Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Saling usil


__ADS_3

Malam hari setelah makan malam bersama keluarga, lanjut dengan ngobrol bersama sambil nonton acara di TV ada yang duduk ada yang ber selonjoran kaki dan ada juga yang sambil tiduran.


"Nak tugas yang kemarin gimana" kata Papi.


"Udah aman Pi, tinggal di tanda tangani aja sama Papi, dah kucek semuanya, dan uang yang kemarin dipake juga sudah mereka kembalikan walau masih kurang sih Pi" kata Fariel.


"Ooh bagus kalau gitu, oh iya kemarin Papi dengar katanya kamu mau ngasih sesuatu sama mereka ya" kata Papi.


"Bonus tambahan aja kok Pi, asal kerjaan mereka semuanya bisa membuat perusahaan makin berkembang dan mendapat banyak keuntungan, jadi akan kukasih mereka bonus, cuman masih mikir bonus nya apa yang kira-kira pas buat mereka" kata Fariel


"Mami setuju itu" kata Mami.


"Ohh gitu, Papi setuju sama kamu, sapa tau dengan adanya hal seperti itu akan membuat mereka jadi makin semangat kerja dan giat bekerja" kata Papi.


"Kira-kira bonusnya apaan pi" kata Fariel.


"Mungkin bisa kasih mereka kendaraan, gak harus mobil, motor juga boleh kalau menurut Papi, emang rencana berapa orang yang bakal kamu kasih bonus" kata Papi.


"Rencana hanya dua orang atau tiga sih Pi, tapi takut nanti gak adil dan malah buat yang lain jadi malas kerja, karena tak dapat apa-apa" kata Fariel.


"Kalau gitu semuanya aja, tapi beda-beda bonusnya" kaya Mami.


"Takut kebanyakan Mi, sama takut kalau nanti banyak yang gak setuju dengan usulku ini" kata Fariel.


"Kalau Papi sih setuju aja, apalagi kan tahun ini lagi musim kopi, dan perusahaan hanya beberapa tahun sekali ngasih bonusnya, jadi mungkin sekarang waktu nya kita ngasih bonus kemereka, sesuai dudukan dan jabatan mereka" kata Papi.


"Bagus juga ide Papi," kata Mami.


"Jadi nanti karyawan biasa hanya dapat bonusnya pun bisa jadi hanya berupa uang tambahan."


"Terserah sama Papi dan Mami aja, aku ngikut aja, sebenarnya kemaren hanya bonus biasa yang kuambil dari uangku sih Pi, Mi, kan gaji aku yang Papi dan Mami kasih lumayan banyak, jadi biar mereka makin betah dan semangat aku ambil dari uangku buat mereka yang aku pilih sebagai karyawan teladan" kata Fariel.


"Jangan dong, uang kamu ditabung aja, ini kan perusahaan Papi jadi nanti Papi yang urus buat kasih mereka bonus, ya kan Pi" kata Mami.


"Iya dong Mi, kalau gitu nanti Papi yang urus motornya, kamu tetap fokus sama kerjaan kamu aja" kata Papi.


"Iya Pi" kata Fariel.


"Ini Pak, Bu minumnya" kata Diah, yang memberikan secangkir teh.


"Makasih Bi" kata Mami.


"Iya Vu, kalau gitu saya kebelakang lagi Bu" kata Diah.


"Apa ada yang perlu saya biarkan lagi."


"Bi, jus alpukat" kata Ervi.


"Baik, nanti Bibi buatkan" kata Diah.


"Aa ada lagi, Aden mau Bibi buatkan minum."


"Au buat sendiri aja Bi, Bibi buatkan untuk yang lain aja" kata Fariel.


"Baik Den, kalau gitu Bibi kebelakang dulu" kata Diah


"Iya Bi, silahkan" kata Fariel.


"Aku juga mau kebelakang dulu ya Pi Mi, mau minum, haus."


"Dek ikut" kata Fida.


"Ih manja, mentang-mentang lagi hamil" kata Ervi.


"Iri" kata Fida


"Bilang bos" ucap Mami, Papi, Fariel, sedangkan Fida hanya tersenyum.


"Iih, jadi sekarang gak ada nih yang belain adek nih, Mami, Papi sama mas pun dah gak peduli sama Ervi lagi" kata Ervi.


"Kata siapa" kata Mami.


"Mami masih sayang sama kamu nak, kan biasanya kamu yang suka jail ke kakak kamu, jadi gantian biar gak kamu mulu yang jail."


