Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Cerita Ervi


__ADS_3

Ervi kini mulai berani membuka suara setelah beberapa kali kak Fida bertanya masalah jalan-jalan.


"Ayo dong cerita sama kakak" kata Fida.


"Kalau memang gak ada apa-apa."


"Iya kak" kata ervi.


"Pi, Mi."


"Adek mau minta maaf."


"Jangan salahkan mamas ya Pi, Mi."


"Emang adek buat salah apa" kata Fida.


"Kakak diem aja dulu" kata Mami.


"Biarkan adekmu bicara dulu."


"Sebenarnya yang tadi Papi dan Mami bicarakan itu tentang adek dan mas saat jalan-jalan tadi" kata Ervi.


"Adek yang salah Pi, Mi."


"Adek yang meminta melakukan itu semua."


"Adek yang manja, minta digendong dan berbagai macam tadi sore di laut."


"Jangan salahin mas."


"Berarti yang tadi Papi dan Mami bahas itu tentang kalian" kata Fida.


"Wah pasti so swet banget tuh tadi."


"Kakak jadi iri dan pengen deh."


"Papi dan Mami tau darimana."


"Ada deh" kata Papi.


"Rahasia dong."


"Kalau sekarang dah ngerti kesalahan yang kamu lakukan berarti besok-besok jangan diulangi lagi" kata Mami.


"Kamu tuh gak boleh seperti itu, apa lagi sampe digendong didepan macam itu."


"Jangan salahin adek Mi, aku juga yang salah, karena memanjakan nya" kata Fariel.


"ilIni salahku juga."


"Tapi kalau anak Mami sedikit tau mana yang salah mana yang bukan pasti gak bakalan ngelakuin kaya begitu" kata Mami.


"Boleh manja dengan orang yang kita sayang, tapi harus ada batasnya."


"Jangan kelewatan, itu gak boleh."


"Bulan depan siap gak siap kalian menikah, daripada kalian makin kelewatan batas."


"Apalagi anak Mami ini yang susah sekali Mami kasih tau, selalu melakukan kemauannya walaupun salah."

__ADS_1


"Tapi Mi" kata Fariel.


"Mami hanya gak mau kalian makin menjadi" kata Mami.


"Mami takut kalian bakal kelewatan batas."


"Kalau sama kamu Mami masih percaya bisa menjaga, dan bisa membedakan mana yang boleh mana yang enggak, mana yang baik mana yang buruk, mana yang bener mana yang salah."


"Tapi adek enggak, dia hanya mengikuti nafsunya saja."


"Mami gak mau keluarga ini makin banyak dosa, dan kalian makin asik melakukan dosa."


"Jangan bulan depan Mi" kata Fariel.


"Aku janji bakal secepatnya, tapi bukan bulan depan."


"Terus kapan mau kamu nak" kata Mami.


"Mami gak ingin makin berdosa karena gak bisa mendidik anak Mami dengan benar."


"Kasih waktu aku empat bulan" kata Fariel.


"Aku masih butuh waktu, gak gampang bagiku menikah terlalu cepat, karena harus ada kematangan dalam diriku."


"Papi sih terserah sama kamu aja nak, asal anak Papi ini bisa menjaga batasnya" kata Papi.


"Papi gak marahin kalian, Papi marah sama diri Papi sendiri yang gak mampu mendidik anak Papi dengan benar."


"Mami harap adek jangan mengulangi lagi kesalahan yang itu" kata Mami.


"Kalau adek masih sama dengan hal macam itu, jangan salahkan Mami jika Mami marah dan akan membawamu ketempat lain yang jauh."


"Iya Mi" kata Ervi, sambil menunduk dan menangis.


"Adek bakal mencobanya."


"Tapi jangan pisahkan adek Mi dengan mas."


"Mami gak akan memisahkan kalian selama kamu gak melakukan kesalahan" kata Mami.


"Tapi kamu harus tau mana batasnya."


"Kalian bukan satu rahim yang sedarah yang bisa menempel begitu aja, bahkan sampai digendong seperti itu."


"Kalian itu pasangan yang belum halal, jadi harus ada batasnya."


"Kalau hanya berpegangan tangan Mami bisa memaklumi, tapi kalau dah main yang lain Mami gak bisa."


"Kalau adek memang masih menganggap Papi, dan Mami ini orang tuamu."


"Adek janji Mi" kata Ervi.


"Adek gak akan mengulanginya lagi."


"Papi dan Mami tetap orang tua Ervi."


"Ade sayang sama Papi dan Mami."


"Udah-udah jangan bahas itu lagi, sekarang ngobrol yang lain aja" kata Papi.

__ADS_1


"Adek sekarang balik kekamar dan belajar lalu istirahat."


"Papi gak menyalahkan kamu."


"Kamu tetap anak Papi dan Mami."


"Dah sekarang lebih baik kita kedepan ngobrol sambil nonton biar suasana gak setegang ini."


"Yuk kedepan aja yuk."


"Iya Pi, makasih" kata Ervi.


"Ayok Pi" kata Mami.


"Dah gak usah nangis lagi, malu tuh sama Aya diliatin mulu."


"Hihihi" kata Fuda.


"Aya lihatin tante ya."


"Sampe bengong gitu lihatnya."


"Enggak Mi" kata Ervi, sambil menghapus air mata nya.


"Dada cucu Mami yang gak mau sama Mami ya" kata Mami.


"Tuh kan diem aja, gak ada pergerakan sama sekali."


"Hahaha, yang sabar ya Mi, anak aku lagi gak mau sama Mami, dah ada yang bikin betah kayaknya nih Mi" kata Fida.


"Dada Mami" kata Fariel, yang berbicara dengan suara anak kecil.


"Papi duluan ya, jangan bikin masalah lagi" kata Papi.


"Iya Pi" kata Ervi.


"Iya Pi, nanti kakak nyusul" kata Fida.


"Ah Papi gak mau dada sama Aya ah, Aya aja gak mau sama Papi" kata Papi.


"Dada dulu sama Papi" kata Fida.


"Yah malah tepuk tangan, disuruh dada" kata Fariel.


"Kayaknya senang banget nih Aya ditinggak Papi nih" kata Fida.


"Sayang dulu sama Papi" kata Papi.


Aya langsung memelukku saat Papi ingin menciumnya.


"Hahahah, gak mau" kata Fida.


"Kok Aya gak mau dicium sama Papi."


"Ya dah deh daripada nanti nangis" kata Papi.


"Dada Aya" kata Papi.


Aya malah tetap berada dipundakku kepalanya gak mau melihat kearah Papi.

__ADS_1


"Haha Papi dicuekin" kata Fida.


Papi pun meninggalkan meja makan beserta Mami yang duluan pergi, jadi hanya tinggal aku, kak Fida, Ervi dan sikecil Aya yang lagi ada padaku.


__ADS_2