
Malam ini adalah malam yang sangat spesial bagi semuanya, malam yang akan membuatku bingung untuk bagaimana mengawalinya.
Seperti pada saat ini kami sedang kumpul bersama dengan Papi, Mami dan juga kedua istriku dan banyak yang lain juga di ruang keluarga sambil menikmati acara TV sambil mempersiapkan segala sesuatu.
Banyak obrolan yang membuatku seakan harus memilih malam ini dengan siap dan harus bagaimana.
"Ini kenapa kalian belum pada tidur" kata Mami.
"Iya, pengantin baru kok begadangnya disini, bukan dikamar" kata Ar.
"Jangan bilang bingung untuk memulainya, dengan siapa akan melakukan malam pertama" kata Re.
"Dah gak usah bingung, buruan tidur, besok masih ada acara lagi, masih banyak waktu juga buat malam pertama" kata Mami.
"Kalau mau sekarang juga gak papa, kan Papi juga mau gendong cucu lagi" kata Papi.
Aku hanya menggaruk kepalaku yang tak gatal ini.
"Gak usah bingung gitu" kata Fe.
"Lucu lihat pengantin nya bingung harus malam pertamanya seperti apa" kata De.
"Hihihihihi."
"Dah sana kekamar, tidur, walaupun hanya rebahan dan tidur tapi yang penting kalian harus istirahat" kata Papi.
"Kalau mau langsung buat cucu untuk kami ya bagus juga, tapi kalau masih bingung ya bicarakan saja kalian dikamar, jangan disini, banyak pendengar."
"Iya sana tidur, jangan begadang dah malam" kata Mami.
"Yang penting kalian istirahat dulu, itu yang penting."
"Kalau masih bingung kalian tidur sekamar bertiga gak papa" kata Papi.
"Gak usah galau memikirkan itu, yang penting sekarang tidur, jangan disini."
"Iya sana tidur" kata Ar.
"Kami gak akan nguping kok" kata Re.
"Gak bakal ganggu juga kok" kata De.
"Dah sana pada tidur, jangan disini, ini urusan kami disini, kalian urusan nya dikamar" kata Ar
"Dah sana tidur" kata Ce.
"Iya" kami bertiga kata Fariel, Fida, dan Ervi.
"Nah gitu dong kompak" kata Ga.
"Masa pasangan baru, bingung" kata Ce.
"Dah sana tidur, istirahat, siapkan stamina buat besok" kata Papi.
"Ya kalau bisa tidur dikamar, kalau gak haha hihi" kata ga.
__ADS_1
"Mana mungkin bisa tidur, kayaknya bakal saling dieman dikamar dan gak bisa tidur, ini aja duduknya gak bersebelahan yang seperti pasangan suami isteri" kata Ar.
"Tuh kan pada senyum" kata Be.
"Kalau gitu aku permisi ya Ibu-ibu semuanya kami mau istirahat" kata Fariel.
"Aku kekamar ya Pi, Mi."
"Iya sana" kata Papi.
"Kekamar pengantin bukan kamar masing-masing ya" kata Mmi.
"Iiiya Mi" kata Fariel, dengan berat mengucapkannya.
"Saya permisi ya semuanya" kata Ervi.
"Pi, Mi duluan."
"Saya juga permisi ya Bu, semuanya" kata Fida.
"Pi, mlMi, aku duluan ya."
"Iya sana kekamar istirahat" kata Papi.
"Istirahatnya yang bener ya, jangan haha hihi" kata Be.
"Kalau mau haha hihi pun gak papa, silahkan aja, kan dah sah" kata Ar.
"Dah bebas dah gak dosa."
"Mari, Assalamu'alaikum" kata Fariel, daripada banyak mendengar ucapan mereka yang makin bikin pusing lebih baik langsung kuucapkan salam dan pergi.
"Istrinya digandeng dong, masa ditinggal" kata Fe.
"Iya" kata Ce.