"Yuk dek kita kebelakang, aku dah haus" kata Fida.


"Ayok" kata Fariel.


"Adek gak ikut kan."


"Gak mau, adek mau nonton aja" kata Ervi.


"Bantu kakak jalan" kata Fida.


"Ya udah ayok ade bantu" kata Fariel, yang langsung menggandeng tanganya di lengan.


"Pelan-pelan aja kak."


"Iya" kata Fida.


"Kakak pasti capek tiap hari naik turun tangga, kenapa kakak gak tidur dikamar bawah aja, perut kakak dan besar gini, kakak harus gak boleh banyak gerak" kata Fariel.


"Makasih dek pengertiannya, tapi kakak suka kamar kakak sendiri, mungkin karena banyak kenangan dikamar itu, makanya kakak lebih suka dikamar itu" kata Fida.


"Lqgian juga ada lift, kalau kakak cape, tinggal pake lift."


"Iya sih kak, tapi kan kakak cape juga dong walaupun pake lift" kata Fariel.


"Sekarang kakak duduk aja, bair ade buatin, kakak mau apa."


"Jahe aja, tapi pake gula merah" kata Fida.


"Oke sip, tunggu disini, adek buatin untuk kakak" kata Fariel.


"Iya" kata Fida.


Akupun langsung merebus air untuk membuat minum, dan mengiris gula merah.


"Aden mau buat apa, apa perlu Bibi bantu" kata Diah.


"Hanya buat minuman jahe kok Bi buat kaka, Bibi lanjut aja buat jusnya" kata Fariel.

__ADS_1


"Iya den, ini juga udah mau siap, tinggal masukin ke gelas aja" kata Diah.


"Yang lain pada kemana Bi, biasanya ikut ngumpul nonton bareng kami" kata Fariel.


"Itu Bi Ani sama Bi Sum lagi nonton diruangan samping, kalau kami nonton disana gak enak kalau malam nonton disana Den, lagian juga sekarang dah ada TV kok di belakang, kemarin Ibu yang bawa, katanya biar bisa nonton sendiri sesuai selera, kalau didepan kan tontonannya beda Den, kami sukanya kan tau sendiri Den para Ibu-ibu" kata Diah.


"Iya juga sih Bi, kami mana suka anak muda dengan sinetron atau acara dangdut atau berita, pasti acaranya yang kami tonton ya acara anak muda" kata Fariel.


"Tapi sekali-kali jangan nonton dibelakang terus, ngumpul kaya biasa didepan, mereka juga gak larang kalian gabung nonton didepan."


"Iya sih Den, Bapak sama Ibu dari dulu sama kita gak pernah membeda-bedakan Den, kalau lapar mau makan tinggal makan tanpa harus disuruh, mau nonton tinggal nyalain TV, selama kami kerja disini belum pernah kami kena marah sama mereka, mereka baik banget sama kami, yang menguliahkan anak-anak kami dikampung bahkan juga udah ada ya nikah dan dikasih modal buat buka usaha" kata Diah.


"Anak bibi berapa" kata Fariel.


"Dua Den, yang cowok dan punya anak satu, kalau yang cewek baru masuk kuliah, sama kaya anak Bi Sum juga" kata Diah.


"Kalian masih satu kampung" kata Fariel.


"Iya Den, kami sekampung, termasuk Bi Ani juga, hanya sedikt jauh dari rumah kami" kata Diah.


"Emang anak Bi Ani berapa, kayaknya Bi sumi baru beberapa hari ini dia disini juga" kata Fariel.


"Sama Den dua, hanya laki semua dan masih kuliah, kalau Bi Sumi cewek semua, tapi dah nikah belum lama ini, yang satunya baru kuliah hampir setahun sama kek anak saya juga" kata Diah.


"Kalau Bi Sumi, dia kerja dirumah yang satu lagi Den, hanya takut kalau disana bakal kesepian karena sendirian, makanya disuruh kemari juga"


"Ohh, jadi Bi Sumi tinggalnya dirumah yang lain, aku baru tau" kata Fariel.


"Iya Den" kata Diah.


"Kalau gitu saya duluan ya den mau ngantar ini buat Ervi."


"Iya Bi silahkan" kata Fariel.


Akupun langsung mengambil gelas dan memasukkan beberapa sendok bubuk jahe ke dalam teflon dan juga gula merahnya, lalu menuangkan air panasnya ke dalamnya, lalu kuaduk sampai larut gulanya, setelah itu ku masukkan kedalam gelas dan disaring dengan saringan teh. setelah selesai lalu kubawa menuju kakak berada.


