
Menceritakan masalalu saat Ervi sedang hamil.
Ku terbangun dipagi dengan suara dari Ervi yang seperti sedang muntah-muntah dikamar mandi dan membuatku menjadi bingung sendiri.
"Kenapa" kata Fariel, yang langsung menghampirinya.
"Apa sakit" sambil memijit lehernya.
"Apa kamu masuk angin."
Hanya gelengan saga sebagai jawabannya.
"Muka kamu pucet banget loh" kata Fariel.
"Apa mau kupanggilkan Dokter untuk kesini."
"Enggak usah" kata Ervi, dengan pelan.
"Aku enggak papa kok" lalu kembali dengan muntahnya.
"Tuh kan muntah lagi, sampai kamu pucet gitu" kata Fariel.
"Sami takut kamu terjadi apa-apa."
"Kamu juga lemas gitu."
"Apa mau kubuatkan sesuatu, makanan atau minuman."
"Atau mau kubuatkan jahe hangat."
"Teh hangat aja Mi" kata Ervi.
"Yang tawar aja."
"Ya dah sekarang kamu duduk dulu dan kembali tiduran" kata Fariel.
Dan dijawab dengan anggukan kepala, lalu kubantu memapah jalannya dan merebahkannya lalu menyelimutinya.
"Sebentar ya, biar Sami buatkan minum dulu" kata Fariel.
"Apa mau sekalian obatnya juga."
"Enggak usah Mi, minum aja" kata Ervi.
"Ya dah, sebentar" kata Fariel.
Langsung ku keluar dari kamar menuju dapat dengan langkah yang cepat.
__ADS_1
Didapur.
"Lagi ngapain Nak" kata Mami.
"Hah" kata Fariel, yang sedang mengambil teh dilemari
"Mau buat minum, haus" kata Mami.
"Ini tadi Ervi minta dibuatkan minum" kata Fariel.
"Lagi muntah-muntah, enggak tau kenapa."
"Ya dah sini biar Mami bantu" kata Mami.
"Enggak usah Mi" kata Fariel.
"Ini hanya teh tawar hangat kok."
"Ya dah nanti pagi kamu antarkan ke Dokter buat chek kondisinya" kata Mami.
"Cheknya jangan ke Dokter biasa, tapi ke Dokter Obgyn."
"Baik Mi, nanti kuantarkan kesana" kata Fariel.
"Ya dah sana kamu bawa minumnya, jangan kelamaan" kata Mami.
"Nanti biar Mami buatkan kamu untuknya."
"Kalau gitu aku permisi dulu ya Mi" yang langsung pergi meninggalkan tanpa mengucapkan salam.
"Iya" kata Mami.
Sampai dikamar langsung kuberikan padanya, tapi Ervi sedang ada dikamar mandi dengan muntah-muntah tapi hanya air saja yang keluar dari mulutnyanya. Langsung kuletakkan tehnya dimeja dan aku langsung menghampirinya dikamar mandi.
"Maaf lama" kata Fariel.
"Yuk kekamar aja yuk, itu minumnya dah kubuatkan."
"Kita kesana aja yuk, biar Sami gendong."
Langsung kuangkat dan kugendong didepan dan kubawa kekamarnya dan kubaringkan.
"Nih minum dulu" kata Fariel.
"Pelan-pelan aja, masih panas" sambil membantunya tuk meminum teh hangat.
"Dah cukup Mi" kata Ervi.
__ADS_1
"Ya dah, nanti kalau mau minum bilang ya" kata Fariel lalu meletakkan kembali dimeja
"Pijitin kepalanya Mi" kata Ervi.
"Pening kepalanya."
"Iya" kata Fariel, langsung memijitnya.
"Kurang kuat dikit" kata Ervi.
"Iya" kata Fariel.
"Nanti pagi kita ke Dokter ya buat periksa."
"Tadi kata Mami Sami suruh ngantar kamu ke Dokter, tapi Dokter apa tadi Sami lupa."
"Enggak mau ke Dokter" kata Ervi.
"Loh kok gitu" kata Fariel
"Kan biar ngecek keadaanmu."
"Sami takut terjadi apa-apa sama kamu."
"Enggak papa kok Mi" kata Ervi.
"Nanti juga dah baikan lagi, dibawa tidur lagi juga dah hilang sakitnya."
"Tapi" kata Fariel.
"Enggak papa Mi" kata Ervi.
"Enggak mau ke Dokter pokoknya."
"Cukup dipijitin aja sama Sami juga bakalan sembuh."
"Apalagi kalau dipeluk sama Sami, bakal cepet hilang peningnya."
"Ya udah, sekarang kamu tidur aja lagi ya" kata Fariel.
"Biar Sami pijitin kepalanya sambil memeluk Sami ya."
"He'em" kata Ervi.
"Mau minum dulu "
"Iya" kata Fariel, langsung kuambil tehnya disamping dan meminumkannya lalu meletakkannya lagi.
__ADS_1
"Dah sekarang tidur lagi" sambil menyelimutinya.
Setelah beberapa lama dan tidur lagi, tapi tetap ada rengekan kecil untuk meminta dipijit lagi keningnya.