghampiri ku dan mengatakan sesuatau padaku saat aku sedang bingung terdiam sendiri dibawah pohon besar yang rindang.


"Kembalilah"


"Tempatmu bukan disini."


"Jangan kau abaikan kasih sayang mereka padamu."


"Pulanglah."


"Ada banyak yang menunggumu pulang."


Pulang kemana ucapku.


"Pulang ke duniamu itu."


"Ini bukan duniamu, bukan dunia manusia."


"Aku percayakan istri dan anakku padamu."


"Bahagiakanmereka."


"Aku yakin kamu bisa melupakan deritamu saat ini."


"Bukalah lembaran baru."


"Dan pulanglah."


"Lindungi anak dan istriku, aku ikhlas kan mereka jika bersamamu."


"Jangan larang jika nanti dia memanggilmu ayah, karena aku yang memintanya."


"Emang aku ada dimana, kenapa dia bilang aku berada didunia lain dan ini bukan dunia manusia."

__ADS_1


"Pulanglah, jangan berdiam disini."


"Mereka menantimu pulang."


"Mereka menangisi dirimu."


"Segeralah pulang, jangan buat mereka menghabiskan air matanya karena mu."


"Pejamkan matamu, dan ucapkan aku akan pulang."


"Abang pulang ya" sesosok anak kecil.


"Aku titip Papi Mami disana."


"Abang jangan buat kecewa."


"Abang harus janji sama galang, kalau abang nanti pulang harus bahagiakan mereka semua, termasuk kakak aku yang paling bawel dan cerewet."


"Abang pulang ya, ini bukan waktunya abang ada disini."


"Baiklah aku pulang" lalu memejamkan mataku.


Ketika Nama sedang menangis menggenggam tanganku, di situlah aku tersadar dengan hembusan nafas yang begitu keras sampai membuat yang lain langsung panik lagi karena melihat ku seperti ini yang dikiranya mengalami hal aneh apalagi dengan detak jantung yang begitu kencang, bahakan terlihat dilayar monitor yang begitu cepet gelombang berjalan bahkan angkanya juga begitu jauh dari kata normal.


"Dokter, Dokter" ucapan mereka yang memanggilnya Dokter.


Sedangkan Mama dan Mami yang melihat ku langsung panik dengan menangis keras.


"Anak Mama."


"Mad ini mama."


"Tuhan apa yang sebenarnya kau lakukan pada anakku, lebih baik aku saja jangan anakku" dengan berteriak histeris.

__ADS_1


"Nak ini Mami, ini Mami" yang menangis histeris.


"Mama jangan begitu, tenang Ma, biarkan Dokter yang menangani, Mama tenang" kata Bapak.


"Mama gak bisa tenang, lihat anak Mama, lihat" kata Mama, dengan berteriak sambil menangis.


"Mami gak bolah gitu, Mami tenang" kata Papi.


"mlMami lebih baik mati, Mami gak sanggup melihatnya seperti ini" kata Mami.


"Mami gak ingin kehilangan anak laki-laki lagi."


"Lebih baik Mami mati" dengan berteriak.


Sedangkan Ervi dan Fida hanya bisa menangis karena melihat Mama dan Mami nya sampai seperti ini, bahkan untuk pertama kalinya mereka melihat Mami seperti ini tak seperti waktu kehilangan Galang dulu.


"Ayok keluar, biarkan Dokter menanganinya" kata Papi.


"Aku akan tetap disini, sampai kapanpun sampai matipun Mami siap" kata Mami.


"Mama jangan egois ya Ma, kita keluar, ada Dokter yang sedang menanganinya" kata Bapak.


"Gak, gak akan, Mama gak akan menginjakan kaki keluar dari ruangan ini sampai kapanpun jika anak kita belum sembuh, bahkan jika anak Mama meninggalkan Mama, Mma juga gak akan keluar" kata Mama.


"Mama ngomong apa sih, Mama jangan begitu" kata Bapak.


"Lihat banyak Dokter yang menanganinya, kita harus keluar sekarang kalau mau anak kita baik-baik saja dan segera sembuh."


"Mami jangan pernah berucap kata seperti itu lagi, sekarang biarkan para Dokter menanganinya, kalau Mami ingin lihat nak Fariel kembali sehat seperti semula" kata Papi.


"Ayok."


Dengan bujuk rayu, akhirnya Mami dan Mama pun keluar dari kamar, begitupun Ervi dan Fida yang juga sudah keluar dahalu karena takut melihat kondisi ku yang seperti itu saat membuka matanya.

__ADS_1


__ADS_2