"Minuman dah siap, mau minum dimana" kata Fariel.


"Disana aja sambil nonton lagi" kata Fida.


"Ya udah ayok" kata Fariel.


"Kaka pegangannya pada pundak adek aja ya, biar adek bawa gelasnya pakenampan."


"Iya dek" kata Fida.


"Yuk jalan pelan-pelan aja" kata Fariel, yang sambil berajalan membawa nampan ditangan.


"Bisa kan."


"Bisa kok dek, gak pegangan pun kakak masih sanggup buat jalan sendiri, tapi kayaknya dedeknya lagi pengen dekat sama pamannya, jadi sedikit manja nih" kata Fida.


"Sini biar Bibi aja yang bawa Den, Aden nuntun kak Fida aja" kata Diah.


"Gak usah Bi, ini juga bisa kok" kata Fariel.


"Bibi istirahat aja, atau gabung sama yang lain."


"Bibi tenang aja, ini aku yang mau kok Bi, Bibi istirahat aja, Bibi belum berenti istirahat dari tadi" kata Fida.


"Baik nak Fda, kalau gitu Bibi kebelakang" kata Diah.


"Iya Bi" kata Fida.


Kami pun lanjut jalan sampai didepan TV.


"Mau duduk diatas apa dibawah, biar sambil selonjoran kaki" kata Fariel.


"Dibawah aja dek biar enak" kata Fida.


"Ya udah ayok, pelan-pelan" kata Fariel.


"Duh manjanya, minum dibuatin dibawain dituntun pula, diborong langsung kak" kata Ervi.


"Harus dong, biar adek gak kebagian" kata Fida.


"Tumben mas minumnya sama kek kakak" kata Ervi.


"Biar serasi yakan dek" kata Fiida.


"Lagi pengen aja, masa tiap malam minumnya susu, bangun, sarapan susu, kan sekarang dah gak bayi lagi, jadi ya minumnya harus ganti-ganti" kqta Fariel.


"Mas ngejek adek ya" kata Ervi.


"Hahahaha, nyadar rupanya dek" kata Fida.


"Eh gak gitu maksudnya, duhhh salah ngomong" kata Fariel.


"Gimana ya ngomongnya ya."


"Bilang aja mas ngejek adek masih kaya anak bayi kan" kata Ervi.


Sedangkan Fida malah senyum-senyum dan ketawa, Papi Mami pun yang melihat ini ikutan senyum.


"Makanya jangan minum susu terus, gak pagi gak siang gak malam" kata Fida.


"Tuh Mami yang nyuruh sebelum tidur minum susu dulu, tapi kalau siang gak pernah ya kak minum susu" kata Ervi.


"Kan buat pertumbuhan, ya gak Mi" kata Fida.


"Iya kak" kata Mami.


"Emang aku masih kecil apa, masih dalam pertumbuhan" kata Ervi.


"Iyalah, suka manja, suka minta yang aneh-aneh dan nyuruh sesuka hati" kata Fida.


"Juga buat pertumbuhan gigimu."


"Emang aku gak punya gigi apa, ini tu dah lengkap gigiku nih lihat" kata Ervi.


"Hih, giginya ijo" kata Fida.

__ADS_1


"Biarin, kan habis minum jus pokat" kata Ervi.


"Udah-udah debatnya, Papi aja kalau malam masih minum susu, ya kan Mi" kata Papi.


"Hah" kata Mami.


"Iya Pi."


"Tuh Papi aja masih suka minum susu kalau malam" kata Ervi.


"Tapi susunya kan beda, gak kaya yang kamu minum" kata Fida.


"Emang beda ya Pi" kata Ervi.


"Bedalah, yakan Pi" kita Fida.


"Udah-udah debat nya, Mami lagi nonton TV ini, bukan nonton kalian debat" kata Mami.


"Lihat tuh nak Fariel aja dari tadi diem, kalian malah asik bahas itu mulu."


"Kan ini juga gara-gara Mas tadi" kata Ervi.


"Iya deh mas minta maaf, mas gak ada maksud buat ngejek atau apalah gitu, maafin mas ya" kata Fariel.


"Oke, aku maafin tapi ada saratnya" kata Ervi.


"Apaan saratnya" kata Fariel.


"Antarin aku kuliah pake mobil, sama jemput juga" kata Ervi.