"Kayaknya malu tuh sama kita-kita, atau memang masih malu" kata Be.
"Malu apa malu-maluin ya" kata De.
"Dah susul tuh suami kalian" kata Ga.
"Permisi Assalamu'alaikum" kata Fida, dan Ervi, yang langsung ikutan pergi.
"Lucu ya mereka ya Bu" kata Fe.
"Masih pada malu dan bingung" kata De.
"Ya gimana gak malu coba, kan dua bukan satu, jadi bikin bingung deh" kata Re.
"Maklum Bu, kan mereka dah seperti saudara yang dah kuanggap anak, walaupun akhirnya jadi mantu seperti awal semula yang kami mau, mungkin gak percaya aja kalau sekarang yang dianggap adek dan kakak malah jadi istrinya, makanya bingung" kata Mami.
"Iyalah Bu, pasti bingung suaminya, kan dah kenal lama, dan seperti saudara sendiri, jadi kayak mimpi aja mungkin kalau hari ini menikahi keduanya" kata Er.
"Tapi kita doakan aja supaya tetap langgeng mereka semua" kata Ce.
__ADS_1
"Mungkin dengan menganggap kakak dan adik maka nanti akan jadi bisa jauh lebih adil, karena kemarin juga dah adil melakukan sesuatu kepada mereka" kata Ar.
"Semoga saja ya Bu ya" kata Mami.
"Kalau masih ada rasa canggung mah dah biasa, namanya juga statusnya dah berbeda dah boleh melakukan hal yang dulu gak bisa dilakukan, sekarang dah boleh" kata Ce.
"Jadi wajar kalau nanti mereka saling diam dikamar atau hanya cuman saling pandangan dan senyum kecil."
"Iya, kita juga dulu seperti itu, ada rasa canggung waktu baru pertama, seperti mimpi" kata Ar.
"Malu diawalnya saja, dah biasa bagi setiap pasangan yang baru nikah" kata Be.
"Yang penting dari kita jangan menyuruh untuk melakukan secepatnya dan memaksa mereka memberikan kita cucu."
"Bener banget" kata Er.
"Kita bantu dengan doa saja, dan cukup bantu menyampaikan apa yang harus disampaikan selama itu benar."
"Pada ngomongin apa sih serius banget" kata Papi, yang baru gabung setelah dari belakang.
"Biasa urusan Ibu-ibu, mau tau aja nih" kata Fe.
"Tenang kami bukan lagi ngegosip, hanya lagi membicarakan hal baik kok" kata De.
"Ohh, kirain lagi pada bikin dosa" kata Papi.
"Gak dong Pi" kata Mami.
"Kami hanya bahas soal anak kita aja kok gak ada yang lain."
"Kuta bicara hanya tentang yang barusan mantu kita disini yang seperti bingung mau ngapain malam ini."
"akan Papi tau sikap mantu kita ini pada anak kita, yang selalu melakukan hal yang adil."
"anah kami bahas itu."
"Papi gak usah takut."
"Ohh gitu" kata Papi.
"Papi juga sama merasakan hal yang kalian pikirkan."
"Pasti ada rasa canggung pada mantu kita ini."
"Mau mengawalinya seperti apa dan bagaimana."
"Namanya juga sekarang dah punya istri dua, yang langsung nikah keduanya lagi, ya pasti mereka pun bingung dan canggung."
"Nanti kalau dah siap kalian istirahat langsung dikamar ya, dah disiapkan kamarnya buat kalian, jangan pada pulang."
"Iya Pak, makasih" semua.
"Ya dah kalau gitu kutinggal dulu, mau lihat kedepan sebentar" kata Papi.
"Iya silahkan" semua.
__ADS_1
Dan Papi pun pergi meninggalkan mereka.
Ibu-ibu masih lanjut membuat sesuatu sambil ngobrol tentang bermacam-macam yang dibahas termasuk hal tentang ini.