
Waktu mulai menjelang siang dan kopi di gelas pun sudah habis.
"Den dipanggil Bapak sama Ibu suruh makan, dah ditunggu" kata Ani.
"Iya Bi, makasih" kata Fariel..
Lalu kuambil gelas kotorku dan kubawa masuk menuju dapur. Setelah meletakkan gelas kotor langsung menuju meja makan, dan langsung kududukkan bok*** ku di depan Papi dan Mami.
"Maaf Pi, Mi lama" kata Fariel.
"Iya gak papa, ini juga baru kok, yuk makan, sini biar Mami yang ambilin ya" kata Mami.
"Aku ambil sendiri aja ya Mi, Mami ambilin buat Papi aja" kata Fariel.
"Fak papa, selagi Mami masih bisa, Mami kan sudah anggap Nak Fariel seperti anak sendiri, jadi jangan malu sama Papi dan Mami ya" kata Mami.
"Iya bener kata Mami, kami sayang sama Nak Fariel, sudah seperti anak kita sendiri, jadi jangan sungkan dan malu" kata Papi.
"Iya" kata Fariel, sambil menganggukkan kepala ku.
Mami pun langsung mengambil piringku dan mengisi nasi dan ikan juga lauknya begitu banyak, lalu menyerahkan nya padaku.
"Ini dihabisin, biar kuat" kata Mami.
"Ini kebanyakan Mi" kata Fariel.
"Badanmu kan besar, jadi harus habis, jangan sedikit terus makannya" kata Papi.
"Kalau kurang Mami tambahin lagi nanti" kata Mami.
__ADS_1
"Iya Pi, tapi ini bakal kekenyangen nanti, jadi kurasa cukup Mi" kata Fariel.
"Ya udah makan aja dulu, pimpin doa seperti biasa ya" kata Mami.
Akupun mengannguk dan langsung berdoa dan makan pagi bertiga di meja yang besar ini hingga semuanya selesai menikmati hidangan dan tak lupa dengan mengucapkan sukur atas nikmatnya.
"Mami berangkat duluan, nanti kamu nyusul sama Papi ya" kata Mami.
"Iya Mi" kata Fariel.
"Hangan bawa motor sendiri, naik mobil bareng Papi, Mami tunggu disana" kata Mami.
"Iya Mi" kata Fariel.
"Kamu ganti pakaian dulu sana, udah mandi kan. Kalau belum, mandilah dulu, sebentar lagi berangkat, Papi juga mau ganti baju, bajunya bebas gak usah yang aneh-aneh jangan pakai kaos, itu yang gak boleh sama Papi" kata Papi.
"Ya dah gak papa, yang penting sopan, Papi juga gak punya baju yang pas kalau kamu yang pakai, baju Papi baju untuk orang tua semua, eh tapi bentar kayaknya ada baju yang pas buat mu, yuk ikut Papi" kata Papi.
Akupun langsung mengikutinya dari belakang.
"Yuk masuk aja, yang punya juga lagi pergi" kata Papi.
Akupun ikut masuk kedalam kamar.
"Ini kaya kamar cewek, tapi kok gak ada foto cewek, apa kamar pribadi punya Mami" ucapku dalam hati.
Kemudian Papi membuka lemari yang berisi pakain, Ada pakain untuk cewek dan cowok, tapi banyakan pakaian ceweknya.
"Pilih mana yang kamu mau, ambil satu aja ya, nanti kita beli yang baru aja" kata Papi.
__ADS_1
"Ini aja buatmu, lebih cocok dan elegan" lanjutnya karena melihatku yang seperti bingung untuk memilih.
"Coba dipakai langsung, Papi mau lihat" kata Papi.
Langsung kubuka jaket ku dan langsung kupakai bajunya yang diberikan Papi barusan.
"Wah keliatan keren, ini bakal banyak yang nemplok nih nantinya disana kalau kaya gini, tinggal poles sedikit aja rambut nya" kata Papi.
"Makasih Pi" kata Fariel.
"Uni kamu pakai" kata Papi, sambil menyerahkan Beberapa perlengkapan.
"Apaan nih Pi, ini gak usah deh Pi" kata Fariel, mencoba menolak.
"Udah terima aja" kata Papi.
"Tapi nanti kalau yang punya nyariin gimana Pi" kata Fariel.
"Itu gampang, serahin aja ke Papi" kata Papi.
"ini untuk ngeringin rambut, ini untuk muka biar kliatan fresh, ini minyak rambutnya, ini untuk kulit, ini kalau mandi, dan ini setelah mandi, dan juga minyak wanginya" ucapnya sambil menyerahkan semuanya padaku.
"Banyak banget sih Pi, kan cuman butuh bajunya aja" kata Fariel.
"Udah pakai aja, udah yuk keluar, Papi juga mau ganti" kata Papi.
Aku pun langsung keluar membawa jaket beserta beberapa botol yang gak tau namanya apa.
__ADS_1