"Ya udah besok mas antarin kamu kuliah" kata Fariel.


"Tapi selama seminggu" kata Ervi.


"Gak janji kalau itu, kalau mas harus datang ke kantor cepat gimana" kata Fariel.


"Berarti bayarnya double" kata Ervi.


"Ih enaknya" kata Fida.


"Biarin" kata Ervi.


"Ya udah iya, mas turuti kemauan kalian semua, tenang aja, adek mau apa bakal mas lakuin, kakak juga mau apa bakal adek lakuin juga biar adil, jadi sekarang kita kekamar dan tidur ya, dah malam besok kamu kuliah, dan kakak juga harus jaga kesehatan, gak boleh begadang" kata Fariel.


"Iya mas, tapi setelah abis dulu ini jusnya" kata Ervi.


"Iya adek kakak yang baik, kakak mau kekamar dan tidur" kata Fida.


"Ya udah, kalau gitu sekalian biar adek bantu kakak sampai kamar kakak, sama bawain minum kaka" kata Fariel.


"Tapi aku habisin dulu ini bentar."


"Iya dek" kata Fida.


"Dek nitip ya, gelasnya" kata Fariel.


"Iya mamas, nanti adek bawa kedapur" kata Ervi.


"Makasih adekku yang baik" kata Fariel, sambil berdiri lalu meberantaki rambut Ervi.


"Mas iih, kenapa sekarang suka banget berantakin rambut adek sih" kata Ervi, dengan cemberut dan mulut dimanyunkan.


"Lucu aja kalau lihat kamu manyun kaya gitu" kata Fariel.


"Yuk kak."


Lalu akau menuntut sambil membawa gelas menuju kamar kakak diatas, sampai dikamar atas langsung kuletakkan gelasnya di meja.


"Kaka tidur yang nyenyak ya, adek juga mau tidur" kata Fariel.


"Iya dek" kata Fida, yang merebahkan badannya,


lalu aku menyelimuti dan meletakkan boneka besar di sampingnya.


"Makasih adek kaka yang ganteng."


"Kalau ada apa-apa telpon adek aja ya, HP adek selalu siap buat nerima telpon kaka, pasti adek bakal langsung angkat, nanti ku besarin volumenya biar kalau ada panggilan langsung dengar."


"Iya dek, makasih" kata Fida.


"Iya sama-sama Kak, Assalamu'alaikum, semoga mimpi indah" kata Fariel.


"Adek juga mimpi indah ya, Waalaikumsalam" kata Fida.


Lalu aku keluar menuju kamarku untuk tidur.


"Mami seneng deh Pi, lihat nak Fariel bisa adil sama mereka" kata Mami.


"Papi juga, jadi papi sedikit bisa tenang kalau nanti kita harus pergi keluar kota, masih ada nak Fariel yang bisa menjaga mereka berdua" kata Papi.


"Oh ya Pi, apa Mami boleh minta sesuatu sama Papi" kata Mami.


"Apa Mi" kata Papi.


"Kalau mobil Mami buat nak Fariel gimana, apa kita kasih kado yang baru aja buat nak Fariel" kata Mami.


"Terserah sama mami aja, emang dia mau kalau kita kasih nanti" kata Papi.


"Kan Mami tau sendiri kalau nak Fariel gak suka dikasih sesuatu sama kita dengan barang mahal, dia lebih suka pake uang sendiri buat beli sesuatu yang ia pingin."


"Iya juga ya Pi, nak Fariel gak kaya yang lain, pasti kalau orang lain dikasih mobil langsung seneng banget, tapi dia malah bilang uangnya ditabung aja buat hari tua, gak usah beliin hadiah buatku segala, aku lebih suka beli dengan hasil kerjaku sendiri" kata Mami.


"Itu juga yang buat Papi bingung, sebenarnya Papi dah kepikiran mau ngasih sesuatu buat dia, tapi dia bilang pasti bakal seperti itu nantinya" kata Papi.


"Apalagi di garasi banyak mobil dan motor, pasti bakal dia bilang buat apa beli mobil kalau gak dipake, kan sayang duitnya, seperti waktu itu."


"Jadi kita kasih apa dong Pi buat nak Fariel" kata Mami.


"Besok aja deh kita pikirin Mi, sekarang tidur aja, dah malam" kata Papi.


"Yaudah ayok Pi" kata Mami.

__ADS_1


Mami pun langsung mematikan tvnya dan masuk kedalam kamar sama Papi buat istirahat.


__ADS_2